NovelToon NovelToon
Fake Lines

Fake Lines

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Angst
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah pendar lampu Los Angeles, hidup Lux Victoria hancur dalam semalam. Maksud hati hanya memeriksa kesehatan, hasil tes justru menyatakan dirinya hamil. Padahal, Lux bersumpah belum pernah tersentuh pria mana pun.

Demi membuktikan kebenarannya, Lux Nekat membeli tes Kehamilan di larut malam.

Takdir konyol justru mempertemukannya dengan Braxton Valerio Desmon, putra kedua dari pengusaha kaya keluarga Desmon.

Demi memenangkan taruhan konyol bersama teman-temannya, Braxton nekat mencium Lux di depan apotek.

Sial bagi mereka, keluarga Lux yang menguntitnya mendapati situasi tersebut dan salah paham.

Kejadian beruntun itu menyeret Lux dan Braxton ke dalam jerat kesalahpahaman, di mana pernikahan paksa menjadi satu-satunya jalan keluar yang disiapkan kedua orang tua Lux.

Happy reading 🌷🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

##13

Bau khas antiseptik dan cairan infus menyengat indera penciuman begitu Braxton melangkah lebar menyusuri koridor lantai empat Rumah Sakit Saint Jude. Langkah kakinya yang terbungkus sepatu kulit mahal berbunyi konstan di atas lantai linoleum yang dingin, menggema di antara dinding-dinding serba putih yang bisu.

Wajah tampan Braxton yang beberapa puluh menit lalu merona merah akibat ucapan manis Lux di Penthouse, kini telah bertransformasi total. Garis rahangnya mengeras rapat, pandangan matanya tajam, dan auranya begitu pekat oleh kewaspadaan.

Tujuan Braxton hanya satu: Ruang Perawatan Intensif VVIP nomor 402.

Di balik pintu kayu tebal bernomor 402 itu, berbaring seorang wanita yang baru saja membuka matanya setelah tiga bulan lamanya berada dalam koma.

Wanita itu bernama Amelia Giger.

Amelia bukan sekadar kenalan atau mantan teman sekelas. Wanita itu adalah alasan utama mengapa Braxton harus angkat kaki dan pindah dari universitas lamanya di Boston ke California University.

Tiga bulan lalu, sebuah insiden tragis dan mengerikan terjadi di koridor utama kampus lama Braxton. Amelia, yang sejak lama menaruh perasaan obsesif pada Braxton, nekat melayangkan ungkapan cinta di hadapan publik. Saat Braxton menolaknya secara tegas dan sopan, stabilitas mental Amelia runtuh.

Tepat di sore yang kelam itu, Amelia mencoba mengakhiri hidupnya sendiri dengan melompat dari lantai tiga gedung fakultas.

Insiden itu berbuntut panjang dan menjadi skandal besar. Keluarga Giger—keluarga pengusaha berpengaruh yang amat manipulatif—memanfaatkan keadaannya yang kritis untuk menyudutkan Braxton. Mereka menuntut pertanggungjawaban moral dan hukum secara habis-habisan pada keluarga Valerio-Desmon, menuduh Braxton sebagai penyebab utama putri mereka terluka hingga koma.

Braxton mengingat betul bagaimana kedua orang tuanya, Austin Jaxon dan Zacheriyya Valerio, berdiri kokoh membentenginya dari teror keluarga Giger.

"Jangan pernah mau bertanggung jawab atas kesalahan dan kegilaan yang tidak pernah kau lakukan, Nak," tegas Zacheriyya kala itu, memeluk erat bahu putranya di tengah kepungan wartawan dan ancaman tuntutan hukum. "Kau tidak mendorongnya, kau tidak memberinya harapan palsu. Jangan biarkan mereka memeras hidupmu."

Meski keluarga Giger terus menerus melayangkan teror dan tuntutan, Braxton dan keluarganya memilih untuk tidak peduli. Braxton menolak mengalah pada manipulasi tersebut. Namun, kabar bahwa Amelia baru saja sadar dari komanya pagi ini adalah variabel baru yang sangat berbahaya.

