NovelToon NovelToon
Ibu Susu Sang CEO

Ibu Susu Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria callista

Violet adalah gadis desa yang diusir oleh pacar setelah melahirkan bayinya, dia yang Luntang lantung dijalan tepaksa menjadi ibu susu seorang CEO tampan yang mendapatkan kutukan. Ternyata CEO itu adalah paman dari mantan pacar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15.

"Gak, Gak mungkin Tuan Romeo kalau saya mabuk? Ini pasti ada yang salah? Gak mungkin saya bagaimana bisa?"

Violet akhirnya teringat semalam yang menindih tubuh Romeo di sofa kantor, bahkan dia masuk ke kamar Romeo melepas bajunya dan baju Romeo.

Setelah itu dia tertidur.

Netra Violet menatap ke arah sekeliling untuk melihat, guna memastikan apakah sekarang ini dia berada didalam kamar Romeo atau tidak?

Potongan ingatan-ingatan itu bagaikan belati yang sekarang ini seperti menusuk ke dalam jiwanya, Violet sungguh merasa malu.

Violet yang merasakan Romeo menatap dirinya.

Dia lantas menunduk dan mengikuti arah pandang Romeo, dia hanya mengenakan dalaman sontak menutup tubuhnya dengan tangan.

Wajah Romeo malah memerah, bahkan jantungnya terlihat naik turun seiring dengan berjalannya waktu.

Sontak saja, Violet merasa sangat khawatir, saat melihat Romeo dalam keadaan seperti itu.

"Tuan ... Anda tidak kenapa -kenapa kan?"

Ucapannya terhenti, kala lagi-lagi potongan hal-hal memalukan sisa semalam kembali berputar-putar didalam otaknya.

Romeo lantas menjawab pertanyaan yang barusan keluar dari bibir manis Violet dengan gelengan kepala.

Mata Violet terbelalak, seketika sadar atas kelakuan semalam yang tak termaafkan.

Wajahnya memerah, bukan karena alkohol tapi karena malu yang memuncak.

"Saya... saya minta maaf, Tuan Romeo," suaranya tercekat, lirih hampir tak terdengar.

Romeo hanya menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

Raut wajahnya tetap datar, namun ada kilatan kecewa yang sekilas muncul di matanya.

Violet merasa hancur melihatnya.

Dia buru-buru meraih baju yang tergeletak di lantai, menutupi tubuhnya yang hanya berbalut pakaian dalam.

“Saya benar-benar tidak ingat apa yang terjadi, Tuan. Saya... saya tidak pernah berniat seperti itu," ucapnya, sambil berusaha memakai bajunya dengan tangan yang gemetar.

Terbesit sebuah pemikiran dalam otak Violet, kalau sekarang ini Romeo marah dan mengira jika dirinya memang sengaja.

Dirinya yang sudah pernah melahirkan sengaja melakukan semua ini untuk mendekati Romeo dan meminta Romeo menikahinya.

Seperti cerita dalam novel-novel yang tokoh yang miskin ingin menjadi orang kaya dengan cara yang sungguh tidak terpuji.

Wajah Violet langsung terlihat sedih, bahkan kedua bola matanya nampak berkaca-kaca.

"Tuan, saya mohon! Tolong jangan berpikiran buruk tentang saya, semalam saya benar-benar tidak sengaja melakukan semua itu," kata Violet dengan nada suara terbata.

Dia berusaha ingin menjelaskan panjang lebar, tapi hanya kata-kata itu yang keluar dari mulut manisnya.

Romeo yang melihat wajah menyedihkan yang ditunjukkan oleh Violet malah merasa iba.

Romeo menghela napas, mendekati Violet yang kini duduk termangu di tepi tempat tidur.

“Violet, apa yang terjadi semalam, kita harus bicarakan dengan jernih. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja.”

Violet menundukkan kepalanya, air mata mulai mengalir deras.

Dia tahu, malam yang tak teringat itu telah merubah segalanya, merusak kepercayaan yang mungkin sudah terbina.

Dia menggenggam lembaran bajunya, dalam diam berharap ini hanya mimpi buruk yang segera berakhir.

Isak tangis Violet pecah.

"Loh, kenapa malah menangis?" Tanya Romeo bingung.

Violet malah tidak berani melihat ke arah wajah tampan Romeo, bahkan dia menundukkan kepalanya semakin dalam.

"Maaf Violet? Apakah wajahku semenyeramkan itu?" tanya Romeo yang melihat ekspresi wajah ketakutan Violet, bahkan tidak berani melihat ke arahnya.

Violet dengan jujur mengangguk apa yang Romeo katakan, Romeo hanya bisa menelan ludah.

"Tenanglah aku gak marah padamu! Ayo buruan kamu siap-siap untuk pergi ke sekolah!" titah Romeo pada Violet.

Violet malah mengigit bibir bawahnya seraya berkata, "Tuan Romeo, tapi aku akan bertanggung jawab atas hal yang barusan terjadi!"

"Tanggung jawab?" tanya Romeo bingung.

