Yang tak suka, silahkan minggir!
Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.
"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.
"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.
"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."
Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?
Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?
Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#8
#8
“Tiara—”
Senyum sumringah penuh bahagia langsung terpancar dari wajah Dinda, ekspresi yang jauh berbeda ketimbang beberapa saat yang lalu saat mereka berdua menempuh perjalanan hingga ke rumah ini.
Sudah sangat lama Bagas tak melihat Dinda, apalagi senyumannya. Kini kembali bisa melihat senyum itu lagi, Bagas rasa apapun yang terjadi, bagaimanapun kesulitan yang dia alami, ia akan terus berusaha keras mendapatkan Dinda kembali.
“Mama, kok, baru pulang?” Gadis kecil itu cemberut, tapi Dinda tetap tersenyum sabar sambil merapikan rambut panjangnya.
“Memang sudah berapa lama di sini?”
“Lama, sejak Tante Dara pulang.”
“Maaf, ya. Tante ada pertemuan dan undangan sebentar. Tiara sudah makan?”
Gadis kecil itu menggeleng, “Dia nungguin kamu, padahal Ibu sudah menyiapkan makanan kesukaannya.” Pria itu ikut bersuara, dan kalau ada yang bertanya bagaimana perasaan Bagas? Sakitnya tak bisa ia lukiskan dengan kata-kata.
Disaat mereka masih berharap ada kabar baik tentang Abel, disaat itu pula, ada orang lain yang berhasil mengisi kekosongan dalam hidup mantan istrinya. Bagas cemburu? Sudah pasti, karena dialah yang seharusnya mengisi tempat tersebut. Bukannya pria lain.
“Mas, kok belum pulang?” tanya Dinda sengit.
“Mau salim dulu sama Mama.”
“Mama sudah tidur,” sahut Dinda cepat.
“Nggak, kok. Eyang lagi sholat isya.” Dengan polos, gadis kecil itu menyanggah kebohongan Dinda. Dan tak lama kemudian, Mama Juwita benar-benar keluar dari dalam rumah.
“Eh, ada Bagas.” Sama seperti Mama Yanti, Mama Juwita pun masih sangat ramah pada Bagas.
Bagas mendekati Mama Juwita, lalu mencium tangan wanita itu. “Ma—”
“Mama, sehat?” tanya Bagas setelah kembali berdiri tegak.
“Alhamdulillah, orang tua kamu sehat juga, kan? Eyang Tuti?”
“Alhamdulillah, Ma. Eyang juga sedang di Jakarta, makanya tadi aku ajak Dinda makan malam di rumah, karena Eyang kangen Dinda katanya.”
“Syukurlah, Mama senang mendengarnya. Sampaikan salam Mama buat keluargamu, ya.”
Bagas mengangguk, dan percakapan basa-basi itu berlangsung sejenak. “Oh, iya, kenalkan ini Dokter Angga, temannya Dinda.”
“Angga.” Pria bernama Angga itu, mengulurkan tangan terlebih dahulu pada Bagas,
“Bagas, mantan suami Dinda.”
Sengaja sekali Bagas menambahkan embel-embel mantan suami di belakang namanya. Agar pria itu tahu, bahwa masih ada pria spesial di dekat Dinda.
Dinda sendiri cukup shock, ketika Bagas menambahkan kalimat mantan suami, tapi memang begitulah tengilnya Bagas. “Sudah, kan? Sekarang silahkan pulang.” Sekali lagi Dinda mengusir Bagas, tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“Ak—”
“Dinda, kok, begitu, kasihan Nak Bagas, setidaknya persilahkan dia minum teh dulu,” tegur Mama Juwita.
Bukan main senangnya hati Bagas, namun, kesenangan itu tak berlangsung lama. “Nggak perlu, Ma. Kami baru saja makan malam bersama di rumah keluarga Mas Bagas. Jadi, aku yakin beliau sudah kenyang, iya, kan, Mas?”
Dinda meminta persetujuan Bagas, namun, sorot matanya sungguh garang penuh permusuhan. Hingga Bagas ciut nyali, bukan kalah, tapi lebih baik mengalah. Semoga besok ada alasan untuk bertemu lagi.
“Iya, Ma. Terima kasih atas tawaran Mama. Lagian, Bagas sudah hafal seperti apa Dinda, sejak dulu, dia kan suka galak—”
“Mas Bagas!” Dinda memekik geram.
“Tu, bener, kan, Dinda galak?” Bagas segera ambil langkah seribu untuk meninggalkan rumah mantan istrinya. “Bagas pulang dulu, Ma. Assalamu'alaikum.”
Tapi jangan dikira Bagas pergi dengan ikhlas, pria itu masuk ke mobilnya dengan setengah hati. Ya, tapi sementara ini, lebih baik mengalah saja.
Setelah Bagas benar-benar pergi, barulah Mama Juwita mempersilahkan semua orang untuk kembali masuk ke rumah. “Ma, lapar. Mau disuapi,” pinta Tiara.
