Di Benua Timur, kekuatan mutlak adalah hukum tertinggi, dan mereka yang tidak bisa berkultivasi hanyalah debu yang pantas diinjak-injak. Lin Tian, Tuan Muda dari Klan Lin, harus menanggung kehinaan selama bertahun-tahun karena cacat bawaan pada meridiannya. Takdirnya mencapai titik terkelam ketika ia dikhianati, disergap oleh pembunuh bayaran suruhan sepupunya, dan dilemparkan ke dasar Jurang Hukuman yang mematikan.
Namun, jurang itu bukanlah akhir, melainkan awal yang baru.
Di ambang kematian, darah dan tekad Lin Tian yang pantang menyerah membangkitkan sebuah artefak kosmis yang bersemayam dalam dirinya—Mutiara Kehampaan. Tubuh fananya dihancurkan dan ditempa ulang, meridiannya disucikan, dan ia mewarisi Teknik Kultivasi Kehampaan Sembilan Langit, sebuah kekuatan tabu yang ditakuti oleh alam semesta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Bunga Darah di Kedai Bulan
Udara di dalam Kedai Bulan Berdarah seolah membeku. Para pemburu bayaran dan kultivator liar yang biasanya garang tak kenal takut, kini menahan napas hingga wajah mereka memucat.
Seorang pengembara tanpa nama baru saja menyuruh Tuan Muda Xue—sang penguasa jalanan dari Sekte Darah Kemerahan—untuk menjadi pupuk tanaman.
Urat-urat halus menonjol di dahi pucat Xue. Matanya yang sipit memancarkan niat membunuh yang begitu kental hingga udara di sekitarnya berbau anyir darah. Sebagai seorang jenius yang baru saja menembus tahap Inti Emas Awal, tidak ada seorang pun di Kota Naga Jatuh yang berani menatap matanya secara langsung, apalagi menghinanya.
"Kau benar-benar tidak tahu di mana bumi dipijak, Sampah," desis Xue. Ia melambaikan tangannya dengan jijik. "Kalian berempat, patahkan seluruh tulang di tubuhnya, tarik lidahnya keluar, tapi jangan biarkan dia mati dengan cepat. Aku ingin mendengar jeritannya sampai besok pagi."
"Baik, Tuan Muda!"
Keempat pengikut tahap Pondasi Bumi Akhir itu menyeringai kejam. Mereka serempak menghunus golok melengkung yang memancarkan aura merah beracun, lalu melesat dari empat arah berbeda untuk mengepung meja Lin Tian.
Kecepatan mereka luar biasa, golok mereka berkelebat membelah udara, mengincar bahu, lutut, dan pergelangan tangan Lin Tian.
Tuan pemilik kedai sudah menutup matanya, tak tega melihat pemandangan darah yang akan menghiasi lantai kayunya.
Namun, Lin Tian bahkan tidak berdiri.
Tangan kanannya yang sedang memegang sebatang sumpit bambu tiba-tiba bergerak dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang. Sumpit kayu murahan itu dilapisi oleh lapisan tipis Qi Kehampaan yang mengubahnya menjadi senjata yang lebih keras dari besi suci.
Trang! Trang! Trang! Trang!
Empat suara logam beradu berbunyi nyaris bersamaan.
Mata keempat pengikut itu membelalak ngeri. Golok spiritual mereka yang dilapisi Qi darah tertahan di udara, diblokir sepenuhnya hanya oleh jentikan sumpit bambu di tangan pengembara ber-caping itu!
Sebelum mereka bisa menarik kembali senjata mereka, Lin Tian memutar pergelangan tangannya.
Sreett!
Sumpit bambu itu melesat melingkar. Sebuah garis hitam tipis tertinggal di udara selama sepersekian detik.
Keempat kultivator Pondasi Bumi Akhir itu mendadak kaku. Golok mereka terlepas dari genggaman dan jatuh ke lantai dengan bunyi berdenting. Sedetik kemudian, garis merah tipis muncul di leher mereka berempat. Darah menyembur seperti air mancur, dan keempat tubuh tak bernyawa itu ambruk ke lantai secara bersamaan.