Violet mengigit bibir bawahnya, bahkan disela-sela isak tangisnya itu dia berkata, "saya -kan semalam sudah melakukan hal ... "

Violet menjeda ucapannya sebentar, bahkan wajahnya malah memerah. Dia benar-benar merasa sangat malu saat ingin mengatakannya.

Romeo menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal, karena biasanya hidupnya penuh dengan rutinitas padat.

Belum pernah mengalami hal yang aneh seperti ini.

Jantung Romeo berdegup kencang, lalu dia berkata, "sebenarnya semalaman kita itu .... "

"Saya tahu Tuan Romeo kalau semalam kita melakukan hubungan layaknya suami istri. Tapi ... Saya tahu, kalau itu terjadi atas kesalahan saya ... Saya yang salah gak akan minta pertanggung jawaban." sela Violet polos.

Sementara Romeo hanya bisa melongo karena kepolosan Violet.

Dia tidak pernah melihat orang berbicara sepolos dan juga sekonyol Violet.

Sementara Violet sendiri malah bingung dan merasa ambigu dengan ucapannya sendiri barusan.

"Tapi, aku bertanggung jawab dengan cara apa?" gumam Violet dalam hatinya, dirinya masih merasa begitu bingung.

Sementara Romeo yang melihat kebingungan dari wajah Violet, memilih berkata, "memangnya kalau itu mau bertanggung jawab dengan cara apa?"

Ia sendiri malah merasa gemas dan ingin mengerjai Violet.

"Saya ... " Dahi Violet mengkerut, dia terlihat berpikir dengan sangat keras.

Sementara Romeo malah mencondongkan tubuhnya.

Violet malah menelan ludah, bagaimana pun dia hanya sekali melakukannya dengan Felix dalam keadaan diberi obat.

Ia saja tidak pernah memperhatikan dengan intens dada bidang milik Felix.

Tapi berada sedekat ini dengan Romeo yang tidak memakai atasan.

Violet malah dibuat malu.

"Saya ... Saya akan memijit seluruh tubuh Tuan Romeo yang sakit atas hal yang saya lakukan semalam dan saya ... Saya juga akan membantu memandikan Tuan Romeo, karena saya tahu. Kalau selama ini Tuan Romeo itu kesulitan saat mandi," jelas Violet tanpa berani melihat ke arah Romeo.

Violet yang sedang gugup tubuhnya bergetar begitu hebat,

tanpa sadar Romeo tersenyum.

"Baiklah! Ayo kita ke kamar mandi!" titah Romeo.

Glek, "apa?" tanya Violet tanpa sadar.

Romeo yang tidak sabar malah menarik tangan Violet menuntunnya masuk ke dalam kamar mandi.

Saat ditarik tangannya oleh Romeo, Violet malah merasa enggan.

"Tu -tuan Anda mau ngapain? Kenapa malah lepas celana ... " kata Violet, kakinya malah semakin lemas untuk berdiri.

Tapi karena perbedaan tenaga yang dimiliki oleh Violet dan juga Romeo, Violet sama sekali tidak bisa menolak.

Wajah Violet memerah, karena semua ini memang pengalaman pertamanya.

Dulu waktu tinggal dirumah Felix, dia hanya tinggal didalam kamar pembantu.

Oleh kedua orang tua Felix, dia tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan Felix.

Jadi waktu itu, jika ingin bertemu dengan Felix. Dia hanya bisa bertemu sembunyi-sembunyi itupun dengan waktu terbatas.

Jadi selain hubungan suami istri yang terjadi karena obat itu.

Dia tidak pernah sedekat itu dengan Felix saat pacaran.

"Katanya kamu tanggung jawab dengan hal yang kamu lakukan semalam dengan memandikanku," sahut Romeo, ntah kenapa dia merasa sangat bahagia.

Baru kali ini dia merasakan kebahagiaan aneh seperti ini.

Violet malah teringat dengan pesan ayahnya, 'kamu harus selalu bertanggung jawab dengan ucapanmu!'

Sekarang Romeo menyadari sesuatu, Violet seperti kebahagiaan sendiri untuknya.

Bahkan dia malah merasa jika gadis itu memanglah orang yang sengaja dikirimkan Tuhan untuknya.

"Violet, kamu menunggu apa?"

Pertanyaan dari Romeo langsung membuat Violet tersadar, kalau dia terlalu banyak membuang waktu.

Violet berdiri dengan tubuh yang gemetar, mendekati Romeo yang duduk di bak mandi hanya mengenakan dalaman.

Jantungnya berdegup kencang, perasaannya bercampur antara takut dan bingung.

Romeo, yang awalnya berniat mengerjai, kini menatapnya dengan pandangan yang berubah serius.

“Tapi ... Sebelum kamu memandikanku, aku ingin menghisap ASI-mu terlebih dahulu. Itu akan membantu pemulihan ku dan menghilangkan kutukan yang menimpaku,” ucap Romeo dengan nada yang mendesak.

Sekarang ini ntah kenapa dia selalu kecanduan meminum minuman yang harusnya disediakan untuk bayi.

Mengingat setelah meminum ASI itu, tubuhnya langsung pulih, bahkan menjadi bertenaga.

Violet yang masih terpaku, merasa canggung dan terintimidasi dengan permintaan tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!