NovelToon NovelToon
Ponsel Dewa Si Reno

Ponsel Dewa Si Reno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa
Popularitas:299
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24: Pesta Berubah Kacau

​Reno berusaha keras mempertahankan senyum simpul di bibirnya, meskipun jantungnya sedang berdegup kencang layaknya genderang perang yang ditabuh bertubi-tubi.

​Ancaman kedatangan manajer butik beserta unit patroli kepolisian kota baru saja menghancurkan seluruh fantasi indahnya pada malam akhir pekan ini.

​{Aku harus bersikap setenang mungkin agar Luna tidak menyadari bahwa pasangan kencannya malam ini adalah seorang buronan kasus penipuan digital kelas berat.}

​Ia mengeratkan sedikit genggaman tangannya pada jemari lentik Luna, memandu langkah gadis itu menyusuri karpet merah menuju area tengah aula perayaan.

​Ratusan pasang mata tamu undangan terus mengikuti pergerakan mereka berdua, memberikan tatapan kagum yang biasanya hanya ditujukan pada pasangan selebritas papan atas.

​Reno merasa setelan jas hitam curiannya ini benar-benar bekerja layaknya sebuah jubah ajaib yang mampu mengubah identitas cupunya secara total di mata publik.

​Namun, rasa bangga itu terus-menerus digerogoti oleh ketakutan akan bunyi sirene polisi yang bisa saja bergema dari arah lobi utama hotel kapan saja.

​Otaknya bekerja sangat keras, merangkai berbagai macam skenario pelarian darurat jika sewaktu-waktu petugas keamanan mendobrak masuk ke dalam ruangan ini.

​"Aula pesta ini benar-benar disiapkan dengan sangat mewah, Dika pasti menghabiskan dana yang tidak sedikit untuk merayakan acara pribadinya malam ini."

​Luna membuka percakapan pelan sambil mengedarkan pandangannya mengelilingi ruangan besar yang dipenuhi oleh perabotan berharga fantastis tersebut.

​Reno hanya menganggukkan kepalanya setuju, berusaha mengumpulkan sisa-sisa fokusnya untuk memberikan tanggapan yang terdengar cerdas dan berwibawa.

​"Kekayaan memang bisa membeli dekorasi semahal apa pun, namun uang sebanyak itu tidak akan pernah bisa membeli tata krama yang baik dari pemiliknya."

​Sindiran halus itu meluncur mulus dari bibirnya, merujuk langsung pada kelakuan sang pemilik acara yang selalu bertindak arogan di lingkungan kampus mereka.

​Luna tertawa kecil mendengar balasan tajam tersebut, menyetujui pernyataan Reno dengan sebuah anggukan pelan yang terlihat sangat anggun menawan.

​Kecemasan di dalam dada Reno perlahan mulai mereda sejenak, tergantikan oleh rasa bahagia melihat tawa renyah dari gadis pujaan hatinya.

​||||

​Alunan musik instrumental bertempo lambat perlahan mengalun memenuhi seluruh penjuru aula, menandakan dimulainya sesi dansa resmi bagi para tamu undangan.

​Beberapa pasangan mulai melangkah turun menuju lantai dansa berlapis kayu jati di tengah ruangan, mengambil posisi saling berhadapan dengan gerakan yang sangat teratur.

​Reno menelan ludah kasarnya, menyadari bahwa ia sama sekali tidak memiliki pengalaman berdansa formal gaya Eropa seumur hidupnya yang menyedihkan ini.

​{Kalau aku sampai menginjak ujung gaun Luna saat berdansa nanti, rekor kesialanku pasti akan bertambah panjang dengan cara yang jauh lebih memalukan.}

​Namun, gadis bergaun merah marun di sampingnya itu justru melangkah maju terlebih dahulu, menarik tangan Reno dengan sangat lembut menuju lantai dansa.

​Luna memosisikan sebelah tangannya di atas bahu Reno, memberikan panduan postur tubuh tanpa kata yang sangat mudah untuk diikuti oleh seorang pemula.

​Reno perlahan melingkarkan lengan kanannya di pinggang ramping gadis tersebut, membiarkan insting tubuhnya dipandu secara penuh oleh ritme langkah Luna.

​Mereka berdua mulai berayun pelan mengikuti irama musik, menciptakan sebuah momen romantis yang selama ini hanya berani Reno bayangkan di dalam mimpi malamnya.

​Tatapan mata Luna terkunci rapat pada wajah Reno, memancarkan aura ketertarikan misterius yang membuat pemuda kurus itu sejenak melupakan ancaman penjara di luar sana.

​Jarak yang begitu dekat ini memungkinkan Reno untuk mengamati setiap lekuk kesempurnaan di wajah Luna tanpa terhalang oleh apa pun.

​Ia merasa telah berhasil membuktikan kapasitasnya sebagai pria sejati pada malam ini, meskipun modal utamanya hanyalah hasil kejahatan siber belaka.

​Di sudut ruangan yang agak tersembunyi, sepasang mata menatap pemandangan indah tersebut dengan tatapan penuh kebencian yang luar biasa menyala-nyala.

​Dika meremas gelas kaca di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih pucat, merasa harga dirinya sedang diinjak-injak dengan kejam di dalam acara pestanya sendiri.

​Pemuda pewaris kekayaan itu sama sekali tidak bisa menerima kenyataan bahwa musuh bebuyutan abadinya berhasil mencuri perhatian dan hati Luna malam ini.

