NovelToon NovelToon
Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Transmigrasi Putri Selir: Lima Kakak Mafia Terobsesi Padaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: cosmoursun

Alana, seorang gadis pekerja keras yang tewas karena kelelahan, terbangun di tubuh putri bungsu seorang selir di keluarga mafia Garrick yang kejam. Alih-alih hidup mewah, ia justru akan dijual oleh ibu tiri pertamanya kepada mafia tua bangka demi politik.

​Menolak pasrah pada takdir, Alana memutuskan untuk memikat kelima kakak tirinya yang terkenal kejam, dingin, dan saling bermusuhan demi takhta. Dari seorang pion yang terbuang, Alana mengubah dirinya menjadi ratu kecil yang diperebutkan oleh lima penguasa dunia bawah.

​"Siapa pun yang berani menyentuh Alana, artinya menantang maut dari seluruh keluarga Garrick!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cosmoursun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Taruhan Pertama di Atas Meja Kayu Usang

Suasana di ambang pintu paviliun belakang mendadak membeku. Kata-kata Alana yang begitu lugas, tajam, dan penuh percaya diri bergema di tengah keheningan malam, menembus langsung ke dalam pertahanan ego Xavier Garrick. Mengetahui bahwa dirinya sengaja dijebak oleh seorang gadis yang selama ini dianggapnya tidak lebih dari seekor tikus tanah adalah sebuah hantaman telak bagi sang pangeran kasino.

Xavier tidak langsung mengamuk. Sebagai seorang penjudi ulung yang terbiasa menghadapi gertakan di meja judi tertinggi, dia tahu bagaimana cara menyembunyikan keterkejutannya. Pupil mata hazelnya melebar sesaat sebelum akhirnya sebuah tawa rendah, dingin, dan sarat akan bahaya keluar dari bibirnya.

"Jebakan?" Xavier melangkah maju, dengan sengaja membiarkan tubuh tinggi besarnya mengintimidasi Alana secara fisik. Dia menunduk, menatap Alana dari jarak yang begitu dekat hingga napasnya yang beraroma cerutu vanila menerpa kening gadis itu. "Kamu memiliki keberanian yang sangat besar untuk ukuran seorang gadis yang pipinya masih membiru akibat tamparan, Alana. Kamu pikir, hanya karena aku memungut pembatas buku murah ini, kamu sudah memegang kendali atas diriku?"

Tanpa menunggu izin, Xavier menggeser tubuh Alana dengan bahunya secara kasar namun terukur, lalu melangkah masuk begitu saja ke dalam ruang tengah paviliun faksi keempat.

Matanya yang terbiasa melihat kemewahan eropa menyapu sekeliling ruangan yang kumuh itu dengan tatapan menilai yang sinis. Dinding putih yang mulai mengelupas, lampu bohlam redup, dan sebuah meja kayu usang dengan dua kursi kayu yang sudah mulai lapuk di sudut ruangan. Di atas meja itu, berdiri Elena yang tubuhnya sudah gemetar hebat seperti daun kering yang diterpa badai.

"T-Tuan Muda Xavier..." suara Elena nyaris tidak terdengar, kedua tangannya saling meremas dengan sangat erat karena ketakutan yang teramat sangat. Mengapa putra mahkota faksi ketiga yang kejam ini bisa ada di dalam rumahnya malam-malam begini? Apakah Alana telah melakukan kesalahan fatal yang akan membuat mereka berdua dieksekusi malam ini?

"Ibu," suara Alana terdengar menyela, memotong kepanikan yang mulai menguasai ruangan. Alana berjalan masuk kembali, menutup pintu paviliun dengan tenang, lalu menatap ibunya dengan tatapan yang sangat meyakinkan. "Masuklah ke kamar. Biarkan aku berbicara berdua dengan Tuan Muda Xavier. Semuanya akan baik-baik saja, aku berjanji."

Elena menatap Alana dengan ragu, matanya yang basah beralih menatap Xavier yang kini sudah mendudukkan tubuhnya di atas salah satu kursi kayu usang dengan gaya yang sangat santai—seolah kursi lapuk itu adalah takhta emasnya. Namun, melihat ketegasan yang mutlak di mata Alana yang baru, Elena akhirnya menundukkan kepalanya dalam-dalam dan berjalan mundur dengan cepat masuk ke dalam kamarnya, menutup pintu kayu dengan rapat.

