NovelToon NovelToon
Wanita Pilihan Sang Ceo

Wanita Pilihan Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Noire 23

Nial Percy—seorang CEO tampan dengan reputasi dingin, tertutup, dan selalu memegang kendali—tidak pernah melibatkan perasaan dalam hidupnya. Segalanya terukur. Hingga suatu malam, ia meminta satu hal pada orang kepercayaannya: Mencarikan seorang wanita dengan kriteria tertentu. Tanpa ikatan. Tanpa emosi. Untuk memenuhi kebutuhan biologisnya. Namun takdir menyelipkan sesuatu yang tak ia rencanakan. Queen Lexian Arresta—wanita cantik dari keluarga terpandang yang tengah terjebak dalam perjodohan yang menyesakkan—tanpa sengaja mendengar percakapan itu. Dan dalam satu keputusan yang berani sekaligus nekat, ia menawarkan dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noire 23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

​Nial mengabaikan protes Rayden yang masih meratapi nasib gajinya di aula. Dengan sikap posesif yang mutlak, ia merangkul bahu Queen dan membawanya menuju limousine hitam yang sudah terparkir di depan.

​Di dalam mobil, suasana terasa sangat kontras. Rayden duduk di kursi kemudi, sesekali melirik spion tengah dengan perasaan was-was, sementara Nial dan Queen duduk di kursi belakang yang luas.

​Queen hanya diam, menyandarkan kepalanya di kaca jendela, menatap lampu-lampu jalanan kota yang berkelebat.

​Nial perlahan mengulurkan tangannya, mencoba meraih jemari Queen yang terpaku di atas paha. Namun, sebelum kulit mereka bersentuhan, Queen dengan sigap menepis tangan itu.

​"Jangan! sudah kubilang suamiku itu sangat pencemburu. Dia bisa menghabisiku jika tahu aku berpegangan tangan dengan pria lain."

​Nial menarik kembali tangannya, namun bukan untuk menyerah. Ia justru terkekeh rendah, sebuah tawa yang terdengar berbahaya namun ada sedikit nada geli di sana.

​"Menghabisimu?" Nial memajukan tubuhnya, menatap profil samping Queen dengan intens. "Sampaikan pada si penjual bunga itu; aku akan lebih dulu menghabisinya sebelum dia sempat membuka mulut untuk memarahimu. Aku bahkan bisa memastikan tokonya berubah menjadi tumpukan arang dalam satu malam jika dia berani menyentuh satu helai rambutmu dengan kemarahan."

​"Nial, kau—"

​"Kemari," potong Nial mutlak.

Tanpa menunggu persetujuan, ia menyambar tangan Queen dan menguncinya dalam genggaman yang erat, menautkan jemari mereka di atas kursi kulit.

"Dia tidak ada di sini sekarang. Dan selama kau di dalam mobilku, kau adalah milikku."

​Queen mendengus, namun ia tidak lagi memberontak. Keheningan kembali menyelimuti kabin, sampai akhirnya Queen membuka suara, mencoba memecah ketegangan dengan nada bicara yang seolah tidak peduli.

​"Ngomong-ngomong..." Queen melirik Nial dari sudut matanya. "Apa kau menjalin hubungan dengan seseorang sekarang? Seorang CEO sepertimu pasti tidak sulit mencari pengganti, kan?"

​Nial tidak langsung menjawab. Ia mengeratkan genggamannya pada tangan Queen, ibu jarinya mengusap punggung tangan wanita itu dengan gerakan pelan yang menghanyutkan.

​"Apa menurutmu aku bisa memulai hubungan dengan seseorang, di saat ada seorang wanita yang pernah membuatku mengalami trauma berkepanjangan?" Nial balik bertanya.

​Di kursi depan, Rayden yang sejak tadi memasang telinga langsung mengerjap berkali-kali. Ia hampir saja menginjak rem mendadak mendengar pengakuan "trauma" dari bosnya yang biasanya sekeras batu karang.

