Sepuluh tahun lalu, Rani rela mengubur mimpinya menjadi dokter spesialis anak demi memilih cinta. Ia menikahi Roy, seorang duda dengan tiga anak, dan berusaha menjadi istri serta ibu tiri terbaik bagi keluarga yang kini menjadi dunianya.
Namun saat membuka mata di ranjang rumah sakit setelah percobaan bunuh diri yang nyaris merenggut nyawanya, Rani terkejut mendapati dirinya telah berusia tiga puluh sembilan tahun.
Bagi Rani, hari terakhir yang ia ingat adalah saat dirinya masih berusia dua puluh sembilan tahun, penuh ambisi, penuh mimpi, dan belum mengetahui seperti apa masa depannya.
Saat kembali ke rumah, bukannya menemukan keluarga yang mencintainya, Rani justru mendapati suami dan ketiga anak tirinya berdiri di sisi wanita lain. Mereka menuduhnya kejam, manipulatif, bahkan menjadi sumber penderitaan keluarga itu.
Akankah ia kembali menjadi wanita yang selama ini mengorbankan segalanya demi keluarga yang tak pernah memilihnya atau memilih dirinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
"Mas, kamu meragukanku?"
Pertanyaan Sintia langsung membuyarkan pikiran Roy. Entah kenapa, sesaat tadi ia sempat memikirkan ucapan Rani. Bahkan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa ada beberapa hal yang tidak masuk akal. Namun pikiran itu segera ditepis. Bagaimana mungkin ia mempercayai Rani? Selama ini wanita itu selalu membuat masalah dan memanipulasi keadaan.
"Tidak, Sin. Aku tidak meragukanmu. Bagaimana mungkin?" jawab Roy.
Senyum di wajah Sintia mengembang. "Terima kasih, Mas. Aku hanya takut kalian salah paham."
Roy mengusap lembut bahunya. "Kamu tenang saja."
Aksan, Arlan, dan Arjun yang sejak tadi berdiri tak jauh dari sana ikut mendekat.
"Benar, Tante. Aksan percaya sama Tante."
"Tante yang terbaik. Arlan juga percaya."
"Arjun juga percaya kok sama Tante."
Mata Sintia langsung berkaca-kaca. "Terima kasih kalian semua. Tante benar-benar terharu."
Mereka kembali duduk sambil melanjutkan sarapan. Siapa pun yang melihat pemandangan itu pasti akan menganggap mereka keluarga yang harmonis. Roy dan ketiga putranya mengelilingi Sintia, memberikan dukungan dan kepercayaan penuh. Tidak ada yang menyadari bahwa wanita yang sedang mereka hibur justru menyimpan kepuasan dalam hatinya.
Namun Sintia tidak ingin membuang kesempatan begitu saja. Selama Roy masih memihaknya, ia harus memastikan posisi Rani semakin terdesak.
"Mas," panggilnya pelan sambil meletakkan sendok di atas piring. "Kalau Kak Rani benar-benar meminta pembagian aset, apa perlu aku carikan pengacara?"
Pertanyaan itu membuat Aksan seketika mengangkat kepala. "Pa, aku nggak setuju kalau Mama dapat aset keluarga ini."
"Iya," sahut Arjun cepat. "Yang berhak atas aset keluarga ini kan kami bertiga."
Arlan yang biasanya lebih tenang ikut mengangguk. "Kalau Papa mulai membaginya sekarang, bagaimana dengan masa depan kami nanti?"
Roy tersenyum tipis melihat kekhawatiran anak-anaknya. "Tenang saja. Papa hanya ingin membuat mamamu tenang. Dia sudah sepuluh tahun hidup bersama kita, mungkin sedang jenuh dan ingin membuat keributan dengan cara baru. Biarkan saja dulu dia bermain dengan kartu kredit yang Papa berikan. Tapi untuk urusan aset, Papa tidak akan membaginya."
Mendengar jawaban itu, dada Sintia terasa lega. Sejak tadi itulah yang paling ia khawatirkan. Jika Roy benar-benar mulai mengakui hak Rani sebagai istri, maka semua rencananya selama ini bisa berantakan.
