Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAb 7
Setelah membaca pesan dari Drake, Nathalie langsung memblokir nomor pria itu. Dia juga menghapus seluruh riwayat chat dan nomor pria itu dari daftar kontaknya.
“Urusan kita sudah selesai. Aku tidak mau lagi kamu menyentuh tubuhku" gumam Nathalie pelan dengan suara bergetar.
Ia melempar ponsel ke kasur kontrakannya dengan kasar, seolah membuang jauh-jauh kenangan buruk yang melekat pada nomor tersebut. Sekarang ia hanya ingin melanjutkan hidup dan melupakan semua hal buruk yang terjadi dalam hidupnya.
Setelah beristirahat sebentar dan meminum obat yang diresepkan dokter, Nathalie bersiap-siap kembali bekerja. Malam ini klub Eclipse kembali ramai seperti biasa. Ia mengenakan seragam kerjanya, rok pendek hitam ketat dan crop top seksi yang membuatnya merasa semakin murahan. Make-up tebal menutupi lingkaran hitam di bawah matanya dan bekas merah samar di leher yang belum sepenuhnya hilang. Dengan langkah yang masih sedikit tertatih, ia keluar dari ruang ganti dan kembali ke lantai klub yang hingar-bingar.
Musik DJ menggelegar keras, bass-nya menggetarkan dada. Lampu neon berwarna-warni menyapu lantai dansa yang penuh dengan tubuh-tubuh bergoyang. Bau alkohol, parfum murahan, dan asap rokok bercampur menjadi satu. Nathalie mengambil nampan berisi gelas-gelas cocktail dan botol whiskey, lalu mulai mengantar minuman ke setiap meja pengunjung.
“Silakan, Tuan,” katanya dengan senyum profesional yang sudah dihafalnya di luar kepala, meski hatinya kosong.
Seorang pria paruh baya di meja VIP menyentuh pinggangnya saat ia meletakkan minuman. Nathalie hanya tersenyum manis, meski dalam hatinya ingin menangis. Ia sudah terbiasa dengan sentuhan-sentuhan tak diinginkan ini. Tapi setelah pengalaman dengan Drake, setiap sentuhan terasa lebih menjijikkan.
Ia bergerak dari satu meja ke meja lain, pinggulnya bergoyang mengikuti irama kerja, meski selangkangannya masih nyeri setiap kali melangkah. Obat pereda nyeri yang diminumnya tadi sore memang membantu, tapi tidak sepenuhnya menghilangkan rasa perih yang dia rasakan.
Di tengah keramaian klub, ia melihat Miska di kejauhan. Teman kerjanya itu melambaikan tangan sambil tersenyum penuh arti, seolah tahu apa yang telah terjadi. Nathalie hanya membalas dengan senyum tipis dan melanjutkan pekerjaannya. Ia mengantar minuman ke meja grup pria-pria muda yang sedang mabuk, tertawa keras, dan saling ejek. Salah satu dari mereka menyelipkan uang tip yang cukup besar ke pinggang roknya sambil mengedipkan mata.
“Terima kasih, Cantik,” kata pria itu genit.
Nathalie hanya mengangguk dan berlalu. Dulu ia akan merasa sakit hati, tapi sekarang ia sudah mati rasa. Uang adalah segalanya. Tips malam ini lumayan. Mungkin cukup untuk tambahan obat ayahnya bulan depan.
Sepanjang malam, ia terus bergerak. Kakinya sampai pegal, pinggangnya sakit karena terlalu banyak membungkuk. Tapi ia memaksakan diri. Ia harus kuat. Ibunya pasti sudah menerima transfer uangnya. Besok ia berencana mengunjungi ayahnya di rumah dan memastikan pengobatannya berjalan lancar.
Di tengah dentuman musik yang tak pernah berhenti, Nathalie merasa seperti boneka yang terus bergerak. Senyumnya lebar, tapi matanya kosong. Sesekali ia melirik ponsel di saku kecil roknya. Tidak ada pesan baru dari Drake karena sudah diblokir. Rasa lega bercampur dengan ketakutan samar. Apakah pria itu akan menyerah begitu saja? Atau justru semakin mengejarnya?
Nathalie menghela napas panjang saat istirahat sebentar di belakang bar. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding dingin, memejamkan mata sejenak.
Malam semakin larut. Hingar bingar klub terus berlanjut, dan Nathalie Grace kembali tenggelam dalam rutinitas kerjanya.
Jam menunjukkan pukul tiga dini hari, Eclipse Club mulai sepi. Lampu neon yang tadinya berkedip liar kini redup, musik DJ sudah diganti lagu pelan yang lebih tenang, dan para pengunjung mulai pulang dengan langkah sempoyongan.
