NovelToon NovelToon
Aku Pergi, Mas!

Aku Pergi, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Danie A

Pernikahan yang terlihat harmonis, ternyata penuh penghianatan. Celsi memilih pergi saat mengetahui suaminya berselingkuh dengan sepupunya sendiri.

"Aku pergi, Mas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 7

Bab 7. Ayam Geprek Cinta

Kalimat sederhana itu terus terngiang di kepala Celsi.

"Besok buka lagi ya, Teh. Ayam gepreknya enak, loh Teh."

Sejak bercerai, sudah terlalu banyak kalimat yang membuatnya hancur.

Kalimat yang menjelaskan kenapa dia ditinggalkan.

Kalimat yang menyuruhnya menerima.

Kalimat yang seolah berkata hidupnya selesai.

Tapi sore itu, ada satu kalimat yang tidak membahas kegagalannya sebagai istri.

Tidak membahas masa lalunya.

Tidak membahas Rangga.

Hanya tentang ayam geprek.

Tentang rasa.

Tentang sesuatu yang dia buat dengan tangannya sendiri.

Dan entah kenapa, itu terasa seperti napas baru.

Malam itu Celsi pulang lebih lambat dari biasanya. Dia duduk di ruang kecil rumah sewanya sambil membuka buku catatan.

Pengeluaran.

Bahan baku.

Pesanan.

Untung yang masih kecil.

Tangannya berhenti saat melihat halaman kosong.

Lalu dia menulis pelan.

Ayam Geprek Cinta.

Dia menatap tulisan itu cukup lama.

Cinta.

Bukan karena Rangga.

Bukan karena ingin mengenang.

Tapi karena dia sadar, selama ini dia kehilangan terlalu banyak cinta untuk dirinya sendiri.

Kalau usaha ini mau hidup, dia ingin memulainya dengan sesuatu yang baik.

Besok paginya dia mencetak banner sederhana.

AYAM GEPREK CINTA

Pedasnya Pas, Hangatnya Tulus.

Ruko kecil itu mulai berubah.

Ada meja tambahan.

Cat baru.

Etalase kecil.

Menu yang ditulis tangan.

Awalnya pembeli hanya orang sekitar.

Tetangga.

Anak sekolah.

Pegawai kantor.

Ada yang datang lagi.

Ada yang mengajak teman.

Ada yang memesan lewat aplikasi.

Pelan-pelan tempat itu mulai ramai.

Tapi tidak semua orang senang.

Lingkungan selalu punya orang yang lebih suka bicara daripada membantu.

Suatu pagi saat Celsi sedang menyapu depan ruko, dua ibu-ibu lewat.

"Yang ini ya janda itu?"

"Katanya ditinggal suaminya."

"Eh tapi lumayan ya, langsung buka usaha."

Mereka tidak bicara pelan.

Seolah memang ingin didengar.

Celsi tetap menyapu.

Tidak menoleh.

Tidak membalas.

Saat masuk kembali ke dalam, dia cuma menarik napas panjang.

Kalau dulu mungkin dia akan menangis.

Sekarang tidak.

Dia terlalu sibuk membayar listrik.

Dua minggu kemudian, Celsi mulai kewalahan.

Pesanan makin banyak.

Dia tidak mungkin memasak, menerima pesanan, mencuci, dan melayani sendiri.

Akhirnya dia memasang lowongan kecil.

Dan datanglah dua orang.

Wati.

Perempuan dua puluhan yang cerewet tapi cekatan.

Dan Joko.

Lelaki pendiam yang ternyata cepat belajar.

Hari pertama kerja, Wati melihat dapur kecil itu lalu tertawa.

"Teh, ini kita perang ya?"

Celsi ikut tertawa kecil.

"Kurang lebih."

Sejak itu suasana berubah.

Ada suara orang mengobrol.

Ada yang bantu memotong ayam.

Ada yang mengganti gas.

Ada yang bilang, "Teh, makan dulu."

Dan Celsi baru sadar.

Tempat kecil ini mulai terasa hidup.

.

.

.

