menceritakan tentang seorang pemuda bernama royy yang tereinkarnasi menjadi entitas bayangan dan membangun peradaban serta menjadi raja iblis...
(Kage no Karada toshite Tensei Shita node, Saikyō no Danjon Ōkoku o Tsukurimashita!)
(reinkarnasi menjadi entitas bayangan, dan membangun kerajaan terkuat di dalam dungeon)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon royco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kekalahan telak regu pahlawan
Langkah kakiku bergema pelan di sepanjang koridor marmer hitam saat aku berjalan kembali menuju aula takhta utama Shadow Aethelgard. Di belakangku, berbaris ratusan prajurit dari faksi baru yang berhasil kubawa pulang dari lembah berbatu luar: Ras Naga Merah (Dragonewt). Setelah proses migrasi darurat mereka selesai dipetakan ke dalam sektor khusus dungeon, kini saatnya bagiku untuk memperkuat barisan struktur militer kerajaanku.
Aku melangkah menaiki tangga altar, memutar tubuh jubah kegelapanku, lalu duduk dengan anggun di atas singgasana takhta batu hitam yang megah. Di hadapanku, berdiri sesosok wanita dari ras naga merah yang memiliki aura petarung luar biasa pekat. Sisik naga merah yang mengeras di beberapa bagian tubuh zirahnya berkilat tajam, mencerminkan sifatnya yang terkenal sangat brutal, haus darah, dan disegani di barisan militer rasnya terdahulu.
Aku menatapnya lurus, melipat kedua tanganku di depan dada.
"Hehemmm... Berhubung aku sudah mengenalmu dengan cukup baik karena sebelumnya kita sudah sempat mengobrol panjang di lembah batu merah, jadi kita langsung saja ke intinya tanpa perlu bertele-tele, Roxxane!" ucapku dengan suara bariton yang berat dan berwibawa.
Wanita semi naga itu langsung menegakkan tubuhnya, mengepalkan tangan kanan di atas dada kiri sebagai tanda hormat mutlak.
"Siap, Yang Mulia Miko!" jawab Roxxane dengan nada suara yang lantang dan tegas.
Aku menyeringai tipis, memancarkan sedikit riak energi kegelapan yang pekat dari balik telapak tanganku untuk memberikan berkat takhta.
"Mulai detik ini, kau resmi kunobatkan menjadi Panglima Tempur Tertinggi barisan garda depan Kerajaan Shadow Aethelgard! Dan sebagai simbol dari sumpah darah setiamu padaku, aku akan memberimu sebuah nama kode baru... Nama kodemu sekarang adalah Delta. Bagaimana menurutmu?" ucapku, menatapnya penuh otoritas.
Mata Roxxane—atau yang kini resmi menyandang nama Delta—berkilat berapi-api penuh rasa bangga.
"Sebuah kehormatan tertinggi, Tuanku! Di bawah nama Delta dan panji kegelapan Anda, taring dan cakar barisan naga merah siap merobek siapa saja yang berani mengusik kedamaian kerajaan ini!" jawab Delta penuh takzim sembari berlutut satu kaki di hadapan takhtaku.
Di saat proses penobatan Delta sebagai panglima tempur baru berlangsung dengan khidmat di dalam istana gothic milikku... di belahan dunia luar yang lain, situasi justru sedang berada di titik nadir yang sangat mengerikan.
Tepatnya di area perbatasan timur wilayah Kerajaan Oscar, atmosfer langit tampak berputar hitam pekat diselimuti oleh kabut korosi yang berbau busuk. Ribuan pasukan monster berlendir dan ksatria kegelapan sedang merangsek maju, berusaha merebut dan mengambil alih faksi wilayah timur milik manusia. Di tengah-tengah kekacauan medan perang yang luluh lantak tersebut, kelompok regu Pahlawan Reinkarnator dari Oscar sedang dipaksa bertempur habis-habisan demi bertahan hidup.
SRINGGG—!
DORR! DORR! BAMM!
Suara gesekan pedang suci milik sang pahlawan yang beradu dengan senjata tajam terdengar sangat nyaring, bersahut-sahutan dengan dentuman keras dari rentetan ledakan serangan sihir elemental tingkat tinggi yang dilepaskan secara membabi buta. Udara di sekitar medan tempur terasa panas dan bergetar hebat. Namun, meskipun mereka bertarung mati-matian menggunakan kombinasi sihir magis dan skill-skill OP dari berkah dewa bumi, sosok musuh yang berdiri di hadapan mereka bukanlah entitas yang bisa dikalahkan dengan mudah. Dia adalah Panglima tertinggi dari kelompok Raja Iblis dunia luar.
BLAAASSTT!
Sebuah kibasan tangan dari jenderal iblis itu menciptakan gelombang kejut hitam yang langsung mementalkan tubuh para ksatria pelindung manusia hingga muntah darah.