Braxton memutuskan datang sendiri ke rumah sakit ini bukan karena ia merasa bersalah atau masih memendam simpati konyol. Braxton datang dengan pertimbangan matang yang sudah dipikirkannya di sepanjang perjalanan.

Saat ini, ia memiliki Lux Victoria. Seorang istri sah yang baru saja membuka hatinya, seorang wanita yang baru saja mengikat jiwanya dengan kalimat kepemilikan yang amat dalam. Lux adalah prioritas utamanya—istri yang wajib ia lindungi dari ancaman apa pun.

Braxton tahu betul seberapa licik dan nekatnya Amelia serta keluarganya. Jika Amelia tahu bahwa Braxton telah menikah, atau jika Amelia sampai menemukan keberadaan Lux, wanita gila itu tidak akan ragu untuk menyasar Lux demi menghancurkan kebahagiaan Braxton.

Harapan satu-satunya Braxton saat ini adalah menyelesaikan urusan ini secepat mungkin, memutuskan semua benang merah, dan memastikan Lux tidak akan pernah mengetahui keberadaan sosok Amelia Giger.

SRET.

Braxton mendorong pintu kamar 402 hingga terbuka.

Di dalam ruangan berpendingin udara itu, dua orang tua Amelia yang berdiri di samping ranjang langsung menoleh. Tuan dan Nyonya Giger menatap Braxton dengan pandangan berapi-api—campuran antara amarah dan tuntutan yang telah mengendap selama tiga bulan.

Namun Braxton sama sekali tidak mengacuhkan keberadaan kedua orang tua itu. Pandangannya lurus tertuju pada sosok wanita yang bersandar di tumpukan bantal di atas ranjang.

Amelia Giger tampak begitu pucat dan kurus. Tubuhnya dibalut pakaian pasien hospital, dan beberapa selang pemantau masih menempel di kulitnya. Namun saat mata Amelia yang sayu bertabrakan dengan sosok Braxton yang berdiri tegap di ambang pintu, binar obsesif di matanya mendadak menyala kembali secara dramatis.

"B-Braxton...?" bisik Amelia, suaranya parau dan terengah, air mata seketika menetes melintasi pipinya yang tirus. "Kau... kau benar-benar datang?"

Tuan Giger maju satu langkah dengan wajah memerah. "Braxton! Berani-beraninya kau baru menunjukkan mukamu setelah putriku bertaruh nyawa selama tiga bulan?!"

"Keluar," ucap Braxton dingin. Suaranya rendah, namun memancarkan intimidasi murni yang membekukan ruangan.

"Apa kau bilang?!"

"Tinggalkan aku berdua dengannya. Sekarang," ulang Braxton tanpa mengalihkan pandangannya dari Amelia. "Jika kalian ingin urusan ini selesai dan tidak berlanjut ke jalur hukum atas tuduhan pencemaran nama baik terhadap keluargaku, keluar dari ruangan ini."

Ketegasan tanpa celah dari Braxton membuat Tuan dan Nyonya Giger terhenyak. Dengan dengusan penuh kemarahan dan tatapan mengancam, kedua orang tua itu akhirnya melangkah keluar, membanting pintu kamar VVIP tersebut hingga tertutup rapat.

Kini, hanya tersisa Braxton dan Amelia di dalam ruangan yang hening itu.

Braxton melangkah pelan, berhenti sekitar dua meter di samping ranjang. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Amelia tanpa ada sedikit pun raut kelembutan atau rasa kasihan.

"Braxton..." panggil Amelia lagi, tangannya yang kurus menggapai udara ke arah Braxton, mencoba merengkuh jemari pria itu. "Aku tahu kau pasti khawatir padaku... Aku tahu kau merindukanku selama tiga bulan ini..."

Braxton memundurkan tangannya secara halus, menolak sentuhan tersebut secara terang-terangan.

