Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.
Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”
Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
BAB 7: Tempat Pulang yang Sesungguhnya
Langkah sepatu Zayn Dominic menggema berat saat dia menaiki anak tangga dari gudang bawah tanah. Di dalam dekapan kedua lengan kekarnya, tubuh Elva Ileana terasa begitu ringan dan rapuh, seolah-olah gadis itu bisa hancur kapan saja. Kepala Elva yang terkulai lemas bersandar pada dada bidang Zayn, menyalurkan rasa panas yang membakar akibat demam tinggi yang menyerang tubuhnya.
Begitu Zayn melangkah kembali ke ruang tengah, Narendra dan Dion masih terpaku di sana dengan wajah pucat pasi. Melihat Elva yang tidak sadarkan diri dalam kondisi mengenaskan—dengan pipi bengkak kemerahan dan sudut bibir berdarah—Narendra mencoba melangkah maju dengan sisa-sisa keberaniannya.
"Z-Zayn, tunggu... Kamu tidak bisa membawa putri saya pergi begitu saja dari rumah ini," ucap Narendra, suaranya bergetar hebat.
Zayn menghentikan langkahnya tepat di tengah ruangan. Dia tidak berbalik, namun aura mematikan yang menguar dari tubuh tegapnya seketika membuat atmosfer di dalam rumah mewah itu membeku. Sepasang mata elang Zayn melirik tajam ke arah Narendra dari sudut matanya.
"Putri lo?" bisik Zayn, suaranya terdengar begitu rendah, dingin, dan sarat akan ancaman yang mengerikan.
"Mulai detik ini, lo dan semua orang di rumah busuk ini nggak punya hak sedikit pun atas Elva."
Zayn mempererat dekapannya pada tubuh Elva, memastikan jaket kulit hitamnya membungkus tubuh gadis itu dengan sempurna dari udara dingin. "Dengar baik-baik, Narendra. Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada Elva karena kelakuan biadab lo semua... gue sendiri yang akan memastikan seluruh aset, rumah mewah, dan bisnis properti yang lo agung-agungkan ini rata dengan tanah sebelum minggu ini berakhir. Jangan pernah coba-coba mencari Elva, atau lo akan tahu apa arti neraka yang sesungguhnya."
Setelah melontarkan ancaman mutlak itu, Zayn berjalan keluar, mendobrak pintu depan yang sudah rusak dengan bahunya, dan mengabaikan jeritan panik Narendra di belakangnya. Zayn membawa Elva masuk ke dalam mobil sport hitamnya, yang sudah diantar oleh pengawal nya. mendudukkannya di kursi penumpang dengan sangat hati-hati, lalu memasangkan sabuk pengaman sebelum dia sendiri melesat membelah jalanan kota Jakarta.
...****************...
Hanya butuh waktu singkat bagi Zayn untuk sampai di gedung apartemen penthouse pribadinya yang terletak di kawasan eksklusif Jakarta Pusat. Tempat ini adalah zona privasinya yang tidak pernah dimasuki oleh siapa pun, bahkan oleh orang tuanya sendiri. Namun hari ini, Zayn membawa Elva masuk ke dalamnya tanpa ragu.
Zayn membaringkan tubuh lemah Elva di atas ranjang berukuran king size di kamar utamanya yang bernuansa monokrom. Dengan gerakan yang sangat lembut—berbeda seratus delapan puluh derajat dari sikapnya beberapa menit lalu—Zayn melepas sepatu sekolah Elva dan menyelimuti tubuh gadis itu dengan selimut tebal berbahan premium.
Sambil menunggu dokter pribadi yang sudah dia hubungi sejak di jalan tadi, Zayn duduk di tepi ranjang. Jemari tangannya yang besar dan hangat terulur, dengan sangat hati-hati mengusap dahi Elva yang dipenuhi keringat dingin, lalu beralih menyentuh pipi kiri Elva yang bengkak akibat tamparan Larasati. Rahang Zayn kembali mengeras saat melihat bekas luka itu. Ada rasa sesak dan amarah yang bergejolak di dadanya saat melihat gadis se-setia dan se-polos Elva harus menanggung penderitaan sebesar ini sendirian.
Bel pintu apartemen berbunyi.
Zayn buru-buru berdiri dan membuka pintu. Dokter dika, dokter pribadi kepercayaan keluarga Dominic yang berusia kepala empat, melangkah masuk dengan tas medisnya.
"Di mana pasiennya, Tuan Muda Zayn?" tanya Dokter dika dengan raut wajah profesional namun menyiratkan rasa penasaran, sebab ini pertama kalinya dia dipanggil ke apartemen pribadi Zayn untuk mengobati seorang perempuan.
"Di dalam kamar. Tolong periksa dia dengan teliti, Dok," jawab Zayn dingin, namun ada nada kepanikan yang samar dalam suaranya.
