NovelToon NovelToon
SUAMI PILIHAN KU SEORANG WARIA

SUAMI PILIHAN KU SEORANG WARIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Danica

Kirana Aqilla, 20 tahun, gadis yatim piatu yang ditinggal kedua orang tuanya karena kecelakaan Ia dijodohkan dengan ustadz beristri tiga.
Tampa sengaja Ia ketemu waria dengan blezer pink di tengah hujan deras. yang menyediakan payung dan tissue untuknya tampa diminta. Nggak ada yang sempurna di antara mereka. Kirana membawa trauma 20 tahun hidup dicecar sebagai pembawa Sial. Saqir membawa luka dibuang keluarga karena jadi dirinya sendiri. Ini bukan kisah cinta yang berisik. Ini kisah tentang dua orang patah yang belajar nerima, saling jagain pas jatuh, dan berjuang pulang bareng. Sedihnya bikin nangis. Lucunya bikin ketawa tengah malam. Romantisnya pelan. Tenangnya bikin pulang. Karena kadang, pulang itu bukan rumah. Pulang itu orangnya.

Dunia bilang mereka nggak pantas bersama. Keluarga Kirana bilang waria itu aib. Ustadz Yusuf bilang Kirana harus balik. Tapi di kontrakan sempit itu, untuk pertama kalinya Kirana merasa aman. Untuk pertama kalinya Saqir merasa diterima.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Danica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pilih Menikah Atau Pergi Dari Pondok***

Subuh baru lewat. Ayam masih berkokok. Beranda pondok udah rame.

Bukan rame santri ngaji. Rame emak-emak. 20 orang lebih. Pake mukena, bawa spanduk kardus tulisan spidol item belepotan:

_TOLAK KIRANA DURHAKA!_

_NIKAHIN USTADZ YUSUF! DEMI MASA DEPAN ANAK KAMI!_

_KALO PONDOK TUTUP, SIAPA YANG NGAJARIN ANAK KAMI NGAJI?!_

Yang paling depan: Bik Narti. Mukanya merah, kerudungnya miring. Dia ipar Bik Asih. Dari dulu benci Kirana karena Kirana pinter ngaji, anak-anaknya nggak.

"Teriak semua Bu! Biar Pak Syarif denger! Biar Kirana denger!" Bik Narti komando pake toa butut. Suaranya pecah, tapi kenceng.

"PAK SYARIF KELUAR! JUAL ANAK DURHAKA ITU! KAWINKAN SAMA USTADZ YUSUF! JANGAN BIKIN ANAK KAMI GAGAL NGAJI!"

Paman Syarif keluar dari dalem. Baju koko masih kusut, sarungnya kebalik. Matanya sembab, nggak tidur semaleman gara-gara debat sama Bik Asih.

Di belakangnya Kirana. Kemeja Biru polos, jilbab pudar. Tangannya gemeter megang ujung bajunya. Bibirnya pecah-pecah. 3 hari disekap + 1 hari ziarah \= badannya remuk.

"Astghfirullah Bu... Bu Narti... ini ada apa Bu pagi-pagi Bu..." Paman Syarif angkat tangan. Suaranya gemeter.

Bik Narti maju. Toa ditaruh. Jarak 1 meter sama Paman Syarif. "Ada apa?! Kamu tanya ada apa Pak?! Anak-anak kami mau jadi apa Pak kalo pondok tutup?! Ustadz Yusuf udah bilang: kalo Kirana nggak mau nikah, donasi stop Pak! 40 santri mau makan apa Pak?! Mau ngaji pake daun?!"

Emak-emak langsung sahut, kompak: "BETUL! KAWINKAN! KAWINKAN! KAWINKAN!"

Suara "KAWINKAN" itu kayak palu. _Duk. Duk. Duk._ Nancep ke kepala Kirana. Lututnya lemes.

Bik Asih keluar dari dapur. Senyum. Senyum kemenangan. Dia bisik ke kuping Paman Syarif, "Tuh Mas denger Mas. Bukan ibu aja yang mau. Orang tua murid juga mau Mas. Mas mau nanggung dosa 40 anak gagal ngaji Mas?"

Paman Syarif keringet dingin. Bahunya makin bungkuk kayak dipikul genteng. "Bu... Bu Narti... nikah itu nggak bisa dipaksa Bu. Kirana nggak ridh. Kalo dipaksa, nggak sah Bu..."