"Aku datang ke sini hanya untuk memastikan satu hal, Amelia," ujar Braxton dengan nada suara yang amat datar dan lugas. "Bahwa kau sudah sadar, dan bahwa kau bisa mulai menggunakan otakmu dengan jernih untuk menghentikan semua drama konyol keluargamu."

Isak tangis Amelia pecah secara dramatis. Ia memegangi dadanya, menatap Braxton dengan raut wajah hancur yang sengaja dibuat-buat untuk memancing simpati.

"Kenapa kau begitu dingin padaku, Braxton?!" jerit Amelia memilu, air matanya membasahi bantal hospital. "Aku hampir mati! Aku membuang nyawaku demi kau! Apakah... apakah pernah kau mencintaiku sedetik saja dalam hidupmu?!"

Braxton menatap wanita di depannya tanpa berkedip. Ia tidak ingin memberi celah sedikit pun bagi manipulasi Amelia untuk berkembang.

"Demi Tuhan, aku hanya menganggapmu temanku saja, Amelia," kata Braxton, berusaha jujur sejelas-jelasnya agar tidak ada lagi ruang untuk salah paham. "Aku tidak pernah mencintaimu. Tidak sedetik pun, tidak pernah."

Jawaban jujur tanpa tedeng aling-aling dari Braxton menghantam dada Amelia bagaikan belati tajam. Wajah pucat wanita itu kian memutih, matanya membelalak tak percaya.

"Bohong!" teriak Amelia histeris, gelombang emosinya mulai tak terkontrol. "Kau bohong, Braxton! Kalau kau tidak mencintaiku... lalu bagaimana dengan pelukan itu?!"

Kening Braxton berkerut rapat. "Pelukan apa?"

"Pelukan di malam pesta kelulusan semester awal kita!" sembur Amelia dengan tatapan menuntut yang gila. "Malam itu... kau memelukku di depan semua orang! Kau merengkuhku begitu erat! Jangan pura-pura lupa, Braxton! Pelukan itu adalah bukti kalau kau punya perasaan padaku!"

Braxton memejamkan matanya sejenak, menghembuskan napas berat seraya memutar ingatan ke masa lalu—ke malam pesta perayaan kelulusan semester awal di kampus lamanya.

Braxton kembali membuka matanya, menatap Amelia dengan pandangan tak habis pikir atas logika gila wanita tersebut.

"Hey, Amelia..." kata Braxton, suaranya kini terdengar begitu muak namun terkontrol. "Itu bukan pelukan cinta..."

"Lalu apa?! Kau memelukku!"

"Kau temanku! Kita semua saling memeluk waktu itu!" tegas Braxton memotong ucapan Amelia dengan telak. "Malam itu adalah pesta perayaan bersama. Ada puluhan orang di sana, kita semua bersuka cita, dan aku memelukmu sama seperti aku memeluk teman-teman kita yang lain! Tidak ada rasa cinta, tidak ada niat khusus! Kau menyalahartikan hal biasa itu menjadi obsesi gilamu sendiri!"

Penjelasan logis dari Braxton merobohkan fantasi indah yang dibangun Amelia selama bertahun-tahun. Wanita itu menggelengkan kepalanya secara kasar, tangannya mencengkeram sprei ranjang hingga kusut.

"Tidak... tidak mungkin..." bisik Amelia dengan suara bergetar, matanya memancarkan kilat kegilaan yang membahayakan. "Kau hanya milikku, Braxton... Kau tidak boleh mencintai orang lain. Aku tidak akan pernah membiarkannya!"

Amelia menegakkan tubuhnya yang lemah, menatap Braxton lurus ke dalam matanya dengan intonasi suara yang mendadak berubah menjadi amat dingin, tajam, dan penuh ancaman terselubung.

"Dengar baik-baik, Braxton..." desis Amelia dengan senyum tipis yang mengerikan di wajah pucatnya. "...aku tidak akan pernah membiarkan wanita mana pun berani bernapas di sekitarmu."

Deg!