​Penampilan Reno yang terbalut jas hitam elegan itu benar-benar menghancurkan seluruh rencana awalnya untuk mempermalukan pemuda tersebut di depan para tamu penting.

​Ia segera meletakkan gelas minumannya secara kasar ke atas meja terdekat, lalu menyentuh sebuah alat komunikasi nirkabel berukuran sangat kecil yang terpasang di telinga kirinya.

​"Target pria berjas hitam sedang berdansa santai di tengah lantai utama, laksanakan rencana kita sekarang juga tanpa toleransi kesalahan sedikit pun."

​Dika menggumamkan perintah rahasia itu dengan suara tertahan, memberikan instruksi langsung kepada seorang pelayan bayaran yang sudah ia persiapkan sejak acara ini dimulai.

​"Pastikan sup merah panas itu tumpah tepat mengenai seluruh bagian depan jasnya agar dia tidak memiliki muka lagi untuk berada di dekat Luna."

​||||

​Ponsel hitam canggih di dalam saku jas Reno tiba-tiba memberikan sebuah getaran peringatan tingkat tinggi yang menyengat paha secara ritmis.

​Reno sedikit tersentak kaget, namun ia berusaha keras menguasai reaksi tubuhnya agar tidak merusak ritme dansanya yang mulai mengalir lancar bersama Luna.

​Ia perlahan memiringkan tubuhnya ke belakang, mengintip sekilas ke arah layar ponsel yang sengaja ia posisikan sedikit menyembul dari saku jas bagian dalam.

​Teks peringatan berwarna biru bergulir kilat, menyajikan informasi intelijen yang langsung membuat seluruh insting bertahan hidup Reno kembali bekerja maksimal pada detik itu juga.

​Reno melirik tajam menggunakan sudut matanya, menangkap pergerakan seorang pria berseragam rompi rapi yang sedang bermanuver lincah melintasi kerumunan pasangan dansa.

​Pelayan tersebut memegang sebuah nampan perak berisi mangkuk sup besar, berjalan lurus menuju posisinya dengan pandangan mata yang terus tertuju pada perintah majikannya.

​Langkah kaki pria sewaan itu diatur sedemikian rupa agar terlihat wajar, namun sudut serangannya dirancang khusus untuk menciptakan sebuah tabrakan frontal yang sangat meyakinkan.

​{Dika benar-benar pengecut sejati tanpa harga diri, beraninya dia menyewa orang lain untuk merusak pakaianku dari belakang saat aku sedang lengah berdansa.}

​Ia tidak mungkin menghindar begitu saja karena gerakan mendadak pasti akan membahayakan Luna yang saat ini sedang berada tepat di pelukannya.

​"Siri-usly, gagalkan rencana memalukan pria sombong itu menggunakan fitur peretasan apa pun yang kau miliki di dalam sistemmu sekarang juga."

​Reno menggumamkan perintah darurat itu dengan gerakan bibir yang sangat minim, berharap mikrofon super peka perangkatnya mampu menerjemahkan kepanikannya dengan sempurna.

​Sebuah antarmuka penyadapan gelombang suara seketika muncul di layar ponsel, mengunci jalur komunikasi radio dua arah yang digunakan oleh komplotan kecil Dika.

​||||

​Pelayan berseragam rapi itu kini hanya berjarak kurang dari tiga langkah dari punggung Reno, bersiap menyenggolkan bahunya dengan sengaja ke arah lengan pemuda tersebut.

​Tangan kanannya sudah sedikit dimiringkan, memastikan gravitasi akan menarik seluruh isi mangkuk sup kental itu jatuh tepat ke area dada jas hitam Reno.

​Suara desisan statis tiba-tiba terdengar sangat tajam menusuk di dalam lubang telinga pelayan tersebut, memutus instruksi lanjutan dari Dika secara total tanpa aba-aba.

​Pria pembawa nampan itu menghentikan langkah kakinya sejenak, wajahnya menunjukkan raut kebingungan akut akibat hilangnya sinyal pada alat komunikasi rahasianya.

​Pada detik yang sama persis, sistem kecerdasan buatan dari masa depan milik Reno menyelesaikan proses ekstraksi gelombang audio dari riwayat rekaman kantin kemarin.

​Pelayan tersebut kembali merapatkan postur berdirinya saat mendengar suara bariton khas majikannya kembali mengalun jernih di dalam saluran pendengarannya.

​Namun, instruksi vokal yang ia terima kali ini merupakan sebuah perintah manipulasi tingkat tinggi yang telah dirangkai secara licik oleh sistem ponsel X-Phreak.

​Suara Dika buatan itu terdengar luar biasa mendesak dan penuh penekanan absolut, memaksa saraf motorik sang pelayan untuk menerima perintah tanpa diberikan ruang protes.

​Reno menahan senyum puasnya, membayangkan bagaimana nasib setelan jas mahal milik musuh bebuyutannya akan berakhir hancur berantakan malam ini.

​Melalui transmisi suara yang sangat jernih dan mustahil dibedakan dari aslinya, Reno mengalirkan perintah pembalasan dendamnya ke telinga si pelayan.

1
M Amir
kurang greget aghhh
Khusus Game: gigit...kurang gereget mah.
total 1 replies
Aisyah Suyuti
good
Dragonovic#
let's gooooo
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending
Khusus Game: siappp. Abang first komen, LANGSUNG SAJA, ACC.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!