Karin mengira semuanya telah berakhir saat tubuhnya terjatuh ke dasar jurang. Namun ketika membuka mata, ia justru kembali menjadi gadis berusia dua puluh tahun dan mendapati kedua orang tuanya masih hidup.
Kesempatan kedua itu membuatnya bersumpah mengubah takdir. Ia harus menyelamatkan keluarganya dan menghindari pernikahan dengan Giorgino, pria yang kelak menghancurkan hidupnya.
Demi menggagalkan rencana perjodohan, Karin nekat mengaku telah memiliki kekasih. Masalahnya, pria itu tidak pernah ada.
Dalam kepanikannya, hanya satu nama yang terlintas di benaknya—Kai, mahasiswa berandal yang dingin, cuek, dan terkenal sebagai badboy kampus.
Namun semakin dekat dengannya, Karin menyadari bahwa kehidupan keduanya ternyata menyimpan rahasia yang jauh lebih besar daripada sekadar kesempatan hidup kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LaQuin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepercayaan
Bab 25
Suasana kampus kembali ramai setelah hujan deras yang mengguyur sehari sebelumnya. Langit terlihat cerah, sementara halaman fakultas dipenuhi mahasiswa yang berlalu-lalang membawa buku dan laptop. Beberapa kelompok tampak memanfaatkan waktu sebelum kuliah dimulai untuk menyelesaikan tugas presentasi yang akan dilaksanakan minggu depan.
Di salah satu sudut taman kampus, Raka duduk di bangku panjang sambil memegang segelas kopi dingin.
Matanya terus memperhatikan pintu gerbang.
Tak lama kemudian, Nia berjalan masuk sambil membawa beberapa buku tebal.
Raka langsung melambaikan tangan.
"Selamat pagi, Bu Dosen!"
Nia berhenti di depannya.
"Aku bukan dosen."
"Tapi gayamu kalau ngomel sudah mirip."
Nia mendengus pelan.
"Kamu pagi-pagi sudah cari masalah?"
"Bukan."
"Lalu?"
Raka mengangkat gelas kopinya.
"Aku lagi nunggu seseorang."
Nia melirik ke sekeliling.
"Pacar?"
Raka tertawa.
"Belum punya."
"Syukurlah."
"Lho?"
"Soalnya kasihan kalau ada yang dapat."
Raka pura-pura memegang dada.
"Pedih."
Nia terkekeh kecil sebelum melanjutkan langkahnya.
Namun baru dua langkah berjalan, Raka kembali memanggil.
"Nia!"
"Apa lagi?"
"Nanti istirahat jangan kabur."
"Kenapa?"
"Bantu pilih desain presentasi."
Nia mengangguk singkat.
"Kalau sempat."
"Berarti sempat."
"Kepedean."
Melihat Nia akhirnya tersenyum sebelum pergi membuat Raka ikut tersenyum sendiri.
"Dikit lagi..." gumamnya pelan. "Dikit lagi pasti dia nggak galak."
-
-
-
Sementara itu, di gedung fakultas...
Karin baru saja selesai mencetak beberapa lembar materi presentasi.
Ia berjalan melewati koridor menuju ruang kelas ketika melihat seseorang berdiri tidak jauh dari pintu.
Kai.
Namun ia tidak sendirian. Di depannya berdiri Maureen yang sedang membawa map berwarna biru. Keduanya tampak berbicara pelan.
Langkah Karin tanpa sadar melambat. Ia tidak mendengar isi pembicaraan mereka. Hanya melihat Maureen sesekali tersenyum sambil menjelaskan sesuatu. Dan Kai terlihat mendengarkan dengan tenang.
Karin berhenti beberapa meter dari mereka. Entah mengapa..., ia memilih menunggu. Beberapa detik kemudian ia baru menyadari tingkahnya sendiri.
"Kenapa aku berhenti?" gumamnya lirih.
Padahal ia bisa saja langsung menghampiri Kai seperti biasa. Namun kakinya justru enggan bergerak.
Tak lama kemudian Maureen menyerahkan sebuah map kepada Kai.
"Kalau ada yang kurang nanti bilang saja."
"Iya."
"Semangat presentasinya."
