Si Kecil yang Terbuang
Sejak lahir, Aluna Kirana dianggap sebagai pembawa kesialan hingga keluarganya tega membuangnya di tengah hujan. Beruntung, seorang nenek berhati mulia menemukannya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang meski hidup dalam keterbatasan.
Bertahun-tahun kemudian, Aluna tumbuh menjadi gadis yang lembut, kuat, dan penuh ketulusan. Tanpa disadari, takdir membawanya kembali bertemu dengan keluarga yang pernah membuangnya. Di saat penyesalan mulai menghantui mereka, Aluna juga dipertemukan dengan Arsen Mahardika, seorang CEO muda yang perlahan mengubah jalan hidupnya.
Ketika rahasia masa lalu terungkap, mampukah Aluna memaafkan mereka yang telah meninggalkannya? Ataukah ia akan memilih orang-orang yang mencintainya tanpa syarat?
Sebuah kisah penuh haru tentang luka, pengorbanan, keluarga, dan cinta yang membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh masa lalunya, melainkan oleh keteguhan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Kujangan yang Menimbulkan Kecurigaan
Pagi itu, Arsen dan Rangga berangkat menuju desa tempat Aluna tinggal. Selama perjalanan, Arsen lebih banyak diam sambil memandangi foto bayi dengan kalung bulan sabit yang tersimpan di ponselnya.
"Pak," ujar Rangga memecah keheningan.
"Iya?"
"Kalau ternyata firasat Bapak salah bagaimana?"
Arsen tersenyum tipis.
"Aku justru berharap begitu."
"Kenapa?"
"Karena kalau firasatku benar, berarti ada seseorang yang kehilangan keluarganya selama bertahun-tahun."
Rangga memahami maksud itu. Ia tidak bertanya lagi dan kembali fokus pada jalan.
Di rumah sederhana milik Ratih, Aluna sedang menyiram bunga sebelum berangkat ke sekolah.
"Nek, nanti sore Aluna pulang cepat."
"Iya, Nak. Hati-hati."
Belum lama Aluna pergi, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah.
Ratih yang sedang menyapu halaman tampak terkejut saat melihat Arsen turun dari mobil.
"Selamat pagi, Nek."
Ratih tersenyum ramah.
"Silakan masuk, Nak."
Arsen dan Rangga duduk di ruang tamu sederhana. Pandangan Arsen kembali tertuju pada foto Aluna kecil yang tergantung di dinding.
"Foto itu sudah lama sekali ya, Nek?"
Ratih mengangguk.
"Diambil saat Aluna masih bayi."
Arsen memberanikan diri bertanya.
"Maaf kalau saya lancang... apakah Aluna cucu kandung Nenek?"
Pertanyaan itu membuat Ratih terdiam cukup lama.
Tatapannya berubah sendu.
"Nak Arsen..."
"Saya hanya ingin mengetahui yang sebenarnya."
Ratih menghela napas panjang.
"Nenek belum bisa menjawab pertanyaan itu."
Arsen tidak memaksa.
"Kalau suatu saat Nenek ingin bercerita, saya siap mendengarkan."
Ratih mengangguk pelan.
Ia merasa pria muda di hadapannya bukan orang jahat, tetapi ia juga belum siap membuka rahasia yang selama ini dijaganya.
Di sekolah, Aluna kembali menjadi sasaran bisikan teman-temannya.
Keisha sengaja berjalan melewati bangku Aluna.
"Dengar-dengar ada mobil mewah lagi di rumahmu."
Aluna terkejut.
"Kamu tahu dari mana?"
Keisha hanya tersenyum sinis.
"Desa itu kecil. Berita cepat menyebar."
Aluna mulai khawatir.
Ia takut kedatangan Arsen membuat Ratih merasa tidak nyaman.
Untungnya, Siska segera mengalihkan pembicaraan dengan mengajak Aluna ke perpustakaan.
"Jangan dilayani."
"Tapi aku takut Nenek terganggu."
"Nenekmu kuat. Yang penting sekarang kamu tetap fokus belajar."
Aluna mengangguk pelan.
Sore harinya, Aluna pulang dengan tergesa-gesa.
Begitu tiba di rumah, ia langsung memeluk Ratih.
"Nek, tadi ada tamu?"
Ratih tersenyum lembut.
"Iya."
"Pak Arsen?"
"Iya."
"Apa beliau bertanya macam-macam?"
Ratih mengusap kepala Aluna.
"Hanya sedikit."
Aluna merasa tidak enak.
"Maaf ya, Nek."
"Untuk apa meminta maaf?"
"Karena sejak mengenal Pak Arsen, hidup kita jadi tidak tenang."
Ratih menggenggam kedua tangan Aluna.
"Luna, bukan Pak Arsen yang membuat semuanya rumit."
"Lalu siapa?"
Ratih tersenyum sedih.
"Masa lalu."
Jawaban itu membuat Aluna semakin bingung.
Ia ingin bertanya lebih jauh, tetapi melihat mata Ratih yang mulai berkaca-kaca, ia mengurungkan niatnya.
Malam mulai larut.
Di rumah keluarga Prasetya, Damar kembali membuka foto bayi yang selama ini disimpannya.
Selena yang masuk ke ruang kerja melihat suaminya termenung.
"Mas, foto siapa itu?"
Damar buru-buru menutup album.
"Bukan siapa-siapa."
Selena memandang suaminya penuh curiga.
Sudah beberapa hari terakhir Damar terlihat gelisah.
Namun, ia tidak mengetahui alasan sebenarnya.
Sementara itu, di dalam kamarnya, Aluna berdiri di depan cermin sambil memegang kalung bulan sabit yang selalu melekat di lehernya.
"Nek..."
"Kenapa aku merasa semua orang memperhatikan kalung ini?"
Ia mencoba mengingat sejak kapan memakainya, tetapi tentu saja tidak ada satu pun kenangan yang muncul.
Kalung itu sudah bersamanya sejak ia masih bayi.
Di luar rumah, seseorang berdiri di balik pepohonan sambil memperhatikan jendela kamar Aluna.
Orang misterius itu memegang sebuah foto lama.
Di foto tersebut terlihat seorang bayi perempuan yang mengenakan kalung bulan sabit yang sama.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Akhirnya... aku menemukanmu."
Tanpa disadari Aluna, bukan hanya Arsen yang mulai mencari masa lalunya. Ada orang lain yang juga telah menemukannya, tetapi tujuan kedatangannya masih menjadi sebuah misteri.