Langkah kaki Braxton mendadak tertahan. Pria itu tertegun kaku di tempatnya.

Satu kalimat ancaman yang baru saja meluncur mulus dari bibir Amelia menghantam kesadaran Braxton dengan kekuatan yang amat dahsyat.

Kalimat yang begitu familiar... kalimat yang hampir persis dengan apa yang baru saja diucapkan oleh istrinya, Lux Victoria, beberapa puluh menit yang lalu di Penthouse!

“Jangan pernah berani-berani bernapas untuk wanita lain selain aku, Braxton Desmon.”

Dua kalimat dengan susunan kata yang serupa, namun diucapkan oleh dua wanita yang bertolak belakang. Bagi Braxton, ucapan Lux adalah bentuk ungkapan kepemilikan cinta yang begitu tulus, manis, dan seksi dari seorang istri yang baru saja menyerahkan hatinya. Namun di mulut Amelia, kalimat itu menjelma menjadi ancaman racun yang penuh kegilaan dan obsesi gelap.

Rasa merinding yang dingin merayapi tengkuk Braxton.

Dalam detik itu juga, Braxton makin menyadari seberapa gila dan berbahayanya mental Amelia Giger. Wanita ini adalah bom waktu yang sewaktu-waktu bisa meledak dan menghancurkan apa pun di sekitarnya.

Amelia meneliti raut wajah Braxton yang sempat tertegun sejenak. Matanya menyipit curiga, binar manipulatifnya menangkap sedikit perubahan reaksi pada pria di depannya.

"Kenapa kau diam, Braxton?" tanya Amelia dengan nada menuduh yang intimidatif. "Apakah... apakah sudah ada wanita lain di sekitarmu saat ini? Apakah ada seorang jalang di kampus barumu yang berani mendekatimu?!"

Braxton dengan cepat menguasai ekspresi wajahnya kembali. Pengalaman dan kedewasaannya menuntutnya untuk bertindak dingin bagaikan batu karang.

Ia tidak boleh membiarkan rasa panik atau riak emosi sedikit pun terlihat di matanya.

Braxton tahu pasti: ia tidak akan pernah mengatakan yang sejujurnya bahwa ia sudah memiliki seorang istri. Jika sampai kata "istri" atau nama "Lux Victoria" terucap di ruangan ini, wanita manipulatif dan nekat seperti Amelia pasti akan melancarkan teror gila untuk mengganggu, melukai, dan menghancurkan ketenangan rumah tangga yang baru saja ia bangun bersama Lux.

Braxton menatap Amelia dengan pandangan paling dingin dan meremehkan yang pernah ia tunjukkan.

"Jangan bertindak seolah-olah kau punya hak untuk mengatur hidupku, Amelia," jawab Braxton datar, suaranya tenang tanpa ada sedikit pun getaran. "Tidak ada wanita mana pun yang perlu kau khawatirkan, karena hidupku sama sekali bukan urusanmu lagi."

"Bagus kalau begitu," bisik Amelia dengan senyum puas yang aneh. "Karena jika sampai ada... aku bersumpah akan membuat hidup wanita itu menderita seperti apa yang kurasakan selama tiga bulan ini."

Braxton mengepalkan jarinya rapat-rapat di balik lipatan tangannya, menahan amarah yang membakar dadanya mendengar ancaman terselubung itu. Keinginan untuk melindungi Lux kian membuncah sepuluh kali lipat lebih besar.

"Sembuhlah, Amelia," ujar Braxton dingin seraya berbalik membelakangi ranjang. "Dan setelah kau keluar dari hospital ini... pastikan kau dan keluargamu tidak pernah muncul lagi di hadapanku atau keluargaku. Ini adalah kali terakhir aku menyempatkan diri menemuimu."

"Braxton! Jangan pergi! Braxton!" jerit Amelia histeris saat melihat Braxton melangkah lebar menuju pintu.

Braxton tidak menoleh sedikit pun. Ia menarik pintu kayu tersebut, melangkah keluar ke koridor, dan membanting pintunya hingga tertutup rapat, memutus suara jeritan histeris Amelia di dalam sana.

