Di dunia di mana para penyihir saling pamer ledakan dan mantra panjang, Kaelen Vance mantan pakar cybersecurity yang bereinkarnasi menjadi putra bangsawan miskin memilih menjadi anomali yang tak terlihat. Melihat sihir kuno tak lebih dari sistem jaringan yang penuh celah keamanan, Kael dengan sengaja memasukkan "kode rusak" pada ujian masuk Akademi Sihir. Tujuannya satu: dibuang ke Kelas F, sebuah gedung tua dengan sistem keamanan magis kedaluwarsa yang menjadi titik buta sempurna untuk meretas arsip kerajaan.
Publik mencapnya sebagai "Sampah Akademi". Mereka tidak tahu bahwa Kael tidak butuh merapal mantra; ia menyimpan struktur sihir di otaknya secara permanen layaknya NVRAM, dan menggunakan cincinnya sebagai router untuk meretas dan membelokkan serangan musuh di udara. Kael tidak butuh validasi atau menjadi pahlawan—ia menghancurkan musuhnya secara diam-diam dari balik layar.
Namun,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YANDRI HS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 3: Negosiasi Protokol
Kael menatap wanita di lantai dua itu tanpa sedikit pun perubahan ekspresi. Otaknya bekerja cepat, mengkalkulasi variabel ancaman. Elara Vane. Peneliti anomali. Seorang bangsawan terasing yang memiliki akses penuh ke seluruh arsip di gedung ini. Di mata Kael, Elara bukanlah ancaman fisik; dia adalah Administrator Sistem yang memegang kunci enkripsi tingkat tinggi.
Aku bukan subjek gagal, jawab Kael datar. Suaranya membelah kesunyian perpustakaan, tenang dan tanpa intonasi. Aku hanya menolak menggunakan sistem yang dirancang dengan sangat buruk.
Elara tertawa pelan. Tawanya terdengar renyah namun tajam. Dia menuruni tangga spiral perlahan, jubah gelapnya berdesir menyapu anak tangga kayu. Dia berhenti tepat dua meter di hadapan Kael, menatap pemuda itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Sistem yang buruk? ulang Elara, menaikkan sebelah alisnya. Kau baru saja menyebut sihir leluhur Aethelgard yang diagungkan selama ribuan tahun sebagai sistem yang buruk? Jika Master Therion mendengar ini, kau akan digantung di alun-alun akademi sebelum fajar.
Kael melirik ke arah meja kerja Elara di sudut ruangan. Di atasnya, tumpukan perkamen berserakan, penuh dengan coretan diagram sirkuit mana yang rumit. Tinta di beberapa bagian masih basah.
Mereka memuja ledakan besar dan membuang sembilan puluh persen energi mereka ke udara kosong. Itu bukan keagungan. Itu inefisiensi, balas Kael. Matanya kini terpaku pada satu perkamen besar yang dipenuhi lingkaran sihir tumpang tindih. Kau sedang mencoba menyatukan anomali pembelokan spasial dengan teori kompresi mana. Sudah berapa lama kau terjebak di persamaan baris ketujuh itu?
Langkah Elara terhenti. Seringai di wajahnya memudar seketika, digantikan oleh tatapan waspada yang dingin. Bagaimana kau bisa tahu sejauh mana penelitiku dari jarak sejauh ini?
Kael berjalan mendekati meja tersebut. Elara tidak mencegahnya, terlalu diliputi rasa penasaran yang mengalahkan kewaspadaannya. Kael menunjuk ke salah satu simbol di tengah perkamen.
Kau membuat aliran datamu, maksudku, aliran manamu berputar dalam lingkaran tertutup. Kau mengharapkan tekanan yang tercipta akan membelokkan ruang, kata Kael, jarinya menelusuri garis tinta tersebut. Tapi kau lupa memberi jalur keluar. Itu menciptakan penumpukan memori. Hasilnya? Setiap kali kau mencoba mempraktikkannya, mantramu akan membeku sendiri sebelum dieksekusi.
Napas Elara tertahan. Mata wanita itu membesar. Itulah tepatnya yang terjadi setiap kali dia mencoba eksperimen tersebut di laboratorium bawah tanah. Mantranya selalu mati mendadak, seolah tertelan ketiadaan.
