NovelToon NovelToon
Menantu, Tolong Ampuni Aku

Menantu, Tolong Ampuni Aku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ardana Bayu

"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.

Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.

Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 007: Wajah yang Familiar di Video

Kiara Hartono hampir melewatkan video itu.

Malam sudah lewat pukul sebelas. Rumah Anggrek sunyi, tetapi bukan sunyi yang menenangkan. Sejak Kejatuhan Kusuma, sejak Arga menampar Galang, sejak keluarga Hartono gagal membeli blok Rusunawa Harapan dengan harga murah, rumah itu selalu terasa seperti menyimpan suara yang belum meledak.

Kiara duduk di tepi ranjang kamarnya, masih memakai kemeja kerja. Laptop di meja belum dimatikan. Di layar, draft laporan direksi PT Hartono Group menunggu ia baca. Namun sejak sepuluh menit lalu, matanya lebih sering jatuh ke ponsel.

Video itu muncul di beranda sosial medianya.

Pahlawan Bank Lumpuhkan Tiga Perampok Sendirian.

Ia hendak menggulirnya.

Lalu jaket itu terlihat.

Jari Kiara berhenti.

Video dimulai dari tengah kekacauan. Kamera berguncang. Seseorang menangis. Suara perempuan berteriak, "Anak saya!" Lalu seorang pria berjaket lama bergerak dari samping kursi tunggu.

Wajahnya tidak jelas.

Tetapi bahunya.

Cara ia sedikit menunduk sebelum bergerak.

Cara tangan kirinya masuk lebih dulu, mendahului tangan kanan.

Kiara menahan napas.

Ia memutar ulang.

Sekali.

Dua kali.

Pada putaran ketiga, ia memperlambat video. Jari pria itu menekan magazen pistol, menarik slide, lalu menendang senjata menjauh. Semua dilakukan dalam gerakan pendek, dingin, tanpa panik.

Kiara berdiri.

"Tidak mungkin," bisiknya.

Tetapi suaranya sendiri tidak percaya.

Ia membuka galeri foto.

Tidak banyak foto Arga di ponselnya. Itu baru terasa menyakitkan ketika ia mencarinya. Dua tahun menikah, tetapi album mereka nyaris kosong.

Satu foto dari acara keluarga, di mana Arga berdiri di ujung frame, separuh tubuhnya tertutup Galang. Satu foto buram di ruang makan, hasil kamera pelayan saat ulang tahun Bu Agung, Arga berada di belakang membawa nampan. Satu foto yang ia ambil diam-diam tanpa alasan jelas: Arga duduk di kursi dapur kecil pukul dua pagi, menunggu nasi hangat untuknya setelah ia pulang dari rapat.

Ia memperbesar foto acara keluarga itu.

Di sana, semua orang tersenyum ke kamera. Galang berdiri di tengah, Bu Agung duduk di kursi utama, Ratna memegang bahu Kiara dengan tangan yang terlihat lembut untuk kamera. Arga berada di belakang, dekat pintu servis, memegang dua kotak kue yang tidak ada orang lain ingat siapa yang membawanya.

Dulu Kiara hanya melihat foto itu sebagai dokumentasi keluarga.

Sekarang ia melihat posisi Arga.

Selalu di tepi.

Selalu cukup dekat untuk membantu, cukup jauh untuk dihapus.

Kiara membuka foto terakhir itu.

Jaket yang sama.

Warna pudar di siku kanan.

Jahitan kecil di bahu kiri.

Ia kembali ke video.

Jaket yang sama.

Kiara duduk lagi, perlahan.

Di video, pria itu menekan perampok ke dinding dan berkata sesuatu. Audio terlalu kacau untuk menangkap kata-katanya. Namun mulutnya bergerak pendek.

Tiarap.

Kiara tidak tahu bagaimana ia bisa menebak kata itu.

Mungkin karena ia pernah melihat Arga bicara seperti itu kepada Rendra.

Pendek.

Tidak memohon.

Tidak menjelaskan.

Hanya memutuskan.

Komentar di bawah video terus bertambah.

Gila, mantan aparat kali ya?

Gerakannya bersih banget.

Pahlawan bank! Ada yang tahu namanya?

Kiara menutup kolom komentar sebelum dadanya semakin sesak.

Arga.

Laki-laki yang selama dua tahun ia lihat mencuci gelas di dapur.

Laki-laki yang tidak pernah membalas ketika Ratna memanggilnya si numpang.

Laki-laki yang diam saja saat Galang melempar kunci mobil ke dadanya.

Laki-laki yang menandatangani perjanjian perceraian tanpa membaca.

Laki-laki yang datang dalam sebelas menit ketika ia menelepon dari lift hotel.

