Bagi Renata, pernikahan adalah ruang tunggu berisi siksaan yang ia jalani demi Dio, putra semata wayangnya. Menikah dengan Aris menuntutnya menjadi wanita yang tak boleh punya rasa lelah. Di rumah itu, dia diperlakukan bak pelayan tanpa gaji, menghadapi ibu mertua yang kejam dan manipulatif, serta menerima hinaan tiada henti dari Siska, adik iparnya yang bermulut tajam.
Sementara Renata bersimbah peluh dan air mata, Aris justru menjadi suami yang abai. Pria itu selalu menutup mata, lebih mementingkan keluarganya, dan bersikap pelit luar biasa pada anak-istri sendiri.
Demi Dio, Renata mencoba melapangkan dada dan bertahan dalam diam. Namun, benteng kesabarannya runtuh berkeping-keping saat ia mengetahui bahwa Aris memiliki wanita lain. Lebih menyakitkan lagi, keluarga mertuanya justru membela kebusukan Aris dan menyalahkan dirinya.
Apakah Renata akan bertahan di keluarga toxic itu? atau dia berani mengambil keputusan untuk melawan mereka yang sudah menyakitinya selama ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Hari Senin yang baru telah tiba, membawa lembaran baru yang siap dilukis oleh Rena. Pagi itu, suasana di kamar kos yang di sewa Rena terasa begitu tenang. Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui celah ventilasi, menyinari lantai keramik yang bersih. Rena bangun dengan perasaan yang jauh lebih segar. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun terakhir, dia tidak perlu terburu-buru bangun karena takut diteriaki mertua, tidak perlu mencuci tumpukan piring kotor milik orang lain, dan tidak perlu memasak menu mewah untuk orang-orang yang tidak tahu terima kasih.
Di sudut dapur kecilnya, Rena memasak sarapan untuk dirinya dan Dio. Aroma telur yang digoreng di atas wajan menguar gurih. Hanya sepiring nasi hangat dan telur dadar yang dibagi dua untuk sarapan mereka, namun suasana makan pagi itu terasa seribu kali lebih nikmat daripada makan malam penuh tekanan di rumah Aris.
"Enak, Bu?" tanya Dio dengan mulut sedikit penuh, matanya berbinar menatap ibunya.
Rena tersenyum hangat, mengusap sudut bibir putranya yang terkena remah telur. "Enak sayang. Dihabiskan ya, setelah ini ibu antar ke sekolah."
Setelah memastikan semua perlengkapan Dio siap, Rena mengunci pintu kosnya dan menuntun Dio berjalan kaki menuju sekolah yang letaknya memang cukup dekat. Begitu sampai di gerbang sekolah, Rena tidak langsung pergi. Dia meminta Dio untuk masuk ke dalam kelas terlebih dulu, sementara dirinya melangkah menuju ruang guru untuk menemui wali kelas Dio.
Rena mengetuk pintu dengan sopan. "Selamat pagi, Ibu Guru."
"Oh, selamat pagi, Ibunya Dio. Ada yang bisa saya bantu?" sahut wali kelas Dio, seorang wanita paruh baya berwajah keibuan bernama Bu Ratna.
Rena duduk di kursi yang disediakan, menarik napas sejenak sebelum mengutarakan maksud kedatangannya yang teramat penting demi keselamatan anaknya. "Begini, Bu Ratna. Saya ingin menyampaikan sesuatu yang penting tentang Dio. Mulai hari ini, siapapun yang ingin melihat keadaan Dio atau menjemput Dio—baik itu yang mengaku ayahnya, neneknya, atau bibinya—mohon dengan sangat agar tidak diizinkan sama sekali untuk bertemu Dio. Hanya saya yang boleh bertemu dan menjemput Dio pulang."
Bu Ratna mengernyitkan keningnya, menangkap kilat keseriusan dan sedikit gundah di mata Rena. "Kalau boleh tahu, kenapa ya, Bu? Karena selama ini kami juga tidak pernah tau keluarga Dio lainnya selain Bu Rena. "
Rena meremas jemarinya sendiri, lalu menceritakan sedikit masalah keluarganya secara garis besar agar tidak terjadi salah paham. "Rumah tangga saya dan suami sedang tidak baik-baik saja. Sekarang saya dan Dio sudah keluar dari rumah itu, dan dalam waktu dekat saya akan segera mengurus proses perceraian dengan suami saya. Saya khawatir... pihak keluarga sana akan mencoba membawa Dio tanpa sepengetahuan saya untuk dijadikan alat untuk mengintimidasi saya. Karena selama ini mereka juga tidak pernah peduli kepada Dio."
