Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Matahari perlahan bergeser ke arah barat, memantulkan cahaya jingga keemasan di jendela kaca besar rumah mewah keluarga Herman.
Bima melangkah masuk melewati pintu utama dengan membawa botol kecil berisi ekstrak teratai darah di dalam saku bajunya.
Kepala pelayan yang menyambutnya langsung membungkuk hormat.
"Selamat datang kembali, Tuan Muda Bima. Tuan Besar sedang menunggu Anda di ruang makan utama."
Bima mengangguk pelan lalu berjalan menuju lantai dua untuk mencuci tangan dan membersihkan debu jalanan terlebih dahulu.
Sesampainya di ruang makan, Pak Herman dan Clara sudah duduk berdampingan di kursi meja makan yang panjang.
Melihat kehadiran Bima, Clara langsung membuang muka dengan pipi yang sedikit merona merah.
Dia masih teringat ucapan Bima kemarin lusa tentang terapi pijat seluruh tubuh.
"Kamu dari mana saja, Nak Bima?" tanya Pak Herman sambil tersenyum ramah menyambut kedatangan pemuda itu.
"Saya tadi pergi ke pasar herbal tradisional di sudut kota untuk mencari bahan ramuan tambahan, Pak."
Bima duduk di kursi yang berada tepat di seberang tempat duduk Clara.
"Apakah bahannya sudah kamu dapatkan?"
Bima mengeluarkan botol kaca kecil berisi cairan merah pekat dari saku celananya lalu menaruhnya di atas meja.
"Sudah lengkap, ekstrak teratai darah ini adalah kunci utama untuk mencabut sisa racun di dalam tubuh Nona Clara."
Clara melirik sekilas botol kecil berisi cairan merah tersebut dengan perasaan ngeri bercampur penasaran.
"Bahan apa itu, kenapa warnanya merah pekat seperti darah sungguhan?" tanya Clara dengan nada suara yang sedikit ketus.
"Itu adalah sari pati bunga teratai darah yang berkhasiat melancarkan peredaran darah dan membuka pori-pori yang tersumbat."
"Mulai malam ini, kita akan mulai melakukan sesi terapi akupunktur fisik tahap pertama."
Mendengar kata terapi fisik, Clara langsung meneguk air putih di gelasnya dengan gugup.
"A-apa harus malam ini juga?"
"Kenapa tidak minggu depan saja saat badanku sudah jauh lebih kuat?"
Clara mencoba mencari-cari alasan untuk menunda proses pengobatan yang membuatnya salah tingkah itu.
Bima menatap lurus ke arah Clara dengan ekspresi serius tanpa ada niat bercanda sedikit pun.
"Semakin cepat akar racun itu dicabut, semakin kecil risiko kerusakan permanen pada organ dalam Anda, Nona."
"Sebagai pasien, Anda harus mematuhi instruksi tabib yang merawat Anda."
Pak Herman mengangguk setuju dengan ucapan Bima.
"Benar kata Nak Bima, Clara. Jangan membantah perkataan tabib yang sudah menyelamatkan nyawamu."
Clara mendengus kesal karena sang ayah justru berpihak pada pemuda udik tersebut.
"Baiklah, terserah kalian saja!" seru Clara sambil melanjutkan makannya dengan perasaan sebal.
Malam harinya, tepat pukul delapan malam, Bima berdiri di depan pintu kamar tidur Clara sambil membawa kotak kayu usang berisi jarum perak.
Tok tok tok.
Bima mengetuk pintu kamar dengan pelan.
"Masuk!" jawab suara Clara dari dalam.
Cklek.
Bima mendorong pintu dan melangkah masuk ke dalam kamar yang sudah diatur pencahayaannya menjadi sedikit lebih temaram.
Clara sudah berbaring di atas ranjang dengan mengenakan baju tidur kain satin berwarna putih bersih yang longgar.
Wajah gadis itu terlihat sangat tegang dan kedua tangannya mencengkeram erat selimut di kedua sisinya.
"Kenapa lampunya diredupkan seperti ini, Nona?" tanya Bima keheranan.
"Biar suasananya lebih tenang, sudahlah jangan banyak tanya, cepat lakukan apa yang harus kau lakukan!"
Clara memalingkan wajahnya ke arah samping karena malu harus menatap mata Bima dari jarak dekat.
Bima meletakkan kotak jarum peraknya di atas meja nakas.
"Untuk memulai terapi ini, Nona harus melepas baju bagian luar dan berbaring tengkurap di atas ranjang."
"Bagian punggung atas dan titik meridian di sepanjang tulang belakang harus terbuka sepenuhnya."
Mendengar instruksi tersebut, wajah Clara langsung memerah padam sampai ke lehernya.
"Apa?! Tengkurap dan membuka baju bagian atas?!"
"Kau benar-benar berniat mencari kesempatan dalam kesempitan ya, dasar pemuda mesum!"
Clara langsung menarik selimutnya untuk menutupi tubuh bagian atasnya dengan panik.
Bima menghela nafas panjang menghadapi kepolosan dan kecurigaan berlebihan dari gadis kota itu.
"Nona Clara, jarum perak ini panjangnya mencapai sepuluh sentimeter."
"Jika baju tebal itu tidak dibuka, jarumnya tidak akan bisa menembus titik akupunktur yang tepat di punggung Anda."
"Lagi pula, saya ini seorang tabib, di mata saya seorang pasien yang sedang sakit tidak memiliki jenis kelamin."
