Enam tahun lalu, Kenzo Roman De Luca kehilangan seorang wanita yang tak pernah berhasil ia lupakan. Yang tak pernah ia ketahui, wanita itu pergi membawa dua kehidupan yang tumbuh menjadi anak-anak genius.
Takdir mempertemukan mereka kembali.
Namun, sebelum Kenzo mengetahui kebenarannya, seorang bocah laki-laki yang tak sengaja bertemu dengannya dengan berani menawari sesuatu padanya.
"Asal Anda siap menikah dengan Mommy kami. Maka saya siap bekerja sama dengan Anda," ujar Mateo enteng.
Kenzo terpaku, dia tak tahu anak yang sedang memohon kepadanya itu adalah putranya sendiri. Akankah, Kenzo setuju atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Farhan mengepalkan kedua tangannya, sementara Disti membelalak tidak percaya melihat suaminya diperlakukan demikian di depan begitu banyak orang.
Sementara itu, Kenzo masih berdiri tanpa mengubah ekspresi sedikit pun. Tatapannya yang dingin perlahan beralih dari Farhan menuju Mateo dan Alisya. Lalu, untuk pertama kalinya sejak tiba di sekolah itu, ia membuka mulut.
"Mateo, Alisya..."
Kedua bocah itu serentak mengangkat kepala. Namun, sebelum Kenzo melanjutkan ucapannya, sebuah suara dari belakang kerumunan terdengar memecah keheningan.
"Tunggu!"
Suara itu menggema dari arah belakang kerumunan. Semua orang spontan menoleh. Seorang guru muda berlari tergesa-gesa sambil membawa sebuah tablet dan beberapa lembar kertas yang baru saja dicetak, napasnya memburu.
"Pak Kepala Sekolah, saya..."
Melihat kepala sekolah masih terduduk sambil memegangi perutnya, guru itu langsung menghentikan langkahnya.
"Ada apa?" tanya salah seorang guru. Guru muda itu menelan ludah.
"Saya baru saja mengecek rekaman CCTV area penjemputan."
Kalimat itu membuat seluruh halaman sekolah kembali sunyi.
"CCTV?"
Farhan yang masih berlutut langsung mengangkat wajahnya.
Guru itu mengangguk, "kameranya mengarah tepat ke tempat kejadian. Tidak merekam seluruh sudut, tetapi cukup jelas."
Miss langsung melangkah maju.
"Apa yang terlihat?"
Guru muda itu menarik napas.
"Raka dan teman-temannya yang lebih dulu menghampiri Mateo dan Alisya."
Beberapa guru mulai saling berpandangan.
"Mereka mengepung keduanya, lalu..." Guru itu menunduk membaca catatannya.
"Terlihat salah satu anak mendorong Alisya hingga terjatuh."
Alisya refleks memegang siku kirinya yang masih terasa sakit.
Guru itu melanjutkan, "setelah melihat adiknya jatuh, Mateo berusaha melepaskan diri yang sebelumnya di pegang oleh dua anak lainnya. Mateo, menggigit tangan salah satu anak yang memegangnya. Setelah itu ia mendorong mereka. Raka yang kehilangan keseimbangan lalu terbentur pot bunga."
Tidak ada seorang pun yang berbicara. Keheningan berubah menjadi rasa tidak percaya. Miss mengembuskan napas lega.
"Sudah saya katakan. Periksa cctv untuk menyelesaikan masalah."
Tatapan Maya perlahan beralih kepada kepala sekolah dan para guru.
"Jadi, masih mau memaksa Mateo meminta maaf?"
Beberapa guru langsung menundukkan kepala. Bu Dina tampak memucat, Disti menggertakkan giginya.
"Itu belum tentu membuktikan apa pun! Mungkin anakku hanya bercanda."
"Bercanda?" Maya langsung menoleh.
"Sejak kapan mengejek teman sebagai anak haram disebut bercanda?"
