Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 — Cemburu yang Tidak Diakui
Pagi di rumah Aishani dan Idrissa dimulai dengan suasana yang tidak lagi sepenuhnya dingin.
Di ruang makan besar, seluruh keluarga sudah berkumpul.
Aishani duduk dengan senyum lembut seperti biasa, menata suasana agar tetap hangat. Idrissa duduk tegak dengan sikap tenang seorang pemimpin keluarga. Kakek dan nenek Jifan terlihat sangat menikmati kebersamaan itu, terutama saat mata mereka sesekali jatuh pada Diara.
Diara duduk dengan sopan.
Abaya sederhana dipadukan dengan jilbab syar’i yang rapi. Ia menjaga sikap seperti biasa, tenang, tidak berlebihan, tidak menonjol.
Di sampingnya, Jifan duduk diam.
Seperti biasa.
Namun kali ini, ada sedikit perbedaan kecil yang tidak disadari orang lain.
Ia tidak terlalu jauh dari Diara seperti biasanya.
“Diara, kamu harus lebih sering datang ke sini,” ucap nenek Jifan sambil tersenyum hangat.
Diara tersenyum sopan.
“InsyaAllah, Nek.”
Kakek Jifan mengangguk puas.
“Jifan sekarang terlihat lebih… tidak terlalu kaku sejak kamu ada di sini.”
Semua mata sekilas tertuju pada Jifan.
Namun pria itu hanya meneguk airnya dengan tenang.
Tidak membantah.
Tidak mengiyakan.
Seperti biasa.
Tapi Diara menangkap sesuatu yang kecil.
Ia tidak menolak kalimat itu.
Sarapan berlangsung lebih lama dari biasanya.
Aishani banyak berbicara ringan, sementara kakek dan nenek Jifan sesekali bercanda kecil yang membuat suasana rumah itu terasa lebih hidup dari mansion Jifan yang biasanya sunyi.
Diara tidak banyak bicara, tapi ia mendengarkan dengan nyaman.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sepenuhnya asing di tengah keluarga itu.
Setelah selesai, mereka berpamitan.
Diara berdiri lebih dulu.
“Terima kasih atas sarapannya,” ucapnya sopan.
Kakek Jifan tersenyum.
“Jaga Jifan baik-baik ya.”
Diara sedikit tersenyum canggung.
“Iya, Kek.”
Jifan hanya mengangguk kecil.
Tidak banyak kata.
Namun ia berdiri di samping Diara, tidak meninggalkan ruangan lebih dulu.
Hal kecil itu saja sudah cukup berbeda.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah
berada di mobil.
Hanya berdua.
Seperti biasa.
Mobil hitam melaju keluar dari halaman rumah Aishani, membelah jalanan Jakarta yang mulai sibuk.
Keheningan kembali hadir di dalam mobil.
Namun kali ini tidak terlalu berat.
Lebih… netral.
Diara menatap ke luar jendela.
Gedung-gedung tinggi mulai terlihat.
Dan di antara itu, ada gedung perusahaan miliknya.
Perusahaan desain interior yang dulu kecil, kini mulai berkembang lebih besar. Nama Diara Interior Studio sudah mulai dikenal di kalangan klien premium.
“Turun di kantor?” suara Jifan tiba-tiba terdengar.
Diara menoleh sedikit.
“Iya.”
Jifan mengangguk pelan.
“Jam berapa pulang?”
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi bagi Diara, terasa sedikit berbeda.
“Belum pasti,” jawabnya jujur. “Ada meeting terakhir sore.”
Jifan mengangguk lagi.
Tidak menambah komentar.
Namun tangannya di kemudi sedikit mengetuk pelan, hampir tidak terlihat.
Di depan gedung kantor Diara, mobil berhenti.
Gedung modern dengan kaca besar itu terlihat lebih sibuk dari biasanya.
Diara bersiap turun.
Namun sebelum ia membuka pintu, Jifan berbicara lagi.
“Kalau sudah selesai, kirim pesan.”
Diara menoleh.
“Kenapa?”
Jifan diam sepersekian detik.
“Biar saya tahu.”
Kalimat itu sederhana.
Namun tidak terdengar seperti aturan.
Lebih seperti… kebiasaan baru yang tidak ia jelaskan.
Diara mengangguk kecil.
“Baik.”
Lalu turun dari mobil.
🪻🪻🪻🪻
Di dalam kantor, suasana langsung sibuk.