"Terima kasih."
Maureen mengangguk pelan sebelum akhirnya berjalan pergi.
Saat perempuan itu benar-benar menghilang di ujung koridor, barulah Karin kembali melangkah.
"Pagi."
Kai menoleh.
"Oh, Karin. Kamu sudah lama?"
"Baru sebentar."
Kai mengangkat map yang baru diterimanya.
"Tadi Maureen ngasih contoh laporan presentasi."
"Oh..."
Karin berusaha terdengar biasa saja.
"Bagus juga."
"Iya."
Kai sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi Karin.
Baginya, pertemuan dengan Maureen hanyalah urusan administrasi seperti biasanya.
Mereka pun berjalan menuju kelas. Di tengah perjalanan, Karin akhirnya bertanya pelan.
"Sering ketemu Maureen ya?"
Kai berpikir sejenak.
"Belakangan ini lumayan. Soalnya? Dia sering bantu urusan administrasi observasi."
"Oh..."
Jawaban itu terdengar masuk akal. Namun anehnya, perasaan mengganjal di hati Karin belum juga hilang. Ia justru merasa lega ketika tahu pembicaraan mereka hanya soal tugas.
Loh..Aku kenapa, sih?
-
-
-
Jam kuliah berlangsung cukup lancar.
Presentasi masing-masing kelompok mendapat beberapa masukan dari dosen. Ketika giliran kelompok Karin selesai, dosen mengangguk puas.
"Datanya cukup lengkap. Namun bagian kesimpulannya masih bisa diperkuat."
Kai segera mencatat semua masukan itu.
Sementara Raka menoleh kepada Nia sambil berbisik,
"Selamat."
"Kenapa?"
"Kita belum dimarahin."
Nia menahan tawa.
"Itu karena kali ini kamu benar-benar kerja."
Raka tersenyum bangga.
"Makanya jangan suka fitnah aku."
"Aku bukan fitnah."
"Hah?"
"Aku cuma mengingatkan masa lalumu."
Raka menggeleng pasrah.
"Susah memang kalau reputasi sudah rusak."
Karin dan Kai yang mendengar percakapan itu ikut tersenyum kecil.
Keberadaan Raka memang selalu berhasil mencairkan suasana.
-
-
-
Sore harinya...
Setelah seluruh kegiatan di kampus selesai, Karin dan Kai berjalan menuju gerbang.
Di perjalanan, Karin kembali mengingat pesan kedua orang tuanya.
"Oh iya."
"Hm?"
"Ingat kan malam ini?"
Kai mengangguk.
"Iya."
"Kamu jadi datang?"
"Kalau Om dan Tante benar-benar mengundang...aku datang."
Karin tersenyum puas.
"Bagus. Mama dari tadi pagi sudah semangat pergi belanja. Mungkin sekarang sudah prepare masak."
Kai tertawa kecil.
"Aku jadi agak gugup."
"Kamu gugup?"
"Iya."
"Kok bisa?"
Kai mengusap tengkuknya.
"Aku takut salah bicara."
Karin justru tertawa.
"Papa sama Mama nggak seseram itu."
"Aku tahu. Tapi tetap saja."
Melihat Kai yang biasanya tenang kini tampak sedikit canggung membuat Karin merasa gemas.
"Tenang."
"Nanti aku bantu."
Kai mengangguk kecil.
"Terima kasih."
Tanpa mereka sadari, dari kejauhan Maureen kembali melihat keduanya berjalan berdampingan. Tatapannya berhenti beberapa saat. Lalu perlahan ia membuang napas.
Entah kenapa, setiap kali melihat Kai bersama Karin, dadanya terasa sedikit sesak. Padahal beberapa minggu lalu, semua itu sama sekali tidak berarti baginya.
Apa perasaannya mulai berubah?
-
-
-
Menjelang pukul tujuh malam, rumah keluarga Wirawan tampak lebih ramai dari biasanya. Aroma berbagai masakan memenuhi ruang makan. Hesti sejak sore sibuk di dapur, sementara Pak Wirawan beberapa kali keluar masuk ruang makan untuk membantu menata meja.
"Karin."
"Iya, Ma?"