Empat ahli Pondasi Bumi Akhir... dibunuh dalam posisi duduk, hanya dengan satu batang sumpit bambu!
Kedai itu meledak dalam kepanikan. Para pengunjung berteriak ngeri dan berebut lari keluar dari pintu dan jendela, tidak peduli harus merobohkan meja dan kursi. Dalam hitungan detik, kedai itu kosong melompong, menyisakan Lin Tian, Xue, dan mayat keempat pengikutnya.
Xue melangkah mundur tanpa sadar. Keangkuhannya menguap seketika, digantikan oleh kewaspadaan tingkat tinggi. Sebagai seorang Inti Emas, instingnya menjeritkan bahaya kematian.
"K-Kau... kau bukan kultivator liar biasa! Siapa kau?!" teriak Xue, menghunus sebuah pedang tipis berwarna merah darah dari Cincin Penyimpanannya.
Lin Tian perlahan meletakkan sumpitnya di atas meja. Ia berdiri, tinggi badannya menjulang di bawah bayangan caping bambunya.
"Aku? Aku hanyalah tamu yang minumannya terganggu," jawab Lin Tian datar.
"Jangan meremehkanku!" Xue meraung, merasa terhina. Fluktuasi tahap Inti Emas Awal meledak dari tubuhnya, menghancurkan meja dan kursi di sekitarnya menjadi serpihan kayu.
"Seni Darah Kemerahan: Hujan Jarum Darah!"
Xue memutar pedang tipisnya. Ribuan jarum kecil yang terbentuk dari Qi darah beracun melesat keluar, menutupi seluruh pandangan dan mengarah tepat ke Lin Tian. Setiap jarum mengandung racun pembusuk yang bisa melumerkan tulang kultivator dalam hitungan detik.
Di balik capingnya, Lin Tian mencibir.
Seni darah ini terlalu lemah, bahkan tidak sebanding dengan satu jari Lu Changkong.
Alih-alih menghindar, Lin Tian melangkah maju menembus badai jarum tersebut. Pusaran Inti Kehampaan di Dantiannya berputar, memancarkan daya hisap yang mengerikan melalui pori-pori kulitnya.
Wussshhh!
Pemandangan yang melanggar hukum alam terjadi. Saat ribuan jarum darah beracun itu menyentuh jarak satu jengkal dari tubuh Lin Tian, jarum-jarum itu tidak menembus kulitnya, melainkan tersedot masuk dan lenyap tanpa sisa, ditelan oleh kehampaan mutlak.
"T-Tidak mungkin! Qi darahku... menghilang?!" Mata Xue nyaris melotot keluar dari rongganya. Teknik pamungkasnya ditelan mentah-mentah? Monster macam apa pengembara ini?!
Tanpa memberi Xue kesempatan untuk merapal jurus kedua, sosok Lin Tian berkedip (Tiga Langkah Hantu Kehampaan).
Dalam sekejap mata, Lin Tian sudah berdiri tepat di hadapan Xue. Tangan kirinya menjulur seperti kilat, mencekik leher Xue dan mengangkat pemuda pucat itu ke udara.
"Gkh—! L-Lepaskan... Ayahku adalah Master Sekte Darah Kemerahan... Jika kau membunuhku—"
"Aku sudah terlalu sering mendengar kalimat itu dari orang mati," potong Lin Tian dingin. Ia sedikit mengendurkan cekikannya agar Xue bisa berbicara. Tangan kanannya merogoh ke dalam jubahnya, lalu mengeluarkan sebuah benda dan menunjukkannya di depan wajah Xue.
Sebuah medali kayu berwarna merah darah dengan ukiran tengkorak bertanduk.
Melihat medali itu, mata Xue melebar dihiasi ketakutan yang jauh melampaui rasa takutnya akan kematian. Tubuhnya gemetar hebat seolah tersengat petir.
"M-Medali Utusan... T-Tengkorak Darah Hitam?!" suara Xue bergetar tak terkendali. "K-Kau... kau adalah Utusan dari Aliran Darah Hitam Pusat?! T-Tuan Utusan, ampuni hamba! Hamba tidak mengenali Anda!"
