NovelToon NovelToon
Jodohku Gadis BAR-BAR

Jodohku Gadis BAR-BAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dosen / Romansa Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Fey

Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Malam itu, cakrawala tampak begitu tenang. Angin bertiup sepoi-sepoi, membawa aroma seduhan teh hangat dari dapur yang bercampur dengan keharuman roncean bunga melati yang mulai digantung di ambang pintu.

Rumah keluarga Kanza Arumi dipenuhi riuh rendah suara tawa dan canda para kerabat yang masih berkumpul, sibuk mempersiapkan detail terakhir untuk hari besar esok pagi.

Di tengah keramaian yang hangat itu, Kanza justru memilih duduk menyendiri di teras belakang.

Hoodie kebanggaannya menutupi kepala, sementara jemarinya menggenggam erat sebuah mug cokelat hangat yang uapnya sudah tak lagi mengepul.

Tatapannya kosong menembus kegelapan malam, seolah sedang melakukan dialog bisu dengan bintang-bintang di langit.

Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki pelan mendekat. Umi, ibunya, duduk di sampingnya sembari menyampirkan sehelai selimut tipis di sandaran kursi.

“Kanza belum tidur?” tanya Umi dengan nada suara yang sangat lembut.

“Belum, Mi,” jawab Kanza lirih, suaranya nyaris tertelan angin malam.

“Kanza merasa... deg-degan tapi juga tidak mengerti kenapa. Perut rasanya seperti diisi ribuan kupu-kupu yang bercampur dengan cabai rawit. Mulas tapi berdebar.”

Umi tersenyum teduh sambil menyelimuti bahu putrinya, mencoba menyalurkan ketenangan.

“Itu pertanda Kanza sadar bahwa esok adalah hari yang sangat krusial, Sayang. Hari di mana kamu mulai melangkah sebagai seorang istri, bukan sekadar putri kecil Abi dan Umi lagi.”

Kanza menghela napas panjang, bahunya merosot lesu.

“Tapi Kanza takut, Mi. Takut jika ternyata Kanza tidak cukup baik untuknya. Takut membuat Mas Hanan menyesal di kemudian hari. Takut jika... Kanza malah menyeret Mas Hanan ke dalam dunia Kanza yang absurd, penuh dengan suara cempreng dan drama tidak jelas ini.”

Umi tertawa kecil, menepuk punggung tangan Kanza dengan penuh kasih sayang.

“Umi dan Abi tidak mungkin menjodohkanmu dengan seseorang yang tidak memahami jati dirimu. Hanan Arkan tahu betul siapa kamu, Kanza. Dan ketika dia tetap teguh ingin menikahimu, itu bukanlah keputusan yang diambil sambil bermain-main. Dia sudah memikirkannya matang-matang.”

Kanza mengangguk pelan, meski keraguan masih membayang di wajahnya.

“Tapi Kanza itu masih seperti anak kecil, Mi. Masih takut pada cicak, masih bisa tiba-tiba berteriak histeris hanya karena bantal jatuh. Lalu... jika nanti Kanza lupa bagaimana cara bersikap sebagai istri yang baik, bagaimana?”

Umi mengusap kepala anaknya dengan penuh kelembutan.

“Menjadi istri itu bukan berarti harus menjadi sempurna sejak detik pertama. Ini adalah tentang kemauan untuk belajar bersama, setapak demi setapak. Kanza itu unik, dan keunikanmu itulah yang justru akan memberikan warna cerah dalam kehidupan Hanan yang mungkin selama ini terlalu kaku.”

“Kanza masih boleh pulang ke sini, kan, Mi... jika nanti Kanza merasa lelah atau terjatuh?” suara Kanza mulai terdengar serak, menahan tangis.

Umi tersenyum sangat lembut, menatap lekat mata anaknya.

“Rumah ini akan selalu menjadi tempatmu pulang, Kanza. Pintu kami selalu terbuka lebar. Tapi Umi yakin, kamu tidak akan berjalan sendirian di luar sana. Hanan dibesarkan dengan nilai-nilai agama yang kuat; insyaAllah dia tahu persis bagaimana cara memimpin tanpa harus menyakiti hati makmumnya.”

