Sembilan tahun lalu, Mentari Ayuningtyas terpaksa mematahkan hati Devan Elvano.
Di masa SMA, Devan hanyalah remaja miskin berkemeja lusuh yang mengendarai motor tua. Demi menuruti tuntutan keluarganya dan menyembunyikan sebuah rahasia menyakitkan, Mentari memutus hubungan mereka dengan cara yang paling kejam, meninggalkan luka mendalam di hati pria yang teramat mencintainya itu.
Kini, roda takdir telah berputar 180 derajat.
Mentari terjebak dalam realitas urban yang mencekik. Sebagai seorang wanita kantoran biasa, ia mendapati dirinya di ambang kehancuran ketika sang ibu jatuh sakit dan tagihan rumah sakit menumpuk hingga ratusan juta. Di tengah keputusasaannya, takdir justru mempertemukannya kembali dengan Devan.
Namun, Devan yang sekarang bukanlah remaja lemah yang bisa ditindas. Ia telah menjelma menjadi CEO Elvano Group—seorang miliarder dingin nan kejam yang memiliki jaringan restoran bintang lima di berbagai negara dan memegang saham mayoritas di perusahaan tempat Mentari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nge Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Bahagia di Penthouse
Tiga bulan berlalu sejak skandal besar Vaneck Corporation mengguncang bursa saham internasional. Kehancuran Julian Vaneck di pengadilan arbitrase Singapura membuat posisi Elvano Group semakin tak tertandingi di Asia Tenggara. Saham perusahaan melonjak drastis, dan kehidupan media Jakarta kini tak lagi dipenuhi oleh konspirasi atau rumor gelap, melainkan berita keharmonisan rumah tangga sang kaisar bisnis dan istrinya.
Di dalam penthouse lantai lima puluh lima, suasana pagi itu terasa jauh lebih tenang dan hangat. Matahari pagi menerobos masuk melalui dinding kaca, memantulkan pendaran keemasan di atas meja makan marmer tempat Ibu Sarah sedang menyiram tanaman hias kecilnya. Kesehatan sang ibu sudah pulih total berkat perawatan medis terbaik yang disiapkan Devan.
Namun, di dalam kamar mandi utama, kedamaian pagi itu sedikit terganggu.
Mentari berdiri di depan wastafel berpelitur marmer, memegangi pinggir wastafel dengan kedua tangannya yang sedikit bergetar. Wajah cantiknya tampak sedikit pucat, dan napasnya terengah-engah setelah baru saja menuntaskan mual hebat yang menyerangnya sejak subuh.
"Mentari? Sayang, kamu tidak apa-apa?"
Suara berat dan cemas Devan terdengar dari balik pintu kamar mandi yang setengah terbuka. Devan melangkah masuk dengan cepat. Pria itu sudah mengenakan kemeja putih kerjanya, namun dasinya masih tergantung longgar di leher. Raut wajah tegas yang biasanya selalu tenang di depan dewan direksi kini dipenuhi oleh riak kekhawatiran yang amat jelas.
Devan berlutut kecil di samping Mentari, mengusap punggung istrinya dengan lembut lalu menyerahkan segelas air hangat.
"Kita ke rumah sakit sekarang," tegas Devan, mengambil handuk kecil untuk mengusap pelipis Mentari yang sedikit berkeringat. "Ini sudah hari ketiga kamu mual-mual setiap pagi. Aku akan menyuruh Siska membatalkan seluruh jadwal rapatku hari ini."
Mentari meminum air hangat itu perlahan, lalu menatap Devan dengan senyuman tipis seraya menggelengkan kepala. "Devan, tidak perlu berlebihan... Aku hanya sedikit lelah dan mungkin masuk angin karena beberapa hari ini cuaca Jakarta sedang kurang baik."
"Masuk angin tidak membuatmu menolak aroma kopi favoritku tadi pagi, Mentari," pangkas Devan dengan nada suara posesif dan tak terbantahkan. "Aku tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun terkait kesehatanmu."
Mentari menghela napas, menatap suaminya dengan pandangan gemas sekaligus tersentuh oleh perhatian Devan yang selalu protektif melampaui batas. Namun, jemari Mentari perlahan bergerak merogoh saku gaun tidurnya, mengeluarkan sebuah benda kecil berukuran panjang yang sejak tadi ia sembunyikan di sana.
"Devan..." bisik Mentari pelan, menyodorkan benda plastik itu ke arah Devan.
Devan mengerutkan alisnya. Pria yang memegang gelar master finansial dari Harvard itu mendadak tampak kebingungan saat menatap benda kecil tersebut. Di atas layar kecil alat tes kehamilan itu, dua garis merah tebal terpampang sangat jelas.
Ruangan kamar mandi yang mewah itu seketika menjadi hening. Devan membeku di tempatnya. Sepasang mata elang yang biasa menatap tajam para pesaing bisnisnya kini membelalak lebar, terkunci pada dua garis merah tersebut.
"Ini..." suara Devan tercekat di tenggorokan, sesuatu yang sangat langka terjadi pada seorang Devan Elvano. Tangannya yang besar dan kokoh terasa gemetar saat menerima tes kehamilan itu dari jemari Mentari. "Mentari... ini artinya...?"
Mentari menahan air mata bahagianya, mengangguk pelan seraya memegang tangan Devan yang gemetar.
"Ada Little Elvano di dalam sini, Devan," bisik Mentari manis, membawa tangan Devan untuk diusapkan di atas perut ratanya yang masih hangat. "Aku hamil. Dokter pribadi kita sudah mengonfirmasi hasil tes darahku kemarin sore."
DEG.
