Sinopsis
Putri viona Isabella berangkat menuju Kerajaan Timur untuk menikahi putra mahkota sesuai perjodohan antar kerajaan. Namun, di tengah perjalanan rombongannya diserang perampok hingga seluruh pengawal tewas.
Dengan tubuh penuh luka, viona melarikan diri ke dalam hutan dan diselamatkan oleh Derek Henrick, pria misterius yang memilih hidup mengasingkan diri. Seiring waktu, cinta tumbuh di antara mereka.
Saat identitas Fiona akhirnya terungkap, ia harus memilih antara memenuhi takdirnya sebagai seorang putri atau mempertahankan cinta yang telah menyelamatkan hidupnya. Namun, Derek ternyata menyimpan rahasia besar yang dapat mengubah nasib kedua kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Menghadapi Dewan Raja di Gerbang Istana
Matahari pagi menyinari langit Kerajaan Timur dengan warna keemasan. Derek berdiri di atas sebuah bukit kecil di depan Istana Kerajaan, memandang ke arah gerbang megah yang telah lama tidak ia lihat. Di belakangnya, pasukan yang terdiri dari keluarga Barrington dan bangsawan setia lainnya telah berkumpul. Bendera kerajaan dengan lambang singa emas berkibar di angin, dan suara genderang perang mulai menggema.
Viona berdiri di samping Derek, mengenakan pakaian perang ringan yang dipinjam dari kastil Barrington. Rambutnya yang pendek diikat ke belakang dengan tali kulit, dan di pinggangnya terselip pisau kecil yang selalu ia bawa. Neil dan Sera berada di belakang mereka, dengan wajah penuh tekad.
"Ini saatnya," bisik Derek. "Kita tidak bisa mundur lagi."
Pangeran Barrington mendekati Derek. "Pasukan sudah siap, Derek. Tapi aku harus memperingatkanmu—Dewan Raja mungkin telah mempersiapkan jebakan. Mereka tahu kau akan datang."
"Biarkan mereka mempersiapkan apa pun," jawab Derek dengan tenang. "Aku sudah menunggu delapan tahun untuk ini."
Mereka mulai bergerak turun dari bukit, menuju gerbang istana. Saat mereka mendekat, mereka melihat bahwa gerbang istana sudah ditutup rapat. Di atas tembok, barisan panjang pemanah dengan busur terkokang siap menembak. Di depan gerbang, sekitar seratus pasukan berseragam hitam dengan lambang singa emas—pasukan Dewan Raja—berbaris rapi, siap menghadang.
Derek mengangkat tangannya, memerintahkan pasukannya untuk berhenti. Ia melangkah maju sendirian, hanya ditemani oleh Viona dan Neil.
"Aku ingin berbicara dengan Dewan Raja!" seru Derek, suaranya menggema di seluruh lapangan. "Bawalah aku kepada mereka, atau aku akan memaksa masuk."
Keheningan menyelimuti lapangan. Lalu, dari balik gerbang, tiga sosok muncul. Mereka adalah para pemimpin Dewan Raja—tiga pria tua dengan jubah merah dan mahkota emas kecil di kepala mereka. Salah satu dari mereka, seorang pria dengan janggut putih panjang, berbicara.
"Derek Minos. Kau benar-benar hidup. Sungguh mengejutkan."
"Kau tahu aku hidup, Kanselir Vardan," jawab Derek. "Dan kau juga tahu mengapa aku di sini. Aku datang untuk merebut kembali takhta yang menjadi hakku."
Kanselir Vardan tertawa. "Takhta? Kau sudah mati selama delapan tahun, Derek. Kerajaan ini sudah berjalan tanpa dirimu. Dan kau datang dengan pasukan kecil ini untuk mengklaim takhta? Kau pikir kau bisa mengalahkan kami?"
"Aku tidak datang untuk mengalahkanmu." Derek menatap Kanselir Vardan dengan mata yang tajam. "Aku datang untuk membuktikan bahwa kau adalah penipu dan pembunuh. Aku tahu kau membunuh ibuku. Aku tahu kau mencoba membunuhku. Dan aku tahu kau memprovokasi perang dengan Kerajaan Barat untuk mengalihkan perhatian rakyat dari kekejamanmu."
Kanselir Vardan tersenyum dingin. "Kau tidak punya bukti apa pun, Derek. Semua dokumen yang membuktikan identitasmu sudah dihancurkan."
Derek mengeluarkan dokumen yang diberikan Neil—dokumen yang diselamatkan oleh Sera. "Aku punya bukti ini. Ini adalah dokumen resmi yang menyatakan bahwa aku adalah Putra Mahkota Kerajaan Timur. Dan aku juga memiliki saksi—Sera, mantan mata-matamu—yang siap bersaksi tentang semua kejahatan yang telah kau lakukan."
Kanselir Vardan melihat dokumen itu, dan untuk sesaat, keraguan muncul di matanya. Namun, ia segera menutupinya.