"Sialan! Mengapa makhluk keparat ini sama sekali tidak terluka setelah menerima rentetan serangan kita?! Dan... dan kenapa efek skill tebasan dari Pedang Suci milikku sama sekali tidak berpengaruh apa-apa pada tubuhnya?!" Gerutu Jerry, sang pemimpin pemimpin regu pahlawan itu dengan wajah yang dipenuhi luka goresan dan keringat dingin.
Napasnya terengah-engah, memegang gagang pedang sucinya yang mulai bergetar.
Melihat sang pemimpin lengah, Jenderal Raja Iblis itu menyeringai kejam, melesat cepat dengan pedang besar kegelapan terangkat tinggi siap menebas kepala Jerry.
"Sial! Awaasss Jerry! Jangan melamun!" Teriak Amy, sang penyihir wanita dalam tim mereka dengan raut wajah panik setengah mati. Dia langsung mengacungkan tongkat sihirnya ke depan, merapalkan mantra tercepat yang dia miliki. "[Sihir Alam: Aliran Lima Ledakan Petir]!"
BLAAARRRR!!!
Lima sambaran petir biru berukuran raksasa melesat dari langit, menghantam tepat di tanah antara Jerry dan sang Jenderal Iblis, menciptakan dinding ledakan listrik yang memaksa makhluk kegelapan itu melompat mundur beberapa meter.
Dorr! Sisa percikan energinya menyebarkan debu tebal di sekitar medan laga.
Jerry terbatuk-batuk, melompat mundur ke dekat barisan timnya sembari menyeka darah di sudut bibirnya.
"Huhh... itu tadi bener-bener hampir saja, Amy. Untung refleks kamu cepat dan berhasil menyelamatkanku," ucap Jerry dengan jantung yang berdegup kencang akibat nyaris kehilangan nyawa.
"Ahh... keparat! Kalau situasinya terus-menerus begini, monster-monster ini nggak akan ada habisnya! Jumlah mereka terlalu banyak dan stamina kita sudah terkuras habis! Kita kalah telak, Jerry! Bagaimana ini?!" Ucap Alisa, si gadis pemanah dalam tim mereka dengan suara yang gemetar menahan rasa takut yang amat sangat. Anak panah di dalam kantongnya sudah menipis, dan busurnya mulai terasa berat.
"Akhhh... aku pun tak tahu harus berbuat apa lagi! Sialan, kita bener-bener terus-menerus terpojok di area gersang seperti ini!" Gerutu Jerry frustrasi sembari menatap ke sekeliling mereka yang sudah dikepung rapat oleh ribuan pasukan monster kegelapan.
Dari tengah kepulan asap uap panas, sang Jenderal Raja Iblis berjalan santai dengan tatapan meremehkan yang sangat kentara.
"Jangan sembunyi terus seperti tikus-tikus licik yang ketakutan, para Pahlawan palsu dari Bumi! Menyerahlah dan biarkan aku memotong kepala kalian untuk kupersembahkan kepada Yang Mulia Raja Iblis!" Ucap Jenderal Iblis itu dengan suara tawa yang menggelegar kejam.
Mendengar intimidasi tersebut, Jerry mengertakkan giginya hingga berdarah. Otaknya berputar cepat mencari satu-satunya jalan keluar yang paling masuk akal jika mereka tidak ingin mati konyol di perbatasan timur ini. Hanya ada satu entitas kuat yang terlintas di pikirannya saat ini—sosok monster berwujud manusia tiruan yang tempo hari menelan habis semua sihir mereka dalam sekali jepretan tangan.
"Sial... tidak ada pilihan lain!" Jerry menoleh ke arah baris belakang dengan pandangan mata yang bener-bener mendesak. "WOIII ALISA! SEKARANG JUGA BUKA GERBANG TELEPORTASI DAN PANGGIL BALA BANTUAN! JANGAN MEMINTA BANTUAN DARI KERAJAAN OSCAR KARENA PASUKAN MEREKA PASTI TERLAMBAT, TAPI MINTALAH TOLONG KEPADA TUAN MIKO DI SHADOW AETHELGARD SEKARANG JUGA!!!" Teriak sang pemimpin lantang di tengah kebisingan perang.
Alisa tersentak. "T-Tapi Jerry, apakah monster itu mau membantu kita?!"
"Kami berdua di sini bersama Amy akan mati-matian mengulur waktu untuk menahan makhluk ini! Demi keselamatan kita bersama, CEPAT PERGI DAN MINTA TOLONG PADANYA!" Ucap Jerry memberi perintah
mutlak.
"Baikkk!" Ucap Alisa patuh.
