NovelToon NovelToon
Sistem Kaisar Abadi

Sistem Kaisar Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Sistem / Balas Dendam
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Tiga tahun jadi sampah!

Itulah yang dialami Arya Langit setelah meridiannya hancur. Dari jenius nomor satu Perguruan Langit Biru, dia jatuh jadi pecundang yang bahkan tidak bisa mengangkat pedang.

Di hari pertunangannya, tunangannya sendiri Kezia Adinegara membatalkan pernikahan di depan seluruh tetua demi pria lain dan memberinya 100 Batu Roh sebagai uang hinaan.

Tepat saat tamparan itu mendarat di wajahnya, Sistem Takdir Harem Kaisar Abadi bangkit!

Mata Takdir aktif. Arya bisa melihat masa depan tragis setiap wanita dengan Takdir Kaisar.

Sekar Embun, Bidadari Pedang nomor satu yang dingin seperti es, akan lumpuh total dalam 7 hari dan mati kedinginan di lembah terpencil.

Luna Maheswari, Ratu Iblis yang mempesona, akan menjadi kuali kultivasi dan meledak mati.

Kirana Lestari, Putri Kerajaan yang manja, akan diracun pada malam pernikahannya.

Satu-satunya cara menyelamatkan mereka adalah menjadikan mereka istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Murid Sang Bidadari

Keheningan yang terjadi di Balai Agung Perguruan Langit Biru adalah keheningan paling mematikan yang pernah ada.

Semua orang membeku. Bahkan suara napas pun terdengar jelas.

Sekar Embun baru saja berkata. Bidadari Pedang Embun yang terkenal dingin dan tidak pernah berbicara lebih dari tiga kata kepada pria manapun, yang bahkan menolak lamaran pangeran dari Kekaisaran Langit, baru saja secara sukarela menawarkan seorang sampah yang meridiannya hancur untuk menjadi muridnya.

Kezia Adinegara adalah orang pertama yang wajahnya berubah total. Dari yang tadinya penuh dengan kesombongan dan rasa jijik, kini wajah cantiknya pucat pasi karena tidak percaya dan rasa takut yang aneh.

"Kak Senior Sekar," Kezia bersuara dengan suara yang sedikit gemetar. "Kakak Senior, dia... dia hanyalah seorang cacat yang meridiannya sudah hancur total. Dia tidak pantas menjadi murid Kakak Senior. Dia bahkan tidak pantas untuk membersihkan pedang Kakak Senior."

Rafa Adiputra yang ada di samping Kezia juga langsung maju selangkah, wajah tampannya yang tadi arogan kini dipenuhi dengan rasa cemburu yang membara. Dia sudah lama mengagumi Sekar Embun secara diam diam. Melihat dewi pujaannya justru meminta sampah yang baru saja dia tampar untuk menjadi muridnya, harga dirinya seperti diinjak injak.

"Kakak Senior Sekar, apa yang Anda lihat dari sampah ini?" Rafa berkata dengan nada yang mencoba terdengar hormat tapi penuh dengan kebencian. "Dia baru saja diputuskan pertunangannya karena dia sampah. Perguruan Langit Biru tidak boleh menerima sampah seperti dia sebagai murid inti dari Kakak Senior. Ini akan mencoreng nama baik Kakak Senior."

Tetua Agung yang duduk di kursi utama juga mengerutkan keningnya dalam dalam. Dia menatap Arya Langit yang masih berlutut di lantai dengan darah di sudut bibirnya, lalu menatap Sekar Embun.

"Sekar," suara Tetua Agung berat. "Kamu yakin dengan keputusanmu? Kamu tahu aturan perguruan. Murid pribadimu akan otomatis menjadi murid inti dan akan mewarisi Puncak Embun milikmu di masa depan. Arya Langit kondisinya... semua orang di sini tahu. Meridiannya sudah hancur total tiga tahun lalu. Tabib terbaik pun sudah berkata tidak ada harapan."

Mendengar semua orang kembali merendahkannya, Arya Langit yang masih berlutut perlahan lahan mengangkat kepalanya.

Rasa sakit di pipinya karena tamparan Rafa tadi sudah hilang total. Sebagai gantinya, dia merasakan aliran energi yang begitu murni dan begitu kuat mengalir deras di dalam tubuhnya. Meridiannya yang selama tiga tahun terasa seperti sungai kering yang retak retak, kini telah pulih sepenuhnya, bahkan lebih lebar dan lebih kuat dari sebelumnya.

