Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.
Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.
Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Tio menoleh sekilas, mengklik tali helmnya sampai berbunyi _klik_.
"Oke. Yang penting besok-besok jangan ada keran bocor dadakan lagi aja," balasnya datar, membuat Dinda dan Wulan tertawa kecil.
Wulan menepuk pundak Anya pelan. "Kita duluan ya, Nya. Kamu pulang bareng Tio kan? Hati-hati di jalan, Yo. Jangan ngebut-ngebut. Itu bawa anak orang."
"Aman," jawab Tio singkat, lalu menyalakan mesin motor maticnya. Suara deru halus langsung memecah keheningan malam.
Tari dan Wulan melambaikan tangan sebelum akhirnya naik ke motor masing-masing dan melaju membelah jalanan yang mulai lengang. Kini tinggal Anya dan Tio di sudut parkiran. Anya segera naik ke boncengan belakang setelah memastikan duduknya nyaman.
Motor Tio melaju perlahan meninggalkan alun-alun, menyusuri jalanan kota yang diselimuti angin malam dingin. Di sepanjang perjalanan, tak banyak kata yang terucap. Tapi anehnya, keheningan itu justru terasa nyaman. Rasa penat yang menggelayuti pikiran Anya beberapa hari terakhir perlahan menguap, digantikan hangatnya rasa punya teman.
Tapi kenyamanan itu tak bertahan lama. Semakin jauh mereka dari pusat kota, suasana semakin berubah. Jalanan menyempit. Berubah menjadi koridor sepi yang diapit pohon-pohon besar. Angin yang semula sejuk berubah menusuk, membawa aroma tanah basah yang samar. Lampu jalan beberapa kali berkedip, membuat bayangan motor mereka memanjang lalu menciut aneh di atas aspal.
Anya merapatkan jaketnya. Gairah sepulang dari alun-alun lenyap begitu saja, digantikan firasat buruk yang merayap di tengkuknya. Setiap kali melewati gang gelap, ia merasa ada puluhan pasang mata mengintip dari balik kegelapan.
Sepuluh menit kemudian, motor Tio berhenti di depan pagar besi rumah kos berlantai dua di ujung gang buntu. Sepi. Terlalu sepi. Hanya ada satu lampu neon kecil di teras yang berkedip-kedip, menciptakan bayangan suram.
"Udah sampai. Langsung istirahat," kata Tio. Setelah Anya turun.
"Iya...Yo!. Makasih ya buat malam ini," sahut Anya, memaksakan senyum kaku.
Tio mengangguk, lalu memutar motornya ke parkiran belakang. Begitu suara mesinnya hilang, kesunyian langsung menyergap. Bahkan suara jangkrik pun lenyap.
Anya berdiri mematung di depan pagar besi yang dingin, menatap punggung Tio sampai menghilang di tikungan. Saat itu juga lampu neon di atas teras berkedip sekali.
_Kleek... kleekk... klek._Lalu mati. Gelap.
Jantung Anya berdegup kencang. Dengan tangan gemetar ia meraba saku jaket, mencari ponsel untuk senter. Tapi tepat saat jarinya menyentuh layar...
_Sreett... sreett..._ Bukan suara serangga. Itu suara gesekan. Pelan. Dari lorong gelap di samping kos.
Anya menahan napas. Punggungnya kaku. Firasat buruk itu nyata. Ada sesuatu di sana, memperhatikannya. Tanpa pikir panjang ia membuka gembok pagar, berlari ke teras, dan mengunci pintu utama dari dalam. Napasnya memburu saat menaiki tangga ke lantai dua. Seluruh gedung terasa kosong. Seperti ditelan malam.
_Kleek._
Anya masuk kamar, langsung mengunci pintu dan bersandar di sana. Kamar $3 \times 4$ meter itu dingin sekali. Ia menyalakan lampu. Cahaya putih menyebar, memberi rasa aman yang semu.
"Cuma parno...?," bisiknya.
Ia ke kamar mandi untuk cuci muka. Di atas wastafel tergantung cermin tua berbingkai kayu jati. Warisan dari ibu kos. Ada satu retakan panjang, zigzag, dari sudut kanan atas sampai hampir ke tengah.