Sementara itu, di tempat lain. Rangga sedang duduk di ruang kerjanya. Ponselnya terbuka.

Ada kiriman foto dari grup keluarga.

Seseorang memotret banner.

AYAM GEPREK CINTA.

Ada caption.

"Kemarin aku datang ke sini. Kata orang-orang sih enak. Tapi, rasanya biasa saja."

"Tahu yang bikin heboh apa? Wanita mandul itu kerja di sini loh."

Rangga diam cukup lama. "Wanita mandul?" gumamnya.

"Maksudnya mantan?" balasan lain muncul.

"Iya."

"Dihh, jualan ayam geprek dia?"

Deg!

Entah kenapa dada Rangga terasa sempit. Dia membesarkan foto itu. Melihat ruko sederhana. Melihat nama yang dipilih. Dia tidak tahu apa yang dia harapkan.

Mungkin Celsi menangis.

Mungkin Celsi kembali.

Mungkin Celsi berhenti.

Tapi ternyata perempuan itu tetap hidup. Dan itu membuatnya ingin melihat sendiri.

.

.

.

Sore hari, Rangga datang. Dia parkir agak jauh.

"Di sini ya?" gumamnya.

Ruko itu tidak besar. Tapi ramai. Ada beberapa orang antre. Ada yang ber swa foto. Ada tawa dan suara obrolan.

Dan... Seseorang yang dia cari, ada Celsi. Wanita itu memakai celemek. Rambut diikat sederhana. Sedang menghitung pesanan.

Dia terlihat lelah, tapi senyumnya masih sama seperti dulu. Cantik. Manis. Dan hidup.

Rangga akhir memutuskan untuk masuk. Wati menyambut.

"Silakan, A'. Mau pesan apa?"

Rangga duduk.

"Menu favorit di sini apa?"

"Semua favorit, A'. Ada ayam geprek, ayam celup, sambelnya juga bisa request, mau yang sambel cinta, sambel matah, sambal ijo. Kalau saya boleh rekomendasi kan, sih A' bisa coba yang geprek level 3 dulu."

Rangga mengangguk. "O iya. Aku pesan yang itu aja."

"Oke, A'. Mau minum apa?" tanya Wati lagi seraya mencatat. "Ada es jeruk, es teh, ocean blue, flash fruit."

"Es jeruk saja."

"Oke. Ditunggu ya A'."

Selama menunggu, matanya terus melihat ke arah dapur. Sampai akhirnya. Celsi keluar membawa nampan. Langkahnya berhenti. Mata mereka bertemu.

Celsi diam.

Rangga berdiri.

"Celsi."

Sunyi sesaat.

Wati menoleh bingung.

Tapi Celsi hanya menatap sebentar lalu berjalan mendekat.

Dia meletakkan pesanan.

"Pesanan ayam geprek level tiga dan es jeruk."

Rangga menatapnya.

"Celsi…"

Celsi tersenyum tipis.

"Silakan dinikmati, Pak."

Rangga terlihat kaku.

"Kita bisa bicara?"

Celsi menoleh. Ekspresinya datar.

"Kalau ada keluhan makanan bisa langsung ke kasir."

Lalu dia pergi.

Begitu saja.

Tidak marah.

Tidak menangis.

Tidak bertanya kenapa.

Dan itu terasa jauh lebih menyakitkan.

.

.

.

Rangga makan dalam diam.

Rasanya ayam gepreknya enak. Rasa pedasnya juga, mengingatkan pada rasa yang dulu pernah ada. Dan entah kenapa itu membuat dadanya semakin sesak.

.

.

.

Beberapa hari berlalu. Sampai siang itu. Saat tempat sedang cukup ramai. Dua wanita masuk. Celsi langsung mengenali.

Bu Ratna.

Mantan ibu mertuanya bersama satu temannya. Celsi merasa enggan melayani. Jadi, dia memanggil Wati.

"Ti!"

"Iya, teh?"

"Biar Teteh aja yang di sini. Ada pembeli datang."

"Oh, iya, Teh."

