NovelToon NovelToon
Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Terjebak Pesona Paman Tunanganku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Beda Usia
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Novaa

"Kamu tidak bisa melangkah keluar dari pintu itu sebelum kamu bertanggung jawab untuk apa yang sudah kamu lakukan padaku."

"Tanggung jawab? Harusnya kamu bersyukur Tuan, dapat ciuman gratis dari gadis secantik aku malam ini. Bye!"

....

Demi kabur dari kejaran pengawal papanya, Zevanya Anneliza Sanjaya (21) nekat menerobos ruang VIP sebuah bar eksklusif dan membungkam pria asing di dalamnya dengan ciuman panas. Dia mengira urusan mereka selesai malam itu juga.
Namun, takdir bercanda. Seminggu kemudian, Anya dipaksa bertunangan dengan Calvin Fernandez (25), pria kaku yang super membosankan. Syoknya lagi, pria asing yang dia cium di bar malam itu ternyata adalah Bara Fernandez (35) sang paman tunangannya yang berkuasa. Di depan keluarga, Bara tampil berwibawa bak malaikat, tapi di depan Zevanya, dia menjelma menjadi pria nakal yang siap menjeratnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 06 #Buah Ceri yang manis

​Pertanyaan dari Tito Sanjaya seolah membekukan seluruh pasokan udara di dalam ruangan privat itu. Detik demi detik berlalu dalam keheningan yang mencekam bagi Anya. Pandangan mata dari Tomi Fernandez dan Isyana Fernandez kini beralih, menatap bergantian antara Bara dan Anya dengan rasa ingin tahu yang besar.

​Bahkan Calvin, yang sejak tadi tampak tidak bersemangat dan tenggelam dalam pikirannya sendiri, kini menegakkan punggungnya. Sepasang matanya menatap Anya dengan dahi berkerut halus. Bagaimana bisa pamannya yang super sibuk dan jarang bergaul itu sudah mengetahui nama lengkap gadis yang bahkan Calvin sendiri belum hafal nama panjangnya?

​Anya mendadak buntu. Otak mahasiswi Manajemen Bisnis yang biasanya encer untuk menyusun strategi pemasaran, kini mendadak mogok bekerja. Lidahnya terasa kelu. Dia tahu, salah satu kata yang salah keluar dari bibirnya malam ini bisa menghancurkan reputasinya di depan dua keluarga besar, sekaligus mengakhiri kebebasannya untuk selamanya.

​Bara Fernandez bersandar dengan santai di kursinya. Dia sengaja tidak langsung memotong keheningan itu, memberikan waktu bagi Anya untuk berpikir. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat menawan namun mematikan. Dia ingin tahu, kebohongan seperti apa yang akan dirajut oleh gadis kecil di depannya ini untuk menyelamatkan diri.

​Namun, karena Anya terlalu lama terdiam dan wajahnya sudah mulai memucat, Bara akhirnya membuka suara.

​"Tentu saja saya mengenalnya, Pak Tito," ujar Bara lambat-lambat, suaranya yang bariton terdengar begitu tenang dan berwibawa di telinga para orang tua. "Putri Anda ini gadis yang sangat baik. Bahkan di pertemuan pertama kami yang singkat, dia sempat memberikan saya buah ceri yang... sangat manis."

​Blush!

​Wajah Anya yang tadinya pucat instan berubah menjadi merah padam. Matanya membelalak, menatap lurus dengan pandangan ingin melempar vas bunga atau pisau steak di dekatnya tepat ke arah wajah tampan Bara.

​Ceri yang sangat manis?! Sialan! Pria ini benar-benar menyebalkan! teriak Anya dalam hati, tangannya mengepal kuat di bawah meja.

​Anya tahu persis bahwa ceri yang dimaksud Bara bukanlah buah sungguhan, melainkan lipstik beraroma ceri yang dipakainya malam itu di klab Heaven. Aroma yang tertinggal di bibir Bara setelah Anya menciumnya tanpa permisi. Kalimat Bara barusan adalah sarkasme murni yang sengaja dilemparkan untuk menguji batas kesabarannya.