Disti terdiam, saat itulah Kenzo akhirnya melangkah dan dia menghampiri Mateo. Seluruh mata mengikuti langkahnya. Kenzo berhenti tepat di depan putranya, ayah dan anak itu hanya saling menatap.
Mateo masih memasang wajah datar. Ia tidak menangis, tidak pula meminta dibela. Kenzo kemudian mengangkat tangannya perlahan. Semua orang menahan napas. Namun, yang dilakukan Kenzo bukanlah memarahi. Ia justru mengusap pelan kepala Mateo.
"Kamu terluka?"
Mateo menggeleng pelan. "Nggak!"
"Tetapi telinganya memerah," sela Maya saat melihat telinga Mateo memerah.
Kenzo melihat telinga putranya yang masih memerah. Sorot matanya kembali berubah dingin. Lalu ia menoleh ke arah Disti.
"Siapa yang berani menjewer anak saya?!"
Suasana kembali membeku. Disti tanpa sadar mundur selangkah, rasa percaya dirinya mulai memudar. Suasana halaman sekolah berubah sunyi. Ucapan Kenzo masih terngiang di telinga semua orang.
Disti mengerutkan kening.
"Anak...?" gumamnya lirih.
Beberapa guru saling berpandangan.
"Apa maksudnya? Jangan-jangan..."
Kepala sekolah yang masih terduduk perlahan mengangkat wajahnya. Matanya bergantian menatap Kenzo, lalu Mateo dan Alisya. Raut wajahnya berubah pucat.
"Tidak mungkin..." Disti masih menggeleng.
"Tuan Kenzo, sekalipun Anda ingin membela anak-anak ini, tidak perlu sampai mengaku mereka anak Anda. Faktanya mereka tetap bersalah, dan mereka tetap anak..."
Belum sempat kalimat itu selesai. Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Disti. Tubuh wanita itu kehilangan keseimbangan hingga terduduk di atas paving. Semua orang tersentak. Disti memegang pipinya dengan mata membelalak.
"A-Anda!"
Kenzo berdiri tanpa sedikit pun mengubah ekspresi dan tatapannya yang sedingin es.
"Jaga ucapan Anda! Karena setiap kata-kata yang Anda lontarkan tadi ditujukan kepada putra dan putri saya!"
Kalimat itu membuat seluruh halaman sekolah seolah berhenti bernapas.
"Apa? Jadi benar, Mateo dan Alisya anak Tuan Kenzo? Aku mengira tadi salah mendengarnya,"
Para guru yang sejak tadi meremehkan kedua bocah itu kini memucat. Miss menutup mulutnya, sementara Maya hanya mengembuskan napas lega. Akhirnya, kebenaran yang selama ini disembunyikan terungkap.
Kenzo menoleh kepada Digo. "Digo,"
"Ya, Tuan."
"Catat semua nama pihak yang terlibat dalam kejadian hari ini."
"Baik, Tuan."
"Hubungi tim hukum, dan siapkan langkah hukum yang diperlukan atas dugaan perundungan terhadap anak-anak, serta perlakuan yang tidak semestinya di lingkungan sekolah."
"Siap, Tuan."
Kenzo melanjutkan dengan nada tetap tenang.
"Selain itu, hentikan seluruh proses donasi yang sedang kita persiapkan untuk sekolah ini." Ucapan itu membuat kepala sekolah membeku.
"Tu-tunggu, Tuan Kenzo ... kami bisa menjelaskan..." Beberapa guru langsung panik.
"Maaf, Tuan. Kami terbawa suasana. Kami tidak tahu mereka anak Anda."
Kenzo menatap mereka satu per satu.
"Lalu kalau mereka bukan anak saya, apakah perlakuan kalian tadi menjadi benar?"
Tak seorang pun mampu menjawab. Kepala sekolah perlahan menundukkan kepala.
"Maafkan kami, Tuan. Kami telah gagal bersikap adil."
