𝐇𝐈𝐀𝐓𝐔𝐒‼️‼️‼️‼️‼️‼️‼️
Di siang hari, Rania adalah sekretaris magang yang paling menyedihkan. Berkacamata bulat, rambut di Cepol asal dan baju yang kedodoran selalu menjadi makanan empuk sang CEO perusahaan yang tampann namun berdarah dingin, perfeksionis dan tak memiliki belas kasihan.
Namun, demi melunasi hutang ibunya yang menumpuk, Rania dengan ikhlas menjalani hidupnya di bawah tekanan bahkan Rania rela melakukan pekerjaan lainnya yang cukup ekstrem di malam hari.
Dengan berubah menjadi sosok gadis bernama "milky" bermata abu-abu yang imut dan kostum gotik yang menggemaskan di sebuah Dark Moon Maid Cafe.
Petaka berawal ketika seorang pelanggan VVIP misterius bermasker hitam datang dan memesan tempat khusus bersamanya.
Begitu pria itu membuka suara, Rania nyaris terkena serangan jantung.
Pria yang meminta pelayanan imut bermantra 'Moe-moe Kyun' tidak lain adalah bosnya sendiri di kantor yang paling dia benci !
Untungnya, Arkan bosnya sama sekali tidak mengenalinya.
bac
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By.DarkRose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Dinas Luar Kota
...Pagi itu, Rania baru saja selesai menata dokumen di meja bosnya ketika Arkan, yang sedang duduk menatap layar monitor, tiba-tiba memutar kursinya dan menatap Rania tanpa ekspresi....
..."Rania, batalkan semua jadwal pertemuan saya untuk dua hari ke depan," ucap Arkan singkat....
...Rania mengerutkan dahi, bingung. ...
..."Tapi, Pak, ada rapat evaluasi dengan divisi pemasaran besok pagi, dan kunjungan ke pabrik dijadwalkan lusa."...
...Arkan menatapnya tajam. ...
..."Saya bilang batalkan. Kamu akan ikut saya ke Bandung untuk perjamuan bisnis dengan investor dari Jepang. Kita akan menginap di hotel di sana selama dua hari."...
...Rania merasa jantungnya seakan berhenti berdetak....
... "Ke... ke Bandung, Pak? Menginap?"...
..."Iya," jawab Arkan dengan nada datar yang tidak bisa dibantah....
... "Ini perjamuan penting. Investor ini sangat menghargai tata krama dan detail, jadi saya butuh kamu untuk menyiapkan semua berkas dan memastikan semuanya berjalan lancar. Lagipula, kamu kan sekretaris saya, sudah seharusnya kamu ikut saat saya ada perjalanan dinas."...
...Rania menelan ludah....
... Ini adalah mimpi buruknya....
... Selama ini, ia selalu menjaga jarak di kantor dan hanya berinteraksi seperlunya. ...
...Jika harus pergi ke luar kota dan menginap di hotel yang sama untuk dua hari, bagaimana ia bisa menjaga rahasianya? Bagaimana jika Arkan terus mengamatinya selama 48 jam penuh?...
..."Apa... apa tidak ada staf lain yang bisa menggantikan saya, Pak?" tanya Rania pelan, mencoba mencari celah untuk menolak....
...Arkan berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Rania....
... "Kenapa? Kamu keberatan? Atau jangan-jangan, kamu punya sesuatu yang harus disembunyikan di luar jam kantor, ya?"...
...Pertanyaan itu membuat Rania gemetar. Ia segera menunduk, mencoba menetralkan ekspresi wajahnya....
... "Bukan begitu, Pak. Saya hanya merasa kurang enak badan belakangan ini."...
...Arkan tidak terlihat percaya. ...
...Ia justru menyeringai tipis, jenis senyum yang membuat Rania merasa ia sedang dipojokkan....
... "Kalau begitu, saya akan memastikan kamu mendapat perawatan terbaik di hotel. Tidak ada alasan untuk menolak, Rania. Ini perintah resmi pekerjaan. Jika kamu menolak, kamu tahu dampaknya bagi masa depan magangmu di sini."...
...Rania terdiam....
... Pilihan itu sangat sulit. ...
...Jika ia menolak, magangnya akan berakhir dan ia kehilangan pekerjaan serta penghasilan yang sangat dibutuhkan ibunya....
... Jika ia ikut, ia mempertaruhkan rahasianya sebagai Milky....
..."Baik, Pak. Saya mengerti," jawab Rania akhirnya dengan suara nyaris berbisik....
..."Bagus," sahut Arkan puas....
... "Kita berangkat siang ini. Siapkan pakaian yang pantas untuk acara perjamuan malam hari. Jangan sampai kamu membuat saya malu di depan investor."...
...Arkan berbalik kembali ke meja kerjanya, mengabaikan kehadiran Rania. ...
...Rania segera keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai. ...