"Kau bisa memalsukan dokumen apa pun," katanya. "Dan Sera adalah pengkhianat yang sudah tidak bisa dipercaya."
Derek melangkah lebih dekat, suaranya meninggi. "Kau berbohong, Kanselir. Dan rakyat tahu kau berbohong. Lihatlah sekelilingmu—pasukanmu sendiri mulai ragu."
Derek menunjuk ke arah para pasukan berseragam hitam. Beberapa dari mereka mulai saling menatap, tampak kebingungan. Mereka telah mendengar cerita tentang Derek, dan kini mereka melihatnya dengan mata kepala sendiri—seorang pemuda yang tampak berwibawa, dengan dokumen asli di tangannya.
"Rakyat Kerajaan Timur!" Derek berteriak, suaranya memecah kesunyian. "Aku adalah Derek Minos, Putra Mahkota yang sah! Dewan Raja telah menipu kalian selama delapan tahun! Mereka membunuh ratu, mereka mencoba membunuhku, dan mereka memprovokasi perang dengan Kerajaan Barat yang akan membawa penderitaan bagi semua! Aku datang untuk mengembalikan keadilan, dan aku datang untuk melindungi kalian!"
Para pasukan Dewan Raja mulai bergeming. Salah satu dari mereka menjatuhkan busurnya. Yang lainnya mulai mundur. Kanselir Vardan menatap sekeliling, panik.
"Jangan dengarkan dia!" teriak Kanselir Vardan. "Dia adalah penipu!"
Namun, suara Derek lebih kuat. "Lihatlah mataku, rakyat Kerajaan Timur! Apakah mataku penuh kebohongan? Apakah aku terlihat seperti penipu? Aku adalah putra dari raja yang kalian cintai, dan aku datang untuk menyelamatkan kalian!"
Seorang prajurit tua di barisan depan pasukan Dewan Raja tiba-tiba berlutut. "Derek... Derek Minos... Aku mengenalmu. Aku bertugas di bawah ayahmu. Aku tahu kau bukan penipu."
Prajurit itu menatap Kanselir Vardan. "Kau telah berbohong kepada kami, Kanselir. Kau bilang Putra Mahkota mati. Tapi dia hidup. Aku tidak akan lagi bertempur untukmu."
Satu per satu, pasukan Dewan Raja mulai berlutut atau meletakkan senjata mereka. Kanselir Vardan mundur ke belakang, wajahnya pucat pasi.
"Selamat tinggal, Kanselir." Derek melangkah maju, menatap Kanselir Vardan dengan tatapan dingin. "Aku akan mengadilimu di hadapan rakyat. Tapi untuk saat ini, aku akan mengambil alih istana ini."
Kanselir Vardan mencoba melarikan diri, tetapi Neil berlari dan menangkapnya. Sera membantu Neil mengikat tangan Kanselir Vardan dengan tali.
"Kau sudah selesai, Kanselir," kata Neil. "Sudah saatnya keadilan ditegakkan."
Gerbang istana terbuka lebar. Derek melangkah masuk, diikuti oleh Viona, Neil, Sera, dan pasukan bangsawan. Rakyat yang berkumpul di sekitar istana mulai bersorak. Mereka telah menunggu pemimpin yang adil, dan kini pemimpin itu telah kembali.
Derek berjalan melalui aula besar istana, melewati lukisan-lukisan raja dan ratu yang pernah ia kenal. Ia berhenti di hadapan takhta kerajaan yang kosong. Takhta itu terbuat dari emas dan batu delima—sama seperti cincin di jari Viona.
Ia berbalik, menatap Viona. "Datanglah ke sini, Viona."
Viona melangkah maju, dengan mata yang berkaca-kaca. Derek meraih tangannya, dan bersama-sama, mereka berdiri di depan takhta kerajaan.
"Aku tidak akan duduk di takhta ini sendirian," kata Derek, suaranya bergema di seluruh aula. "Karena ratuku ada di sini. Viona—istriku, temanku, dan cintaku. Bersamanya, aku akan memimpin kerajaan ini menuju perdamaian dan kemakmuran."
Rakyat bersorak sorai. Pangeran Barrington tersenyum, dan Neil menepuk bahu Derek.
Malam itu, istana dipenuhi dengan cahaya lilin dan kebahagiaan. Derek dan Viona berdiri di balkon istana, menatap langit malam yang dipenuhi bintang.
"Delapan tahun," bisik Derek. "Delapan tahun aku melarikan diri. Dan sekarang aku kembali—dengan kau di sisiku."
"Dan aku tidak akan pernah pergi," jawab Viona. "Karena kau adalah rumahku, Derek. Dan rumahku ada di sini, bersamamu."
Mereka berciuman di bawah cahaya bintang, dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, Kerajaan Timur merasakan kedamaian yang telah lama hilang.