Kanza tersenyum samar, mencoba mengusir gumpalan sesak di dadanya.

“Tapi... Mi, yakin Mas Hanan tidak akan mengalami trauma, kan?”

“Trauma karena apa?” Umi mengangkat alis, sedikit bingung.

“Trauma memiliki istri ajaib seperti Kanza. Yang kalau sedang gugup bisa mendadak menyanyi dangdut atau malah membacakan teks iklan sampo dengan lantang.”

Umi tertawa geli mendengar kejujuran putrinya, lalu memeluk Kanza dengan sangat erat.

“Justru Hanan akan senantiasa bersyukur, karena setiap harinya tidak akan pernah terasa sepi atau membosankan. Rumah kalian nanti pasti akan penuh dengan warna dan tawa.”

Kanza akhirnya ikut tertawa kecil, meski air mata diam-diam menetes di pipinya.

“Kanza... insyaAllah siap, Mi.”

“Bismillah, Sayang,” bisik Umi pelan di telinganya.

Malam itu, di bawah kesaksian rembulan, Kanza akhirnya berhenti meragukan takdir yang telah digariskan.

Ia menyadari bahwa hidupnya mungkin tidak akan selalu tenang dan datar, namun selama ia melangkah bersama orang yang tepat, ia siap menempuh babak baru seaneh, selucu, dan seindah apa pun itu nantinya.

Sementara di sudut lain, Bella yang sejak tadi memperhatikan dari balik jendela ikut tersenyum haru, siap menyambut anggota keluarga baru besok pagi.

Pagi hari menjelang prosesi akad nikah, kediaman keluarga Kanza Arumi sudah nampak seperti sedang dilanda gempa lokal.

Bukan karena bencana alam, melainkan karena sang mempelai wanita mendadak mengalami serangan histeris tepat beberapa jam sebelum janji suci diucapkan.

“UMIIII! AAAAAA UMI, KANZA NGGAK MAU NIKAAAAHHH!!!”

Teriakan yang melengking itu membuat seisi rumah tersentak hebat.

Bahkan para tetangga yang sedang membantu menyiapkan konsumsi di dapur seketika menghentikan aktivitas mereka, terdiam dalam kebingungan.

“Ya Allah, anak ini kenapa lagi,” keluh Umi, melirik Abi yang hanya bisa menggelengkan kepala sembari menahan tawa melihat tingkah putri bungsunya yang luar biasa ajaib.

Dari dalam kamar, Kanza muncul dengan penampilan yang lebih mirip orang yang baru saja ditinggal bubar grup idola Korea.

Matanya sembab karena terlalu banyak berimajinasi yang aneh-aneh, jilbab yang sudah dipasang setengah jalan pun tampak berantakan, dan wajahnya menunjukkan ekspresi panik tingkat maksimal.

Bella, yang sudah berdandan cantik dengan aura keibuan karena kehamilannya, langsung mengangkat alis melihat pemandangan di depannya.

“Lah, bocah ini kenapa lagi? Bukannya pengantin harusnya tenang?”

“Kak Bella!!! Kenapa sih semua orang sangat bersemangat menyuruh Kanza nikah?! Emangnya Kanza kelihatan siap, hah?! Emangnya Kanza ini punya bakat jadi istri?! Lihat ya! Hari ini adalah hari eksekusi hidup gue, Kak! Paham nggak sih?!”

Bella tetap duduk santai sembari mengelus perutnya yang mulai membuncit.

“Kanza, tolong… pelankan volume suaramu. Bayi di dalam perut Kakak bisa terkejut dengar suara klaksonmu itu.”

“Gak bisa! Kak! Dengar ya! Kanza tuh sudah berpikir terlalu jauh! Bagaimana kalau Mas Hanan Arkan besok-besok merasa ilfeel? Bagaimana kalau ternyata dia menyesal menikahi perempuan se-absurd gue? Terus kalau Kanza ditinggal dan jadi… jandaaa?!! Kakak mengerti tidak sih?! Janda di usia muda!”

Bella menghela napas panjang, mencoba mencari stok kesabaran ekstra.

“Ya Allah, Kanza... acara akad saja belum mulai, pikiranmu sudah melompat jauh ke status janda. Benar-benar luar biasa.”