...Sesampainya di mejanya, ia langsung duduk dan memegang kepalanya....
...Dua hari. Dua hari di luar kota....
...Otaknya mulai berputar kencang. Ia segera mengirim pesan singkat ke Pak Tedy, memberitahu situasi darurat ini....
... Ia meminta Pak Tedy untuk benar-benar memastikan sistem online kafe tetap terjaga. ...
...Jika selama dua hari ia tidak muncul di kafe sebagai Milky, semoga saja tidak ada yang curiga atau mencari-cari Milky ke tempat tinggal fiktif yang sudah mereka siapkan....
...Rania juga harus memikirkan pakaian. Arkan memintanya menyiapkan pakaian untuk perjamuan formal. ...
...Ia biasanya hanya memakai baju yang biasa-biasa saja agar tidak menarik perhatian. Kini, ia harus tampil rapi. ...
...Ia berharap pakaian formal itu tidak akan membuatnya terlihat berbeda atau memicu ingatan Arkan tentang seseorang....
...Saat jam makan siang tiba, Rania tidak punya waktu untuk makan. ...
...Ia sibuk mengemas tas, menyiapkan berkas-berkas kontrak, dan memastikan tidak ada satu pun barang pribadinya yang tertinggal di kantor....
... Ia juga menyempatkan diri untuk mengecek ponselnya, memastikan tidak ada pesan mencurigakan dari siapa pun....
...Tepat pukul satu siang, Arkan sudah menunggu di lobi kantor dengan mobil pribadinya. Rania berjalan menghampiri dengan membawa tas kecil berisi perlengkapan kerjanya....
..."Masuk," perintah Arkan singkat....
...Sepanjang perjalanan menuju Bandung, suasana di dalam mobil sangat sunyi. ...
...Arkan fokus menyetir, sementara Rania hanya bisa menatap jalanan dari jendela....
... Berkali-kali ia merasa Arkan meliriknya dari kaca spion, namun setiap kali Rania menoleh, Arkan sudah kembali fokus menatap jalan....
..."Kamu terlihat gugup, Rania," ujar Arkan tiba-tiba, memecah keheningan....
...Rania sedikit terlonjak. ...
..."Ah, tidak Pak. Saya hanya tidak terbiasa dengan perjalanan jauh."...
..."Jangan terlalu kaku," ujar Arkan dengan nada yang aneh....
... "Ini hanya perjalanan bisnis. Kamu tidak perlu takut, kecuali kamu memang menyembunyikan sesuatu."...
...Rania berusaha tertawa kecil agar tidak terlihat terlalu mencurigakan. ...
..."Saya tidak menyembunyikan apa pun, Pak. Saya hanya sekretaris yang sedang menjalankan tugas."...
...Arkan tidak menjawab, hanya tersenyum samar. Rania merasa bahwa setiap kata-katanya sedang diuji. ...
...Arkan seolah sedang memancingnya untuk membuat kesalahan....
...Setelah menempuh perjalanan panjang, mereka sampai di hotel bintang lima di pusat kota Bandung. ...
...Hotelnya sangat mewah, dengan lobi yang luas dan staf yang menyambut dengan sangat ramah. Arkan memesan dua kamar suite, yang letaknya bersebelahan....
..."Istirahatlah," kata Arkan saat mereka berada di depan kamar masing-masing....
... "Nanti jam tujuh malam, pakai pakaian formalmu. Kita akan makan malam dengan investor di restoran hotel."...
..."Baik, Pak," jawab Rania segera masuk ke dalam kamarnya....
...Begitu pintu kamar tertutup, Rania mengunci pintunya dengan cepat. ...
...Kamar itu sangat besar dan indah, tapi baginya, kamar itu seperti penjara. ...
...Ia segera menuju cermin besar di kamar mandi dan menatap bayangannya sendiri....
...Kamu harus tenang, bisiknya pada diri sendiri. Jangan sampai dia tahu. Jangan sampai kamu melakukan kesalahan....
...Ia menatap pakaian formal yang ia bawa. Gaun sederhana berwarna biru gelap yang cukup rapi untuk acara bisnis. Ia memeriksa riasannya di cermin. ...
...Ia sengaja memakai kacamata besarnya, berharap itu bisa menutupi sorot matanya yang sering kali terlihat berbeda saat ia sedang menjadi Milky....
...Saat jam tujuh malam tiba, Rania keluar dari kamarnya dan mendapati Arkan sudah berdiri di koridor, menunggu. Arkan tampak sangat gagah dengan setelan jas hitam yang pas di tubuhnya. ...
...Pria itu menatap Rania dari atas ke bawah, menilai penampilan sekretarisnya....
..."Lumayan," ucap Arkan singkat....
...Mereka pun turun menuju restoran hotel. Selama makan malam dengan investor Jepang, Rania duduk dengan tenang di samping Arkan....