"Syukurlah," gumamnya pelan mungkin hanya dirinya saja yang bisa mendengarnya.
"Astaga, aku kira Papa benar-benar mau menuruti kemauan wanita tua itu," celetuk Arjun.
Sintia terkekeh kecil lalu mengusap rambut pemuda itu. "Papamu bukan orang bodoh, Sayang."
"Iya, Papa memang hebat," timpal Aksan.
Namun berbeda dengan kedua saudaranya, Arlan justru terlihat berpikir. "Pa, tapi menurutku ada yang aneh."
Semua orang langsung menoleh kepadanya.
"Aneh bagaimana?" tanya Roy.
"Perubahan Mama terlalu mendadak." Arlan mengernyit. "Sebelum tahun baru dia masih seperti biasanya. Sekarang dia berani melawan Papa, berani menampar Tante, bahkan berani meminta aset keluarga. Rasanya seperti orang yang berbeda."
"Aku rasa dia akan melakukan hal-hal diluar nalar lagi untuk mendapatkan apa yang dia mau," imbuhnya.
Ruangan itu mendadak hening karena sebenarnya Roy juga memikirkan hal yang sama.
Sebelum Roy sempat menjawab, Sintia lebih dulu tersenyum. "Kalau soal itu, kalian tidak perlu khawatir."
Empat lelaki itu langsung memusatkan perhatian padanya.
"Kita sudah mengenal Kak Rani sangat lama," lanjut Sintia lembut. "Dan kita tahu apa kelemahan terbesar yang dimilikinya."
***
Di sebuah kafe, Rani menatap kartu hitam yang baru saja ia dapatkan. Di hadapannya duduk Sekar, sahabat lamanya yang untungnya masih menggunakan nomor lama dan masih bersedia memaafkan dirinya setelah menghilang selama sepuluh tahun.
"Ran, kamu manggil aku ke sini cuma buat pamer kartu kredit?" tanya Sekar sambil melirik kartu di tangan Rani.
"Tentu saja nggak." Rani menyeringai. "Aku mau ngajak kamu bersenang-senang."
Sekar langsung memutar bola matanya malas.
"Ran, kita bukan perempuan umur dua puluhan lagi. Kita hampir empat puluh tahun. Bersenang-senang apanya? Aku pikir setelah sepuluh tahun nggak ketemu, otakmu makin waras. Ternyata masih konslet."
"Eh, usia kita memang hampir empat puluh, tapi jiwa kita masih dua puluhan." Rani menunjuk kopi di depan mereka. "Udah, habisin dulu kopinya. Setelah itu kita foya-foya, Besti."
Sekar mendengus. Namun tepat saat keduanya hampir berdiri dari kursi, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakang.
"Kalian nggak ngajak aku?"
Rani dan Sekar menoleh bersamaan.
Rico berdiri di sana dengan jas dokter yang masih melekat di tubuhnya.
"Dokter sukses sepertimu mana punya waktu?" celetuk Rani. "Beda sama kita yang produk gagal."
"Aku belum gagal, ya," protes Sekar cepat. "Aku cuma belum punya kesempatan. Hidupku keburu habis ngurus suami sama anak."
"Itu tetap produk gagal." Rani mengangguk mantap. "Lihat Rico. Dokter bedah, punya rumah sakit sendiri, hidup mapan. Ini baru produk jadi."
Rico terkekeh pelan lalu duduk di kursi kosong di antara mereka. "Kalau kalian mau, kalian bisa kerja di rumah sakitku."
"Halah, nanti aja," jawab Rani santai.
Rico tidak membahasnya lagi. Ia justru mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari tas kerjanya lalu meletakkannya di atas meja.
"Ini yang kamu minta."
Senyum di wajah Rani langsung menghilang. Ia segera mengambil amplop itu. Sekar yang penasaran ikut mendekat, meskipun ia tidak tahu pasti apa yang terjadi. Ia hanya tahu jika sahabatnya ini amnesia.