Itu adalah hadiah paket pemula dari Sistem Takdir Harem Kaisar Abadi.

Di depan matanya, tulisan merah darah di atas kepala Sekar Embun masih berkedip kedip dengan jelas, menghitung mundur takdir tragisnya.

[Takdir Tragis: 6 Hari 23 Jam 14 Menit lagi akan mengamuk.]

Arya tahu, dia tidak punya banyak waktu.

Dia menatap Sekar Embun. Wanita itu juga menatapnya balik. Matanya yang indah seperti danau es itu tenang, tapi Arya bisa melihat sedikit kelelahan yang disembunyikan di dalamnya. Aura dingin yang keluar dari tubuh Sekar Embun sedikit tidak stabil.

Semua orang mengira Arya akan langsung berlutut dan berterima kasih dengan air mata karena mendapatkan kesempatan emas itu.

Tapi Arya melakukan sesuatu yang membuat semua orang terkejut untuk kedua kalinya hari itu.

Dia perlahan lahan berdiri.

Tubuhnya yang tadi terhuyung huyung karena tamparan, kini berdiri tegak seperti pedang. Darah di sudut bibirnya dia usap dengan punggung tangannya.

Dia menatap langsung ke mata Sekar Embun, bukan dengan tatapan seorang pengagum yang rendah diri, tapi dengan tatapan seorang pria yang setara.

"Kakak Senior Sekar," suara Arya sedikit serak tapi jelas terdengar di seluruh balai yang hening. "Kenapa Kakak Senior ingin menjadikan saya murid?"

Pertanyaan itu membuat semua orang tertegun. Sampah itu berani bertanya balik kepada Bidadari Pedang Embun?

Sekar Embun sedikit terkejut, lalu sudut bibirnya yang jarang sekali tersenyum itu sedikit terangkat, membentuk senyuman tipis yang membuat seluruh balai kehilangan napas karena kecantikannya.

"Karena aku melihat pedang di dalam dirimu yang tidak dilihat orang lain," jawab Sekar Embun dengan suara yang hanya bisa didengar oleh Arya. "Dan karena... aku merasa kamu bisa menyembuhkanku."

Jantung Arya berdegup kencang. Dia tahu. Wanita ini tahu bahwa tubuhnya sedang bermasalah.

Pada saat yang sama, suara sistem kembali berdengung di dalam kepala Arya.

[DING! Terdeteksi Target Takdir Kaisar pertama: Sekar Embun. Misi Pemula aktif!]

[Misi: Selamatkan Sekar Embun dari Takdir Beku dalam 7 hari.]

[Hadiah: 500 Poin Takdir, Tubuh Meridian Naga Langit tingkat 1, dan hati Sekar Embun terbuka 20%.]

[Kegagalan: Sekar Embun lumpuh, Tuan Rumah kehilangan 50% kultivasi yang baru dipulihkan.]

[Gunakan Lotre Takdir Pemula sekarang? Ya / Tidak]

Tanpa ragu, Arya berteriak dalam hatinya, Ya!

[Lotere berputar... Selamat! Anda mendapatkan: Seni Tangan Dewa Meridian, tingkat Dewa! Sebuah teknik sentuhan meridian kuno yang dapat memperbaiki, memurnikan, dan membangkitkan semua jenis meridian di dunia. Khusus efektif untuk Tubuh Meridian Yin.]

Bersamaan dengan itu, sejumlah besar informasi dan ingatan tentang jalur meridian, titik titik akupuntur, dan cara mengalirkan energi yang sangat rumit membanjiri otak Arya.

Dia sekarang tahu persis bagaimana cara menyembuhkan Sekar Embun. Tapi dia butuh kontak fisik, dia butuh waktu, dan dia butuh tempat yang sepi.

Arya menarik napas dalam dalam. Dia membuat keputusannya.

Dia berbalik, menatap Kezia Adinegara dan Rafa Adiputra yang masih berdiri dengan wajah penuh kebencian.

"Kezia Adinegara," suara Arya kini tidak lagi gemetar, tapi penuh dengan kekuatan. "Kamu benar. Kita memang berada di dua dunia yang berbeda. Hanya saja, kamu salah menebak siapa yang di atas dan siapa yang di bawah. Seratus Batu Roh mu itu, simpan saja untuk membeli peti matimu nanti saat kamu menyesal."

"Kamu!" Kezia wajahnya merah padam karena marah.

Arya tidak peduli. Dia menatap Rafa.