“Boleh, tapi Mama ganti baju dan cuci tangan dulu, Tiara tunggu di meja makan.”
“Ayo, Nak Angga makan juga.” Mama Juwita mempersilahkan Dokter Angga untuk ikut bergabung dengan Tiara.
Dokter Angga berdiri dari kursi teras, lalu ikut bergabung dengan Tiara, yang lebih dulu duduk manis di sana. “Terima kasih, Tante Juwita.”
“Ah, seperti di rumah siapa, santai saja, rumah ini, kan, sudah seperti rumahmu.”
“Padahal, aku—”
“Sudah, jangan dibicarakan lagi, yang lalu biarlah berlalu. Dinda juga sudah ikhlas, dan mulai bangkit menata hidupnya.”
“Tapi, aku tetap merasa bersalah, Tante.”
Mama Juwita mengusap punggung Dokter Angga, agar pria itu tidak terus menerus menyalahkan dirinya.
Beberapa tahun yang lalu, tepatnya seminggu setelah perceraian Bagas dan Dinda diresmikan. Dinda mengalami depresi berat, hingga berniat mengakhiri hidup dengan cara menabrakkan dirinya ke mobil yang melintas di jalan.
Di waktu bersamaan, Dokter Angga pun sedang terpuruk, karena sang istri meninggal tak lama setelah bayi mereka lahir ke dunia. Dua orang yang sama-sama kehilangan, didera perasaan sedih dan nestapa, karena kehilangan orang yang paling berharga.
Di tengah lebatnya hujan, mobil Dokter Angga berjalan dengan kecepatan tinggi, tepat pada saat itu Dinda yang nyaris hilang kewarasan karena terlalu menyalahkan dirinya tiba-tiba menyeberang jalan. Kecelakaan tragis itu pun terjadi, tubuh Dinda terlempar beberapa meter dari tempat kejadian, hingga membuatnya terluka parah.
Karena Dokter Angga bertanggung jawab penuh, maka Mama Juwita pun tak memperpanjang masalah hingga ke pengadilan, sebab Dokter Angga tak sepenuhnya bersalah.
Dinda dirawat di rumah sakit terbaik di Singapura, dengan perawatan terbaik, karena tulang rusuknya pun ikut cedera cukup parah.
Selama proses penyembuhan, Dokter Angga jadi tahu penyebab Dinda berbuat nekat, maka ia berinisiatif mendekatkan Tiara yang telah kehilangan mamanya, dengan Dinda yang kehilangan putrinya. Sejak saat itu, Tiara menjadi obat sekaligus pelipur lara hati Dinda.
Waktu berlalu, kedekatan Tiara dan Dinda mulai mengusik hati Dokter Angga, sayangnya perasaan Dokter Angga tak pernah berbalas, berkali-kali menyatakan perasaan, berkali-kali pula ia menerima penolakan. Karena Dinda berjanji, tak akan pernah mengizinkan dirinya bahagia, sebelum menemukan putrinya.
“Sudah, Ma. Kenyang.” Tiara menolak suapan terakhir Dinda.
“Satu suap lagi, Sayang. Mubazir, nih, nanti kalau nasinya nangis, gimana?” bujuk Dinda.
Tiara manyun, namun tetap bersedia membuka mulutnya. “Aaaammmm,” kata Dinda ketika suapan terakhirnya masuk ke mulut Tiara.
Setelah kenyang, dan bersenda gurau sejenak dengan Dinda, Tiara dan Dokter Angga pun pamit pulang.
Dinda memasang seat belt untuk Tiara, “Bobok yang nyenyak, ya.”
“Iya, Ma.”
Dinda kembali memeluk Tiara, setelah itu ia menutup pintu mobil.
“Apakah makan malam tadi pertanda sesuatu?” tanya Dokter Angga.
“Tidak ada pertanda apa-apa, simpan pikiran burukmu, dan sebaiknya kamu juga segera pulang, karena aku mengantuk.”
“Kalau tak ada pertanda apa-apa, boleh dong aku berharap.”
Dinda menepuk jidatnya, “Ya, ampun, Ga. Masih bahas soal itu?”
Dokter Angga mengangguk, sorot matanya teduh berharap Dinda sudah mengubah pemikirannya. “Memang apa kurangnya aku? Aku tampan, loh, uangku juga tak perlu kamu pertanyakan. Dan aku—”
“Mas Angga bukan Mas Bagas, makanya Mbak Dinda gak mau terima,” cetus Adara secara tiba-tiba. Tapi ia menghilang secepat kilat, setelah melihat sorot mata tajam dari Dinda.
“Benar apa yang Dara bilang, Dind? Kamu benar-benar belum bisa melupakan Bagas?”
Dinda terdiam, itu dan janjinya pada dirinya sendiri. “Di luar sana masih banyak wanita sempurna, Dok.”
“Tapi hanya kamu yang aku dan Tiara inginkan.”
aku lupa nama Kaka nya bagas