NovelToon NovelToon
HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

HUKUM SEPULUH SENTI: SANG PENGGULUNG WAKTU

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Tamat
Popularitas:213
Nilai: 5
Nama Author: Mara Nata

Langit di atas dataran utara tidak pernah benar-benar bersih. Di bawah kekuasaan Perguruan Pedang Langit, salju yang turun tidak berwarna putih suci, melainkan abu-abu pekat cenderung hitam, terkontaminasi oleh jelaga ribuan tungku penempaan baja dan pembakaran dupa energi yang tak pernah padam. Bagian luar sekte itu adalah hamparan lumpur beku yang dingin, tempat di mana kasta terendah manusia—para budak dan pekerja paksa—merangkak demi menyambung nyawa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Samudra Terbalik dan Air Mata Es"

DENG!!!!!!!!!!!

Gelombang distorsi monokrom abu-abu kembali meledak dari pusat tubuh Kala. Kali ini, jangkauan energinya menembus hingga radius dua kilometer di atas samudra awan Alam Atas.

Hukum Sepuluh Senti aktif dengan kekuatan penuh. Ribuan pusaran badai tornado raksasa milik Dewa Angin Vayu mendadak membeku kaku di udara hampa. Jutaan bilah pisau angin yang tajam laksana silet mengeras seketika di atmosfer, membentuk gugusan kristal es hijau monokrom yang mati.

Dewa Angin Vayu sendiri terpaku kaku di dalam pusaran awan badainya. Tubuh ilahinya yang setinggi lima meter mematung dengan cambuk petir yang masih terangkat di udara. Meskipun dia adalah entitas Ranah Dewa Sejati, posisinya yang berada di barisan dewa tingkat bawah membuatnya tidak mampu menembus belenggu waktu absolut milik Kala dalam satu detik pertama.

Dada Kala bergemuruh hebat, dan seteguk darah perak mengalir di sudut bibirnya. Menjeda hukum alam angin orisinal di Alam Atas menguras tenaga batinnya dengan sangat cepat.

"Satu detik," bisik Kala dalam keheningan total semesta yang abu-abu.

Kala tidak melesat untuk menebas tubuh Vayu. Sesuai strategi batin yang dirancang bersama Yggdrasil, dia menggunakan Tebasan Gelombang Nihilitas.

Pupil mata kiri Black Hole Kala melebar secara ekstrem, berputar cepat berlawanan arah jarum jam. Sebuah pusaran kegelapan hampa udara berskala masif termaterialisasi di tengah langit Domain Langit Hijau. Gaya tarik gravitasi nihilisme yang tak terbatas meluncur gila-gilaan, menarik paksa seluruh ribuan tornado dan jutaan pisau angin yang membatu itu untuk melengkung dan terhisap masuk ke dalam satu titik konsentrasi energi di ujung pedang Kala.

Seluruh esensi hukum angin orisinal milik Vayu dipadatkan secara ekstrem menjadi sebuah bola badai nihilisme berukuran kepalan tangan yang berdenyut dengan warna hitam-hijau pekat.

Kala menarik penuh pedang Jian hitam berkilau emasnya dari sarung kayu Yggdrasil. Di dalam bilahnya, bayangan spiritual Liana berkilat terang, menyalurkan energi Cahaya Kosmis yang menembus batas dimensi.

"Tebasan Nihilitas Kosmos: Pelenyap Badai!"

Kala mengayunkan pedangnya, memotong bola energi padat tersebut dalam satu gerakan vertikal yang sangat halus. Tebasan itu merobek ruang dimensi hampa secara absolut, menciptakan celah hitam raksasa yang menembus langsung ke arah dada Dewa Angin Vayu. Setelah menebas, Kala mendorong kembali bilah tipisnya masuk ke dalam sarung kayu dengan presisi mutlak.

KLIK.

Satu detik keheningan abadi berakhir. Waktu semesta Alam Atas kembali diputar dengan suara dentangan yang keras.

BOOOOOOOOOOMMMMMMMM!!!!!!!!!!!

Sebuah ledakan balik dari energi badai nihilisme yang sejuta kali lebih padat meledak tepat di depan dada Vayu. Gelombang kejut hitam-hijau itu menghantam zirah awan badainya hingga hancur berkeping-keping.

"AAARRRGGGHHH!!!"

Vayu melolong panjang, tubuh ilahinya terlempar ribuan meter menabrak pulau terapung hingga hancur lebur menjadi puing-puing batu yang berjatuhan ke samudra awan. Dia jatuh terduduk dengan dada yang telah robek mengeluarkan darah ilahi berwarna perak cair. Setengah dari keabadian dan hukum energinya telah hancur dalam satu tebasan.

Kala tidak memberikan waktu bagi Vayu untuk memulihkan diri. Menggunakan basis kultivasi Ranah Setengah Dewa Tingkat Awal, tubuh Kala melesat laksana kilat hampa udara, langsung mendarat tepat di atas kepala Vayu yang sedang sekarat.

Mata kiri Black Hole Kala mengunci mati tatapan Vayu.

"Menelan Dewa," ucap Kala dingin.

Dua pusaran kegelapan melesat dari pupil kirinya, menancap langsung pada inti ilahi di dada Vayu. Dewa Angin itu menjerit histeris saat seluruh esensi hukum angin purba, keabadian dewa, dan basis kultivasi Dewa Sejati miliknya dikuras habis tanpa sisa oleh mata kiri Kala. Dalam waktu tiga detik, tubuh Vayu yang setinggi lima meter menyusut, mengering, dan berubah menjadi tumpukan abu putih yang beterbangan ditiup angin sisa.

DENG! DENG!

Energi dewa yang luar biasa murni itu meledak di dalam dantian Kala. Aliran meridian jiwanya bergemuruh hebat laksana jam raksasa kosmis yang berdentang. Hambatan ranah di dalam dirinya hancur berantakan. Mengasimilasi seluruh esensi dari mangsa dewa pertamanya membuat basis kultivasi Kala melompat secara ekstrem dari Ranah Setengah Dewa Tingkat Awal langsung menduduki Ranah Setengah Dewa Tingkat Puncak!

Radius Hukum Sepuluh Senti miliknya kini meluas secara instan menembus jarak lima kilometer di dimensi Alam Atas.

Kala berdiri di atas reruntuhan pulau melayang yang hancur, menatap permukaan pedang Jian hitamnya yang kini memancarkan guratan energi angin hijau keperakan yang berpadu dengan cahaya emas Liana. Mangsa pertama telah jatuh, dan fondasinya menuju Ranah Dewa Sejati telah terbuka lebar.

“Kala, kepunahan Vayu baru saja memicu alarm besar di seluruh Istana Langit,” suara anggun Pohon Akalbuana bergaung serius di kepalanya. “Lima Dewa Elemental lainnya kini telah menyadari bahwa perburuannya telah dimulai. Sektor berikutnya adalah Domain Samudra Langit, wilayah kekuasaan Dewa Air (Varuna) yang berteman dekat dengan Dewa Api Agni. Mereka pasti sudah menyiapkan sambutan yang jauh lebih mematikan.”

Kala mengusap bilah pedangnya dengan lembut, merasakan senyuman Liana yang hangat dari dalam dunia pedang.

"Biarkan mereka bersiap," bisik Kala parau, netra Black Hole-nya menatap lurus ke arah pulau melayang berikutnya yang diselimuti oleh air air terjun kosmis yang mengalir terbalik ke langit. "Semakin banyak mereka berkumpul, semakin cepat aku menggulung kembali takdir semesta ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!