​"Buah ceri?" Tito Sanjaya mengerutkan keningnya, menatap putrinya dengan bingung. "Anya, sejak kapan kamu suka membagikan buah ceri pada orang asing?"

​Tidak ingin membiarkan Bara bicara lebih jauh dan merusak segalanya, Anya langsung memotong dengan tawa renyah yang sedikit dipaksakan. Otaknya mendadak bekerja dalam mode darurat, menyusun sebuah karangan bebas dalam hitungan detik.

​"Ah! Itu... begini, Papa," potong Anya cepat, memaksakan senyum paling polosnya. "Minggu lalu kan Anya pamit menginap di apartemen Alena untuk diskusi skripsi. Nah, sebelum sampai ke apartemen, Alena tiba-tiba menelfon, menitip dibelikan beberapa buah di minimarket terdekat. Kebetulan Anya beli buah ceri."

​Anya menjeda kalimatnya, menarik napas dalam-dalam lalu melirik Bara, memberikan kode mata yang sangat tajam, sebuah isyarat yang berbunyi Ikuti saja alurku atau kita hancur bersama!

​"Terus, waktu Anya lagi buru-buru keluar dari minimarket sambil membawa kantong belanjaan, Anya nggak sengaja menabrak... Om Bara," lanjut Anya, sengaja menekankan kata Om dengan nada sedikit menantang. "Karena merasa bersalah dan tidak enak sudah menabrak beliau sampai hampir jatuh, Anya spontan memberikan sekotak buah ceri itu sebagai permintaan maaf. Begitu ceritanya, Pa, Tante, Om."

​Isyana Fernandez mengangguk-angguk percaya, wajahnya kembali mencair. "Oh, jadi begitu ceritanya. Kebetulan sekali, ya. Dunia memang sempit."

​Calvin pun mengangguk kecil, mengulas senyum tipis. Sebagai pria yang selalu berpikir positif dan tidak suka berprasangka buruk, penjelasan Anya terdengar sangat masuk akal baginya. "Pantas saja. Paman Bara memang suka buah-buahan," sahut Calvin polos, membuat Anya harus mati-matian menahan diri agar tidak tersedak ludahnya sendiri.

​Tito Sanjaya menghela napas lega. "Dasar kamu ini, Anya. Ceroboh sekali sampai menabrak Bara. Untung Bara orangnya baik."

​Bara Fernandez menyesap minuman di gelasnya perlahan. Matanya yang tajam berkilat jenaka menyaksikan bagaimana gadis di depannya ini mengarang cerita dengan begitu ekspresif. Dalam hati, Bara mulai menghitung. Kebohongan ini adalah hutang baru yang harus Anya bayar kepadanya nanti. Berani memanggilnya Om di depan keluarga besar adalah kelancangan lain yang sangat menghibur bagi Bara.

​"Ya, saya tentu memakluminya, Pak Tito," sahut Bara dengan nada santai, namun matanya tetap mengunci pandangan Anya. "Meskipun tabrakan malam itu cukup... mengejutkan, tapi saya rasa itu adalah awal yang bagus untuk hubungan keluarga kita ke depannya."

.

.

​Pelayan mulai menyajikan hidangan utama berupa steak daging premium dengan saus truffle. Aroma makanan yang lezat memenuhi ruangan, namun bagi Anya, makanan mewah ini terasa seperti batu yang sulit ditelan. Perang dingin baru saja dimulai.

​Bara memotong dagingnya dengan gerakan yang sangat rapi dan elegan, lalu kembali membuka suara untuk melancarkan serangan berikutnya.

​"Bicara soal masa depan, saya dengar dari Kak Tomi kalau Zevanya ini kuliah Manajemen Bisnis ya?" tanya Bara, nadanya terdengar seperti seorang paman yang perhatian, padahal dia sedang menyalakan sumbu dinamit di bawah kursi Anya.

​"Benar, Pak Bara," jawab Tito bangga. "Anya sedang menyusun tugas akhir tentang strategi korporasi."