Jantung Devan berdegup kencang laksana dipalu secara bertubi-tubi. Emosi yang begitu dahsyat—rasa syukur, kebahagiaan yang meluap, serta keharuan yang tak terkira—langsung membakar seluruh relung jiwanya. Pertahanan sosok kaisar bisnis yang dingin itu runtuh seketika.
Tanpa mengacuhkan kemeja kerjanya yang rapi, Devan langsung menjatuhkan kedua lututnya ke lantai marmer, berlutut tepat di hadapan Mentari. Pria itu menyembunyikan wajahnya di perut Mentari, melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang istri erat-erat.
"Terima kasih... Terima kasih banyak, Mentari..." suara Devan bergetar hebat, dan Mentari bisa merasakan kehangatan air mata bahagia suaminya yang menetes menembus kain gaun tidurnya. "Terima kasih telah memberiku keluarga yang utuh."
Mentari mengusap lembut rambut hitam Devan yang halus, menunduk untuk mengecup puncak kepala suaminya dengan penuh cinta. Sembilan tahun dalam keputusasaan dan penderitaan, kini terbayar dengan kebahagiaan yang begitu sempurna di dalam pelukan pria yang sangat ia cintai.
Kabar kehamilan Mentari menyebar di dalam penthouse laksana embun pagi yang menyegarkan. Ibu Sarah meneteskan air mata bahagia saat memeluk putri dan menantunya di ruang tengah, tak henti-hentinya memanjatkan doa syukur atas keajaiban yang melengkapi pernikahan anak-anaknya.
Namun, efek dari berita kehamilan ini justru paling terasa pada sikap Devan Elvano di kantor Elvano Group.
Siang harinya, di ruang rapat dewan komisaris lantai teratas Elvano Tower, para direktur senior duduk dengan tegang. Di meja utama, Devan Elvano memimpin rapat dengan efisiensi yang sepuluh kali lipat lebih cepat dari biasanya.
"Proyek pembangunan kawasan CBD tahap tiga dialihkan sepenuhnya di bawah pengawasan Direktur Operasional," pangkas Devan dingin seraya menandatangani berkas akuisisi dalam hitungan detik. "Mulai minggu depan, seluruh jadwal kerja luar kota saya dibatalkan sampai batas waktu yang tidak ditentukan."
Para direktur saling berpandangan dengan bingung. Salah seorang komisaris senior memberanikan diri bertanya, "Maaf, Pak Devan... Apakah ada masalah darurat terkait ekspansi bisnis kita?"
Devan menutup dokumen di mejanya dengan bunyi blek yang mantap. Pria itu menyandarkan punggungnya, merapikan lengan kemejanya, lalu sebuah senyuman bangga yang amat jarang terlihat di ruang rapat terukir di wajah tampannya.
"Tidak ada masalah," sahut Devan dengan nada suara yang amat santai namun sarat akan kebanggaan mutlak. "Hanya saja, istri saya sedang mengandung calon penerus tunggal Elvano Group. Dan keberadaan saya di rumah jauh lebih penting daripada proyek triliunan kalian."
Seluruh ruangan rapat seketika heboh. Ucapan selamat dan tepuk tangan meriah langsung menggema dari para petinggi perusahaan untuk sang CEO.
Setelah membiarkan Siska menutup rapat, Devan melangkah kembali ke ruang kerja pribadinya. Ia berjalan menuju dinding kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan pencakar langit Jakarta. Di tangannya, ia memegang sebuah foto USG pertama yang baru saja dikirimkan oleh dokter kandungan melalui ponselnya—sebuah titik kecil yang menjadi lambang cinta sejati mereka.
Devan merogoh ponselnya, menekan panggilan cepat untuk istrinya.
Hanya dalam dua kali nada panggil, suara lembut Mentari terdengar dari seberang saluran. "Halo, Devan? Kamu sudah selesai rapat?"
"Sudah, Sayang," suara Devan seketika melunak, begitu hangat dan penuh pesona. "Aku sedang dalam perjalanan pulang sekarang."
"Pulang? Ini baru jam dua siang, Devan. Pekerjaanmu bagaimana?" tawa renyah Mentari terdengar dari seberang telepon, terbiasa dengan kelakuan impulsif suaminya akhir-akhir ini.
"Pekerjaan bisa menunggu, Nyonya Elvano," ujar Devan tegas dengan kekehan rendah. "Tapi mengidamnya calon anakku dan senyuman istriku tidak bisa ditunda sedetik pun. Aku sudah menyuruh koki pribadi menyiapkan sup buah eksotis yang kamu minta tadi pagi."
Mentari tersenyum di ujung telepon, merasakan betapa beruntungnya ia memiliki Devan sebagai suami dan pelindung hidupnya. "Hati-hati di jalan, Devan. Aku dan calon bayi kita menunggumu di rumah."
"Aku mencintaimu, Mentari. Lebih dari seluruh kekayaan di dunia ini," bisik Devan tulus sebelum memutus sambungan telepon.
Devan menyimpan ponselnya kembali ke saku jasnya. Pria itu menyunggingkan senyuman paling bahagia dalam hidupnya. Takdir telah membawa mereka melintasi jurang kehancuran, teror musuh, dan konspirasi kelas atas, hanya untuk membuktikan bahwa tidak ada kekuasaan atau kegelapan apa pun di dunia ini yang mampu memadamkan sinar cinta sejati.
Di puncak kekaisaran bisnisnya, Devan Elvano kini tak hanya berdiri sebagai seorang raja yang ditakuti, melainkan sebagai seorang suami dan calon ayah yang telah menemukan surga dunia dalam dekapan sang Mentari.