Dokter dika segera memeriksa kondisi Elva. Dia mengecek suhu tubuh, denyut nadi, serta mengobati luka memar di pipi dan sudut bibir gadis itu dengan telaten. Zayn berdiri di dekat jendela kamar, bersedekap dengan mata yang tidak sedetik pun lepas dari figur Elva yang sedang diperiksa.
Setelah hampir lima belas menit, Dokter dika akhirnya merapikan peralatannya dan menghela napas pendek. Dia berjalan mendekati Zayn. "Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Zayn langsung tanpa basa-basi.
"Nona muda itu mengalami demam tinggi akibat syok berat, dehidrasi, dan terlalu lama berada di ruangan yang pengap tanpa sirkulasi udara yang baik," jelas Dokter dika dengan nada serius.
"Luka memar di pipinya akibat benturan fisik yang cukup keras, tapi saya sudah memberikan salep kompres dan menyuntikkan obat penurun panas serta vitamin ke dalam cairannya. Dia hanya butuh istirahat total dan ketenangan. Jangan biarkan dia mengalami tekanan mental lagi untuk beberapa hari ke depan."
Zayn mengangguk kecil, wajahnya tampak sedikit lebih tenang setelah mendengar penjelasan dokter.
"Terima kasih, Dok. Tolong rahasiakan hal ini dari siapa pun, termasuk dari Papa."
"Saya mengerti, Tuan Muda. Semua rekam medis pasien di sini bersifat rahasia," jawab Dokter dika patuh sebelum akhirnya berpamitan keluar dari apartemen.
Malam semakin larut, dan rintik hujan di luar jendela apartemen lantai teratas itu masih setia terdengar. Di dalam kamar yang temaram, Zayn duduk di kursi tunggal tepat di samping ranjang tempat Elva tertidur. Dia sudah mengganti pakaian seragamnya dengan kaus hitam santai, namun matanya masih terjaga, terus mengawasi setiap pergerakan kecil dari gadis di depannya.
Garis wajah Elva yang polos perlahan mulai terlihat lebih tenang setelah efek obat bekerja. Perlahan, kelopak mata bulat itu bergerak kecil. Sebuah lenguhan lirih lolos dari bibir Elva yang pucat saat dia perlahan membuka matanya, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu tidur yang redup.
"Z-Zayn...?" bisik Elva dengan suara yang sangat serak dan lemah. Pandangan matanya yang sayu menatap langit-langit kamar yang asing, lalu beralih pada sosok cowok yang duduk di sampingnya. Zayn langsung menegakkan tubuhnya, mencondongkan badannya ke arah ranjang.
"Iya, ini gue. Jangan banyak gerak dulu, lo masih lemes," ucap Zayn, suaranya terdengar begitu lembut, seperti dekapan hangat di tengah malam yang dingin.
Elva menatap sekeliling ruangan dengan bingung. Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya saat ingatan tentang gudang bawah tanah yang gelap kembali melintas di pikirannya. Tubuhnya sempat bergetar ketakutan karena mengira dia masih dikurung.
"Aku... aku di mana, Zayn? Papa... Mama..."
Sebelum ketakutan Elva semakin menjadi-jadi, Zayn dengan cepat menggenggam tangan kecil Elva yang terasa hangat karena sisa demam. Genggaman tangan Zayn begitu erat, kokoh, dan menyalurkan rasa aman yang mutlak.
"Lo aman di sini, Elva. Ini apartemen gue," ucap Zayn, matanya menatap lurus ke dalam manik mata Elva dengan keyakinan penuh.
"Nggak akan ada lagi yang bisa ngurung lo di tempat gelap. Nggak akan ada lagi yang berani nampar lo. Di sini, nggak akan ada satu orang pun dari keluarga busuk lo yang bisa menyentuh lo lagi."
Mendengar kata-kata itu, tangis Elva akhirnya pecah. Namun, kali ini bukan tangis ketakutan, melainkan tangis kelegaan yang teramat sangat. Di tengah dunia yang membuangnya dan keluarga yang menjadikannya barang dagangan, cowok dingin yang menggenggam tangannya saat ini telah benar-benar datang menjadi penyelamat hidupnya.
"Terima kasih... Terima kasih banyak, Zayn..." bisik Elva di sela isak tangisnya.
Zayn tidak menjawab dengan kata-kata. Dia hanya mengangguk kecil, menggunakan ibu jarinya untuk menghapus air mata yang mengalir di pipi mulus Elva dengan penuh kelembutan. Malam itu, di dalam kamar apartemen yang sunyi, Elva akhirnya tahu arti dari sebuah kenyamanan. Dia tahu bahwa kemewahan rumah orang tuanya tidak ada artinya, karena di sini, di dekat Zayn Dominic, dia akhirnya menemukan rumah yang sesungguhnya.