Seringai tipis terbentuk di balik caping Lin Tian. Dugaannya tepat. Sekte Darah Kemerahan di kota perbatasan ini hanyalah cabang kecil atau boneka dari faksi raksasa Aliran Darah Hitam yang dulu dianggap musnah. Xue mengira Lin Tian adalah utusan dari markas pusat karena Lin Tian memegang medali yang ia rampas dari Lu Changkong.
"Matamu memang buta," Lin Tian mengikuti alur kesalahpahaman itu, suaranya diubah menjadi lebih berat dan penuh otoritas kejam. "Sekte cabang kecil seperti kalian semakin lama semakin tidak tahu aturan."
"H-Hamba pantas mati! Tuan Utusan, tolong jangan laporkan ini pada Tetua Pusat! Hamba dan ayah hamba telah bekerja keras untuk mempersiapkan Lelang Gelap malam ini demi mengumpulkan dana untuk kebangkitan Aliran Suci kita!" Xue mengemis, air mata dan keringat bercampur di wajahnya yang pucat.
Lin Tian menyipitkan matanya. Lelang Gelap?
"Ceritakan padaku tentang lelang itu. Jika jawabanmu memuaskanku, aku mungkin akan mengabaikan kelancanganmu hari ini," ucap Lin Tian dingin.
Xue menelan ludah, buru-buru membeberkan segalanya. "B-Benar, Tuan! Malam ini di Pasar Gelap Bawah Tanah Kota Naga Jatuh, kami mengadakan pelelangan besar. Kami mengundang faksi-faksi gelap dan kultivator kaya dari seluruh perbatasan. Bintang utamanya adalah sebuah Peta Sisa Alam Rahasia Kuno dan sebotol Esensi Sumsum Naga Bumi. Ayah saya berencana menggunakan hasil lelang itu untuk membeli persenjataan demi rencana ekspansi ke wilayah Sekte Awan Ungu!"
Mata Lin Tian berbinar dalam bayangan. Esensi Sumsum Naga Bumi? Itu adalah harta karun penempa fisik tingkat tinggi yang sangat langka. Jika ia bisa mendapatkannya, pertahanan fisiknya akan melonjak ke tingkat yang tak terbayangkan.
Satu hal lagi: mengetahui bahwa sekte ini berencana menyerang Sekte Awan Ungu memberi Lin Tian sebuah ide liar. Ia tidak peduli jika sekte lamanya hancur, namun membiarkan musuhnya tumbuh kuat bukanlah kebiasaannya. Lebih baik ia merampas sumber daya sekte darah ini untuk dirinya sendiri.
"Di mana lokasi pintu masuk Pasar Gelap itu?" tanya Lin Tian.
"D-Di sumur kering di balik Kuil Dewa Jatuh di ujung utara kota! Tuan Utusan, Anda bisa masuk menggunakan medali Anda. S-Saya sudah memberitahu semuanya, tolong lepask—"
KRAK!
Lin Tian meremukkan leher Xue dengan satu remasan keras. Kepala pemuda pucat itu terkulai tak bernyawa, dan Lin Tian membuang mayatnya ke lantai seperti membuang karung sampah.
"Terima kasih atas informasinya. Sayangnya, aku bukan Utusanmu," bisik Lin Tian.
Ia memungut Cincin Penyimpanan dari jari Xue dan keempat pengikutnya. Setelah memeriksa sekilas, ia menemukan puluhan ribu Batu Roh Tingkat Rendah dan ribuan Batu Roh Tingkat Menengah. Kekayaan sekte penguasa jalanan memang tidak bisa diremehkan.
Lin Tian berjalan menuju pintu keluar kedai. Di dekat meja kasir yang hancur, pemilik kedai bersembunyi di bawah meja, gemetar hebat sambil menutupi kepalanya dengan kedua tangan.
Lin Tian menjentikkan sebuah Batu Roh Tingkat Menengah ke atas meja kasir yang retak.
"Untuk biaya kebersihan," ucap Lin Tian singkat, lalu melangkah keluar menembus dinginnya malam Kota Naga Jatuh.
Pasar Gelap Bawah Tanah
Langit malam di Kota Naga Jatuh diselimuti awan kelabu tebal. Lin Tian melesat di atas atap-atap bangunan layaknya bayangan hantu, menuju ke arah utara.