Air dingin menyentuh wajahnya. Segar, tapi dinginnya sampai ke tulang. Saat menegakkan badan dan meraih handuk, matanya tanpa sengaja menatap ke cermin.
Anya membeku. Di dalam pantulan, ia melihat dirinya sendiri memegang handuk. Tapi ada yang salah. Retakan itu tidak hanya membelah kaca. Ia juga membelah wajah Anya. Dibalik celah gelap itu...?sepasang mata mengintip. Hitam pekat. Tanpa bola putih. Menatapnya dengan benci.
Handuk di tangan Anya jatuh. Di dalam cermin, "dirinya" tidak ikut menjatuhkannya. Pantulan itu justru tersenyum. Seringai lebar. Sampai ke telinga.
_Kreeek..._
Suara kaca tergesek. Ngilu. Anya mundur. Punggungnya membentur pintu. Ia ingin berteriak, tapi suaranya hilang. Dari balik retakan itu, sebuah tangan keluar. Pucat. Dingin. Kuku-kukunya hitam, panjang, membusuk. Mencengkeram tepi kaca dari dalam.Disusul kepala. Rambut kusut. Wajah sebelahnya hancur. Wanita itu merangkak keluar dari retakan, seolah kaca itu adalah pintu menuju tempat yang seharusnya tidak ada.
"Aaa-nyaaa..."Bukan suara. Itu desis yang meledak langsung di kepala Anya.
Hawa dingin mencekik lehernya. Napasnya tercekat. Wanita itu sudah mengeluarkan separuh tubuhnya. Bau busuk bangkai bercampur tanah basah menyembur, memenuhi kamar mandi. Darah Anya mendidih. Jantungnya dipukul dari dalam. Sesuatu yang menyumbat tenggorokannya pecah. Dengan sisa tenaga, ia memejamkan mata. Lalu berteriak sekuat-kuatnya.
_"AAAAAAAA!!!"_
Jeritan histeris Anya melengking tinggi. Membelah keheningan malam yang mencekam di dalam rumah kos tersebut. Bersamaan dengan itu, tangan pucat dari dalam cermin berhasil menggapai ujung kerah jaket Anya.
Bersamaan dengan itu—_Kreess..._Tangan pucat itu menyambar. Kuku hitamnya nyaris mencengkeram ujung kerah jaket Anya.
_BRAKK!!!_
Anya spontan nendang pintu kamar mandi sekuatnya dan lari. Ia nggak peduli jaketnya sobek. Nggak peduli kakinya telanjang. Di belakangnya terdengar suara.
_Gedebuk... gedebuk..._
Seperti ada sesuatu yang menghantam kaca dari dalam. Frustasi. Anya terkunci di luar kamar mandi. Bersandar di tembok sambil napasnya memburu. Dadanya naik turun. Tangannya gemetar pegang gagang pintu. Dari dalam kamar mandi, suara itu masih ada.
_Krek... krek... kreeek..._
Suara kuku menggaruk kaca. Pelan. Marah. Lalu...?hening. Yang terdengar cuma tetesan air dari keran yang nggak pernah Anya matikan.
_Tit... tit... tit..._
Anya memberanikan diri mengintip lewat celah pintu yang kebuka sedikit. Cermin itu..Utuh. Retakannya hilang.
Dan di dalamnya, hanya ada pantulan Anya sendiri. Wajahnya pucat, matanya sembab, bibirnya bergetar.Tapi di lantai, tepat di bawah wastafel...Ada 3 helai rambut panjang. Hitam. Basah.
_Tok. Tok. Tok._
Seseorang mengetuk pintu kamar Anya dari luar.
_Tok. Tok. Tok._
Ketukan itu pelan. Tiga kali. Pas di pintu kamar Anya. Jantung Anya serasa mau copot. Tadi teriakan sekuat itu...pasti kedengeran sekosan. Dengan kaki gemetar, Anya jalan ke pintu. Tiap langkah rasanya kayak nginjak pecahan kaca. Tangannya meraih gagang pintu. Dingin.
"Cklek."
atau Anya kerja sambil kuliah thor?