“Ya karena hidup itu penuh kejutan, Kak! Seperti ramalan cuaca. Hari ini cerah, siapa tahu besok tiba-tiba ada badai perceraian yang menerjang!”

“Kanza…” Bella berdiri perlahan, lalu merangkul adiknya yang masih bergetar seperti bom waktu yang siap meledak.

“Dengarkan Kakak baik-baik. Kamu memang barbar, sulit diatur, dan terkadang membuat Kakak ingin bertukar posisi jadi anak tunggal. Tapi justru sisi itulah yang membuat Mas Hanan yakin. Dari sekian banyak wanita yang tenang di luar sana, dia memilih kamu. Bukan karena rasa kasihan, tapi karena dia jatuh cinta. Dan karena dia yakin bisa membimbingmu.”

Kanza melotot tak percaya.

“Jatuh cinta itu bisa pudar, Kak. Seperti warna baju yang sering dicuci.”

“Betul. Tapi keyakinan dan prinsip itu yang membuatnya bertahan. Lagipula, dari sekian banyak manusia di muka bumi ini, siapa yang bisa sabar mendengar ocehanmu tiga jam nonstop tanpa mengantuk selain Mas Hanan?”

Kanza terdiam sejenak. Matanya berkedip-kedip, mencoba mencerna logika tersebut. Bibirnya mulai bergetar lagi, tapi kali ini bukan karena teriakan.

“…Kak, kalau nanti aku benar-benar tidak sanggup dan ditinggalkan, aku boleh menumpang di rumah Kakak, kan?”

Bella tersenyum sabar, menepuk-nepuk bahu adiknya.

“Tentu saja boleh. Tapi syaratnya, kamu harus membantu mencuci semua popok bayi Kakak nanti, ya.”

“Astagaaaaa, Kakak benar-benar tidak peka! Orang sedang krisis identitas malah disuruh jadi asisten bayi!”

Bella tertawa kecil, mengelus kepala adiknya yang kini tertunduk lesu.

“Sudah, sekarang kembali ke kamar dan biarkan perias melanjutkan tugasnya. Jangan sampai Mas Hanan berpikir kamu kabur lewat jendela. Dia sudah bergetar karena gugup sejak subuh, tahu tidak?”

“Dia doang yang gugup? Nih, rasakan! Jantung gue sudah melakukan senam Zumba dari tadi!” balas Kanza sambil menunjuk dadanya, meski akhirnya ia melangkah kembali ke kamar dengan langkah yang sedikit lebih tenang.

Mentari siang menyapa perlahan lewat jendela rumah yang telah dihias dengan nuansa lembut warna krem dan hijau daun.

Udara masih terasa dingin, namun suhu di dalam rumah seolah meningkat, bukan karena hawa panas, melainkan karena debar jantung para penghuninya yang tak menentu.

Hari ini adalah hari yang telah ditetapkan-Nya. Hari di mana dua insan akan disatukan dalam ikatan paling suci.

pernikahan. Hari ini, seorang gadis bernama Kanza Arumi, dengan segala kehebohan, kekacauan, dan kepribadian chaotic-nya, akan menghadapi momen yang mengubah seluruh garis kehidupannya.

Hanan Arkan sudah duduk dengan posisi sempurna di hadapan penghulu. Setelan koko putih bersih dan sorban lembut di pundaknya memancarkan aura lelaki yang mantap, berwibawa, dan sangat siap menjadi imam.

Sorot matanya teduh, tenang, dan seperti biasa sangat formal layaknya sedang memimpin sidang akademik, namun kali ini ada binar haru yang terselip di sana.

Di balik tirai, Kanza berdiri gemetar hebat. Gaun panjang berwarna putih susu yang membalut tubuhnya terasa sangat berat; bukan karena meteran kainnya, melainkan karena beban tanggung jawab besar yang kini ada di pundaknya.

“Umi… Kanza boleh minta cancel sekarang tidak, sih?” bisiknya pelan dengan nada memelas sambil menyandarkan dahi ke pintu lemari.

Umi hanya tersenyum lembut, lalu menggenggam erat tangan putrinya yang terasa sedingin es.