Amy si penyihir langsung memusatkan sisa-sisa energi Mana-nya yang kritis untuk merapalkan sihir spasial. Ruang di belakang Alisa bergetar, terbuka membentuk sebuah lingkaran gerbang teleportasi darurat yang terhubung langsung ke arah area luar gerbang depan dungeonku. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Alisa langsung melompat masuk ke dalam lingkaran cahaya tersebut sebelum gerbangnya tertutup kembali.
Wush—!
Seketika itu juga, tubuh Alisa terlempar dan muncul di depan gerbang batu raksasa Shadow Aethelgard. Begitu kakinya menginjak tanah dungeonku, dia tidak memedulikan rasa lelah di sekujur tubuhnya. Gadis pemanah itu langsung berlari secepat mungkin melewati barisan penjaga Undead, menerobos masuk ke dalam lorong istana, hingga akhirnya membuka paksa pintu aula takhta dan berlari terseok-seok menuju arah
tempatku berada.
BRAAAKK!
"Tuan Miko!... Aku mohon! Aku—kita semua bener-bener butuh bantuan Anda saat ini, Tuan Miko!..." Teriak Alisa dengan napas yang terengah-engah dan suara parau menahan tangis putus asa tepat di depan tangga altarku.
Aku yang sejak tadi sedang duduk dengan santai di atas singgasanaku sama sekali tidak terkejut dengan kedatangannya yang tiba-tiba ini. Aku menyandarkan kepala kanan pada kepalan tangan kananku yang bertumpu di lengan takhta, menatap ke arah gadis pemanah yang berlumuran debu itu dari atas ketinggian singgasanaku.
"Hmm... Tumben banget regu Pahlawan Reinkarnator yang agung sampai rela mengemis minta bantuan ke sarang monster seperti tempatku..." Ucapku dengan nada suara yang berat, lambat, dan penuh intimidasi yang dingin.
"Ada apa sebenarnya?"
Alisa langsung menjatuhkan lututnya ke lantai marmer hitam, menatapku dengan tatapan mata yang bener-bener putus asa dan ketakutan.
"Tuan Miko... tolonggg! Regu kami saat ini sedang terpojok habis-habisan di perbatasan timur melawan komandan pasukan Raja Iblis luar! Jika Anda tidak turun tangan sekarang, Jerry dan Amy akan mati tercabik-cabik di sana! Tolong bantu kami, Tuan Miko!..." Ucap Alisa memohon dengan tubuh yang gemetaran hebat.
Mendengar laporan bahwa musuhnya adalah faksi militer dari Raja Iblis dunia luar, sepasang mata ungu kegelapanku langsung berkilat tajam di balik bayanganku. Sebuah seringai lebar yang sangat manipulatif dan licik langsung terukir di wajah manusia tiruanku. Ini adalah umpan politik dan militer yang bener-bener sempurna untuk memperluas pengaruh kerajaanku ke luar perbatasan!
"Hooo... begitu kah kejadiannya? Menarik sekali..." Ucapku sengaja menjeda kalimatku sembari mengetuk-ngetukkan jari telunjukku di lengan takhta batu, menikmati keputusasaan di wajahnya. "Kalau situasinya seperti itu... sekarang kamu mau aku harus berbuat ngapain untuk tim kalian?"
Mata Alisa memerah menahan air mata, dia menegakkan tubuhnya sejenak demi berteriak dengan lantang. "Tuan Miko! Tolong!! Tolong bantu kami dengan mengerahkan pasukan Anda untuk melawan dan menghancurkan pasukan Raja Iblis itu!" Ucapnya dengan sangat lantang, lalu sedetik kemudian dia langsung menundukkan tubuhnya dalam-dalam hingga bersujud pasrah di atas lantai marmer di hadapan takhtaku.
Aku terkekeh sinis melihat pemandangan seorang pahlawan utusan dewa bumi kini bersujud tak berdaya di bawah kaki raja monster kegelapan. Aku bangkit dari dudukku, membuat jubah bayanganku berkibar megah melepaskan aura dominasi yang menekan udara ruangan.
"ANGKAT KEPALAMU, PAHLAWAN!" Perintahku dengan nada suara yang menggelegar berwibawa di seluruh penjuru aula, membuat Alisa spontan mendongak ketakutan.
Aku berjalan pelan menuruni anak tangga altar takhta sembari melempar pandangan sinis penuh seringai kemenangan politik.
"Aku adalah penguasa tempat ini, tentu saja aku akan bergerak membantumu untuk menghancurkan hama-hama dari Raja Iblis luar itu. Tetapi... bantuanku ini sama sekali tidak gratis! Untuk biaya dan bayaran atas darah pasukan yang kukeluarkan hari ini, silakan kau rundingkan secara matang dengan rajamu di istana Oscar nanti setelah perang ini selesai!" Ucapku kejam, mengunci kesepakatan sepihak yang tidak bisa dia tolak jika ingin teman-temannya selamat.