Kiara meletakkan ponsel di pangkuan.

Ingatan yang dulu lewat tanpa arti mendadak kembali satu per satu.

Malam ketika ia pulang hampir pukul satu, lampu dapur masih menyala. Arga sedang membersihkan meja. Ia tidak bertanya kenapa Kiara pulang terlambat. Ia hanya berkata, "Ada sup di panci. Masih hangat."

Pagi ketika supir keluarga sakit dan Ratna memerintahkan Arga mengantar semua orang. Arga mengatur rute dengan tenang, menghindari tiga titik macet tanpa membuka peta. Saat itu Kiara mengira ia hanya hafal jalan.

Hari ketika gelas jatuh dari tangan pembantu baru dan pecah di dekat kaki Kiara. Sebelum ia sempat mundur, Arga sudah berdiri di depannya, menahan serpihan dengan sandal rumah murah. Ia lalu meminta maaf kepada pembantu itu lebih dulu sebelum menoleh kepada Kiara.

Ada juga satu malam ketika Ratna kehilangan gelang berlian kecil dan seluruh pembantu diminta berdiri di dapur. Kiara masih ingat wajah-wajah pucat itu. Arga hanya keluar dari ruang cuci, menunjuk sela sofa ruang tamu, dan berkata, "Coba lihat di bawah bantal kanan."

Gelang itu ada di sana.

Ratna tidak berterima kasih.

Arga juga tidak meminta.

Hal-hal kecil.

Hal-hal yang ia abaikan karena semua orang di rumah itu sudah lebih dulu memberi Arga label.

Tidak berguna.

Benalu.

Numpang hidup.

Kiara mengambil ponsel lagi.

Ia membuka chat Arga.

Percakapan terakhir mereka terlalu singkat.

Kebanyakan pesan logistik.

Jangan lupa ambil obat Papa.

Tolong antarkan dokumen ke kantor.

Aku pulang malam.

Jawaban Arga hampir selalu sama.

Iya.

Sudah.

Aku urus.

Kiara menggulir lebih jauh.

Tiga bulan lalu, ia pernah mengirim pesan pukul 23.48.

Aku belum makan.

Arga menjawab pukul 23.49.

Aku taruh di meja. Jangan langsung minum kopi.

Saat itu ia hanya membalas dengan stiker jempol. Bahkan bukan terima kasih.

Sekarang stiker kecil itu terlihat sangat dingin.

Ia mengetik.

Kamu baik-baik saja?

Empat kata itu muncul di kotak pesan.

Kiara menatapnya lama.

Pertanyaan itu terlalu kecil setelah semua yang terjadi. Terlalu terlambat. Terlalu aman. Seperti ia hanya ingin memastikan seorang kenalan tidak terluka, tanpa berani mempertanyakan seluruh hidup yang baru saja berubah bentuk di hadapannya.

Ia menghapusnya.

Layar kosong.

Ia mengetik lagi.

Video bank itu kamu?

Ia menatap kalimat itu lebih lama.

Kalau ia mengirimnya, Arga mungkin akan menjawab pendek. Mungkin hanya "bukan urusanmu." Mungkin tidak menjawab sama sekali. Mungkin ia akan semakin jauh, karena Kiara baru bertanya setelah seluruh Jakarta mulai bertanya.

Ia menghapusnya juga.

Di luar kamar, langkah pelayan lewat pelan di koridor. Rumah ini masih rumah yang sama. Meja yang sama. Dinding yang sama. Tetapi bagi Kiara, sesuatu sudah bergeser dan tidak bisa dikembalikan.

Ia membuka video itu sekali lagi.

Pada detik ke dua puluh tujuh, pria berjaket lama menoleh sedikit. Cahaya bank mengenai sisi wajahnya.

Tidak jelas.

Tetapi cukup.

Kiara menyentuh layar dengan ibu jari.

"Arga," bisiknya.

Nama itu terdengar asing di kamarnya sendiri.

Ia membuka galeri, membuat folder baru, dan menyimpan video bank ke sana bersama tiga foto lama yang ia punya.

Ponsel meminta nama folder.

Kiara menatap kotak kosong itu.

Ia hampir menulis Arga.

Lalu ia menghapus huruf pertama sebelum sempat selesai.

Pada akhirnya, ia hanya mengetik satu tanda.

?

Folder itu tersimpan.

Kiara mematikan layar ponsel, tetapi tidak tidur.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak perjanjian perceraian ditandatangani, ia tidak bertanya kenapa Arga pergi.

Ia bertanya kenapa selama dua tahun, ia tidak pernah benar-benar melihatnya.

1
Solardy Lardy
joooss👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!