Lalu apa yang salah? tanya Elara, suaranya kini kehilangan nada merendahkan, berganti dengan kehausan akademis yang murni.
Kau memasukkan perintah eksekusi sebelum protokol persiapannya selesai, jawab Kael tenang. Pindahkan simbol penyelarasan elemen ini ke luar lingkaran utama. Beri jeda satu detik sebelum eksekusi. Biarkan sistem bernapas.
Elara dengan cepat meraih pena bulunya. Dia mencoret bagian yang ditunjuk Kael dan memindahkannya sesuai instruksi. Elara memejamkan mata, mengalirkan sebersit mana kecil ke dalam perkamen itu. Alih-alih meledak atau membeku seperti biasa, perkamen itu melayang pelan sejauh tiga sentimeter dari meja, lalu perlahan kembali turun dengan mulus. Ruang di atas meja baru saja melengkung dengan sempurna tanpa ada suara sedikit pun.
Sempurna. Elara menatap perkamen itu dengan napas tersengal. Tiga tahun, gumamnya. Tiga tahun aku memecahkan kepala untuk teori ini, dan seorang siswa buangan Kelas F menyelesaikannya dalam tiga detik.
Elara memutar tubuhnya, menatap Kael dengan pandangan baru. Bukan lagi sebagai anomali yang harus diteliti, melainkan sebagai entitas yang setara.
Tidak ada sesuatu yang gratis di dunia ini, Kaelen Vance, kata Elara, suaranya kembali tajam dan profesional. Kau memberiku jawaban pencerahan. Apa yang kau inginkan sebagai imbalannya? Uang? Perlindungan dari faksi bangsawan yang mengincarmu?
Akses, jawab Kael seketika.
Alis Elara kembali bertaut. Akses?
Gedung ini memiliki arsip terlarang di lantai bawah tanah, tempat cetak biru pertahanan akademi disimpan. Terminal di Kelas F tidak memiliki otoritas untuk menembus ke sana, jelas Kael datar. Aku butuh pinjaman identitas sihirmu. Stempel admin tingkat tinggi milikmu.
Elara tertawa sinis. Kau memintaku menyerahkan kunci ke jantung rahasia akademi kepada seorang siswa tahun pertama? Itu pengkhianatan tingkat tinggi.
Dan apa yang kau pelajari di meja ini juga dianggap sihir terlarang oleh kuil utama, balas Kael tanpa ragu. Kita berada di area abu-abu yang sama. Kau adalah gerbangku menuju informasi, dan aku adalah pemecah kode bagi kebuntuan penelitianmu. Sebuah transaksi yang saling menguntungkan.
Keheningan menyelimuti perpustakaan tua itu. Hanya terdengar detak jam pasir di sudut ruangan. Elara menatap mata abu-abu Kael, mencari kebohongan atau niat heroik yang naif. Dia tidak menemukan apa pun. Hanya ada kalkulasi dingin yang menyerupai jurang tak berdasar.
Menarik, bisik Elara akhirnya. Sangat menarik.
Elara mengangkat tangan kanannya, melepaskan sebuah cincin bermata batu obsidian dari jari telunjuknya. Dia melemparkan cincin itu kepada Kael. Kael menangkapnya dengan sigap.
Itu adalah kunci akses tingkat tiga. Jangan sampai ketahuan oleh penjaga, atau aku akan bersumpah bahwa kau mencurinya dariku dan aku akan menonton eksekusimu sambil minum teh, ucap Elara dengan senyum miring.
Dimengerti, balas Kael singkat. Dia menyimpan cincin obsidian itu ke dalam saku jubahnya.
Tanpa mengucapkan basa-basi atau salam perpisahan, Kael berbalik dan berjalan keluar dari perpustakaan, menghilang ke dalam kegelapan malam.
Elara menatap pintu yang baru saja tertutup itu. Tangannya kembali menyentuh perkamen penelitiannya. Malam ini, sebuah protokol baru baru saja disepakati. Dan Aethelgard tidak akan pernah sama lagi.