[​Trauma? Yang benar saja,] batin Rayden sambil menahan diri agar tidak berkomentar.

​Sementara itu, Queen tampak acuh tak acuh. Ia menoleh penuh ke arah Nial, menatap pria itu dengan tatapan polos yang dibuat-buat.

​"Wah, malang sekali. Kuharap seorang wanita yang kau maksud itu bukan aku."

Tawa Nial seketika pecah. Ia melepaskan sejenak tangan Queen hanya untuk mengusap wajahnya sendiri, lalu kembali menatap Queen dengan binar mata yang campur aduk antara gemas dan frustrasi.

​"Sayangnya..." Nial kembali menarik tangan wanita itu dan mengecup punggung tangannya singkat namun dalam. "Wanita yang berani bertindak seenaknya, kabur tanpa penjelasan, dan membuatku gila seperti itu hanya kau."

​Queen hanya memutar bola matanya, menyembunyikan getaran di hatinya. "Itu bakat alamiku, Nial. Harusnya kau sudah terbiasa."

​"Aku tidak akan pernah terbiasa dengan kehilanganmu," balas Nial tajam, mengunci pandangan Queen hingga wanita itu terpaksa membuang muka kembali ke arah jendela, menyembunyikan rona merah yang kini menghiasi pipinya.

​Beberapa saat kemudian...

​Mobil mewah itu akhirnya berhenti di depan sebuah gedung apartemen. Nial memperhatikan fasad bangunan itu dengan dahi berkerut, seolah sedang mengaudit apakah keamanan tempat ini cukup layak untuk melindungi wanita yang dicintainya.

​Saat mesin mati, Nial ikut membuka sabuk pengamannya. Ia menoleh ke kursi depan melalui jendela yang terbuka.

"Rayden, kau pergi saja. Jemput aku besok pagi."

Rayden mengangguk. "B—baik, Tuan."

​Queen yang baru saja hendak membuka pintu mobil langsung tersentak. Ia melotot sempurna ke arah Nial, tangannya tertahan di gagang pintu.

​"Apa katamu? Besok pagi?" pekik Queen tidak percaya. "Kau—kau akan menginap di sini?!"

​Nial menoleh, menatap Queen dengan ekspresi datar. "Tepat sekali. Aku harus memastikan 'suami penjual bungamu' itu tidak tiba-tiba muncul dan membuat keributan di hunian yang kecil ini."

​"Nial, kau tidak bisa—"

​"Aku bisa," potong Nial mutlak. Tanpa menunggu protes lebih lanjut, ia keluar dari mobil, memutari kap depan, dan membukakan pintu untuk Queen.

​Sebelum wanita itu sempat kabur, Nial sudah menyambar tangannya, menariknya keluar, dan membawanya melangkah masuk ke dalam lobi.

​"Nial! Lepaskan! Ini apartemenku, bukan mansion pribadimu!" bisik Queen gusar sembari berusaha mengimbangi langkah panjang pria itu.

​Nial tampak tak peduli.

​Begitu pintu otomatis lobi terbuka, seorang resepsionis pria bernama Leonard yang sedang bertugas langsung berdiri. Wajahnya yang tampan seketika cerah saat melihat Queen.

​"Selamat malam, Nona! Wah, lama tidak melihat Anda. Baru mampir lagi setelah dua minggu?" sapa Leo ramah, suaranya terdengar sangat akrab.

​Langkah Nial terhenti seketika. Genggamannya di tangan Queen mengeras. Matanya menyipit tajam, menatap Leonard seolah pria itu adalah target operasi yang harus segera dilenyapkan.

​"Malam, Leonard." Queen tersenyum. "Iya, aku sibuk sekali di toko bunga akhir-akhir ini, jadi aku lebih sering menginap di sana dan jarang pulang ke sini."

​"Pantas saja. Tokonya pasti sedang ramai, ya?" Leonard tertawa kecil, benar-benar tidak menyadari aura gelap yang memancar dari pria tampan di sebelah Queen.