Tidak butuh waktu lama baginya untuk menemukan Kuil Dewa Jatuh yang ditinggalkan. Kuil itu setengah hancur dan ditumbuhi lumut. Di halaman belakangnya, terdapat sebuah sumur batu berukuran besar yang sudah mengering.
Beberapa kultivator berpakaian serba hitam tampak berjaga di sekitar sumur tersebut, memancarkan aura pembunuh yang kental. Mereka semua berada di tahap Pondasi Bumi.
Lin Tian tidak menyusup. Ia melompat turun dari tembok kuil dan mendarat tepat di depan para penjaga dengan langkah santai.
"Berhenti! Siapa kau? Pasar Gelap malam ini tertutup untuk umum tanpa undangan!" bentak salah satu penjaga, menodongkan tombaknya.
Alih-alih menjawab, Lin Tian mengeluarkan Medali Tengkorak Darah Hitam dan melemparkannya ke arah penjaga tersebut.
Penjaga itu menangkap medali tersebut. Begitu ia melihat ukiran tengkorak bertanduk dan merasakan aura darah yang murni, wajahnya seketika memucat pias. Ia buru-buru berlutut dengan satu kaki, menyodorkan medali itu kembali dengan kedua tangannya yang bergetar.
"S-Salam hormat kepada Tuan Utusan Pusat! Maafkan mata buta bawahan ini!" penjaga itu berseru, suaranya penuh teror. Penjaga lainnya yang melihat itu segera ikut berlutut.
Lin Tian mengambil medalinya kembali dan menyelipkannya ke balik jubah. "Buka jalannya."
"B-Baik, Tuan! Silakan, lift menuju ruang lelang sudah disiapkan untuk Anda!"
Para penjaga memutar sebuah mekanisme rahasia di dinding sumur. Dasar sumur yang tampak seperti batu padat itu tiba-tiba terbelah, memperlihatkan sebuah peron kayu yang digantung dengan rantai besi raksasa.
Lin Tian melangkah ke atas peron, dan rantai itu pun berderak, membawa Lin Tian turun ke kedalaman bumi.
Setelah turun selama beberapa menit, peron itu berhenti di sebuah gua bawah tanah raksasa yang diterangi oleh kristal-kristal bercahaya merah dan hijau. Ini adalah kota bawah tanah yang sesungguhnya. Ribuan kultivator bertopeng berlalu-lalang, berdagang benda-benda ilegal, budak, dan pil terlarang.
Namun, tujuan Lin Tian jelas. Di tengah-tengah gua raksasa itu, berdiri sebuah bangunan megah berbentuk colosseum mini—Balai Lelang Pasar Gelap.
Lin Tian berjalan menuju pintu masuk utama balai lelang. Menyadari aura Inti Emas dan langkah yang tak terhentikan dari pria bercaping itu, para kultivator di sekitarnya secara otomatis minggir, memberikan jalan.
Saat Lin Tian memasuki ruang lelang yang luas, acara tampaknya baru saja akan mencapai puncaknya. Di atas panggung, seorang juru lelang tua sedang mengangkat sebuah botol kristal kecil yang memancarkan cahaya kuning keemasan. Bau tanah purba yang sangat kental dan energi kehidupan yang liar menguar dari dalam botol tersebut.
"Esensi Sumsum Naga Bumi!" Juru lelang itu berseru dengan suara menggelegar. "Harta penempa fisik tingkat tinggi yang dapat memperkuat tulang hingga sekeras baja suci! Harga pembukaan, sepuluh ribu Batu Roh Tingkat Menengah!"
Suasana di tribun lelang seketika meledak. Para kultivator kaya dan perwakilan faksi gelap mulai meneriakkan angka tawaran dengan gila-gilaan.
"Dua belas ribu!"
"Lima belas ribu!"
Lin Tian berdiri di ambang pintu, bersandar santai pada pilar batu di bawah bayangan. Ia menyilangkan lengannya, senyum tipis yang tak terlihat mekar di bibirnya.
"Tawarkanlah terus, semut-semut kaya," bisik Lin Tian pada dirinya sendiri.