Hannah pernah kehilangan segalanya—rumah tangga, impian menjadi seorang ibu, dan kepercayaan pada cinta. Saat ia mulai menata hidupnya kembali, Rayyan hadir tanpa memaksa, hanya perlahan membuktikan bahwa cinta yang tulus tidak pernah lahir dari paksaan. Namun ketika masa lalu kembali muncul, Hamnah harus memilih, tetap hidup bersama luka, atau memberi kesempatan pada hati untuk percaya sekali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nathasya90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DBL5
HARAPAN DAN REALITA 2
Romi tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada amplop cokelat yang tergeletak di atas meja makan. Beberapa saat kemudian ia mengembuskan napas pelan, seolah sedang mengumpulkan keberanian yang sejak lama terus ia hindari.
"Kalau itu yang kamu mau... aku ikut."
Kalimat sederhana itu berhasil membuat bahu Hannah yang sejak tadi menegang perlahan mengendur. Ia tidak tersenyum lebar, tidak pula langsung membalas dengan kata-kata panjang. Ia hanya mengangguk pelan karena tahu, menerima ajakannya saja sudah menjadi langkah yang tidak mudah bagi Romi.
"Terima kasih, Mas."
Romi membalas anggukan itu, lalu kembali menunduk. Malam itu mereka tidak lagi membahas hasil pemeriksaan ataupun kemungkinan-kemungkinan yang akan mereka hadapi. Keduanya memilih menghabiskan makan malam dalam diam. Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, diam itu tidak lagi terasa seperti penolakan. Ada satu langkah kecil yang akhirnya berhasil mereka ambil bersama.
Dua hari berikutnya, sesuai jadwal yang diberikan pihak rumah sakit, Hannah dan Romi kembali datang ke klinik fertilitas untuk berkonsultasi mengenai seluruh hasil pemeriksaan mereka. Keduanya duduk berdampingan di ruang tunggu sambil menunggu nama mereka dipanggil. Suasana pagi di rumah sakit belum terlalu ramai, tetapi beberapa pasangan sudah lebih dulu menunggu giliran. Sebagian berbincang pelan, sebagian lagi hanya saling menggenggam tangan tanpa banyak bicara.
Hannah melirik ke arah Romi yang duduk di sampingnya. Sejak berangkat dari rumah, suaminya hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun. Tatapannya lebih banyak lurus ke depan, sementara jemarinya saling bertaut begitu erat hingga buku-buku jariNya memutih.
"Mas."
Romi menoleh.
"Gugup?"
Pria itu tersenyum tipis, meski senyum itu lebih mirip usaha untuk terlihat baik-baik saja.
"Sedikit."
Hannah mengangguk pelan.
"Aku juga."
Jawaban itu membuat Romi menatap istrinya beberapa detik lebih lama. Baru kali itu ia menyadari bahwa selama ini ia selalu mengira hanya dirinya yang sedang diliputi rasa takut. Padahal perempuan di sampingnya pun sedang menghadapi kegelisahan yang sama, hanya saja Hannah memilih menyembunyikannya di balik ketenangan yang selalu ia tunjukkan.
Tanpa banyak berpikir, Romi mengulurkan tangannya.
Hannah menoleh, lalu tersenyum kecil sebelum menyambut uluran itu. Jemari mereka saling bertaut. Tidak ada kata-kata yang terucap, tetapi genggaman sederhana itu terasa cukup untuk saling menguatkan.
Beberapa menit kemudian, seorang perawat keluar membawa map berisi berkas pasien.
"Ibu Hannah?"
Hannah dan Romi hampir bersamaan berdiri.
"Silakan masuk, Bu."
Mereka mengikuti langkah perawat hingga berhenti di depan sebuah ruangan. Setelah mengetuk pintu, perawat itu mempersilakan keduanya masuk.
Seorang dokter paruh baya menyambut mereka dengan senyum ramah.
"Silakan duduk, Pak Romi, Bu Hannah."
Keduanya duduk berdampingan di depan meja dokter. Berkas pemeriksaan mereka sudah tersusun rapi di atas meja. Dokter membuka map itu perlahan sebelum menatap mereka bergantian.
"Terima kasih sudah menunggu."
Hannah mengangguk pelan.