...****************...

Di luar ruangan, Tuan dan Nyonya Giger langsung menghadangnya dengan wajah marah. Namun Braxton melintasi mereka begitu saja tanpa menghentikan langkahnya, melayangkan tatapan mata yang begitu tajam hingga kedua orang tua itu terpaksa mundur dan bungkam.

Braxton menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah cepat. Begitu keluar dari gedung Hospital Saint Jude dan menghirup udara luar Los Angeles, ia menyandarkan tubuhnya di pintu mobil sport hitamnya.

Pria itu menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan untuk menetralkan hawa beracun yang baru saja dihirupnya di dalam sana.

Braxton merogoh saku jaketnya, menarik keluar ponselnya. Matanya menatap layar kunci ponsel tersebut, memperlihatkan sebuah foto yang diambilnya secara diam-diam beberapa minggu lalu—foto Lux yang sedang tertidur di sofa Penthouse dengan wajah galaknya yang mendadak polos dan menggemaskan.

Jantung Braxton yang tadi tegang mendadak melunak kembali. Rasa hangat dan tekad protektif memenuhi dadanya.

Ia baru saja melangkah keluar dari sarang iblis obsesif, dan ia sadar mulai hari ini, tugasnya sebagai seorang suami akan jauh lebih berat. Ia harus menjaga rahasia pernikahan ini lebih rapat dari sebelumnya, membentengi Lux dari bahaya yang tak terlihat, dan memastikan bahwa senyuman manis yang baru saja mekar di wajah istrinya tidak akan pernah terenggut oleh kegilaan masa lalu.

Braxton masuk ke dalam mobil sport-nya, menghidupkan mesin V8 yang meraung halus, dan menancap gas melaju kencang meninggalkan rumah sakit—bergegas pulang kembali ke tempat di mana seluruh jiwanya kini berlabuh: Penthouse dan Lux Victoria.

1
Mita Paramita
😍😍😍😍😍
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentar nya kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
Hennyy exo
pengen deh cowok yg kaya braxton🤭
Rosdianah 🌷: hihi🤭
total 1 replies
Hennyy exo
ihh makin suka thor🤭
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Hennyy exo
wow alurnya menarik dan penulisannya bagus
Hennyy exo
ihh greget banget ama braxton🤭
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
nayla tsaqif
Istri AJ / mommy braxy zephir,, knp jd cherry,, 😌??
Rosdianah 🌷: huhuhu author typo 🙏🏻🙏🏻😭😭
total 2 replies
nayla tsaqif
Emg kak, soalnya daddy mommy braxton dulu king dan queen drama,, 😌
Rosdianah 🌷: wkkwk🤣
total 1 replies
Nita Kurniawati
yampun, part ini bikin AQ mewek 😭
semangat ya bang, buat meluluhkan hati Lux
Rosdianah 🌷: huhu ma'aciww komentar nya kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
batu ketemu batu ini mah🤣sama2 keras kepala🤔
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤣
total 1 replies
Feni sang penulis novel
kakak maaf ya tadi aku salah menyebutin novel judul aku maksud aku seperti ini judulnya adalah jalan menuju masa depan itu yang asli judulku
Feni sang penulis novel
assalamualaikum kak maaf ya aku kurang sopan aku izin berkomentar aku sudah membaca semuanya alurnya Saya suka dan saya ingin memberikan bintang 5 kalau boleh kalau kakak mengizinkan saya ingin sekaligus promosi juga di sini Saya mempunyai novel yang berjudul menuju jalan masa depan semoga kakak suka dan babnya juga ada 9 bab terima kasih
Mita Paramita
king drama nih Braxton 🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkwk Braxton Sama Braxley anak Daddy AJ ya kak. jangan lupa baca Cerita Braxley dijudul.sebelah🤭
total 1 replies
Mita Paramita
🔥🔥🔥
Rosdianah 🌷: Happy reading kak 🥳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!