​Bara mengangguk-angguk, wajah tampannya tampak berpikir. "Menarik. Di bidang manajemen bisnis, salah satu poin paling krusial adalah bagaimana seorang manajer mengambil keputusan di bawah tekanan, dan bagaimana mereka mengelola risiko dari tindakan nekat yang mereka ambil."

​Bara menjeda kalimatnya, menatap Anya yang baru saja menyuapkan sepotong kecil daging ke mulutnya.

​"Bagaimana menurutmu, Zevanya? Apakah menurut wawasan bisnismu, melarikan diri dari masalah dan mengambil keputusan impulsif tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang adalah strategi yang baik?" tanya Bara dengan nada memancing yang sangat tenang.

​Anya meletakkan garpu dan pisaunya sedikit lebih keras di atas piring, menimbulkan bunyi denting samar. Dia tahu betul Bara tidak sedang membahas teori kuliah, pria itu sedang menyindir aksinya yang kabur dari pengawal lalu nekat menciumnya di bar tanpa memikirkan akibatnya sekarang. Ini adalah serangan mental.

​"Menurut saya, Om Bara," balas Anya, menegakkan punggungnya dan membalas tatapan tajam Bara dengan berani, "dalam situasi darurat, seorang pelaku bisnis terkadang harus mengambil tindakan nekat yang tidak terduga demi mengamankan posisinya. Dan jika tindakan itu berhasil menyelamatkannya malam itu, maka itu adalah strategi yang sukses. Urusan apakah ada efek samping setelahnya, itu bisa diselesaikan nanti secara terpisah."

​Tomi Fernandez tertawa bangga mendengar jawaban berani dari calon menantunya. "Wah, Bara! Jawaban calon keponakanmu ini sangat pragmatis. Dia punya jiwa pebisnis yang agresif!"

​"Benar, Kak," sahut Bara dengan senyum misterius. "Sangat agresif. Sampai-sampai saya sendiri terkejut melihat seberapa berani dia mengeksekusi strateginya di pertemuan pertama."

​Anya tersenyum manis di luar, namun di bawah meja, kakinya yang mengenakan heels sembilan sentimeter bergerak perlahan. Dengan sengaja, Anya mengarahkan ujung sepatunya yang runcing dan menendang tulang kering kaki Bara di balik meja dengan kekuatan yang cukup pas.

​Rasakan itu, Om-Om nyebelin! batin Anya puas.

​Bara sedikit tertegun ketika merasakan hantaman di tulang keringnya. Namun, ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah. Dia tidak mengaduh, tidak juga mengernyit sakit. Kontrol diri seorang Bara Fernandez berada di level tertinggi. Alih-alih mundur, Bara justru memajukan sepasang kaki panjangnya yang kokoh di bawah meja. Sebelum Anya sempat menarik kembali kakinya, Bara menggunakan kedua kaki panjangnya untuk menjepit pergelangan kaki ramping Anya, mengunci kaki gadis itu di bawah sana sehingga Anya tidak bisa bergerak.

​Anya tersentak, tubuhnya mendadak menegang di atas kursi. Dia mencoba menarik kakinya yang terjepit, namun kekuatan otot kaki Bara terlalu dominan. Gadis itu menatap Bara dengan mata melotot, memberikan isyarat, Lepaskan kakiku sekarang!

​Namun Bara justru mengabaikan tatapan protes itu. Pria berusia 35 tahun itu dengan santai kembali memotong daging steak di piringnya, mengunyahnya dengan tenang, lalu melanjutkan obrolan bisnis dengan Tito dan Tomi seolah-olah tidak ada perang rahasia yang sedang terjadi di bawah meja mereka.

​Anya gigit bibir, jantungnya berdebar gila-gilaan antara rasa kesal, panik, dan sensasi asing yang mendebarkan akibat sentuhan kaki mereka di bawah sana. Makan malam pertunangan yang semula dia harapkan membosankan, kini berubah menjadi medan perang yang lucu, mendebarkan, dan sepenuhnya berbahaya bagi kelangsungan hidupnya.

1
Yohana Pandie
lnjut thor.ceritanya keren bnget
Novaa: Halo, terimakasih sudah mampir. pantengin terus ya karena om Bara bakal semakin memBara 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!