"Sebelumnya saya ingin mengingatkan, apa pun hasil pemeriksaan hari ini, jangan langsung menganggap semuanya sebagai akhir dari perjalanan. Dunia medis membantu kita mencari penyebab dan peluang, tetapi hasil akhirnya tetap berada di tangan Tuhan."
Kalimat itu membuat Hannah sedikit lebih tenang. Sementara Romi hanya mengangguk kecil tanpa mengalihkan pandangan dari meja dokter.
Dokter mulai membuka lembar demi lembar hasil pemeriksaan.
"Baik. Dari seluruh pemeriksaan yang sudah dilakukan, kondisi kesehatan Ibu Hannah secara umum sangat baik."
Jantung Hannah berdetak sedikit lebih cepat.
"Pemeriksaan rahim baik, saluran reproduksi tidak menunjukkan kelainan, dan hasil pemeriksaan hormon juga berada dalam batas normal."
Hannah tanpa sadar menoleh ke arah Romi.
Laki-laki itu ikut mengembuskan napas lega.
Setidaknya selama beberapa detik, mereka sama-sama percaya bahwa kabar baik itu akan berlanjut.
Dokter kembali membalik halaman berikutnya. Senyum di wajahnya masih sama, tetapi kali ini ia tidak langsung melanjutkan penjelasannya. Tatapannya berpindah dari lembar hasil pemeriksaan ke wajah Hannah, lalu kepada Romi yang kini terlihat mulai kembali menegang.
"Sedangkan untuk hasil pemeriksaan Pak Romi..."
Dokter berhenti sejenak. Ruangan itu mendadak terasa jauh lebih sunyi.
Romi tanpa sadar menegakkan posisi duduknya.
Hannah merasakan jemari suaminya yang masih menggenggam tangannya mulai sedikit bergetar.
Dokter menarik napas pelan sebelum kembali membuka lembar terakhir di hadapannya.
"Namun..." Satu kata itu langsung membuat suasana ruangan berubah.
Dokter membuka lembar berikutnya.
"Pada pemeriksaan Pak Romi, kami menemukan adanya gangguan pada kualitas sperma."
Romi yang sejak tadi duduk tegak perlahan mengernyit.
"Maksudnya gimana, Dok?"
"Jumlah sel sperma Bapak berada di bawah angka normal. Pergerakannya juga cukup rendah, sehingga peluang terjadinya pembuahan memang menjadi lebih kecil dibandingkan pasangan pada umumnya."
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Hannah memandang dokter bergantian dengan suaminya. Ia masih mencoba mencerna setiap kalimat yang baru saja didengarnya.
Romi justru tampak tidak berkedip. Seolah otaknya menolak menerima penjelasan itu.
"Jadi..." suaranya terdengar pelan, "...maksud Dokter saya mandul?"
Dokter segera menggeleng.
"Saya tidak mengatakan begitu, Pak."
"Lalu?"
"Kesuburan bukan hanya hitam atau putih. Hasil ini menunjukkan peluang kehamilan memang lebih kecil, tetapi bukan berarti tidak ada sama sekali. Masih ada berbagai pilihan terapi dan pengobatan yang bisa dicoba."
Namun kalimat penjelasan itu seolah tidak lagi masuk ke telinga Romi. Tatapannya tetap terpaku pada selembar hasil pemeriksaan yang kini berada di atas meja.
Selama ini…
Selama ini Hannah yang selalu menerima tatapan iba.
Hannah yang selalu ditanya kapan hamil.
Hannah yang berkali-kali diperiksa.
Dan ternyata…
Masalah itu justru ada pada dirinya?
Harga diri yang selama ini ia bangun sebagai seorang laki-laki seperti runtuh dalam hitungan detik.
"Mas..."
Hannah mencoba menyentuh punggung tangannya. Namun Romi langsung menarik tangannya pelan. Bukan karena marah, melainkan karena ia bahkan tidak sanggup menatap wajah istrinya saat itu.
Dokter masih berusaha menjelaskan berbagai pilihan terapi yang bisa mereka jalani. Tentang perubahan pola hidup, pengobatan, hingga kemungkinan keberhasilan yang masih tetap ada. Namun Romi sudah tidak benar-benar mendengarnya lagi. Kepalanya dipenuhi satu kalimat yang terus berulang.
Ternyata masalahnya ada padaku.
Kalimat itu terus berdengung tanpa henti, menenggelamkan semua suara lain yang ada di dalam ruangan.
