Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.
Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?
📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Kesempatan Balas Dendam
Nara tiba di rumahnya yang tampak sepi, persis seperti saat ia tinggalkan tadi. Rupanya Sagara benar-benar tidak pulang siang ini.
Langkah kaki Nara membawa dirinya masuk ke dalam rumah, lalu ia memilih mendudukkan diri di sofa ruang tamu.
Rasa penasaran yang membuncah akan isi paket yang dikirimkan oleh Cassia—mantan atasan yang sudah ia anggap sebagai mentor, membuat Nara segera merobek bungkusan kiriman tersebut.
Mata Nara memicing saat melihat sebuah benda berbentuk segi empat di dalamnya. Itu adalah sebuah buku dengan sampul yang masih tersegel rapi oleh plastik.
Nara spontan menutup mulutnya dengan sebelah tangan takkala membaca judul buku tersebut.
"Ini kan ...." Suara Nara tercekat, kedua matanya mendadak berkaca-kaca karena rasa haru sekaligus bangga yang membubung tinggi di dalam dadanya.
Buku di tangannya adalah novel hasil kolaborasi yang ia tulis bersama Cassia.
Selama ini, Nara bekerja sebagai asisten menulis perempuan itu. Hingga suatu hari, Cassia mengatakan melihat potensi besar dalam dirinya dan mengajaknya untuk ikut menulis bersama dalam proyek novel yang ditangannya ini. Awalnya, Nara sempat tidak percaya diri dan ragu apakah ia mampu. Namun, Cassia terus meyakinkan dan membimbingnya.
Pada akhirnya Nara pun luluh, ia menumpahkan seluruh tenaga, pikiran, dan waktunya untuk meramu cerita ini bersama Cassia. Dan tepat dua bulan lalu, novel tersebut resmi terbit dengan terpampang namanya setelah nama Cassia untuk pertama kalinya. Sehingga karya tersebut menjadi karya novel pertamanya yang terbit cetak.
Tidak disangka, sambutan pembaca begitu luar biasa hingga novel mereka sukses menjadi best seller dalam waktu dua bulan setelah peluncuran.
Dan kini, sudah masuk cetakan kedua. Bahkan, prestasi tertingginya adalah novel ini akan dipinang oleh rumah produksi untuk diadaptasi menjadi sebuah film layar lebar.
Nara amat terharu menatapi buah kerja kerasnya. Namun, rasa haru itu tiba-tiba menarik kembali ingatan buruk yang membekas di baliknya.
Tepat di hari saat ia mendapat kabar baik bahwa novelnya akan diterbitkan secara cetak. Nara yang teramat bahagia ingin segera membagikan kabar itu kepada Elvino—yang saat itu masih menjadi kekasihnya.
Nara pergi menuju lokasi syuting pria itu. Namun, apa yang didapatinya? Pengkhianatan! Nara mendapati Elvino tengah berciuman mesra dengan lawan mainnya di belakang layar.
Mengingat pengkhianatan itu, tanpa sadar tangan Nara mengepal kuat dengan raut wajah yang seketika berubah dingin.
Ting ... Ting ...
Notifikasi ponselnya yang berada di atas meja memutus lamunan kelam itu, menarik kesadaran Nara kembali ke masa sekarang.
Itu pesan masuk dari Cassia.
Bu Cassia: Nara, bagaimana kabarmu? Apa kamu sudah menerima paket kiriman ku?
Nara menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan untuk menenangkan gemuruh di dadanya, lalu setelah merasa tenang ia pun dengan segera mengetikkan balasan.
Nara: Baik, Bu. Ibu bagaimana kabarnya? Semoga baik-baik juga di sana. Iya, paketnya baru saja saya terima. Ini sangat luar biasa, saya sampai tidak percaya saat memegangnya.
Pesan itu langsung dibaca oleh Cassia. Tidak lama setelahnya, layar ponsel Nara berubah menampilkan panggilan suara dari sang mantan atasan. Nara langsung mengangkatnya pada deringan pertama.
"Benarkan kamu baik-baik saja? Tidak sedang terbayang dengan mantan sialanmu itu, kan?" Suara Cassia langsung menyembur tanpa basa-basi di seberang telepon, wanita itu memang dikenal sebagai pribadi yang ceplas-ceplos. Bahkan gaya penulisannya juga kadang menggunakan gaya ceplas-ceplos di genre tertentu, membuat tulisannya terasa hidup, jujur, dan disukai pembaca karena tidak jaim.
Nara meringis mendengarnya. Cassia memang tahu betul kronologi hancurnya hubungan asmaranya waktu itu. Sebab, setelah melihat perselingkuhan tersebut, Nara lah yang datang menemui Cassia dengan mata yang memerah menahan tangis, sekaligus langsung mengajukan surat pengunduran diri.
Saat itu, ia hanya ingin lari. Menjauh, sejauh mungkin dari radar pria brengsek yang telah mengkhianatinya.