Nathalie mengakhiri shift malamnya dengan tubuh yang sangat lelah. Kakinya terasa seperti terbakar karena sepatu hak tinggi yang dipakainya sejak malam, pinggangnya pegal, dan selangkangan yang masih perih membuat setiap langkah terasa menyiksa.
Ia melepas celemek kecilnya di ruang ganti karyawan, mengganti pakaian kerja dengan baju biasa yang lebih sopan. Tapi sebelum sempat keluar pintu belakang, Miska sudah menghampirinya dengan senyum lebar yang penuh arti. Teman kerjanya itu masih tampak segar meski malam sudah larut, rambut pirangnya tergerai dan make upnya masih tebal.
“Eh, Nat! Tunggu dulu,” panggil Miska sambil menarik lengan Nathalie pelan. Mereka berdua berdiri di koridor sempit di belakang klub yang bau rokok dan parfum murahan.
Nathalie berhenti dengan enggan. Tubuhnya lelah sekali, tapi ia tak ingin kasar pada Miska yang sudah banyak membantunya. “Ada apa, Mis?”
Miska menyandarkan punggungnya ke dinding, melipat tangan di depan dada sambil menatap Nathalie dengan mata penuh rasa ingin tahu. “Bagaimana Nat? Tuan Drake memperlakukanmu dengan baik kan?”
Pertanyaan itu langsung membuat hati Nathalie mencelos. “Eum…” jawab Nathalie singkat dan enggan. Ia menunduk, menghindari tatapan Miska.
Miska tersenyum lebar, seolah sudah menduga jawaban itu. Ia mendekatkan tubuhnya dan berbicara dengan suara pelan tapi penuh semangat. “Dia tadi menghubungiku, loh. Memintamu datang ke apartemennya malam ini juga. Katanya kamu memblokir nomornya. Dia sempat marah besar. Jarang-jarang tuh orang kaya seperti dia sampai emosi begitu.”
Nathalie langsung mengangkat wajahnya. Matanya membulat karena kaget sekaligus kesal. “Urusan kita sudah selesai, aku sudah tidak mau lagi bertemu dengannya” katanya tegas, suaranya lebih keras dari biasanya.
Miska menghela napas panjang, ekspresinya berubah menjadi serius. Ia memegang bahu Nathalie dengan lembut, seperti seorang kakak yang sedang memberi nasihat. “Kenapa Nat? Bukannya ini kesempatanmu untuk mendapatkan banyak uang? Drake itu kaya raya. Pemilik rumah sakit. Satu malam saja sama dia, bisa dapat ratusan juta. Bayangin, kalau kamu rajin menemuinya, ayahmu bisa dapat pengobatan terbaik. Operasi saraf, fisioterapi intensif, obat impor, semua bisa ditanggung.”
Nathalie diam. Kata-kata Miska seperti pisau yang menusuk tepat di ulu hatinya. Ia tahu semuanya benar. Ayahnya masih membutuhkan banyak biaya ke depan. Operasi saja belum cukup. Ada rehabilitasi jangka panjang, obat-obatan, bahkan alat bantu yang mahal. Ditambah ibunya yang tak pernah puas, yang setiap hari menuntut uang untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya hidupnya.
Miska melanjutkan rayuannya dengan suara yang semakin lembut dan meyakinkan. “Pasti setelah operasi nanti, ayahmu masih butuh uang untuk pengobatan lanjutan. Dan ibumu… kamu tahu sendiri kan? Dia pasti akan terus meminta duit padamu untuk memenuhi kehidupannya sehari-hari. Kalau kamu menolak Drake, dari mana lagi kamu dapat uang secepat itu? Kerja di klub ini? Tips semalam saja berapa? Tidak akan cukup.”
Nathalie meremas tali tasnya kuat-kuat. Air mata menggenang di pelupuk matanya, tapi ia menahannya sekuat tenaga. “Aku capek, Mis” suara Nathalie pecah. “Aku tidak mau lagi menjual tubuhku”
Miska menghela napas lagi, tapi kali ini lebih dalam. Ia memeluk Nathalie sebentar, menepuk punggungnya pelan. “Pikirkan baik-baik ya. Aku tidak memaksa. Tapi ingat, kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Tuan Drake sudah kepincut sama kamu. Kalau kamu pintar, kamu bisa dapat banyak dari dia.”
Nathalie hanya mengangguk lemah. Ia melepaskan pelukan Miska dan berjalan keluar pintu belakang klub dengan langkah gontai. Udara malam yang dingin menyambutnya, tapi tak mampu mendinginkan gejolak di dadanya.