NovelToon NovelToon
Bayangan Di Atas Atap

Bayangan Di Atas Atap

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam
Popularitas:152
Nilai: 5
Nama Author: Kamal Fajar001

Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Kabut pagi masih menyelimuti lereng bukit saat Dika menemukan sesuatu yang aneh di sela-sela lembaran berkas yang mereka selamatkan. Satu halaman tertulis dengan tulisan tangan yang sangat berbeda dari dokumen resmi lainnya—tinta memudar, kertas lebih kasar, dan setiap barisnya ditulis dengan tekanan kuat seolah penulisnya sedang menahan amarah yang tak tersalurkan.

“Ini bukan bagian dari arsip markas bawah tanah,” kata Dika sambil menyodorkan kertas itu pada Pak Haris. “Lihat lipatannya—dilipat berkali-kali, seolah dibawa di saku selama bertahun-tahun sebelum terselip di map ini.”

Pak Haris membetulkan letak kertas agar cahaya matahari menembusnya dengan jelas, lalu membacakan isinya pelan:

“Mereka bilang ini demi kebaikan bangsa. Tapi membunuh orang tak berdosa, mencuri tanah warisan, dan membungkam mulut kebenaran bukanlah kebaikan. Mereka membangun kekuasaan di atas tumpukan tulang saudara sendiri. Jika kau membaca ini, carilah tempat di mana tiga sungai menyatu. Di sana ada batu bertulis yang menyimpan nama yang tak berani mereka sebut.”

Tidak ada tanda tangan, tidak ada tanggal pasti. Tapi di sudut bawah tergores simbol kecil yang sama persis dengan tanda di catatan Bapak Joko dulu—tanda yang berarti “saksi yang tak ingin dilupakan”.

“Tiga sungai menyatu,” gumam Rendra sambil membuka peta wilayah Jawa Timur di layar laptop. “Ada banyak tempat seperti itu di sini. Bagaimana kita tahu mana yang dimaksud?”

Bapak Harun yang sejak tadi memperhatikan pola garis di peta, tiba-tiba menunjuk satu titik di pegunungan sebelah barat daya Lamongan. “Dulu kakek saya pernah bercerita tentang lembah tersembunyi di sana. Katanya tiga aliran sungai dari gunung berbeda bertemu di satu tempat, lalu mengalir bersama menuju laut. Warga setempat menyebutnya ‘Lembah Pertemuan’. Tapi sudah lama ditinggalkan karena dianggap angker—konon banyak orang yang masuk ke sana tak pernah kembali.”

“Atau lebih tepatnya,” potong Pak Haris dingin, “siapa pun yang tahu keberadaan batu bertulis itu dibungkam sebelum sempat bercerita.”

Saat mereka sedang berdiskusi rute perjalanan, Surya yang sedang memantau sinyal komunikasi tiba-tiba mengerutkan kening. “Ada hal yang aneh. Biasanya setiap kita pindah tempat, sinyal pengawasan mengejar dalam waktu beberapa jam. Tapi sejak kita sampai di sini, tidak ada satu pun pesawat tak berawak, mobil patroli, atau sinyal pelacak yang mendekat. Mereka seolah sengaja membiarkan kita tenang.”

Rendra terdiam. Ia teringat ucapan Jenderal Ardi lewat layar markas dulu, dan firasat buruk mulai merayap di hatinya. “Mungkin mereka tidak perlu mengejar kita lagi. Karena sekarang mereka tahu kita memegang petunjuk terakhir. Dan mereka menunggu sampai kita menunjuk langsung ke tempat yang menyimpan nama pemimpin tertinggi itu.”

“Berarti kita berjalan ke dalam jebakan?” tanya Dika.

“Bisa jadi,” jawab Rendra tegas. “Tapi itu satu-satunya jalan. Jika kita berhenti di sini, berkas dan data ini tidak cukup untuk menjatuhkan ‘Bayangan Utama’. Kita hanya akan menangkap anjing penjaga, sementara tuannya tetap bersembunyi di balik tirai.”

Mereka bersiap berangkat saat matahari mulai tinggi. Kali ini mereka tidak membawa banyak barang—hanya berkas penting, peralatan darurat, dan bekal makanan untuk tiga hari. Sebelum meninggalkan gubuk, Pak Haris menyembunyikan sisa dokumen lain di ruang bawah tanah yang tertutup rapat, menandai lokasinya hanya dengan tanda yang diketahui dirinya saja.

Perjalanan menuju Lembah Pertemuan memakan waktu seharian penuh. Jalan setapak semakin sempit, ditumbuhi semak belukar yang tinggi, dan semakin jauh dari suara kehidupan manusia. Hanya suara burung hutan dan gemericik air sungai yang terdengar menemani langkah mereka.

Sore harinya, mereka sampai di bibir lembah. Pemandangannya indah namun menakutkan: tiga aliran sungai bening benar-benar bertemu di tengah lembah, membelah hamparan rumput hijau yang luas, sementara di sekelilingnya berdiri tebing batu tinggi yang menutup jalan keluar masuk. Tidak ada tanda manusia pernah berkunjung ke sini selama bertahun-tahun.

“Batu bertulis seharusnya ada di dekat titik pertemuan sungai,” kata Bapak Harun sambil berjalan perlahan ke arah tengah.

Mereka berpisah mencari-cari di antara bebatuan besar. Hampir satu jam mencari, belum ada yang menemukan batu yang dimaksud. Hingga akhirnya Rendra berhenti di depan sebuah batu besar yang sebagian permukaannya tertutup lumut tebal. Ia menyeka lumut itu dengan tangan, dan perlahan terbukalah ukiran huruf kuno yang dalam di atas batu itu.

“Ini dia,” panggilnya pelan.

Saat teman-temannya berkumpul, Pak Haris menatap ukiran itu dengan mata terbelalak. “Ini bukan sekadar nama. Ini adalah silsilah—siapa yang memegang kekuasaan gelap sejak masa kemerdekaan hingga sekarang. Dan nama yang berada di urutan paling atas… adalah nama yang selama ini dianggap sebagai pahlawan pembangun daerah ini.”

Belum sempat mereka mencatatnya, suara tepuk tangan terdengar dari atas tebing. Di sana berdiri sekelompok orang berseragam gelap, lengkap dengan senjata terarah tepat ke arah mereka. Dan di barisan paling depan, berdiri seseorang yang tidak pernah mereka sangka akan berpihak pada musuh.

“Hebat sekali,” katanya dengan senyum yang penuh kepalsuan. “Kalian benar-benar mampu menembus rahasia yang kami jaga selama puluhan tahun. Sayangnya, pengetahuan ini adalah beban terakhir yang akan kalian bawa.”

Rendra mengepalkan tangannya erat. Jebakan itu nyata, dan pintu keluar lembah sudah tertutup rapat. Tapi kini mereka tahu satu hal pasti: musuh terbesar mereka bukan orang asing, melainkan orang yang selama ini dipercaya oleh seluruh masyarakat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!