"Arga Pratama menjalani dua tahun sebagai menantu paling dihina di Jakarta. Keluarga istrinya memperlakukannya seperti benalu. Dia menanggung semuanya dalam diam.
Yang tidak ada yang tahu: dia adalah Acrux, investor anonim di balik Cakra Capital — kekayaan ratusan triliun dan masa lalu militer yang dirahasiakan pemerintah.
Sekarang, satu per satu, mereka akan tahu kebenarannya — dan menyesal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardana Bayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 010: Obligasi Konversi Anonim
Dua hari setelah kunjungan ke Bogor, hujan kembali turun di Jakarta.
Di ruang kerja Villa Puncak, Arga Pratama berdiri di depan layar besar yang menampilkan neraca PT Hartono Group. Angka-angkanya tidak buruk. Tetapi setelah Kejatuhan Kusuma, pasar tidak lagi membaca angka dengan mata tenang.
Kepercayaan berubah menjadi barang mahal.
Dan Hartono sedang kekurangan itu.
Dinda Permata muncul di layar video conference dengan kemeja biru muda dan wajah orang yang sudah membaca dokumen terlalu banyak sebelum sarapan.
"Kamu yakin mau masuk sekarang?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Mereka butuh likuiditas."
"Mereka juga keluarganya Kiara."
Arga menatap kolom arus kas. "Justru karena itu."
Dinda menyandarkan punggung. "Kamu sadar ini akan jadi senjata besar kalau nanti dibuka?"
"Itu tujuan keduanya."
"Tujuan pertamanya?"
Arga tidak langsung menjawab.
Di layar, ada laporan pasar: beberapa bank menahan ekspansi kredit untuk grup yang punya hubungan sosial terlalu dekat dengan Kusuma. PT Hartono Group tidak ikut terseret secara hukum, tetapi rumor cukup untuk membuat biaya pendanaan naik. Kiara masih bisa mengelola, tetapi Bu Agung dan para paman akan memakai tekanan itu untuk mengikatnya lebih kuat.
"Tujuan pertamanya," kata Arga, "jangan biarkan perusahaan yang dia jaga runtuh karena orang-orang di sekitarnya bodoh."
Dinda menghela napas.
"Baik. Skema paling bersih: obligasi konversi. Rp 2 triliun. Pembeli institusi lewat PT Cakra Capital Investama. Investor identity protected sesuai aturan. Tidak ada nama kamu. Tidak ada related-party issue karena kamu tidak tercatat sebagai pengurus Hartono."
"Saham treasuri?"
"Bisa. Kita strukturkan sebagai convertible bond dengan opsi konversi ke saham treasuri yang sudah disiapkan. Tidak ada dilusi baru. Tapi voting power baru aktif saat konversi."
"Jangan konversi sekarang."
"Aku tahu." Dinda memutar mata. "Kamu mau simpan peluru sampai mereka merasa paling aman."
Arga menatapnya.
Dinda tersenyum tipis. "Aku CEO kamu. Aku dibayar mahal untuk membaca niat jahatmu."
"Kamu tidak dibayar."
"Aku mengambil gaji dari perusahaanmu setiap bulan."
"Perusahaan kita."
Untuk sesaat, wajah Dinda melunak. Lalu ia kembali ke mode kerja.
"Ada satu isu. PT Hartono Group harus melaporkan penerbitan obligasi ini ke OJK dan BEI sesuai ketentuan. Nama pembeli institusi akan muncul sebagai entitas, tetapi beneficial owner tetap bisa tertutup dalam struktur legal. Bu Agung mungkin penasaran, tapi mereka tidak punya dasar memaksa membuka nama orang di belakangnya."
"Bagus."
"Aku akan kirim term sheet sore ini."
Arga membaca ringkasan di layar:
Nilai pokok: Rp 2.000.000.000.000.
Instrumen: obligasi konversi.
Penerbit: PT Hartono Group.
Investor: PT Cakra Capital Investama.
Hak konversi: belum dieksekusi.
"Dinda."
"Ya?"
"Uang ini tidak boleh dipakai Galang untuk proyek main-main."
"Klausul penggunaan dana: refinancing utang jangka pendek, modal kerja, dan proyek yang disetujui komite audit. Aku masukkan covenant. Kalau mereka melanggar, kita punya hak mempercepat jatuh tempo atau menolak restrukturisasi."
Arga mengangguk.
"Dan satu lagi," katanya. "Kiara tidak boleh tahu terlalu cepat."
Dinda menatapnya lama.
"Dia akan tahu suatu hari."
"Aku tahu."
"Dan dia akan marah."
"Aku juga tahu."
"Bagus. Selama kamu sadar."
Di hari yang sama, lantai keuangan PT Hartono Group lebih riuh daripada biasanya.