"SAH NGGAK SAH URUSAN USTADZ!" Bik Narti motong. Dia noleh ke belakang, narik tangan seorang bapak-bapak. "Pak RT! Bilang Pak RT! Kalo pondok tutup, anak Bapak mau ngaji di mana Pak RT?!"

Pak RT, bapak-bapak 50 tahun, maju. Mukanya sungkan, tapi tetep ngomong karena istrinya nyubit dari belakang. "Pak Syarif... maaf ya Pak... kami nggak maksa Pak... tapi... tapi demi anak-anak kami Pak... tolong Pak... bujuk Kirana ... nikah aja Pak sama Ustadz Yusuf... Ustadznya kaya... sholeh Pak... anak kami bisa sekolah gratis.."

Kirana mundur selangkah. Sandalnya copot sebelah. Dia nggak ngerasain. Dadanya sesek. Kayak diiket 40 tali. Satu tali \= satu anak santri.

_Kirana jahat ya Allah... Kirana egois ya Allah... tapi Ya Allah Kirana nggak mau jadi istri keempat Ya Allah..._ bisiknya dalam hati. Tapi nggak ada suara yang keluar.

Bik Narti langsung nunjuk Kirana pake jari telunjuk. Kukunya panjang, catnya luntur. "KAMU KIRANA! MAJU SINI! JAWAB! KAMU MAU NIKAH ATAU KAMU MAU PERGI DARI PONDOK INI! PILIH! SEKARANG JUGA! JANGAN BIKIN 40 ANAK JADI KORBAN!"

Semua mata nyorot ke Kirana. 20 emak-emak. 5 bapak-bapak. 40 santri ngintip dari jendela. Ustadz Yusuf nggak dateng, tapi utusannya ada: sopir Pajeronya nunggu di luar gerbang, ngerokok.

Kirana mau ngomong. Bibirnya kebuka. "Bibi... Kirana..."

"KIRANA DIEM!" Bik Asih bentak dari belakang. Nyubit pinggang Kirana lagi. Kali ini lebih kenceng. Sampe Kirana mau nangis. "Jawab yang bener! Kalo kamu bilang nggak, kamu pergi! Kalo kamu bilang iya, kamu nikah! Nggak ada pilihan ketiga!"

Paman Syarif mau nahan, tapi 3 bapak-bapak megang bahu Paman. "Udah Pak Syarif... ikhlasin Pak... demi anak-anak kami Pak..."

Kirana jatuh berlutut di tanah lapangan. Tanahnya kering, berdebu. Lututnya lecet lagi. Tapi dia nggak ngerasain sakit. Yang sakit: 40 pasang mata natap dia kayak dia penjahat.

Air matanya jatuh. Netes ke debu. Jadi lumpur kecil.

"Kirana... Kirana..." suaranya nggak keluar. Serak. Tenggorokannya kayak disumpel kain basah.

Bik Narti jongkok depan Kirana. Mukanya deket banget. Bau bedak + keringet. "Pilih Kirana! Cepet! Nikah sama Ustadz Yusuf! Atau angkat kaki dari pondok ini! Jangan jadi biang kerok! 40 anak kami masa depannya di tangan kamu!"

Kirana ngangkat muka. Matanya bengkak, merah. Dia liat ke Paman Syarif. Paman nunduk. Nggak berani natap. Bahunya kejang. Paman nangis tanpa suara.

Kirana ngerti. Paman udah nggak bisa ngapa-ngapain. 40 orang tua demo. Kalo Paman lawan, besok pondok disegel warga.

Jadi Kirana... harus milih sendiri. Milih neraka yang mana.

Angin berhenti. Jangkrik diem. 40 orang nahan napas. Nunggu jawaban Kirana.

Kirana ngusap air mata pake punggung tangan. Kotor. Tapi dia nggak peduli.

Dia narik napas. Dalem. Sampe dadanya mau pecah. Terus dia ngomong. Pelan. Pecah. Tapi semua orang denger karena sepinya mencekam.

"Kirana... Kirana pilih pergi Bibi... Pak RT... Bu Narti... semua..."

Hening 2 detik.

Terus... _Wuuuuhhhh..._ Sorakan. Tapi bukan sorakan seneng. Sorakan kecewa + marah + lega campur aduk.