Digo menatap para guru dengan wajah datar.
"Permintaan maaf akan dicatat. Tetapi proses yang akan ditempuh perusahaan tetap berjalan sesuai hukum dan fakta yang ada."
Halaman sekolah kembali sunyi. Kini, bukan lagi karena kemarahan, melainkan karena semua orang menyadari bahwa tindakan mereka terhadap Mateo dan Alisya telah membawa konsekuensi yang jauh lebih besar daripada yang mereka bayangkan.
Kenzo kemudian mengalihkan pandangannya kepada Farhan. Sorot matanya tetap dingin.
"Dan Anda, Tuan Farhan."
Farhan perlahan berdiri. Wajahnya masih menahan amarah setelah dipaksa berlutut oleh Digo. Kenzo melangkah satu langkah mendekat.
"Saya mendengar sendiri ancaman yang Anda lontarkan kepada anak saya. Anda mengancam akan mematahkan kaki seorang anak berusia lima tahun. Anda juga memerintahkan orang lain untuk memaksanya berlutut."
Keheningan kembali menyelimuti halaman sekolah.
Kenzo melanjutkan, "selain itu, saya mendengar penghinaan yang ditujukan kepada kedua anak saya dan tidak ada upaya untuk menghentikannya."
Farhan mendengus. "Dia melukai anak saya!"
"Itu bukan alasan untuk mengancam seorang anak kecil," potong Kenzo tegas, lalu dia menoleh kepada Digo.
"Digo,"
"Ya, Tuan."
"Hubungi tim hukum. Saya akan membuat laporan resmi."
Farhan tersenyum meremehkan.
"Mau melaporkan saya? Saya juga seorang pengacara."
Kenzo tidak terpengaruh sedikit pun.
"Bagus, berarti Anda seharusnya memahami konsekuensi hukum dari setiap tindakan dan ucapan Anda."
Ia menatap Farhan tanpa berkedip.
"Tim hukum saya akan mengkaji seluruh bukti, termasuk rekaman CCTV, keterangan para saksi, dan dugaan tindak pidana yang mungkin timbul. Apabila unsur-unsurnya terpenuhi, kami akan menempuh jalur hukum, termasuk terkait dugaan ancaman, perbuatan tidak menyenangkan yang melanggar hukum, atau tindakan lain yang relevan berdasarkan peraturan perundang-undangan."
Kenzo sengaja tidak menyebutkan pasal tertentu sebelum ada kajian hukum.
"Saya tidak akan mengadili Anda di halaman sekolah ini, meskipun Saya mampu bukan hanya tangan atau kaki anda yang bisa saya patahkan, tapi nyawa Anda bisa dicabut Tuhan kapanpun. Tetapi, saya akan membawa persoalan ini ke proses hukum yang semestinya."
Farhan mulai kehilangan senyumnya.
Kenzo kembali berkata, "begitu pula dengan dugaan perundungan terhadap anak-anak saya. Jika terbukti ada pihak yang dengan sengaja menghina, mengintimidasi, atau membiarkan tindakan itu terjadi, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum." Kenzo melirik ke arah semua guru yang kini menatapnya dengan wajah pucat
Digo mengangguk.
"Semua rekaman CCTV, daftar saksi, dan dokumentasi lokasi akan kami amankan, Tuan."
"Baik." Kenzo lalu menatap Farhan untuk terakhir kalinya.
"Di pengadilan nanti, kita lihat siapa yang mampu mempertanggungjawabkan setiap ucapannya."
Setelah mengatakan itu, Kenzo dan kedua anaknya pergi, serta Maya dan Digo juga ikut meninggalkan halaman sekolah.
anknya di biarin aja
bini nya tangannya ga mau dilepas 🫣🤣🤣
dasar...mantan jomblo 40 th🙄
aku suka keributan ini
asal kau di sisi ku dan memegang erat tangan ku
semua akan baik baik saja 😍