​"Begitulah. Kalau begitu, aku masuk dulu ya. Sampai jumpa lagi," pamit Queen lembut, bahkan sempat memberikan lambaian kecil sebelum Nial menariknya dengan paksa menuju deretan lift.

​Begitu mereka berdiri di depan pintu lift yang masih tertutup, Nial langsung membuka suara. Suaranya rendah, sarat akan sindiran yang tidak bisa disembunyikan.

​"Kau itu betulan ramah, atau hanya sengaja membuatku cemburu?"

​Queen sontak menoleh, menaikkan alisnya dengan wajah polos yang dibuat-buat. "Maaf?"

​Nial memutar tubuhnya menghadap Queen, melangkah mendekat hingga memangkas jarak di antara mereka di depan pintu lift.

​"Senyummu itu terlalu berlebihan untuk ditunjukkan kepada seorang resepsionis," desis Nial, tajam. Seingatku, Kau tidak pernah tersenyum secerah itu padaku dulu."

​Queen tampak mengetuk dagunya dengan telunjuk, pura-pura berpikir keras. "Benarkah? Wah, aku tidak ingat." Ia lalu menatap Nial dengan binar jenaka. "Maaf, mungkin karena waktu itu aku berada di bawah tekanan."

​"Tekanan?" Nial mengulang kata itu dengan nada tak percaya, rahangnya mengetat.

​Queen mengangguk tanpa ragu sedikit pun. Ia melangkah maju satu tindak, memangkas sisa jarak hingga mata mereka beradu tepat saat bel lift berbunyi.

​"Ya. Tekanan karena takut kau mengetahui identitasku..." Queen menggantung kalimatnya, berbisik tepat di samping telinga Nial, "...dan tekanan menghadapi sikap dominanmu di atas r*njangmu."

​Ting!

​Pintu lift terbuka. Queen menarik wajahnya, lalu melangkah masuk ke dalam lift dengan anggun.

​Nial mematung sejenak, menghela napas berat untuk meredam ketegangan sekaligus rasa gemas yang membakar dadanya. Ia menatap Queen yang kini berdiri di tengah lift, menunggunya dengan senyum mengejek.

​"Apa kau hanya akan berdiri di sana, Tuan Percy?"

​Nial menggeram rendah, lalu melangkah masuk ke dalam lift. "Jangan coba-coba memancing kesabaranku, Queen."

Queen hanya tersenyum tipis.

​Ting!

​Pintu lift terbuka di lantai dua belas. Queen melangkah keluar lebih dulu, sementara Nial mengekor di belakang.

​Queen menempelkan kartu aksesnya dan pintu unit apartemen itu terbuka. Begitu melangkah masuk, hal pertama yang menyapa indra penglihatan Nial adalah deretan sepatu di rak samping pintu.

​Matanya seketika menyipit tajam saat melihat sepasang sepatu pantofel pria berukuran besar bersandar angkuh di samping deretan high heels milik Queen. ​Tanpa ragu sedikit pun, Nial mengayunkan kakinya.

​Bugh!

​Dengan satu tendangan kasar, Nial membuat sepatu pantofel itu terlempar menjauh dari tempatnya, tergeletak berantakan di sudut lorong masuk.

​"Apa yang kau lakukan?!" pekik Queen, menatap sepatu yang kini telah berpindah tempat.

​"Sepatu itu tidak pantas berada di dekat milikmu," sahut Nial dingin tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Ia melangkah masuk, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang didominasi warna krem. Namun, langkahnya terhenti total saat matanya tertumpu pada sebuah bingkai foto besar yang terpampang di dinding ruang tamu.

​Itu adalah foto seorang pria. Wajahnya sangat tampan, dengan senyum miring dan tatapan mata yang penuh rasa percaya diri. Auranya kental dengan kesan model papan atas.

​"Dia—" Nial menggantung kalimatnya, menunjuk foto itu dengan nada benci yang tidak disembunyikan.