"Tolong ambilkan gelas yang di lemari."
"Baik."
Karin mengambil empat buah gelas kaca, lalu meletakkannya di atas meja.
Hesti memperhatikan putrinya sambil tersenyum tipis.
"Kamu kelihatan gugup."
"Hah? Nggak kok."
"Masa?"
Karin menggeleng cepat.
"Aku cuma takut Kai jadi sungkan."
"Justru itu yang Mama harapkan."
"Maksud Mama?"
"Supaya dia merasa rumah ini juga tempat yang nyaman untuk dikunjungi."
Ucapan itu membuat Karin tersenyum kecil.
Bel rumah pun berbunyi.
"Ting... tong..."
"Papa yang buka."
Pak Wirawan berjalan menuju pintu. Sesaat kemudian terdengar suaranya.
"Kai! Masuk, Nak."
Kai berdiri di depan pintu sambil membawa sebuah kotak kecil.
"Permisi, Om."
"Lho, kenapa bawa oleh-oleh?"
"Ini... cuma roti."
Pak Wirawan menepuk bahu Kai pelan.
"Lain kali nggak usah repot."
Kai hanya tersenyum canggung.
Begitu masuk ke ruang tamu, Hesti langsung menyambutnya.
"Selamat malam."
"Selamat malam, Tante."
"Kamu pasti capek, habis kerja langsung ke sini."
"Nggak apa-apa, Tante."
Karin yang berdiri di dekat ruang makan memperhatikan Kai dari kejauhan.
Entah kenapa, melihat Kai berbicara sopan dengan kedua orang tuanya membuat hatinya terasa hangat.
"Sudah, duduk dulu," kata Pak Wirawan.
"Kita makan sebentar lagi."
Kai mengangguk.
"Iya, Om."
Suasana rumah terasa begitu nyaman. Pak Wirawan beberapa kali mengajak Kai mengobrol tentang kuliah dan pekerjaannya di bengkel.
"Kuliah sambil kerja masih kuat?"
"Alhamdulillah masih, Om."
"Kalau capek?"
Kai tersenyum tipis.
"Capeknya hilang kalau ingat tujuan."
Jawaban itu membuat Pak Wirawan mengangguk puas.
"Bagus. Anak muda memang harus punya tujuan."
Tak lama kemudian Hesti mempersilakan semuanya duduk di meja makan. Baru saja Pak Wirawan hendak mengambil nasi...
Bel rumah kembali berbunyi.
"Ting... tong..."
Semua saling berpandangan.
"Siapa malam-malam begini?" gumam Hesti.
"Papa lihat dulu."
Pak Wirawan kembali menuju pintu.
Ketika pintu dibuka, seorang pria berdiri sambil membawa sebuah payung hitam.
"Gio?"
"Selamat malam, Om. Maaf mengganggu."
"Nggak mengganggu. Masuk dulu."
Gio tersenyum sopan.
"Sebenarnya saya cuma mau mengembalikan... eh, maksud saya mengantarkan payung yang kemarin dipakai Karin."
Ia menyerahkan payung itu kepada Pak Wirawan.
"Kemarin kebetulan saya lewat kampus. Karin kehujanan, jadi saya antar pulang."
Pak Wirawan tampak terkejut.
"Begitu ya?"
"Iya, Om."
"Karin nggak cerita."
Karin yang mendengar itu langsung merasa kikuk. Ia memang sengaja tidak menceritakan detail kejadian kemarin karena menganggapnya tidak penting.
"Kalau begitu sekalian saja masuk," kata Pak Wirawan. "Kami baru mau makan malam."
Gio berpura-pura menolak.
"Ah, jangan repot, Om."
"Nggak repot."
"Iya, Nak," sahut Hesti dari ruang makan. "Makan saja dulu."
Gio akhirnya mengangguk pelan.
"Kalau begitu... terima kasih."
Begitu memasuki ruang makan, pandangannya bertemu dengan Kai.
Mereka saling mengangguk sebagai bentuk sapaan.
"Silakan duduk," kata Pak Wirawan.
Kini suasana meja makan berubah sedikit canggung. Hesti berusaha mencairkan suasana dengan membagikan lauk kepada semua orang.
