NovelToon NovelToon
CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak usia sembilan tahun, Naura harus menelan pahitnya hidup. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh Paman Surya dan Bibi Rina yang tidak mampu namun terobsesi pada kemewahan. Naura sering disiksa dan dimanfaatkan, dipaksa bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sekolah. Meski demikian, ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, jujur, dan cerdas hingga berhasil lulus kuliah.

Bekerja di sebuah perusahaan swasta pun tidak membuat hidupnya lebih mudah. Atasan iri memfitnahnya, sementara paman dan bibinya terus memeras gaji dengan ancaman. Saat dipecat secara tidak adil dan berjalan dalam kesedihan, ia hampir tertabrak mobil mewah milik Aldo Pratama—CEO muda yang dingin, berwibawa, dan disegani banyak orang. Pertemuan tak terduga itu mengubah segalanya.

bagaimana kisah menarik selanjutnya... ???? lanjut bacanya sampai akhir yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Perasaan yang Mulai Tumbuh

Seminggu berlalu sejak kejadian Paman Surya dan Bibi Rina datang membuat keributan. Sejak saat itu, mereka tidak berani muncul lagi, takut menghadapi kekuasaan Aldo. Hidup di rumah besar itu kembali tenang, namun ketenangan itu justru membawa perasaan baru yang mulai menggelayuti hati kedua penghuninya.

Bagi Naura, setiap hari terasa lebih ringan meski tugasnya tetap banyak. Ia tidak lagi harus memikirkan ancaman atau tekanan dari masa lalunya. Yang ada hanyalah rasa nyaman yang perlahan tumbuh, meski ia berusaha keras menahannya. Setiap pagi, ia selalu menyiapkan sarapan dengan lebih teliti, memastikan kopi Aldo diseduh tepat seperti yang disukainya, dan menyusun meja makannya dengan rapi. Tanpa sadar, ia mulai memperhatikan hal-hal kecil tentang majikannya itu: ia tidak suka makanan yang terlalu pedas, ia selalu meletakkan kunci mobil di tempat yang sama, dan ia sering mengucek pelipisnya saat sedang lelah bekerja.

Suatu sore, cuaca mendung dan angin mulai bertiup kencang. Naura sedang duduk di teras membaca buku pelajaran lama miliknya saat melihat mobil Aldo berhenti di depan gerbang. Biasanya Aldo pulang saat senja, tapi hari ini ia terlihat lebih awal. Begitu turun dari mobil, Naura melihat wajah pria itu tampak pucat dan kakinya terhuyung sedikit.

"Pak Aldo!" panggil Naura terkejut, segera berdiri dan berlari mendekat.

Aldo mengerjap, mencoba menenangkan diri. "Tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing karena pekerjaan," jawabnya pelan, suaranya terdengar lebih lemah dari biasanya.

Namun, saat melangkah masuk ke rumah, tiba-tiba kakinya lemas dan tubuhnya terhuyung ke depan. Naura dengan sigap menahan bahunya agar tidak jatuh. Ia merasakan suhu tubuh Aldo terasa sangat panas—ternyata pria itu demam tinggi.

"Tuan Aldo, Tuan demam! Ayo, saya bantu Tuan ke kamar," ucap Naura dengan cemas. Ia memapah Aldo perlahan menuju kamar tidur utama di lantai atas. Ini pertama kalinya ia masuk ke ruangan itu, namun ia tidak sempat mengagumi kemewahannya karena perhatiannya tertuju sepenuhnya pada kondisi pria di sampingnya.

Setelah membaringkan Aldo di tempat tidur yang empuk, Naura segera mengambil kain bersih dan air hangat. Ia mengompres dahi dan leher Aldo dengan hati-hati. Meskipun biasanya bersikap dingin, saat ini Aldo terlihat sangat lemah dan terlelap dalam tidur yang gelisah. Sesekali ia mengerang pelan, membuat hati Naura terasa perih.