Romi tiba-tiba berdiri sebelum dokter benar-benar selesai menjelaskan. Kursinya bergeser pelan, memecah keheningan yang sejak tadi memenuhi ruangan.
"Maaf."
Hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya sebelum ia berbalik meninggalkan ruang praktik.
"Pak Romi..."
Suara dokter sempat memanggil, tetapi langkah pria itu tidak berhenti. Pintu ruangan terbuka, lalu kembali menutup perlahan.
Romi terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit tanpa benar-benar tahu ke mana kakinya melangkah. Kepalanya terasa penuh. Penjelasan dokter barusan masih terus terngiang di telinganya, seolah tidak memberi ruang bagi pikirannya untuk memikirkan hal lain.
Begitu tiba di halaman rumah sakit, pandangannya jatuh pada sebuah kaleng minuman kosong yang tergeletak di dekat trotoar. Tanpa sadar ia menendangnya cukup keras.
"Aduh..."
Romi menghentikan langkahnya dan menoleh.
Perempuan itu mengusap pelan ujung sepatunya yang tadi terkena kaleng minuman, lalu kembali menatap pria di depannya.
"Maaf. Saya benar-benar nggak sengaja."
Perempuan itu menggeleng pelan.
"Nggak apa-apa."
Romi mengangguk kecil, lalu berniat kembali melangkah. Namun belum sempat ia pergi, suara perempuan itu kembali terdengar.
"Lagi ada masalah ya?"
Romi tersenyum hambar.
"Kelihatan?"
"Sedikit."
Romi mengembuskan napas panjang.
"Maaf kalau tadi bikin kaget."
"Nggak apa-apa."
Perempuan itu menatap map rumah sakit di pangkuannya beberapa detik sebelum kembali membuka suara.
"Orang yang baru keluar dari klinik fertilitas biasanya memang wajahnya mirip."
Kalimat itu membuat Romi spontan menoleh.
"Maksudnya?"
"Saya juga baru dari sana."
Keheningan sejenak tercipta.
Romi tidak bertanya lebih jauh. Dan perempuan itu pun tidak menjelaskan apa pun. Namun entah mengapa, kalimat sesingkat itu sudah cukup membuat Romi merasa perempuan asing di depannya mengerti sesuatu yang bahkan sulit ia jelaskan kepada siapa pun.
"Kadang..." perempuan itu tersenyum tipis, "...hasil yang kita tunggu bertahun-tahun ternyata cuma butuh beberapa menit buat mengubah semuanya."
Romi menundukkan kepala.
"Iya."
"Saya nggak tahu Bapak dapat kabar apa. Dan saya juga nggak akan tanya."
"Tapi..."
Perempuan itu menarik napas pelan.
"...apa pun itu, semoga Bapak jangan nyerah."
Romi tertawa pelan.
Tawa yang sama sekali tidak terdengar bahagia.
"Ngomongnya gampang."
"Saya juga lagi belajar."
"Kok bisa setenang itu?"
Perempuan itu menggeleng.
"Saya nggak tenang."
"Hanya saja..."
Ia memandang langit beberapa saat.
"...kalau saya ikut hancur, suami saya nanti sandarannya ke siapa?"
Kalimat itu membuat Romi terdiam. Untuk pertama kalinya sejak keluar dari ruang dokter, pikirannya kembali mengingat Hannah yang masih berada di dalam.
Perempuan itu kemudian berdiri sambil merapikan tas di bahunya.
"Maaf, saya harus pergi."
Romi mengangguk kecil. "Terima kasih."
Perempuan itu tersenyum.
"Bukan saya yang harus Bapak ucapkan terima kasih."
Romi mengernyit.
"Pulanglah. Istri Bapak pasti lagi nyariin."
Kalimat itu membuat dada Romi kembali terasa sesak. Ia baru sadar. Sejak tadi Hannah masih sendirian di ruang dokter.
"Terima kasih."
"Semoga semuanya segera membaik, Pak."
Perempuan itu hanya mengangguk kecil, lalu berjalan menuju area penjemputan rumah sakit tanpa pernah menoleh lagi.
Romi memandangi punggung perempuan itu beberapa detik, lalu mengembuskan napas panjang. Setelah memastikan sosok perempuan itu menghilang di balik keramaian halaman rumah sakit, ia pun melangkah menuju taman kecil di samping gedung. Di sanalah ia akhirnya duduk seorang diri, membiarkan seluruh rasa sesak yang memenuhi dadanya bercampur dengan pikiran-pikiran yang terus berputar tanpa henti.
