Di bawah langit Las Angeles, Scarlett Langford bertarung melawan kemiskinan dengan kecerdasan dan percaya diri.
Demi mempertahankan harga dirinya di High School, gadis yatim ini nekat menciptakan sebuah kebohongan besar sebagai kekasih rahasia Millian Vale-Knight—Pria yang tak pernah ia temui.
Namun, takdir gemar bercanda.
Saat bekerja paruh waktu sebagai pelayan pesta borjuis, Scarlett terlibat bentrokan sengit dengan seorang pemuda kaya yang angkuh dan bermata heterochromia.
Tanpa rasa takut, Scarlett memaki pria tersebut seraya berteriak bahwa ia hanya takut jika pria itu adalah Millian Vale-Knight .
Scarlett tidak pernah tahu bahwa pria 'brengsek' yang baru saja ia maki di depan mukanya justru adalah Millian yang sesungguhnya.
Ketika tameng kebohongan menabrak realitas, akankah kepalsuan ini berubah menjadi jerat cinta, atau justru menjadi awal dari kehancuran Scarlett?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#5
...oOo ...
Ruang kuliah di Universitas Los Angeles Pusat siang itu terasa begitu gerah, meski pendingin ruangan di sudut-sudut langit-langit berdesing dengan kekuatan penuh.
Lembar-lembar kertas ujian kalkulus yang rumit baru saja dikumpulkan oleh pengawas di meja depan, menyisakan helai napas lega dari puluhan mahasiswa yang tampak kelelahan.
Namun, bagi seorang Millian Vale-Knight, kelegaan itu sama sekali tidak mampir ke dalam benaknya.
Begitu pengawas ujian melangkah keluar dari pintu selebar dua meter itu, Millian dengan gerakan kasar langsung melempar pulpen hitamnya ke atas meja kayu.
Bunyi prak yang cukup keras terdengar, membuat beberapa pasang mata di sekitar mereka sempat menoleh terkejut.
“Weh, santai, brother,” cetus James yang duduk di bangku tepat di sampingnya, sembari mengumpulkan alat tulisnya ke dalam tas ransel.
James tahu benar ke mana arah badai kekesalan yang sedang berkecamuk di dalam dada sahabatnya itu.
Tentu saja, itu semua karena sisa-sisa amarah akibat insiden lemparan kue tar mini oleh gadis pelayan lancang semalam di bel Air.
Tadi pagi, Millian datang ke kampus dengan garis wajah yang ditekuk sedemikian rupa, menyerupai mendung hitam yang siap menumpahkan badai.
Sepanjang koridor menuju ruang kuliah, Millian tidak berhenti menggerutu dan menceritakan rentetan kejadian memalukan semalam—tentang bagaimana kap mesin mobil sport modifikasi kesayangannya dinodai oleh krim putih dan selai stroberi lengket.
Cerita tragis namun konyol itu sukses membuat James tertawa puas tak kendali sepanjang pagi, mengabaikan fakta bahwa Millian bisa saja meninjunya kapan saja.
Kembali pada masa sekarang, di mana ganjalan di hati Millian tampaknya belum juga mengikis habis.
Pemuda bermata heterochromia itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, melipat lengan di depan dada dengan rahang yang mengeras.
“Kurang ajar sekali dia,” desis Millian, nada suaranya merendah namun sarat akan kejengkelan yang mendalam.
“Dia bahkan berani mengataiku Millian palsu! Dia menyebutku pria songong, pria sombong yang hanya tahu cara menghabiskan uang orang tua. Sialan gadis itu. Apa di kepala kecilnya itu dia benar-benar tidak mengenalku? James, kau ingat apa yang dibilang mulut cerewetnya semalam? Dengan begitu percaya diri dia mengatakan, 'Kalau kau ini adalah seorang Millian Vale-Knight, baru kau bisa menyombongkan kekuasaanmu di depanku!' Brengsek!” umpatnya lagi, memukul pelan sandaran tangan kursinya.
James yang mendengar pengulangan kalimat itu untuk yang kesekian kalinya sudah tidak sanggup lagi menahan tawa tertahannya.
Ia menggeleng-gelengkan kepala, lalu menatap Millian dengan pandangan lurus.
“Itu semua terjadi karena kau selalu menutup rapat privasi fotomu dari publik, Yang,” ujar James santai, menggunakan nama kecil sahabatnya itu dengan volume rendah.
“Kau tidak pernah mengizinkan media mana pun mengekspos wajahmu secara jelas di majalah gosip atau artikel lokal. Dan seorang pelayan paruh waktu di pinggiran kota tentu saja tidak akan pernah mendapatkan fotomu dengan mudah, karena patokan harga dirimu terlalu mahal untuk satu lembar foto sialan!”
Millian menaikkan dagunya, menatap James dengan sepasang mata ganjilnya yang berkilat angkuh.
“Tentu saja aku mematok harga yang tinggi dan menjaga ketat privasi untuk satu lembar foto wajahku, James. Aku tidak mau wajahku dipajang di sembarang tempat dan dikatakan murahan oleh publik. Kehormatan keluarga Vale-Knight bukan barang konsumsi gratisan.”