Mendengar penjelasan tersebut, raut wajah Bu Ratna seketika berubah penuh empati. Dia mengangguk-angguk paham dan memegang tangan Rena dengan lembut. "Astagfirullah... Begitu ya, Bu. Baik, saya sangat mengerti. Ibu tidak perlu khawatir, saya akan instruksikan kepada petugas keamanan gerbang dan guru piket agar Dio tidak keluar dsri halaman sekolah sebelum di jemput. Dio tidak akan kami lepaskan kepada siapa pun kecuali Bu Rena sendiri."
"Terima kasih banyak, Bu Guru. Ini sangat berarti bagi saya dan anak saya," ucap Rena dengan rasa lega yang teramat sangat.
Setelah urusan di sekolah Dio selesai dengan aman, Rena segera berjalan menuju perumahan yang tak jauh dari sekolah Dio untuk pergi bekerja ke rumah Ririn seperti biasa. Begitu dia melangkah masuk melalui pintu samping, Ririn langsung menyambutnya dengan senyuman yang teramat senang dan lega.
"Aduh, Mbak Rena! Akhirnya masuk juga," seru Ririn sembari menggendong bayinya yang baru selesai menyusu. Dia terkekeh kecil melihat ke sekeliling sudut ruangan. "Dua hari ini rumah saya benar-benar sedikit berantakan seperti kapal pecah karena Mbak tidak masuk kerja. Suami saya kalau disuruh bersih-bersih cuma sapu bagian tengahnya saja, sudut-sudutnya dilewati."
Rena ikut tertawa kecil, meletakkan tas kecil yang dia bawa di atas meja. "Aduh, maaf ya, Mbak Ririn, sudah merepotkan selama dua hari ini. Kemarin kondisi saya benar-benar sedang tidak kondusif. Hari ini, saya janji akan menyelesaikan semua pekerjaan yang tertunda dan membuat rumah ini berkilau lagi."
"Ah, jangan dipaksakan kalau masih lelah, Mbak. Santai saja," sahut Ririn ramah.
Rena pun mulai melakukan pekerjaannya. Di tengah-tengah bekerja, saat Rena sedang sibuk mengelap kaca jendela besar yang menghadap ke taman belakang, Ririn berjalan mendekat. Rasa penasaran yang sejak dua hari lalu dipendamnya mengenai kisruh rumah tangga asistennya itu akhirnya tidak bisa ditahan lagi. Dia duduk di kursi rotan dekat jendela, menatap Rena dengan pandangan menyelidik namun penuh perhatian.
"Mbak Rena..." panggil Ririn lembut. "Kalau boleh saya tahu... apa yang terjadi dua hari ini. Maaf, aku sangat penasaran. " ucapnya sambil terkekeh.
Rena menghentikan gosokan kain lapnya sejenak. Dia berbalik menghadap Ririn, mengembuskan napas panjang namun dengan raut wajah yang tampak sangat tenang.
"Semuanya sudah selesai Mbak Ririn," kata Rena dengan nada tanpa beban. "Sekarang saya dan Dio sudah keluar dari rumah itu. Kami berdua memilih ngekos di sebuah rumah petak yang letaknya tidak jauh dari sini, dengan begitu saya jauh merasa tenang dan bebas."
Ririn terkesiap, matanya membelalak kaget. "Mbak sudah keluar dari rumah?! Benar-benar pergi?"
"Iya, Mbak. Dan setelah semua urusan tempat tinggal baru ini rapi, langkah saya selanjutnya adalah mendatangi Pengadilan Agama untuk mengajukan gugatan cerai kepada Mas Aris," sambung Rena tegas.
Mendengar penuturan yang teramat mantap itu, Ririn benar-benar terkejut bukan main. Dia tahu betul bagaimana tabiat Rena selama bekerja dengannya; Rena adalah sosok wanita yang teramat sabar, penurut, jarang mengeluh, dan selalu mendahulukan kepentingan keluarga meskipun dirinya sendiri tertindas.
Ririn menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap Rena dengan rasa kagum sekaligus ngeri atas keberanian wanita di depannya.
"Ya Tuhan, Mbak Rena... saya benar-benar terkejut," tutur Ririn dengan suara berbisik, seolah masih tidak percaya. "Bagi wanita sesabar dan setabah Mbak Rena sampai bisa mengambil keputusan besar dan seberani itu untuk angkat kaki dan menggugat cerai... itu artinya perbuatan Mas Aris di luar sana pasti sudah benar-benar keterlaluan dan berada di tahap yang tidak bisa ditolerir lagi oleh batas kemanusiaan seorang istri."
Rena hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan bahwa badai terdahsyat dalam hidupnya telah berhasil dia lewati, dan kini saatnya dia mengayuh perahunya sendiri menuju dermaga yang baru.
aku pikir sampai Rena menikah lagi