​"Suamiku," sambung Queen cepat, sembari meletakkan tasnya di atas meja makan dengan gerakan santai.

​Nial berdecih sangat keras. "Selain pencemburu, ternyata dia juga seorang narsistik akut."

​Queen menoleh, berpura-pura tersinggung dengan alis yang bertaut. "Maksudmu apa? Jangan menghina suamiku, Nial."

​"Lihatlah posenya. Tatanan rambutnya ... tatapannya ..." Nial mengamati foto itu lebih dekat dengan dahi berkerut. "Dia lebih tampak seperti model panggung murahan daripada seorang penjual bunga. Sungguh drama."

​Pfft!

​Bahu Queen mulai bergetar. Ia menggigit bibir dalamnya sekuat tenaga, namun pertahanannya runtuh seketika.

​"Hahaha! Astaga...!" ​Tawa Queen pecah begitu saja. Ia membungkuk sambil memegangi perutnya.

Foto itu sebenarnya adalah foto sepupunya Kayden yang bekerja sebagai model di Milan. Jika pria itu tahu ia diejek seperti itu oleh Nial, perang dunia ketiga pasti terjadi.

​"Lihat, kau saja menertawakannya," kata Nial angkuh. "Itu tandanya kau setuju denganku."

​Queen berusaha meredakan tawanya, menatap Nial yang berdiri tegak penuh percaya diri di depan foto "saingannya" itu.

​"Terserah kau saja," ucap Queen dengan sisa-sisa tawa, lalu berjalan menuju dapur terbuka.

​Perut Queen sudah berdemo sejak tadi; ketegangan malam ini benar-benar menguras energinya. Ia mulai menyiapkan bahan makanan sederhana dari kulkas.

​Nial menyusul, bersandar di konter dapur dengan tangan terlipat di dada, memperhatikan gerakan tangan Queen yang lincah mengiris bahan.

​"Kau sudah makan?" tanya Queen tanpa menoleh.

​"Belum," jawab Nial singkat.

​Queen mengambil porsi bahan lebih banyak. Aroma tumisan bawang putih dan mentega perlahan memenuhi ruangan.

​"Pasta," ucap Queen. "Kau mau?"

​"Hm, boleh."

​Sembari mengaduk saus yang mulai mengental, Queen mengambil sedikit saus dengan sendok kecil dan menyodorkannya pada Nial. "Coba ini. Rasa asinnya sudah pas atau belum?"

​Nial tidak langsung mencicipinya. Ia menatap sendok itu, lalu beralih menatap Queen. Tanpa menduga, Nial menyambar pergelangan tangan Queen yang memegang sendok, lalu menuntunnya hingga ia mencicipi saus tersebut langsung dari sendoknya.

​Matanya tetap terkunci pada Queen, menunjukkan intensitas yang membikin napas wanita itu tertahan.

​"Rasanya sudah pas," ujar Nial rendah, melepaskan pegangannya perlahan.

​Queen berdeham canggung, berusaha menetralisir degupan jantungnya yang mendadak tak beraturan. "Baguslah kalau begitu. Sekarang mundurlah, kau menghalangi jalanku."

​"Aku hanya berdiri di sini, Queen," balas Nial santai, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang memprovokasi.

​Setelah hidangan siap, mereka duduk berhadapan di meja makan. Suasana hening sejenak, hanya diisi oleh bunyi dentingan garpu yang beradu dengan piring.

​Tiba-tiba...

​Duk! Duk!

​Suara musik berdentum cukup keras menembus dinding apartemen, disusul tawa renyah seorang pria dan wanita dari kamar sebelah.

​Nial berhenti mengunyah. Matanya menyipit tajam.

[Sialan, Kayden!] maki Queen dalam hati. Sepupunya itu ternyata tidak sedang di luar negeri, melainkan sedang memutar musik keras bersama teman-temannya atau kekasih barunya di kamar sebelah.

​"Suara apa itu?" Nial meletakkan garpunya. Auranya mendadak berubah menjadi sangat dingin dan penuh intimidasi.