Penjelasan logis dan tanpa beban itu justru membuat Clara merasa semakin salah tingkah.
Dia tahu bahwa Bima benar secara medis, namun rasa malunya sebagai seorang wanita bangsawan membuatnya ragu-ragu.
"Baiklah, tapi kau harus berjanji untuk tidak melihat bagian lain selain punggungku!"
"Dan jangan berani-berani bernafas terlalu keras selama melakukannya!" ancam Clara dengan suara gemetar.
Bima mengangguk patuh.
"Saya berjanji, fokus saya hanya pada titik meridian tubuh Anda."
Dengan perlahan dan penuh keraguan, Clara membalikkan tubuhnya menjadi tengkurap di atas ranjang empuk tersebut.
Dia membuka ikatan baju bagian atasnya secara perlahan sesuai instruksi Bima.
Punggung mulus berwarna putih bersih tanpa cacat kini terekspos jelas di bawah temaram lampu kamar.
Namun di sekitar area tulang belikatnya, terlihat jelas ada semburat warna kebiruan yang memancarkan hawa dingin.
Bima langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi sangat serius dan profesional.
Sisa candaan atau rasa canggung seketika lenyap dari pikiran pemuda itu begitu dia melihat kondisi fisik pasiennya.
Bima membuka kotak kayu usang miliknya dan mengambil lima buah jarum perak berukuran sedang.
Dia meneteskan sedikit cairan merah dari botol ekstrak teratai darah ke ujung jari telunjuknya.
"Saya akan mulai menotok titik meridian pertama di pangkal leher Anda."
"Mungkin akan terasa sedikit perih saat cairan ini menyentuh kulit Anda, mohon bersabarlah sebentar."
Sebelum Clara sempat memberikan tanggapan, Bima menempelkan jarinya yang basah dengan ekstrak teratai darah ke punggung gadis itu.
Sedes!
Hawa panas yang luar biasa langsung menjalar membakar permukaan kulit punggung Clara.
"Ah!"
Clara mendesis kesakitan sambil menggigit bibir bawahnya erat-erat untuk menahan suara teriakan agar tidak keluar.
Tubuhnya sedikit bergetar hebat menahan sensasi panas dan dingin yang berbenturan di dalam tubuhnya.
"Tahan sebentar Nona, racun di punggung Anda mulai bereaksi keluar."
Bima dengan cepat memegang jarum perak di tangan kanannya.
Wush!
Gerakan tangannya sangat cepat dan presisi tanpa keraguan sedikit pun.
Jleb! Jleb! Jleb!
Tiga jarum perak langsung tertancap dengan kedalaman yang sempurna di sepanjang tulang belakang Clara.
Setiap jarum yang masuk langsung mengeluarkan uap tipis berwarna putih keabu-abuan.
Bima memejamkan matanya sejenak untuk menyalurkan sebagian tenaga dalamnya melalui pangkal jarum-jarum tersebut.
Keringat mulai bercucuran dari pelipis Bima membasahi keningnya.
Proses itu membutuhkan konsentrasi tingkat tinggi karena sedikit saja kesalahan arah jarum bisa melumpuhkan saraf motorik pasien.
Di sisi lain, Clara merasakan sensasi yang luar biasa aneh di dalam tubuhnya.
Rasa sakit yang selama bertahun-tahun mencengkeram dadanya perlahan-lahan mulai melonggar.
Beban berat di punggungnya seolah diangkat secara perlahan oleh tangan tak kasat mata.
"Rasanya... luar biasa lega," batin Clara dalam hati dengan mata terpejam menikmati perubahan drastis tersebut.
Rasa kesal dan prasangka buruknya terhadap Bima kini sepenuhnya berganti menjadi rasa kagum yang mendalam.
Dia menyadari bahwa pemuda udik yang dianggapnya sebelah mata itu benar-benar seorang tabib sakti berkeahlian tingkat dewa.
Setelah hampir setengah jam proses penyaluran energi dan pemutaran jarum selesai, Bima menarik nafas panjang.
Sret! Sret! Sret!
Kelima jarum perak itu dicabut kembali dalam waktu bersamaan dengan kecepatan kilat.
Bima mengambil selembar kain bersih lalu mengusap sisa keringat dan cairan hitam yang keluar dari pori-pori punggung Clara.
"Sesi terapi pertama sudah selesai, Nona Clara."
Bima merapikan kembali alat-alatnya ke dalam kotak kayu.
Clara perlahan membalikkan tubuhnya kembali menghadap ke atas sambil merapikan baju tidurnya dengan wajah masih merona.
Dia menatap Bima dengan pandangan yang jauh lebih lembut dan penuh rasa terima kasih.
"Terima kasih, Bima."
"Aku minta maaf atas semua kata-kata kasar dan prasangka burukku kepadamu selama ini."
Bima tersenyum tipis mendengar permintaan maaf yang keluar dari mulut gadis angkuh tersebut.
"Tidak apa-apa, Nona. Itu sudah biasa saya temui pada orang-orang kota yang belum mengerti."
"Istirahatlah yang cukup, besok saya akan melanjutkan terapi tahap kedua untuk membersihkan sisa racun di dada Anda."
Mendengar kata dada, wajah Clara kembali memerah parah seperti udang rebus.
"I-iya, aku mengerti! Cepat keluar dari kamarku sekarang!" seru Clara sambil menarik selimut menutupi seluruh wajahnya karena salah tingkah.
Bima menggelengkan kepalanya pelan, lalu berbalik badan dan melangkah keluar kamar dengan tenang.