Wati langsung keluar dan melayani pembeli. Bu Ratna juga tampak tenang saja memesan dengan temannya itu.

"Loh, Bu Ratna. Itu bukannya mantan mantumu ya?" celetuk temannya bu Ratna yang sedang mengunyah ayam.

Bu Ratna tertawa kecil, seraya melirik dengan pandangan penuh penghinaan.

"Loh, iya. Celsi. Sekarang sibuk jualan ya."

Celsi diam, dia abaikan saja dan lanjut mengelap meja.

Lalu hendak pergi. Tapi suara Bu Ratna terdengar lagi.

"Kasian... Sok-sokan minta cerai segala. Jadi tukang lap-lapan kan sekarang."

Celsi berhenti. Masih diam. Temannya ikut bicara.

"Loh? Dia ya yang minta cerai?"

"Hmmm. Sadar diri kali ya. Udah tiga tahun nikah sama Rangga, tapi zonk! Enggak ada anak. Sekarang lihat deh, si Vena. Udah bunting aja."

Celsi menarik napas. Masih menahan.

Bu Ratna melanjutkan. "Rangga sekarang bahagia. Keluarga juga. Memang ya, kalau nggak ada keturunan tuh susah."

Celsi menoleh perlahan. Lalu tersenyum kecil.

"Kalau memang bahagia ya bagus, Bu."

Bu Ratna mengangkat alis. "Ya jelas dong. Kamu nggak perlu sakit hati."

Celsi mengangguk pelan. "Saya tidak sakit hati. Tapi, saya cuma baru sadar."

Bu Ratna menatapnya.

Celsi tersenyum tipis. "Kadang anak memang tumbuh dari cara ibunya mendidik."

Wajah Bu Ratna berubah. "Apa maksud kamu?"

Celsi tetap tenang. "Kalau anak bisa nyaman mengkhianati orang, mungkin karena dari kecil dia belajar kalau perasaan orang lain bukan hal penting."

Bu Ratna langsung berdiri. "Kamu mandul jadi iri!"

Suasana mendadak sunyi. Celsi menatap lurus. Lalu berkata pelan. "Yakin yang bermasalah saya?"

Bu Ratna membeku.

Celsi melanjutkan.

"Dan kalau sekarang ada yang hamil… ya siapa yang bisa jamin itu anak Rangga?"

Suasana langsung pecah.

Bu Ratna menunjuk Celsi.

"Kamu dengki! Hati kamu busuk!"

Celsi mengangguk pelan.

"Lumayan. Tapi saya masih belum ngajarin anak saya mengkhianati pasangan."

Bu Ratna menarik tasnya, "Nggak tau malu! Pelayanan buruk! Kayak gini aja bisa viral! Cuih! Ayam gepreknya nggak enak!" makinya dengan wajah merah.

"Bayar dulu, Bu sebelum pergi!"

Bu Ratna mengambil uang di tas lalu menghamburkan ke muka Celsi. Wanita itu pergi. Tempat kembali sunyi. Wati dan Joko saling lihat. Mereka mulai tau, masa lalu yang menyakitkan bosnya.

Celsi diam cukup lama. Lalu menoleh.

"Pesanan meja tiga udah siap?"

Joko langsung mengangguk.

"Iya, Teh."

Celsi kembali ke dapur. Tangannya sedikit gemetar. Tapi langkahnya tidak goyah. Karena hari itu dia sadar. Dia memang kehilangan pernikahan. Tapi dia tidak kehilangan dirinya sendiri.

1
Ma Em
Semoga Celsi berjodoh dgn Aska dan bisa hamil agar tdk dihina terus sama keluarga Rangga juga sama Bu Weni .
Danie a: semoga ya kak😅
total 1 replies
Lyeend
buat apa lagi mau tunggu di sana Celsi. pergilah bawa diri dan move on
Sri Rahayu
apa itu palsu...sengaja suaminya buat agar punya alasan utk mencari pr lain 🙃🙃🙃....lanjut Thorr😘😘😘
Danie a: makasih kak. kaka masih ngikuti aja ya😭🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!