​"Itu ... suamiku!" seru Queen asal menyela.

​Nial langsung berdiri dari kursinya. Wajahnya mengeras. Tanpa ragu, ia melangkah mantap menuju pintu kamar yang tertutup rapat, berniat mengonfrontasi pria yang selama ini disebut-sebut sebagai "suami" Queen.

​"Nial, tunggu!" Queen panik setengah mati. Jika Nial mendobrak pintu itu dan menemukan Kayden, kedoknya akan terbongkar, dan perselisihan konyol di antara mereka berdua pasti pecah.

​Dalam keadaan terdesak, Queen melontarkan pertanyaan acak pertama yang terlintas di kepalanya.

​"Nial! Kau ... kau mau mandi?"

​Langkah Nial terhenti tepat di depan pintu kamar. Ia menoleh perlahan, menatap Queen dengan alis bertaut bingung. "Mandi? Di tengah situasi seperti ini?"

​Queen menelan ludah. Suara musik dari dalam kamar masih terdengar berisik. Putus asa untuk mengalihkan perhatian Nial dari pintu itu, Queen memekik, "Iya! Maksudku ... ayo mandi! Biar kau bisa bersiap-siap atau semacamnya!"

​Hening.

​Suasana di ruang tamu itu mendadak jauh lebih sunyi daripada kuburan. Langkah Nial berhenti total dari tujuannya semula. Ia memutar tubuhnya sepenuhnya, menatap Queen dengan ekspresi heran yang campur aduk.

​Queen menyadari betapa anehnya kalimat itu terlontar dari mulutnya. Wajahnya kini bukan lagi merah biasa, tapi memerah total karena malu.

​"Maksudku—kau mandi di kamar mandi tamu, dan aku mandi di kamar mandi dalam! Jangan berpikiran aneh-aneh!" ralat Queen panik.

​Nial tidak membiarkan Queen menghapus momen itu begitu saja. Ia melangkah mendekati Queen, meninggalkan pintu kamar itu begitu saja. Fokusnya kini telah teralih sepenuhnya.

​"Tawaran yang sangat menarik untuk mengalihkan perhatianku, Queen Lexian," ujar Nial, berdiri tepat di depan Queen dan menundukkan tubuhnya sedikit hingga pandangan mereka sejajar.

​"Nial, aku hanya salah bicara—"

​"Tapi aku menganggapnya serius," potong Nial tegas. Sebelum Queen sempat menghindar, Nial dengan cepat meraih pergelangan tangannya dan menariknya lembut menuju arah kamar mandi utama, mengabaikan sama sekali kebisingan dari kamar sebelah.

​"Nial! Lepaskan! Aku belum selesai makan!" protes Queen, mencoba menahan langkahnya meski tangannya tetap berada dalam genggaman Nial.

Nial menyeringai, "Makanannya bisa dipanaskan nanti, tapi tawaranmu ... harus segera aku eksekusi sebelum kau berubah pikiran."

Deg.

1
Mia Camelia
semoga dady nya queen kasih restu ke quen and niel🥰
Mia Camelia
yaah ketauan deh😂😂😂
Mia Camelia
nial mode cemburu tuh ada rexi🤔🤣
Mia Camelia
hahaha niel bisa aja mencari kesempatan dalam kegelapan kolong meja🤣🤣🤣
Mia Camelia
ya ampun ternyata sempat hadir nial junior yah🤔🤔🤔
Mia Camelia
hahaha rayden berani bongkaran aib nial kalo ada britania,🤣🤣🤣
lanjut thor😄👍makin seru liat nial🥰
Mia Camelia
nial gercep banget sih, queen jadi takut itu🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut lagi thor🥰
Mia Camelia
lari queen🤣🤣🤣
Mia Camelia
lanjut thor🥰
Mia Camelia: semangat ya thor😄😄
semoga lolos kontrak, aku doaiin biar lancar, biar bisa lanjut lagi cerita nya👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!