“Tapi tidak prabayar juga, dasar kepala batu!” balas James sembari terkekeh, melempar gumpalan kertas bekas ke arah Millian yang langsung ditepis dengan tangkas oleh pemuda itu.
...***...
Belum sempat mereka menyelesaikan perdebatan sengit tentang harga sebuah foto tersebut, dua orang mahasiswi berpenampilan modis melangkah masuk ke dalam ruang kelas yang mulai lengang.
Rosenia dan Elle berjalan mendekat ke meja mereka dengan gaya yang sengaja dibuat meliuk-liuk.
Elle, gadis dengan dandanan yang terhitung menor dengan lipstik merah menyala yang tebal, langsung bertumpu pada ujung meja Millian sembari memainkan jemarinya.
“Hei, kalian berdua,” sapa Elle dengan nada suara yang dibuat semanja mungkin. “Kami berdua berencana akan pergi berlibur ke Eropa setelah minggu ujian ini selesai. Paris dan Milan terdengar sangat menggoda untuk berbelanja. Kalian berdua tidak ingin ikut bergabung bersama kami?”
“Tidak!” jawab James dan Millian secara serentak, tanpa perlu berpikir dua kali.
Nada penolakan mereka terdengar begitu kompak dan dingin, membuat Elle sedikit mengerucutkan bibirnya karena kecewa.
James kemudian berdehem kecil, mencoba mencairkan atmosfer penolakan mutlak yang baru saja dilemparkan.
“Kami berdua ada acara penting yang harus diselesaikan tepat setelah libur semester ini dimulai.”
“Ya, kami ada acara yang tidak bisa ditinggalkan,” sahut Millian Vale-Knight, mengikuti kalimat James hanya agar dua gadis mengganggu ini cepat-cepat angkat kaki dari hadapannya.
“Acara apa?” tanya Elle penasaran, kedua matanya yang diberi perona tebal mengerjap-ngerjap menatap Millian dengan binar penuh selidik.
James tersenyum penuh arti, sebuah senyuman misterius yang mendadak membuat Millian merasa ada sesuatu yang tidak beres sedang direncanakan oleh sahabatnya itu.
“Acara penyambutan mahasiswa baru untuk angkatan bawah. Outdoor education. Kebetulan, kami berdua sudah terdaftar sebagai bagian dari tim mentorship camp yang bertugas membimbing mahasiswa dan mahasiswi baru di alam terbuka nanti. Iya kan, YANG?”
Mendengar nama kecilnya ditekankan dengan nada penuh intrik oleh James, Millian hanya bisa menghembuskan napas panjang dari hidungnya.
Mau tidak mau, ia harus menjaga wibawanya di depan orang lain. “Hmm... ya. Kami bahkan akan menginap di asrama perkemahan selama tiga hari berturut-turut untuk mengawasi mereka.”
Mendengar bahwa dua pangeran kampus itu akan menghabiskan waktu di sebuah perkemahan asrama yang dianggap membosankan ketimbang berpesta di Eropa, Rosenia dan Elle langsung memasang wajah lesu.
Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, kedua gadis itu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruang kelas dengan hentakan sepatu hak tinggi yang terdengar kesal.
Begitu siluet kedua gadis itu menghilang di balik pintu, Millian langsung berbalik badan, mencengkeram kerah jaket James dengan ekspresi wajah yang siap menerkam.
“Wah, kau benar-benar kurang ajar, James! Sejak kapan aku setuju untuk ikut acara konyol seperti itu, hah? Aku tidak pernah berniat ikut acara mentorship mahasiswa baru!” omel Millian dengan gusar, melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar.
“Aku lebih baik menghabiskan waktu liburanku di mansion, bermain dan mengawasi adik-adik kecilku ketimbang harus mengurus ratusan anak baru yang berisik!”
James buru-buru mengangkat kedua tangannya di udara, memasang wajah memohon yang jenaka untuk meredakan amarah sang bad boy Bel Air.
“Aku sudah terlanjur mendaftarkan namamu ke sekretariat panitia kemarin malam, Yang. Maafkan aku, brother. Tapi ayolah, ini hanya tiga hari saja! Lagipula, kau butuh pengalihan suasana baru. Sekali-kali bersenang-senanglah di dunia luar dengan manusia nyata, selain hanya menghabiskan seluruh waktumu mengurus modifikasi mesin mobil sport mewah itu!”
Millian terdiam sejenak, menatap James dengan pandangan tajam yang perlahan meredup menjadi helai napas pasrah.
Tiga hari di asrama perkemahan bersama anak-anak baru dari berbagai penjuru daerah terdengar seperti sebuah hukuman mati baginya, namun ia tahu James benar—ia butuh sesuatu untuk mengalihkan otaknya dari bayangan wajah pelayan yang semalam sukses menginjak-injak harga dirinya dengan potongan kue tar.
apa bisa up yg banyak biar aku semakin mager
pleaseeee
tinggal ketahap talking stage 🤣🤣🤣