"NAUZUBILLAH! DURHAKA KAMU KIRANA!" Bik Narti teriak. Toanya diambil lagi. "DENGER SEMUA! KIRANA MILIH PERGI! DIA NGGAK PEDULI 40 ANAK KITA! DIA MAU PONDOK INI TUTUP!"

Emak-emak langsung kompor. "USIR! USIR! USIR KIRANA! PENGKHIANAT! ANAK DURHAKA!"

Bik Asih tepuk tangan. _Plak plak._ "Alhamdulillah akhirnya ngaku juga kamu Kirana. Pergi kamu! Angkat kaki! Jangan injak tanah pondok ini lagi! Sial!"

Paman Syarif langsung jongkok, megang bahu Kirana. "Nak... Nak... kamu yakin Nak? Paman... Paman nggak bisa nahan mereka Nak... Paman lemah Nak... Maafin Paman Nak..." Air matanya netes ke kerudung Kirana.

Kirana senyum. Senyumnya pait. Senyum orang yang udah mati rasa. "Paman... Kirana ngerti Paman... Kirana nggak nyalahin Paman Paman... Paman udah jagain Kirana 10 tahun Paman... Udah cukup Paman... Kirana pergi Paman... biar Paman nggak dosa Paman... biar 40 santri nggak ngungsi Paman..."

Dia berdiri. Lututnya goyang. Sandal sebelah dipake. Sebelah lagi ditinggal. Gamis putihnya kotor debu.

Bik Narti maju lagi. Nyodok jidat Kirana pake telunjuk. "Pergi kamu! Sekarang juga! Jangan bawa apa-apa! Baju di badan aja! Itu pun sedekah pondok! Miskin kamu! Mampus kamu di jalanan!"

Santri-santri pada nangis di jendela. "Ustadzah Kirana jangan pergi Ustadzah... kami sayang Ustadzah..."

"Tutup mulut kalian!" Bik Asih bentak ke santri. "Dia yang mau pergi! Dia yang nggak sayang kalian!"

Kirana nengok ke belakang sekali. Ke kamar 2x2 tempat dia disekap 3 hari. Ke mushola tempat dia ngajar TPA 5 tahun. Ke pohon mangga tempat dia duduk ngaji sama Paman.

10 tahun hidupnya di situ. Habis dalam 5 menit karena satu kata: "pergi".

Dia jalan. Pelan. Ke arah gerbang. Nggak nengok lagi. Kalo nengok, dia nggak kuat.

Di belakangnya, emak-emak terus nyorakin, "PERGI! PERGI! JANGAN BALIK LAGI! BAWA SIAL KAMU!"

Sopir Pajero Ustadz Yusuf ngeliat dari luar. Ngak kecil. Ngeluarin HP, videoin. "Buat laporan ke Ustadz Bu. Tuh, anak durhakanya diusir Bu."

Paman Syarif mau nyusul, tapi Bik Narti nahan. "Jangan Pak! Kalo Bapak ikut, Bapak juga keluar dari pondok! Pilih Pak! Pondok atau keponakan Bapak!"

Paman Syarif berhenti. Bahunya kejang. Dia milih pondok. Milih 40 anak. Ngorbanin 1 keponakan.

Kirana denger langkah Paman berhenti. Hatinya remuk. Tapi langkahnya nggak berhenti.

_Tek... tek... tek..._ Suara sepatu bututnya.

Gerbang dibuka. Kirana keluar.

Gerbang ditutup lagi. _Brak._ Digembok dari luar.

Kirana resmi: anak durhaka. Pengkhianat 40 santri. Gelandangan umur 20 tahun.

Kirana berjalan dengan berurai air mata. Ditangannya hanya ada buku diary dan jaket dari Saqira. Ia berjalan tidak tentu arah. Ini permulaan hidup barunya. Setelah 20 tahun selalu patuh. Disiksa batin dengan kata 'Anak Sial'

1
Miss Danica
@Sarah inilah uniknya. baca terus ya.. novel ini menarik banyak pesan moral dan pertentang etika.
Sarah
Masa iya sih... di pondok itu gak ada seorang pun yang rada bener. Sekelas pondok pesantren, lho ini. Masa sih masih pada percaya sama yang namanya “Orang yang jadi pembawa sial”. Itu kan mendekati musyrik juga. Percaya sesuatu semacam itu. Pondoknya yang di kampung banget kah? Sampai gak ada satu pun yang kuat iman gitu? Atau pondoknya... pondok-pondok sesat kayak di berita-berita? 😕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!