"Silakan dimakan."
"Iya, Tante."
Beberapa menit pertama berlangsung cukup tenang. Pak Wirawan sesekali membahas pekerjaan. Gio menjawab dengan sopan.
Kai pun hanya berbicara jika ditanya. Lalu, tanpa sengaja, Gio kembali menyinggung kejadian kemarin.
"Untung kemarin saya lewat kampus. Kalau tidak, Karin mungkin masih menunggu hujan reda."
Pak Wirawan menoleh kepada putrinya.
"Memangnya hujannya sederas itu?"
Karin mengangguk.
"Iya, Pa."
"Untung ada Gio." Ujar Hesti.
"Iya..." Jawaban Karin terdengar pelan.
Di seberangnya, Kai hanya diam sambil melanjutkan makan. Ekspresinya tetap tenang. Namun justru ketenangan itulah yang membuat Karin semakin tidak enak hati.
Entah mengapa, ia merasa ingin menjelaskan semuanya saat itu juga.
Untungnya, Gio tidak memperpanjang pembicaraan tersebut. Ia segera mengalihkan topik ke hal lain.
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Gio melihat jam tangannya.
"Om, Tante... saya pamit dulu."
"Lho, cepat sekali?" tanya Hesti.
"Masih ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan."
Pak Wirawan mengangguk.
"Hati-hati di jalan."
"Terima kasih, Om."
Sebelum pergi, Gio sempat menoleh kepada Karin.
"Terima kasih makan malamnya."
"Sama-sama."
Ia juga mengangguk kepada Kai.
"Mari."
"Mari."
Setelah pintu rumah tertutup, suasana kembali terasa lebih santai. Pak Wirawan bahkan mulai bercerita tentang pengalaman lucunya saat pertama kali merintis perusahaan.
Kai beberapa kali ikut tertawa mendengarnya.
-
-
-
Malam semakin larut. Kai pun berpamitan.
"Om, Tante... saya pulang dulu."
"Hati-hati, Nak. Jangan sungkan datang lagi," kata Hesti.
"Iya, Tante."
Karin mengantar Kai sampai ke halaman depan. Sesaat setelah pintu rumah tertutup, ia langsung menghentikan langkah.
"Kai..."
"Hm?"
Karin menunduk beberapa detik.
"Tentang kemarin..., aku sebenarnya nggak mau naik mobil Gio."
Kai menatapnya tanpa menyela.
"Kampus lagi ramai. Banyak yang lihat. Aku jadi nggak enak kalau terus nolak." Ia menarik napas pelan. Aku benar-benar terpaksa."
Beberapa saat Kai hanya diam. Lalu ia tersenyum tipis.
"Aku tahu."
Karin mengangkat wajahnya.
"Kamu... tahu?"
Kai mengangguk.
"Sejak awal aku tahu. Kamu sedang berusaha menjauh dari Gio kan? Kalau akhirnya kamu menerima bantuannya...pasti ada alasan."
Karin terdiam.
Dadanya terasa hangat mendengar kalimat sederhana itu.
"Kamu nggak marah?"
Kai menggeleng pelan.
"Buat apa? Aku percaya sama kamu."
Sesaat mereka saling diam. Masing-masing larut pada pikirannya tentang apa yang baru saja terucap.
Aneh. Bagi Karin... seharusnya ia tidak perlu menjelaskan. Dan bagi Kai, ia tidak perlu mengucapkan kalimat terakhir. Karena mereka sama-sama tahu, hubungan mereka bukan sepasang kasih.
Seketika keduanya menjadi canggung, begitu menyadari.
Tapi empat kata yang di ucapkan kai itu, bagi Karin sangat berharga daripada penjelasan panjang apa pun.
"Terima kasih..."
Kai balas tersenyum.
"Sudah malam. Aku pulang dulu."
"Iya. Hati-hati."
"Kamu juga."
Kai berjalan menuju motornya. Sementara Karin masih berdiri di teras rumah, memandangi punggung pria itu hingga menghilang di ujung jalan.
Ia baru menyadari bahwa kepercayaan Kai membuat hatinya berdebar lebih kuat daripada sebelumnya.
-
-
-
Bersambung...