"Kenapa tidak istirahat saja di kantor kalau sudah merasa tidak enak badan?" gumam Naura pelan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. Ia terus mengganti kompres setiap sepuluh menit, memastikan suhu tubuh Aldo perlahan turun. Ia juga menyiapkan air hangat dan obat penurun panas yang ada di kotak obat, lalu menunggui Aldo sampai larut malam.

Saat tengah malam, Aldo perlahan membuka matanya. Pandangannya masih kabur, namun ia bisa melihat sosok Naura yang tertidur meringkuk di kursi dekat tempat tidurnya, kepalanya bersandar di tepi kasur. Tangannya masih memegang kain kompres yang sudah dingin. Hatinya terasa hangat dan aneh—perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia menyadari gadis itu telah menunggunya seharian tanpa mempedulikan dirinya sendiri.

Aldo menggerakkan tangan, perlahan menyentuh rambut Naura dengan gerakan yang sangat lembut. "Terima kasih..." bisiknya pelan, cukup keras untuk didengar dirinya sendiri.

Gerakan itu membuat Naura terbangun. Ia segera mengangkat kepalanya, terkejut melihat Aldo sudah sadar. "Tuan Aldo! Tuan sudah sadar? Bagaimana perasaan Tuan? Apakah masih pusing?" tanyanya cepat, tangannya segera menyentuh dahi Aldo untuk memeriksa suhunya.

Sentuhan tangan gadis itu yang lembut dan dingin membuat Aldo tertegun sejenak. Ia menatap wajah Naura yang terlihat khawatir, dengan mata yang masih sedikit sayu karena kurang tidur. "Sudah lebih baik. Terima kasih sudah menunggui saya," jawab Aldo, kali ini nadanya tidak dingin seperti biasanya, melainkan terdengar lembut dan tulus.

Naura tersenyum tipis, senyum yang membuat wajahnya terlihat semakin bersinar. "Syukurlah kalau begitu. Sebentar saya ambilkan air dan obatnya."

Setelah meminum obat dan minum air putih, Aldo terlihat lebih segar. Ia menatap Naura yang sedang membereskan peralatan kompres, lalu bertanya, "Kamu tidak tidur sejak tadi?"

Naura menggeleng. "Tidak apa-apa, Tuan. Saya sudah terbiasa begadang saat sekolah dulu. Lagipula, saya tidak enak hati kalau meninggalkan Tuan sendirian saat sedang sakit."

Jawaban sederhana itu justru membuat hati Aldo terasa terenyuh. Selama ini, orang-orang di sekelilingnya hanya mendekat karena kekayaan dan kekuasaannya. Belum pernah ada yang benar-benar peduli pada dirinya sebagai manusia biasa, apalagi sampai begadang hanya untuk menunggui. Namun, gadis sederhana di depannya ini melakukannya tanpa pamrih.

"Kamu boleh tidur di kamar ini saja. Di sofa itu cukup luas," kata Aldo tiba-tiba.

Naura terkejut dan menggeleng cepat. "Tidak bisa, Tuan! Saya akan tidur di kamar saya saja. Kalau Tuan butuh apa-apa, panggil saja saya."

"Sudah malam dan hujan turun deras. Tidak perlu keras kepala. Istirahatlah di sana agar besok kamu tidak sakit juga," perintah Aldo tegas namun tidak kasar.

Melihat ketegasan itu, Naura akhirnya mengangguk pelan. Ia berbaring di sofa yang empuk, namun sulit memejamkan matanya. Di sisi lain, Aldo juga tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan sikap Naura yang tulus dan ketabahannya. Ia menyadari bahwa perasaan yang tumbuh di hatinya bukan sekadar rasa kasihan atau tanggung jawab sebagai majikan. Ia mulai merasa nyaman setiap kali melihat Naura, merasa tenang mendengar suaranya, dan bahkan merasa cemas jika gadis itu terlihat sedih atau lelah.