Beberapa hari terakhir, Rani memang meminta Rico menyelidiki kehidupannya selama sepuluh tahun terakhir. Tentang Roy, Sintia, ketiga anak tirinya, dan alasan yang membuat dirinya sampai memilih mengakhiri hidup.
Jari-jari Rani bergerak cepat membuka amplop tersebut. Semakin banyak lembaran yang ia baca, semakin pucat wajahnya.
"Ada apa?" tanya Sekar yang mulai khawatir.
Rani tidak langsung menjawab. Matanya terpaku pada salah satu dokumen. Tangannya bahkan mulai bergetar.
"Ran?" panggil Rico pelan.
Rani mengangkat wajahnya perlahan. Ada keterkejutan, kemarahan, dan ketidakpercayaan bercampur menjadi satu.
"Jadi..." suaranya nyaris tidak terdengar.
Ia kembali menatap lembaran di tangannya. "Jadi aku punya anak?"
Sekar dan Rico saling pandang. Di detik berikutnya, Rico langsung memusatkan perhatiannya pada Rani. Ia tahu masih ada banyak fakta lain di dalam berkas itu. Ia khawatir wanita itu tidak siap menerimanya sekaligus.
Sementara itu, Rani justru tertawa kecil. Tawa yang terdengar lebih mirip orang yang baru saja mendengar lelucon paling kejam dalam hidupnya.
"Dan yang lebih gila lagi..." Tangannya gemetar saat mengangkat lembaran tersebut. "Dengan tanganku sendiri aku memasukkan anakku ke rumah sakit jiwa karena dia cacat?"
Tidak ada yang langsung menjawab. Rani kembali menunduk membaca beberapa baris laporan itu. Semakin dibaca, semakin sesak dadanya.
"Hah..." tawanya pecah lagi, kali ini terdengar rapuh. "Pantas saja mereka menganggap aku wanita manipulatif dan jahat."
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku bahkan tega melakukan hal seperti ini pada anakku sendiri."
Kalimat itu membuat tenggorokannya terasa tercekat. Ia bahkan tidak mengingat wajah anak itu. Tidak mengingat proses kehamilannya. Tidak mengingat bagaimana dirinya melahirkan. Namun hanya dengan mengetahui bahwa di luar sana ada seorang anak yang lahir dari rahimnya, dadanya terasa seperti ditusuk sesuatu berkali-kali. Seolah ada bagian dari dirinya yang sedang menjerit kesakitan.
"Anak seperti apa dia sampai aku tega membuangnya?" bisiknya lirih.
Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh satu per satu ke atas berkas di tangannya.
Rico yang melihat itu langsung merasa sesak. Selama mengenal Rani, ia tahu wanita itu mungkin keras kepala, tetapi bukan orang yang tega menyakiti anak.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Ran," ucap Rico pelan.
Rani tidak menjawab.
"Percayalah, aku dan Sekar sama-sama mengenalmu. Aku tidak percaya kamu melakukan semua itu tanpa alasan."
"Tapi faktanya ada di sini, Ric." Rani mengangkat berkas tersebut dengan tangan gemetar. "Namaku tertulis jelas sebagai wali yang menandatangani semua dokumen ini."
"Dan justru itu yang membuatku curiga." Rico mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kalau kamu benar-benar membenci anak itu, kenapa selama bertahun-tahun biaya perawatannya selalu dibayar tepat waktu? Kenapa ada beberapa catatan yang menunjukkan kamu diam-diam datang menjenguknya?"
Rani langsung mengangkat kepala.
"Apa?"
merekam untuk bukti itu perlu mang km bisa lawan tanpa bukti aneh.
kl sadar lemah hrse jd wanita Pinter tak tik atau gk ya licik biar bisa cari celah bukti.
itu kriminal ga buat main" kalau tidak di tindak lanjuti akan sangat berbahaya OMG ,,Rani ayo buka kedok si Kunti bogel be smart don't be stupid ran kan dah tau akan seperti apa dirimu kalau ga sat set
nunggu dua hari lagi
amnesia itu lupa ingatan aduh bodoh nya kamu
ran lebih Mak jleb lagi dong kamu kan tau alur nya
suami bego
lanjutkan 🙏🙏