... Ia mencatat poin-poin penting, menerjemahkan beberapa istilah bisnis, dan memastikan setiap kebutuhan investor terpenuhi. Arkan tampak sangat puas dengan kinerjanya....
...Namun, di sela-sela obrolan, Arkan sesekali menoleh ke arah Rania, menatapnya dengan tatapan yang sangat intens. Rania berusaha mengabaikannya dengan fokus pada catatan di tangannya....
..."Rania, tolong ambilkan berkas kontrak di kamar saya," ucap Arkan tiba-tiba di tengah makan malam....
... "Saya lupa membawanya."...
...Rania tertegun. ...
..."Sekarang, Pak?"...
..."Iya, sekarang. Investor butuh melihat drafnya sebelum besok pagi," jawab Arkan dingin....
...Rania tidak punya pilihan. Ia harus kembali ke kamar Arkan. Ia pun beranjak dari meja dan berjalan menuju lift. ...
...Ia merasa cemas. ...
...Mengapa Arkan memintanya masuk ke kamarnya sendiri? Apakah ini bagian dari rencananya?...
...Saat ia masuk ke dalam kamar Arkan, suasana terasa begitu sunyi dan dingin. Rania mencari berkas kontrak tersebut di meja kerja Arkan....
... Ia menemukannya di tumpukan dokumen. Saat ia hendak mengambilnya, ia tidak sengaja menjatuhkan sebuah foto yang terbingkai kecil di samping meja....
...Foto itu adalah foto masa kecil Arkan bersama keluarganya. Rania memungutnya dan meletakkannya kembali di tempatnya. ...
...Namun, saat ia melihat foto itu lebih dekat, ia tertegun. ...
...Di latar belakang foto tersebut, ada seseorang yang sangat familiar....
...Itu adalah Pak Tedy....
... Manajernya di kafe....
...Rania merasa jantungnya hampir copot....
... Pak Tedy? Mengapa manajernya ada di foto keluarga Arkan?...
...Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Rania terlonjak, hampir menjatuhkan berkas yang ia pegang. ...
...Arkan berdiri di ambang pintu, menatap Rania dengan tatapan yang sulit diartikan....
..."Sudah ketemu?" tanya Arkan dingin....
...Rania mengangguk dengan tangan gemetar....
... "I... iya, Pak. Ini kontraknya."...
...Arkan berjalan mendekat, mengambil kontrak itu dari tangan Rania, namun ia tidak langsung pergi....
... Ia justru menatap Rania dengan tatapan yang sangat dekat, seolah ingin mencari tahu apa yang sedang ia pikirkan....
..."Apa ada yang kamu lihat, Rania?" tanya Arkan, suaranya terdengar merendahkan....
...Rania menelan ludah....
... "Tadi saya tidak sengaja menjatuhkan foto di meja Bapak. Maafkan saya, Pak."...
...Arkan menatap foto di mejanya, lalu menatap Rania kembali....
... "Kamu mengenali orang di foto itu?"...
...Rania menggeleng cepat....
... "Tidak, Pak. Saya tidak memperhatikannya."...
...Arkan terdiam sejenak. Ia tampak sedang mempertimbangkan jawaban Rania. ...
..."Baguslah. Karena rahasia keluarga saya bukan sesuatu yang pantas diketahui oleh sekretaris magang."...
...Rania segera membungkuk....
... "Saya permisi, Pak."...
...Ia keluar dari kamar Arkan dengan perasaan yang sangat tidak karuan. ...
...Ia harus segera menghubungi Pak Tedy. Ia harus tahu apa hubungan pria itu dengan Arkan....
...Malam itu, Rania tidak bisa tidur. Ia duduk di pinggir tempat tidur, menatap ponselnya dengan cemas. ...
...Siapa sebenarnya Pak Tedy? Dan apa yang sedang terjadi di sini?...
...Ia merasa seolah-olah ia baru saja melangkah ke dalam labirin yang lebih rumit dari yang ia bayangkan sebelumnya. ...
...Dan Arkan, pria yang selama ini ia curigai, ternyata punya koneksi yang tidak terduga dengan dunia rahasianya....
...Rania tahu, dua hari di Bandung ini akan menjadi ujian terberat dalam hidupnya....
... Ia harus tetap waspada, harus tetap tenang, dan yang terpenting, ia harus segera mencari tahu kebenaran di balik semua ini....
...Ia tidak akan membiarkan Arkan memenangkan permainan ini. Apapun yang terjadi, ia akan terus mencari jalan keluar....
...Malam itu, Rania memejamkan mata dengan tekad yang semakin kuat. ...
...Besok adalah hari kedua, dan dia tidak akan membiarkan Arkan mencurigainya lebih jauh lagi....
... Dia akan tetap menjadi Rania, sekretaris magang yang culun, sampai dia menemukan jawaban dari semua misteri ini....
yang banyak update nya 😉😉😉