"Rafa Adiputra, tamparanmu tadi, akan aku kembalikan sepuluh kali lipat di Kompetisi Puncak Langit satu bulan lagi. Di atas arena, aku akan membuatmu berlutut dan meminta maaf atas tamparan hari ini."

Setelah berkata begitu, aura yang selama ini disembunyikan oleh Arya meledak keluar.

BOOM!

Energi dari Alam Meridian tingkat sembilan, bahkan sedikit lagi menyentuh Alam Jiwa Kesatria, meledak dari tubuhnya. Lantai di bawah kakinya retak. Angin kencang berhembus membuat jubah semua murid berkibar.

Seluruh balai terkejut sampai tidak bisa berkata kata.

"Alam... Alam Meridian tingkat sembilan! Bagaimana mungkin! Bukankah meridiannya hancur!"

"Bukankah dia sampah! Kenapa kekuatannya kembali!"

Rafa Adiputra mundur selangkah karena tertekan oleh aura itu, wajahnya penuh dengan ketidakpercayaan.

Kezia Adinegara menutup mulutnya dengan tangannya, matanya membelalak lebar.

Hanya Sekar Embun yang matanya sedikit berbinar. Dia tersenyum, senyum yang benar benar tulus untuk pertama kalinya.

"Menarik," gumamnya.

Arya kemudian berbalik dan berlutut dengan satu lutut di depan Sekar Embun, bukan sebagai sampah yang memohon, tapi sebagai seorang kesatria yang menerima takdirnya.

"Murid Arya Langit, bersedia menjadi murid Kakak Senior Sekar. Mulai hari ini, urusan Kakak Senior adalah urusan saya. Penyakit Kakak Senior, biar saya yang sembuhkan."

Kata kata terakhir itu hanya didengar oleh Sekar Embun, membuat tubuh wanita dingin itu sedikit gemetar.

Sekar Embun mengulurkan tangannya yang putih bersih dan dingin seperti salju, membantu Arya berdiri.

"Kalau begitu, ikut aku ke Puncak Embun."

Sekar Embun melambaikan tangannya. Sebuah pedang raksasa berwarna biru es muncul di udara. Dia melompat ke atasnya dengan anggun, lalu menarik Arya Langit ke atas pedang itu juga.

Di depan tatapan iri, dengki, dan terkejut dari ratusan orang, terutama tatapan penuh penyesalan yang mulai muncul di mata Kezia Adinegara dan tatapan penuh kebencian yang membara dari Rafa Adiputra, Sekar Embun membawa Arya Langit terbang menembus atap Balai Agung dan menghilang ke arah Puncak Embun yang diselimuti salju abadi.

Meninggalkan satu kalimat dari Arya yang menggema di seluruh balai.

"Rafa, Kezia, satu bulan lagi, kita lihat siapa sampah yang sebenarnya!"

Di atas pedang terbang, angin kencang menerpa wajah Arya. Dia berdiri di belakang Sekar Embun, sangat dekat hingga dia bisa mencium aroma embun pagi dari rambut wanita itu.

Sekar Embun tiba tiba tubuhnya sedikit terhuyung, aura dingin di tubuhnya bergejolak liar dan tidak terkendali. Wajahnya yang cantik sedikit pucat.

Arya tahu, serangan pertama dari Tubuh Meridian Embun Beku itu sudah mulai datang lebih cepat dari yang diperkirakan sistem.

"Guru... tahan sebentar," bisik Arya sambil tanpa sadar memegang pergelangan tangan Sekar yang dingin seperti es batu. "Saya bisa menolongmu sekarang."

Sekar Embun menoleh, menatap tangan Arya yang memegang tangannya, lalu menatap mata Arya yang penuh dengan keyakinan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang dingin, jantung Bidadari Pedang Embun itu berdegup sedikit lebih kencang.

1
Hadi Hadi
mantap😍😍
fareva: lanjut 🔥🔥🔥
total 1 replies
Hadi Hadi
bantai💪
Hadi Hadi
up up up💪
Hadi Hadi
iwik iwik😍😍
Hadi Hadi
mantap😍😍
Hadi Hadi
semangat💪💪
fareva: makasih bang
total 1 replies
Hadi Hadi
bantai💪
fareva: 🔥🔥🔥🔥🔥🔥
total 1 replies
Hadi Hadi
up up up😍😍
Hadi Hadi
lanjut
fareva: Siap. tolong bantu koreksi kalau ada yang kureng
total 1 replies
Hadi Hadi
bantai💪💪
Hadi Hadi
good💪💪
Hadi Hadi
mantap😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!