NovelToon NovelToon
Supir Ketos Nona Manja

Supir Ketos Nona Manja

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / Action
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Kenalkan, namaku Arkan Jaya. Aku bekerja sebagai supir di salah satu rumah orang kaya yang ada di daerahku.

Kebetulan, putri dari orang kaya tempat saya bekerja adalah orang yang sering saya hukum di sekolah dulu karena suka membuat onar.

Awalnya aku ragu untuk bekerja di rumah anak ini. Namun, karena aku terlahir miskin, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerimanya.

Orang tuanya bernama Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia.
Pria itu adalah Pak Frans Sanjaya. Di sampingnya, pintu mobil lain terbuka dan muncul sosok wanita anggun yang tak lain adalah Bu Sofia, ibunya. Hari itu adalah kali pertama aku melihat langsung kedua orang tua Clara secara jarak dekat. Aku yang saat itu hanya seorang Ketua OSIS dari keluarga biasa, tentu tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian, Pak Frans Sanjaya dan Bu Sofia-lah yang akan membayar gajiku sebagai supir pribadi putri manja mereka ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Ucapan Terima Kasih Nona Muda dan Laga Basket yang Membara

Keributan singkat di area restoran mewah tersebut perlahan mereda setelah pihak keamanan mall datang berhamburan untuk mengamankan empat pemuda yang sudah tergeletak mengerang kesakitan di atas lantai. Tanpa membuang waktu untuk berdebat panjang lebar dengan petugas kebersihan atau manajemen mall, Egi melangkah kembali ke meja tempat makanan pembukanya berada, menyandarkan tubuhnya dengan tenang, dan melanjutkan makan siangnya yang sempat tertunda seolah tidak baru saja melumpuhkan empat berandalan.

Fania Sanjaya, yang menyaksikan pemandangan mengejutkan itu secara langsung, melangkah pelan menghampiri mejanya sendiri. Namun kali ini, sikap arogannya yang penuh kepelesatan mendadak menguap tanpa sisa. Keangkuhan yang biasanya menghiasi raut wajahnya luntur total, berganti dengan ekspresi kecanggungan dan sedikit rasa sungkan yang amat jelas. Dia duduk dengan amat tertib, menyantap makanannya tanpa berani lagi mengeluarkan kritik atau celaan tajam pada pengawalnya.

Selesai menghabiskan hidangan masing-masing, keduanya pun memutuskan untuk segera meninggalkan mall dan meluncur pulang.

Di dalam kabin mobil sedan yang melaju membelah padatnya jalanan kota menuju kediaman Sanjaya, suasana tidak lagi sebeku pagi tadi. Fania yang duduk di kursi belakang terus meremas jemari tangannya sendiri, tampak beberapa kali mencuri pandang ke arah kaca spion tengah untuk memperhatikan raut wajah Egi yang tetap fokus memegang kemudi.

Setelah menimbang-nimbang keberanian cukup lama, Fania akhirnya berdeham pelan untuk memecahkan keheningan.

"Egi... emm... thank you ya," cicit Fania dengan suara yang diperhalus dari biasanya, pipinya agak merona tipis karena malu. "Terima kasih banyak... sudah menyelamatkan aku tadi dari pemuda-pemuda nakal itu."

Egi yang matanya tetap tertuju lurus ke depan hanya menyunggingkan senyum tipis, membalas dengan nada suara datar namun sopan. "Itu sudah menjadi bagian dari tanggung jawab saya sebagai pengawal Nona. Jadi Nona tidak perlu repot-repot berterima kasih."

Fania yang mendengar jawaban sangat formal dan ledat itu mendadak memanyunkan bibirnya sedikit, berusaha menutupi gengsinya yang masih tersisa. "Iya sih... memang sih, itu kan memang sudah tugas dan tanggung jawab kamu sebagai pengawal aku!" balas Fania cepat-cepat dengan nada menyela yang berniat mempertahankan gengsinya.

Egi hanya terkekeh pelan di dalam hati, enggan memperpanjang perdebatan dengan gadis muda tersebut.

Sesampainya di kediaman megah keluarga Sanjaya, mobil meluncur mulus berhenti tepat di depan teras utama. Dengan sigap, Egi melangkah keluar, membukakan pintu untuk Fania, lalu membawa seluruh kantong plastik berisi barang belanjaan bermerek milik sang nona muda hingga masuk ke dalam lorong utama.

"Barang-barangnya sudah saya turunkan semua di sini, Nona Fania," ucap Egi penuh profesionalisme seraya membungkukkan badan sedikit. "Jika tidak ada perintah atau keperluan lain dari Nona, saya mohon izin untuk kembali ke pos pengawas di area depan."

"Oh... iya, ya sudah. Sana pergi," gumam Fania pelan seraya membuang muka, walau di balik kibasan rambutnya dia menyempatkan diri mengangguk tipis.

Egi pun membalikkan badan dan melangkah mantap menuju pos pengamanan utama rumah besar Sanjaya untuk bergabung bersiaga bersama Pak Jhon dan tim pengawal senior lainnya.

Sementara itu, di lokasi yang berbeda—tepatnya di lapangan terbuka SMA Tiara Nusa—suasana siang hari terasa begitu bergelora dan membakar semangat. Riuh sorak-sorai serta tepuk tangan riuh siswa-siswi terdengar membahana mengelilingi lapangan basket.