Hannah masih duduk di dalam ruang praktik. Beberapa detik ia hanya menatap pintu yang baru saja tertutup itu, seolah belum benar-benar memahami apa yang baru saja terjadi.
Dokter mengembuskan napas pelan.
"Biarkan dulu, Bu. Reaksi seperti ini cukup sering terjadi. Banyak laki-laki yang membutuhkan waktu untuk menerima hasil pemeriksaan seperti ini."
Hannah mengangguk pelan meski pikirannya sudah berada di luar ruangan.
"Yang terpenting sekarang, jangan menyalahkan siapa pun. Hasil laboratorium ini bukan akhir dari segalanya. Peluang itu masih ada. Memang kecil, tetapi tetap ada. Kita masih bisa membahas langkah pengobatan pada pertemuan berikutnya."
"Baik, Dok." Suara Hannah terdengar lirih.
Setelah berpamitan, ia segera keluar dari ruang praktik. Pandangannya menyapu lorong rumah sakit yang cukup ramai, mencari sosok suaminya di antara lalu lalang para pasien.
"Mas..."
Tidak ada jawaban.
Ia terus berjalan menyusuri koridor, membuka pintu ruang tunggu satu per satu dengan harapan Romi sedang duduk di sana. Namun pria itu tidak ada.
Hannah mulai mempercepat langkahnya. Ia mengeluarkan ponsel dari dalam tas, lalu menekan nama suaminya.
Satu kali.
Tidak diangkat.
Dua kali.
Masih sama.
Sampai panggilan kelima, telepon itu tetap tidak dijawab.
Rasa cemas yang sejak tadi ia tahan perlahan berubah menjadi kepanikan.
"Mas... kamu di mana?"
Ia hampir berlari menuju taman kecil di samping gedung rumah sakit. Tempat itu biasanya digunakan keluarga pasien untuk menunggu atau sekadar mencari udara segar.
Dan di sanalah akhirnya ia melihat Romi.
Pria itu duduk sendirian di sebuah bangku taman dengan kedua siku bertumpu di lutut. Kepalanya tertunduk dalam. Kedua tangannya saling menggenggam begitu erat sampai buku-buku jarinya memutih.
Hannah berhenti beberapa langkah di depannya.
"Mas..."
Romi tidak menjawab.
Hannah mendekat perlahan.
"Kamu kenapa ninggalin aku sendiri?"
Pertanyaan itu keluar begitu pelan, tetapi cukup membuat Romi mengangkat wajahnya.
Mata pria itu memerah. Bukan karena marah, melainkan karena selama hidupnya, baru kali ini ia merasa harga dirinya benar-benar runtuh.
"Maaf."
Hanya itu yang sanggup ia ucapkan.
Hannah mengembuskan napas panjang. Ada kecewa yang masih terasa karena ditinggalkan sendirian di ruang dokter, tetapi melihat wajah suaminya saat itu, kemarahannya seketika luruh.
Ia duduk di samping Romi tanpa berkata apa-apa. Untuk beberapa menit, keduanya hanya diam.
Kadang, diam memang lebih mampu memahami daripada ribuan kalimat yang dipaksakan keluar.
Akhirnya Romi membuka suara.
"Kenapa harus aku, Na?"
Hannah menoleh.
"Apa salahku sampai Allah kasih ujian begini?" Suara itu bergetar.
Hannah perlahan menggenggam tangan suaminya.
"Ini bukan hukuman, Mas."
"Lalu apa?"
"Ujian."
Romi tertawa pelan. Tawa yang sama sekali tidak terdengar bahagia.
"Aku bahkan nggak bisa jadi laki-laki yang sempurna buat kamu."
Hannah menggeleng pelan.
"Mas..."
Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah pria yang ia cintai itu.
"Aku menikah sama kamu bukan karena kemungkinan kamu bisa memberiku anak."
Romi terdiam.
"Aku menikah karena aku memilih kamu."
Kalimat sederhana itu membuat Romi akhirnya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Untuk pertama kalinya sejak hasil pemeriksaan itu dibacakan… Pria itu menangis.
Jangan lupa kasih ⭐⭐⭐⭐⭐ biar othor makin semangat up nya ya.
Ditunggu semua komenannya.
Love sekeboon buat kalian💐