"Hentikan, Jose!"
"Kau akan menyesal!" ucap Eva merintih kesakitan.
Jose tak menggubrisnya sama sekali. Bahkan ia dengan tega meminta pengawalnya untuk memukul Eva lebih keras.
"Jangan bersandiwara, Eva. Kau telah menyakiti Luna."
Mata Eva membelalak, Eva tak menyangka disaat seperti ini suaminya masih membela gadis yang telah memfitnahnya.
"Kau salah, Jose. Aku tak pernah menyentuh Luna. Apa lagi menyakitinya," balas Eva.
"Cukup, Eva! Berhenti berpura-pura. Luna adalah korban. Jangan mencoba menyangkalnya," ucap Jose dingin.
"Baiklah, Jose. Aku menerima apapun. Tak aku tidak akan pernah memaafkan mu jika sesuatu terjadi padaku dan..."
"Pukul dia lebih keras!" potong Jose, seakan tak ingin lagi mendengar sepatah kata pun dari Eva.
Plak Plak Plak
"Hentikan...Aku mohon padamu," rintih Eva lagi, namun kini suaranya lirih dan sudah kehabisan tenaga.
Bulir bening mengalir begitu saja dari pipinya. Eva memegang erat perutnya merasakan sakit di dalam sana. Hingga ia menatap bawa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memulai taktik
Jose mulai menyelidiki peristiwa silam Escobar. Dia mulai merasakan kejanggalan-kejanggalan yang menimpanya. Mulai dari awal kedekatannya dengan Luna sampai kejadian malam dimana Jose tak sadar pernah tidur dengan wanita itu.
"Tuan," ucap Erick.
Jose langsung tersadar dari lamunannya. Ia menoleh menatap ke depan ke arah Erick.
"Apa?" sahutnya pelan.
"Orang-orang sudah mencari petunjuk. Dan... dokter yang menangani operasi itu mengundurkan diri setelah istri Tuan Escobar melahirkan."
DEG!
"Apa kau bilang?" kata Jose terhenyak.
Erick mengangguk pelan, "Iya, Tuan. Dokter itu resign setelah anak mereka lahir."
Jose mengernyit heran. Kerutan pada dahinya nampak jelas. Keanehan yang dia alami sejak dulu pun berputar. Jelas. Wanita yang tidur bersamanya bukan hanya Luna tapi ada wanita lain dan itu mungkin wanita yang mirip Luna.
"Apakah malam itu bukan Luna?" gumamnya.
Jose berpikir keras jari tangannya memijit pelipisnya.
"Tuan, ada apa?" tanya Erick.
Jose menghela napas pelan dan menatap Erick yang masih menunggu jawaban atas pertanyaan itu.
"Tidak apa-apa?" jawab Jose, menggeleng pelan.
Sementara ditempat lain, seorang wanita berdiri anggun di atas sebuah gedung tinggi di pusat kota. Ia menatap langit bertabur bintang yang membentang luas di atas sana.
"Jose," bisiknya lirih.
"Aku akan membuatmu menyesal." katanya lagi.
***
Penyelidikan pun terus berjalan. Selain itu, Jose juga masih menyuruh anak buahnya untuk memata-matai Luna. Bagaimana dan dengan siapa ia bertemu. Namun sejauh ini Luna masih ditempatnya. Masih mematuhi segala perintah dan aturannya selama dibawah pengawasannya.
Namun, keanehan lain mulai muncul. Ada desas desus tentang keruntuhannya. Daerah kekuasaannya mulai terusik.
"Tuan,"
Jose yang wedang membaca beberapa laporan langsung mengangkat wajah. Erick berdiri di depan meja dengan sebuah map hitam di tangannya. Raut wajahnya terlihat serius.
"Beberapa wilayah kekuasaan kita mulai di serang."
Jose menutup berkas yang sedang di bacanya.
"Kalau bukan gudang senjata kita, aku rasa tidak masalah," sahut Jose.
"Tapi... mereka mengambil alih beberapa titik pengiriman, dan membuat orang-orang kita kehilangan akses ke beberapa wilayah."
Jose menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Siapa?"
"Itulah masalahnya, Tuan. Mereka tidak meninggalkan identitas."
Jose mengambil map dari tangan Erick dan membukanya. Beberapa foto terpampang di dalamnya. Gudang yang rusak, kendaraan yang terbakar dan beberapa anak buah Jose yang terluka.
"Berapa wilayah?"
"Empat. Dan itu semua terjadi dalam wakti yang hampir bersamaan."
Jose terdiam. Ini bukan kebetulan Seseorang sedang menguji kekuatannya. Jose mengetukkan jarinya perlahan di atas meja.
"Ini bukan Black Serpent."
Erick mengangguk, "Saya juga berpikir begitu."
"Kita harus segera menemukan siapa wanita itu. Semakin cepat maka akan semakin baik. Aku akan memancing mereka keluar."
Erick mengernyit, "Tapi... itu berbahaya, Tuan."
Jose menatap Erick tajam namun bukan tatapan menusuk.
"Akan lebih berbahaya jika aku tetap di sini. Aku akan atur sebuah perayaan agar desas desus keruntuhan ku terpatahkan."
Erick terdiam sesaat. Ia tahu jika Jose sudah mengambil keputusan, akan sulit mengubah pikirannya.
"Perayaan?" ulang Erick.
Jose mengangguk, "Benar. Aku ingin semua orang tahu bahwa aku masih berdiri."
"Tapi Anda baru saja terluka. Kondisi Anda belum sepenuhnya pulih." cegah Erick.
Jose berdiri perlahan dari kursinya. Rasa nyeri sempat menjalar dari bahunya tetapi ia menahannya.
"Aku hanya perlu muncul. Agar mereka berpikir bahwa serangan sebelumnya tidak berhasil melemahkan ku."
Erick mengangguk pelan. Ia mulai mengerti maksud dan tujuan Jose. Sementara Jose berjalan menuju jendela besar.
"Kalau seseorang memang sedang menguji kekuatanku, mereka pasti akan muncul melihat kesempatan."
"Dan perayaan itu akan menjadi umpan?" potong Erick.
Jose mengangguk, "Tepat."
aku bacanya mirip baca GPT Thor.
terlalu pendek dan nge beat.
belajar sono dari Ragna yg punya bapak setengah sinting setengah waras sana.
jadi anak mafia kok bulol plus obses payah sih🤣
pak Escobar juga terlalu manjain sih. didik tuh anakmu dgn benar. bukan dukung jadi pelakor.
atau ada yg sengaja buat wajahnya semirip mungkin?
tapi, kau nggak tau, selingkuhan mu itu dekat dengan musuhmu
semangat.
jangan lupa mampir di karya aku..
udah nyiksa malah ngatain cinta.
dulu kemana, Jose?
mau ketemu sama tokoh aku nggak?
btw, Eva. kalau kau sudah dengar pengakuan Jose, jgn ampuni dia, ya.
padahal udah jadi mafia selama beberapa tahun loh.
pasti pengalamannya banyak dan udah bertemu banyak orang.