Sinta Rahayu berdiri di depan ruang rapat kecil dengan tablet di tangan. Ia bukan orang yang mudah panik. Sebagai salah satu orang kepercayaan Kiara di sisi operasional, ia sudah melihat cukup banyak rapat keluarga yang lebih mirip medan perang daripada manajemen perusahaan.
Namun hari itu, bahkan Sinta terlihat sulit menyembunyikan lega.
"Ada institusi yang bersedia menyerap obligasi konversi kita," katanya kepada Kiara dan beberapa pejabat keuangan. "Nilainya signifikan. Dua triliun rupiah."
Direktur keuangan hampir berdiri dari kursinya. "Dua triliun?"
"Ya."
Kiara mengambil dokumen ringkasan. Matanya cepat bergerak dari satu klausul ke klausul lain.
"Investor?"
"PT Cakra Capital Investama."
Nama itu membuat jari Kiara berhenti.
Cakra.
Nama dari televisi. Nama dari folder kecil di kepalanya yang entah kenapa terus muncul bersamaan dengan Arga.
"Mereka baru saja konferensi pers," kata direktur keuangan. "Fund besar. Kalau mereka masuk, pasar akan membaca ini sebagai vote of confidence."
Sinta mengangguk. "Tapi identitas partner mereka tidak dibuka. Secara hukum tidak wajib dibuka di tahap ini."
Kiara menatap halaman terakhir.
Tidak ada nama orang.
Hanya nama perusahaan, kantor hukum, nomor akta, dan tanda tangan perwakilan institusi.
"Klausulnya cukup ketat," kata Kiara.
"Ketat, tapi sehat," jawab Sinta. "Mereka membatasi penggunaan dana. Jujur, ini lebih baik daripada pinjaman bank baru dengan bunga tinggi."
Di sisi lain ruangan, Hendra Hartono mendengus. "Investor baru selalu sok bersih. Yang penting uangnya masuk."
Bambang menimpali, "Kalau pasar tenang, harga saham kita pulih. Tidak perlu terlalu dipikirkan siapa mereka."
Kiara tidak menjawab.
Ia terus membaca.
Bu Agung, yang duduk di ujung meja, mengetukkan kuku ke permukaan kayu.
"Apa mereka meminta kursi direksi?"
Sinta menggeleng. "Tidak pada tahap ini, Bu. Selama belum konversi, mereka kreditur pemegang obligasi. Hak mereka terbatas pada klausul perlindungan investor."
"Klausul perlindungan seperti apa?"
Kiara menjawab sebelum Sinta. "Pembatasan penggunaan dana, pelaporan kuartalan, larangan transaksi afiliasi tanpa persetujuan komite audit, dan hak percepatan jika ada pelanggaran material."
Galang, yang sejak tadi memainkan pulpen, mendengus. "Ribet sekali. Kita butuh uang. Kuliah tata kelola bisa nanti."
Kiara menatapnya. "Justru karena kita butuh uang, kita tidak boleh terlihat seperti perusahaan yang takut tata kelola."
Ruangan diam sebentar.
Sinta menahan senyum kecil. Ia jarang melihat seseorang memotong Galang setepat itu tanpa meninggikan suara.
Bu Agung mengambil dokumen. Matanya bergerak pelan di atas baris-baris klausul. Perempuan tua itu tidak menyukai investor yang memasang pagar terlalu rapat, tetapi ia juga tahu pasar sedang mengawasi Hartono setelah badai Kusuma.
"Terima," katanya akhirnya. "Tapi pantau mereka."
"Baik, Bu," jawab Sinta.
Kiara menutup dokumen.
Nama Cakra Capital tetap tinggal di kepalanya.
Ia teringat folder "?" di ponselnya. Terlalu banyak hal yang belum tersambung: video bank, Arga yang selalu menghindar, Cakra yang tiba-tiba membeli properti di sektor yang sedang disentuh keluarganya, lalu sekarang Cakra menjadi penyelamat likuiditas Hartono.
Ia tahu ini mungkin hanya kebetulan.
Tetapi belakangan, kata kebetulan mulai terasa malas.
Di Villa Puncak, sore menjelang malam, Dinda mengirim pesan terakhir.
Term sheet accepted. Mereka senang seperti orang dikasih payung waktu hujan.
Arga membalas:
Jangan biarkan mereka tahu siapa yang memegang payung.
Dinda:
Tenang. Di halaman terakhir hanya ada nama institusi.
Beberapa menit kemudian, salinan digital perjanjian masuk ke tablet Arga.
Ia membuka halaman terakhir.
Kolom penerbit: PT Hartono Group.
Kolom investor: PT Cakra Capital Investama.
Nama Arga Pratama dan Acrux sama-sama lenyap dari laporan itu.
Hanya satu peluru yang disimpan rapi di dalam dokumen legal.
Arga menutup tablet.
"Belum waktunya," katanya.