Keesokan paginya, demam Aldo sudah turun secara signifikan. Naura menyiapkan bubur hangat dan memberinya makan dengan hati-hati. Sejak hari itu, hubungan mereka perlahan berubah. Aldo tidak lagi memanggil Naura dengan nada memerintah, ia mulai berbicara lebih banyak, menanyakan keadaan Naura, bahkan sesekali bercanda ringan yang membuat Naura tertegun—karena tidak menyangka CEO sedingin itu bisa tertawa kecil.

Di kantor, perubahan sikap Aldo semakin terlihat jelas. Ia yang biasanya selalu serius dan tegas, tiba-tiba sering tersenyum sendiri saat membaca pesan singkat atau memikirkan sesuatu. Asistennya, Rina, sampai beberapa kali memeriksa apakah bosnya sedang sakit atau tidak.

"Pak Aldo, ada rapat penting dengan direktur utama perusahaan mitra dalam lima menit lagi," lapor Rina suatu hari.

Aldo mengangguk, namun sebelum berjalan keluar, ia bertanya tiba-tiba, "Rina, menurutmu... apakah jarak status sosial itu benar-benar menjadi penghalang bagi dua orang untuk saling menyukai?"

Rina tertegun, matanya terbelalak kaget. Selama bekerja bertahun-tahun, ia tidak pernah mendengar bosnya bertanya hal seperti itu. "Itu... tergantung pada perasaan masing-masing, Pak. Kalau keduanya saling mencintai dan saling mendukung, mungkin jarak itu bisa dilalui. Tapi tentu saja tidak mudah, banyak pandangan orang lain yang akan menghakimi."

Jawaban itu membuat Aldo terdiam. Ia memikirkan Naura, latar belakangnya yang sederhana, dan dunia yang berbeda di antara mereka. Namun, ia juga teringat ketulusan gadis itu, bagaimana ia tidak pernah meminta lebih meski hidup susah, dan bagaimana ia membuat rumah besar itu terasa hangat.

Di rumah, Naura juga sedang bergumul dengan perasaannya. Ia sadar ia mulai menyukai Aldo—bukan karena kekayaannya, tapi karena sikapnya yang perlahan berubah, cara ia melindunginya, dan ketulusan yang mulai terlihat di balik sifat dinginnya. Namun, ia selalu mengingatkan dirinya sendiri: Jangan berharap lebih. Kamu hanya pembantu, dia adalah CEO besar. Dunia kalian terlalu jauh berbeda.

Namun, takdir seolah tidak setuju dengan pemikiran itu. Suatu sore, saat Naura sedang berkebun di halaman belakang, Aldo datang menghampiri. Ia membawa dua gelas jus buah segar, lalu meletakkannya di meja kecil di teras.

"Beristirahatlah sebentar. Ini jus dingin," katanya sambil duduk di kursi di hadapan Naura.

"Terima kasih, Tuan," jawab Naura sambil tersenyum tipis.

Mereka duduk hening sejenak, menikmati hembusan angin sore yang sejuk. Sampai akhirnya Aldo membuka suara, "Naura, apakah kamu merasa nyaman tinggal di sini? Apakah ada yang kurang?"

Naura menggeleng cepat. "Saya sangat nyaman, Tuan. Terima kasih sudah memberi saya tempat tinggal dan pekerjaan yang layak."

Aldo menatap matanya dalam-dalam, membuat detak jantung Naura berdebar kencang. "Kalau begitu... apakah kamu mau tinggal lebih lama lagi? Tidak hanya sebagai pembantu, tapi..." Aldo berhenti sejenak, seolah ragu mengucapkan kata-katanya.

Namun, sebelum ia sempat melanjutkan, suara keras terdengar dari luar gerbang. "Naura! Keluar kamu! Kami tahu kamu ada di sana! Jangan sembunyi!"

Suara itu membuat keduanya menoleh. Wajah Naura langsung memucat—itu suara Paman Surya dan Bibi Rina. Mereka datang lagi, kali ini tampak lebih berani dan didampingi dua orang pria berperawakan besar.

1
elfanaya 💞
kamu udh dpt gaji mending keluar dari rumah yg berasa seperti neraka itu
Kim Borahae
seru😍. semangat terus ya 💪

Btw, saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!