Hari ini sedang dilangsungkan pertandingan persahabatan antar-tingkatan yang sangat bergengsi. Dan kebetulan, aku—si Ketua OSIS yang paling ganteng di sekolah ini (sekali-kali memuji diri sendiri di dalam hati kan tidak ada salahnya, toh memang kenyataan)—turun langsung ke lapangan membela tim kelas 12. Pertandingan kali ini mempertemukan tim veteran kelas 12 melawan tim junior kelas 10, yang mana tim kelas 10 diwakili oleh tim dari kelas milik Clara. Harus diakui, deretan siswa laki-laki di kelas Clara memang terkenal memiliki fisik jangkung dan jago bermain basket.

Di pinggir lapangan, Clara Adelin bersama sahabat karibnya, Diana, berdiri di barisan paling depan di antara kerumunan penonton. Clara mengenakan bando merah-putih, memegang corong kertas seraya melompat-lompat kecil memberi dukungan.

"Guys! Pokoknya kalau kalian bisa menang lawan kelas 12 hari ini, terus kalian berhasil mengalahkan si Ketos jahat itu di lapangan, aku bakal kasih kalian hadiah spesial yang super mahal dari aku!" teriak Clara dengan penuh semangat membara, menyuntikkan motivasi tinggi pada teman-teman sekelasnya.

Prrriiiittt!

Peluit tanda dimulainya pertandingan pun dibunyikan oleh wasit! Bola dilambungkan ke udara dan laga panas langsung meletup.

Sepanjang babak pertama, Clara bersama deretan siswi kelas 10 terus-terusan meneriakkan yel-yel heboh yang membakar semangat timnya. Sorak-sorai mereka makin pecah saat tim kelas 10 berhasil mencetak dua poin pertama lewat lembaran lay-up yang mulus.

"Bagus, Guys! Lanjutkan!" jerit Clara heboh seraya menunjuk-nunjuk ke arah lapangan. "Kalahkan kelas si Ketos jahat itu! Bikin si Ketos jahat itu malu di depan umum! Kalau perlu, bikin dia sampai kapok dan mundur dari jabatannya sebagai Ketua OSIS!"

Mendengar teriakan provokatif dari sang nona muda di pinggir lapangan, aku hanya bisa menyunggingkan senyuman tipis seraya mengusap keringat di dahiku. Oho, begitu ya permainannya? Mari kita beri sedikit pelajaran pada junior-junior ini.

Di babak kedua, pola permainan tim kelas 12 berubah total. Aku yang memegang kendali sebagai pembuat serangan mulai meningkatkan intensitas taktik. Dengan dribel yang cepat dan akurat, aku berhasil mengelabui dua pemain bertahan kelas 10, melesakkan tembakan tiga poin yang meluncur mulus masuk ke dalam ring!

SWOOSH!

Sorakan penonton netral seketika membahana! Kedudukan mulai mengejar, dan perlahan tapi pasti, situasi pertandingan berbalik total! Tim kelas 12 membombardir pertahanan lawan tanpa ampun, membuat tim kelas 10 tertinggal cukup jauh dari segi perolehan angka.

Hingga akhirnya, di sepuluh detik terakhir babak penentuan, skor menunjukkan angka ketat namun tim kami unggul dua poin.

Aku merebut bola liar hasil rebound, melompat tinggi di bawah ring lawan, lalu melesakkan dunk penentu kemenangan yang spektakuler tepat sebelum peluit panjang berbunyi!

PRRIIIITTTTT!

Pertandingan berakhir! Tim kelas 12 resmi keluar sebagai juara dengan kemenangan mutlak!

Raut wajah heboh Clara di pinggir lapangan seketika berubah menjadi kaku dan pucat pasi. Sorak-sorai kekalahannya terkunci rapat di tenggorokan, sementara aku dan teman-teman satu tim bersorak gembira merayakan kemenangan di tengah lapangan.

Beberapa saat kemudian, setelah selesai membasuh wajah dan mengganti seragam basket dengan seragam sekolah, aku berjalan menelusuri koridor lorong kelas yang agak sepi. Dari arah berlawanan, tampak Clara berjalan berdampingan dengan Diana. Langkah kaki Clara terlihat begitu berat dengan wajah yang ditekuk super judes akibat kekalahan timnya.

Saat jarak kami makin dekat, aku sengaja menghentikan langkahku tepat di depan mereka. Aku mengepalkan kedua tangan ke udara, memperagakan gerakan selebrasi kemenangan dengan gaya yang sangat heboh, melompat kecil

seraya mengulas senyuman paling manis bercampur ejekan.

"Yesss! Menang besar! Kelas 12 memang tidak ada tandingannya!" seruku dengan nada suara yang sengaja diperkeras.

Clara menghentikan langkahnya, matanya memelotot lebar menatap gaya selebrasiku yang sangat sengaja itu. Pipinya memerah karena menahan kejengkolan luar biasa.

"Ih! Dasar Ketos jahat menyebalkan! Nggak usah pamer di depan aku ya!" dengus Clara kesal seraya menghentakkan kakinya dan berjalan menerobos melewati bahuku.

Aku berbalik menatap punggungnya yang menjauh, tertawa renyah di dalam hati. Aduh Clara... Clara... Entah kenapa ya, semakin kamu marah dan memasang wajah judes seperti itu, tingkat kecantikan kamu itu malah kelihatan makin bertambah dua kali lipat.

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭🤭
Markario Putra: malas nih,kok cerita aku nggak ada yang mau baca sih
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!