“Nak, tidak ada yang perlu ditakuti dari sebuah pernikahan. Selama kau memiliki iman dan keyakinan, semuanya akan kau lalui bersama. Termasuk rasa takutmu yang berlebihan itu.”

Kanza menghela napas panjang, berusaha memasok oksigen ke paru-parunya yang sesak.

“Tapi kan… tapi kan Umi, ini rasanya seperti mau menempuh Ujian Nasional, tapi seluruh soalnya memakai perasaan dan tidak ada pilihan ganda!”

Sementara itu, dari ruang tamu, suara Hanan Arkan mulai terdengar menggema.

Suaranya dalam, berat, dan sangat mantap, seakan setiap kata yang terucap adalah janji suci yang telah ia khatamkan seumur hidupnya.

“Aku terima nikah dan kawinnya Kanza Arumi binti Rahardi dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai.”

Hening sejenak. Waktu seolah berhenti berputar. Hingga akhirnya…

“Sah!” ucap para saksi serempak.

Ruang tamu mendadak riuh dengan ucapan syukur. Beberapa tamu tak kuasa menahan haru, ada pula yang mengusap sudut mata.

Umi menunduk dan menangis pelan karena bahagia, sementara Abi mengusap punggung istrinya dengan penuh kasih.

Sementara itu, di balik tirai…

“EH?! SAH?!” Kanza langsung menoleh cepat ke arah Bella yang sudah berdiri sigap di sampingnya.

“INI SERIUSAN SUDAH SAH?!”

Bella mengangguk mantap sembari mengelus perutnya yang membuncit.

“Sudah, Kanza. Kamu sudah resmi jadi istri orang sekarang. Berhenti bersikap seperti mau tawuran.”

Kanza mematung. Matanya berkaca-kaca, antara tidak percaya dan syok.

“YA ALLAH GUE JADI ISTRI?! UMI… ABIIIIII… KANZA RESMI JADIIII ISTRIIIIIIII!!!”

“Pelankan sedikit suaramu, Kanza…” lirih Umi yang ikut panik karena teriakan Kanza terdengar seperti sedang siaran langsung ke seluruh penjuru kota.

Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang.

“Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.”

Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa.

“Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!”

Bella menepuk jidatnya sendiri.

“Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.”

Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.

“Ini cincin dan kalung. Bukan sekadar hadiah materi, tapi tanda dariku, bahwa setiap harimu setelah ini… akan selalu ada aku yang menjagamu.”

Kanza terdiam seketika. Keberaniannya menguap. Bibirnya mulai bergetar.

“Gue takut, Uztad…”

“Takut apa?” tanya Hanan lembut sambil menatap dalam ke netra istrinya.

“Takut tidak bisa jadi istri yang baik… Takut kamu menyesal nantinya… takut disakiti, takut besok-besok kamu baru sadar ternyata... Kanza itu sangat nyebelin dan merepotkan.”

Hanan menatap lembut ke arah gadis ajaib yang kini sah menjadi makmumnya.

“Kalau kamu tidak nyebelin, itu berarti kamu bukan Kanza Arumi. Saya justru jatuh cinta pada Kanza yang seperti ini. Bukan versi yang berpura-pura tenang, tapi versi aslimu. Sekarang, kamu adalah istri saya… untuk saya jaga, saya sayangi, dan saya bimbing selamanya.”

Kanza menyeringai kecil di sela air mata yang tumpah karena haru.

“Gila sih lo, Mas Hanan… lo terlalu sabar buat hidup serumah sama cewek chaotic kayak gue.” gumam Kanza pelan.

Hanan tertawa pelan, lalu menjawab dengan sangat bijak karena masih bisa mendengar gumaman gadis itu.

“Ya sudah. Makanya kita tidak perlu hanya sekadar serumah. Kita akan serumah… dengan kesabaran.”

“…Eh? Maksudnya bagaimana?” tanya Kanza polos, membuat Yuma yang memperhatikannya dari jauh ikut geleng-geleng kepala melihat sahabatnya yang tetap saja lemot di hari pernikahannya sendiri.

~~~NEXT~~~

Salah Hangat Dari Penuliss....

1
partini
tau agama tapi hati penuh iblis no good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!