"Tidak perlu terlalu memikirkan pria itu lagi, Nara. Kamu fokuslah pada dirimu sendiri sekarang. Dan bersyukurlah karena lewat kejadian itu, Tuhan menjauhkanmu dari pria brengsek seperti dia dan memberimu kesempatan untuk menemukan seseorang yang jauh lebih baik, setia, dan tulus padamu," lanjut Cassia, menasihati dengan tegas namun penuh perhatian.
Kedekatan antara Nara dan Cassia selama lima tahun lebih, membuat keduanya saling mengenal tabiat satu sama lain.
Nara terdiam sejenak memikirkan ucapan Cassia. Logikanya membenarkan, tapi hatinya tidak semudah itu untuk membiarkan dan merelakan semuanya begitu saja.
Hatinya sudah terlanjur terluka oleh pengkhianatan tersebut, dan egonya tergores dalam oleh kata-kata merendahkan yang sempat diucapkan pria itu sebelum mereka berpisah.
"Baik, Bu," jawab Nara lirih, memilih menyimpan rapat-rapat gejolak hatinya.
"Dan by the way, selamat atas karya kita yang akan diadaptasi menjadi film. Untuk honor penjualan novel kita, akan kukirimkan seperti biasa ke rekeningmu. Oh ya, detail terkait kontrak pembelian hak adaptasi karya sudah kukirim ke email-mu, kamu bisa mengeceknya. Dan kemungkinan, kita akan bertemu dengan tim legal dan screenwriter dari pihak mereka dalam waktu dekat. Juga ... aku tidak tahu ini pasti atau tidak. Tapi yang jelas kamu harus bersiap-siap, mereka akan melibatkan kita dalam penyusunan naskah skenario. Kemungkinan akan ada banyak revisinya."
"Revisi, Bu?" tanya Nara tertarik pada hal tersebut, naskah skenario film tentu berbeda dengan naskah novel.
"Iya. Pihak rumah produksi menawari kita untuk menjadi penulis skenario pendamping, mereka ingin kita yang sebagian penulis asli juga ikut terlibat dalam penulisan naskah skenarionya. Dan revisi naskah akan dilakukan terutama pada ritme cerita agar disesuaikan dengan durasi film," jelas Bu Cassia. "Entah kita berdua atau salah satu dari kita, kamu tetap harus bersiap-siap."
"Baik, Bu. Kalau begitu saya mau cek emailnya dulu."
Setelah mengobrol satu dua kalimat lagi, telepon itu pun berakhir dengan kata penyemangat dari Cassia untuk Nara.
Nara bergegas membuka laptopnya dan memeriksa pesan masuk di email. Di sana melampirkan sebuah file kontrak pembelian hak adaptasi, perjanjian kerahasiaan, treatment film dan wishlist casting.
Nara membacanya dengan teliti setiap lampiran file tersebut. Matanya kembali terbelalak, tidak dapat menahan keterkejutannya.
Novel mereka dipinang oleh rumah produksi yang sudah amat terkenal dengan film-filmnya yang selalu laris di pasaran.
Senyum Nara merekah penuh senang. Namun, gerakan jemarinya mendadak membeku saat matanya membaca wishlist casting atau lampiran daftar aktor yang sedang diincar.
Di baris teratas untuk pemeran utama pria, tertera jelas nama sang mantan di sana—Elvino Keanu Winata.
Nara bersandar pada sofa, kedua matanya menatap lurus ke layar laptop dengan tatapan tajam pada nama yang terpampang tersebut. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah seringai yang sarat akan maksud terselubung.
"Kesempatan ternyata datang begitu cepat, bersiap-siaplah Elvino Keanu Winata!" Niat yang sempat terbesit untuk mengubur saja segala duka dan lara ini, tapi takdir sepertinya tidak membiarkan dan malah mendukungnya untuk menemukan keadilan dari rasa sakit.
***
Bersambung ...
cukup layani suamimu, hormati, jaga dari pelakor
dijamin bucin tuh Aa saga
lanjut kak 😍/Coffee//Rose/
lanjut kak
wuih bau baunya ibu mertua bakal ketagihan masakan nara nih
lanjut kak 😍/Coffee//Rose/
mereka dekat dengan cara yg lucu
makasih upnya kak😍/Coffee//Rose/
dan suami juga seneng
hati hati menhaga istri ya sagara
lanjut /Coffee//Rose/
balas dendam yg elegan dengan suami sah ya nara
yg akhirnya tumbuh rasa cinta
lanjut kam
hayo pilih mana kak othornya
atau jangan jangan nanti pas gara pulang dari kantor melihat nara naik motor sagara
lanjut kak 😍
libatkan sagara semua akan bere
lanjut kak😍
tenang aj bang... nara juga mulai suka lho..
lanjut A saga ma neng nara
semangat kak😍