Kini, di dalam ruang tengah yang temaram itu, hanya tersisa Alana dan Xavier. Kontras di antara mereka terlihat sangat nyata: Xavier dengan setelan jas hitam mahalnya yang berkilau di bawah lampu redup, duduk di atas kursi kayu lapuk, sementara Alana berdiri beberapa langkah di depannya dengan gaun katun putih sederhana.

Xavier mengetukkan jemarinya yang dihiasi cincin safir ke atas permukaan meja kayu usang, menciptakan ketukan ritmis yang memecah keheningan. "Baiklah, Alana. Aku akan meladeni permainan kecilmu ini. Kamu bilang kamu menjebakku agar aku datang ke sini. Sekarang katakan padaku, apa yang diinginkan oleh seorang anak haram yang tidak memiliki apa-apa dari seorang bandar judi yang memiliki segalanya?"

Alana tidak langsung menjawab. Dia berjalan mendekati meja, menarik kursi kayu satunya yang berada di seberang Xavier, lalu mendudukkan dirinya dengan gerakan yang teramat anggun dan tenang. Sikapnya yang setara, menolak untuk berdiri seperti seorang pelayan di hadapan Xavier, kembali memicu rasa penasaran di dalam diri pria itu.

"Saya tidak menginginkan uang Anda, Tuan Muda Xavier," Alana membuka kartunya dengan sangat lugas, tanpa ada basa-basi yang membuang waktu. "Saya menginginkan sebuah kesepakatan bisnis."

"Bisnis?" Xavier menaikkan satu alisnya, sebuah seringai meremehkan terukir di wajah tampannya. "Bisnis apa yang bisa ditawarkan oleh seorang gadis miskin sepertimu kepada pemilik jaringan keuangan terbesar keluarga Garrick?"

"Perlindungan," jawab Alana singkat, matanya mengunci pandangan mata hazel Xavier tanpa berkedip sedikit pun. "Dalam waktu dua minggu dari sekarang, Nyonya Eleanor berencana untuk menyeret saya ke Eropa Selatan. Dia ingin menggunakan saya sebagai alat pernikahan politik dengan sindikat lokal di sana demi memperkuat faksi militer miliknya dan memuluskan jalan Cedric menuju takhta Bos Besar."

Xavier mendengus geli. "Dan mengapa aku harus peduli? Jika Eleanor ingin membuangmu ke Eropa Selatan untuk membantu Cedric, itu bukan urusanku. Bisnis kasinoku tidak akan terganggu hanya karena kamu menjadi mainan politik di sana."

"Anda salah, Tuan Muda," potong Alana dengan nada suara yang berangsur-angsur menjadi sangat dingin dan penuh perhitungan seorang analis profesional. "Bisnis Anda justru akan menjadi sektor pertama yang hancur jika pernikahan politik itu terjadi."

Mendengar kalimat itu, senyuman meremehkan di wajah Xavier seketika memudar. Matanya menyipit tajam, memancarkan aura membunuh yang sangat pekat. Bisnis kasino dan aliran keuangannya adalah harga diri terbesar Xavier, sesuatu yang tidak boleh disentuh oleh siapa pun, bahkan oleh saudaranya sendiri. "Jaga bicaramu, Alana. Jangan mengarang cerita fiksi di depanku jika kamu masih ingin melihat matahari besok pagi."

"Saya tidak sedang mengarang cerita, Xavier," Alana memajukan tubuhnya sedikit ke atas meja kayu usang itu, membiarkan memar di pipinya terlihat jelas di bawah cahaya lampu bohlam, menegaskan realitas ancaman yang dihadapinya. "Ingatkah Anda dengan faksi kedua? Nyonya Valerie dan putranya, Tuan Muda Julian, si ahli strategi itu?"

Xavier tetap diam, namun telinganya mendengarkan dengan sangat fokus.

"Tuan Muda Julian saat ini sedang mengincar jalur pencucian uang yang Anda kelola di kasino Monaco," lanjut Alana, memanfaatkan analisis tajam dari memori aslinya dan insting bisnisnya. "Jika Nyonya Eleanor berhasil bersekutu dengan sindikat Eropa Selatan melalui pernikahan saya, Tuan Muda Julian tahu dia akan kalah dalam hal kekuatan militer. Oleh karena itu, dalam waktu dekat, Tuan Muda Julian akan membocorkan data transaksi keuangan kasino Anda kepada otoritas hukum internasional untuk memotong pasokan dana faksi Nyonya Eleanor sekaligus menjatuhkan Anda dari posisi bendahara organisasi."

Xavier tertegun sepenuhnya di atas kursi kayunya. Jantungnya berdegup kencang. Informasi tentang pergerakan bawah tanah Julian adalah sesuatu yang bahkan intelijen miliknya sendiri masih selidiki dengan sangat hati-hati. Bagaimana mungkin Alana, gadis yang terisolasi di paviliun ini, bisa mengetahui skenario busuk itu dengan begitu detail?

"Jika Anda membiarkan Nyonya Eleanor menyeret saya, Anda tidak hanya kehilangan satu adik tiri yang tidak berharga, tetapi Anda juga akan kehilangan seluruh kerajaan finansial yang Anda bangun dengan darah dan keringat di Eropa," Alana menyandarkan kembali punggungnya ke sandaran kursi, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kemenangan taktis. "Skenario yang sangat membosankan untuk seorang pangeran kasino, bukan?"

Xavier menatap Alana dengan tatapan yang sepenuhnya telah berubah. Rasa meremehkan dan kejengkelan yang dibawanya tadi sore kini telah lenyap tanpa bekas, digantikan oleh rasa kagum yang bercampur dengan kengerian yang teramat sangat. Gadis di depannya ini bukanlah tikus tanah yang ketakutan—dia adalah seorang ahli strategi berdarah dingin yang sedang memegang kendali atas papan catur keluarga Garrick selagi sang ayah, Victor, berada jauh di luar negeri.

"Lalu, apa tawaranmu?" tanya Xavier, suaranya kini terdengar jauh lebih rendah, serius, dan tanpa ada nada ejekan lagi. Dia telah menurunkan topeng flamboyannya dan berbicara sebagai seorang pebisnis bawah tanah yang sesungguhnya.

"Bantu saya menggagalkan atau menunda rencana pernikahan politik Nyonya Eleanor selama satu bulan ke depan," ujar Alana dengan tegas. "Gunakan otoritas keuangan Anda untuk menahan logistik militer faksi Nyonya Eleanor, buat mereka sibuk dengan masalah anggaran. Sebagai imbalannya..."

Alana mengetukkan jarinya di atas meja kayu usang. "...saya akan menjadi otak di balik bayangan Anda. Saya akan memberikan seluruh strategi untuk menghancurkan rencana Tuan Muda Julian di Monaco dan memastikan posisi Anda sebagai pemegang kunci brankas tunggal keluarga Garrick tetap tidak tersentuh oleh siapa pun."

Xavier terdiam lama di dalam ruangan yang temaram itu. Pikirannya berputar dengan sangat cepat, menimbang-nimbang setiap risiko dan keuntungan dari taruhan gila yang ditawarkan oleh adik tirinya ini. Menghadapi Eleanor secara tidak langsung demi Alana adalah hal yang berbahaya, tetapi keuntungan yang ditawarkan Alana—keamanan mutlak atas kerajaannya—terlalu menggiurkan untuk ditolak oleh seorang penjudi serakah seperti dirinya.

Perlahan, sebuah senyuman baru yang sangat pekat terukir di wajah tampan Xavier Garrick. Dia mengeluarkan kembali rajutan pembatas buku melati dari saku jasnya, lalu meletakkannya di atas meja kayu usang tepat di antara mereka berdua.

"Taruhan yang sangat gila, Alana," bisik Xavier dengan mata hazel yang berkilat penuh obsesi dan kepuasan yang gila. Dia mengulurkan tangan kanannya di atas meja, mengajak Alana untuk berjabat tangan. "Dan sebagai seorang bandar judi, aku tidak pernah bisa menolak taruhan dengan nilai setinggi ini. Kesepakatan diterima, Mitra Kecilku."

Alana menyunggingkan senyum tipis yang sangat dingin di bawah temaram lampu paviliun. Dia menyambut jabat tangan Xavier dengan pegangan yang mantap dan keras. Bidak catur pertamanya tidak hanya terpasang, tetapi kini telah resmi bergerak di bawah perintahnya.

1
Anne Soraya
lanjut
cosmoursun: Siapp! Ramaikan ya kak🔥
total 1 replies
Nindy bantar
makin seru
cosmoursun: wiii makin suka ga😬
total 1 replies
Nindy bantar
mampir thor ceritanya sprtnya menarik😍
cosmoursun: asikk, duduk sambil bawa popcorn kak🔥
total 1 replies
Rahman Hayati
baru ya
cosmoursun: iya niii, lesgoo dibacaaa🔥
total 1 replies
Lilis Lis
ceritanya bagus dan pemeran wanita yg cerdas dan pemberani..
cosmoursun: xixixi terimakasih kak! terus dukung Alana supaya jadi wanita beraniii🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!