Sekretaris Diara, seorang wanita yang sedikit lebih dewasa dari Diara, bernama Hara, sudah menunggu di ruang kerja.
Hara dikenal rapi, cepat, dan sangat teliti.
“Bu Diara, ini jadwal hari ini,” katanya sambil menyerahkan tablet.
Diara membaca sekilas.
Meeting desain proyek apartemen premium.
Review konsep interior café.
Dan satu agenda terakhir.
“Meeting dengan klien Arshaka Aradhana.”
Diara menoleh.
“meetingnya di sini kan?”
Hara mengangguk.
“Ya, Bu. Dia ingin finalisasi konsep proyek sebelum minggu depan.”
Diara menghela napas pelan.
“Baik.”
Hari berjalan seperti biasa.
Meeting demi meeting.
Diskusi desain.
Revisi konsep.
Semua berjalan cepat.
Diara tenggelam dalam pekerjaannya.
Dan untuk beberapa jam, pikirannya tidak kembali ke rumah.
Sampai sore tiba.
Dan semua itu berubah.
Di depan pintu masuk perusahaan setelah meeting selesai.
Arshaka berdiri dengan santai, memegang dokumen di tangannya.
“Final revisi ini sudah oke. Kamu benar-benar detail banget,” katanya sambil tersenyum.
Diara mengangguk pelan.
“Harus sesuai standar klien.”
Shaka tertawa kecil.
“Tapi kamu terlalu keras sama diri sendiri.”
Diara tidak menjawab.
Dan di saat itu…
sebuah mobil hitam berhenti di depan gedung.
Jifan turun.
Matanya langsung menangkap dua orang di depan pintu.
Diara.
Dan Shaka.
Langkah Jifan berhenti sepersekian detik.
Ekspresinya tetap tenang.
Tapi tatapannya tidak.
Shaka melihatnya lebih dulu.
“Oh, itu suamimu?” tanyanya santai.
Diara menoleh.
“Iya.”
Shaka tersenyum kecil.
“Kalau begitu pulang dulu, Diara.”
" iya silahkan" jawab Diara sopan.
Jifan berdiri tidak jauh dari mereka.
Tidak berkata apa pun.
Namun matanya tidak lepas dari Shaka.
Ada sesuatu yang berbeda di sana.
Bukan dingin seperti biasanya.
Tapi lebih tajam.
Lebih… terkontrol dengan keras.
Shaka mengangkat tangan sedikit.
“Baiklah. Hati-hati ya.”
Diara mengangguk sopan.
“Terima kasih.”Shaka pergi.
Diara berjalan menuju Jifan.
Mobil sudah menunggu.
Tidak ada percakapan di antara mereka saat itu.
Namun udara di sekitar mereka terasa sedikit berbeda.
Lebih padat.
Di dalam mobil, Jifan tetap diam.
Mobil melaju.
Beberapa menit berlalu.
Akhirnya Jifan berbicara.
“Mau makan di mana?”
Diara menoleh.
“Bebas.”
Jifan mengangguk.
“Restoran?”
Diara berpikir sebentar.
Lalu menggeleng.
“Warung saja.”
Jifan menoleh sekilas.
“Warung?”
“Iya,” jawab Diara santai. “Ayam goreng, sambal, lalapan.”
Hening.
Jifan tidak langsung menjawab.
Namun beberapa detik kemudian—
“Baik.”
Warung makan pinggir jalan itu sederhana.
Meja kayu, kursi plastik, lampu kuning redup.
Tidak mewah.
Tidak formal.
Tapi hidup.
Diara duduk tanpa canggung.
Jifan ikut duduk.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar berada di tempat seperti ini bersama Diara.
“Ayam goreng dua,” pesan Diara.
“Tambahkan sambal lebih,” kata Jifan pelan.
Penjual mengangguk.
Beberapa menit kemudian, makanan datang.
Diara makan dengan tenang.
Jifan mengikuti.
Tidak banyak bicara.
Namun kali ini… tidak ada jarak dingin seperti biasanya.
Hanya keheningan yang lebih manusiawi.
Setelah selesai, mereka kembali ke mobil.
Di jalan pulang, Jifan menatap jalan beberapa saat.
Lalu berkata pelan.
“kelihatannya Shaka sering sekali aku melihatnya bersamamu?”
Diara menoleh.
“Dia klien.”
Jifan tidak langsung menjawab.
Namun rahangnya sedikit mengeras.
Diara memperhatikan itu.
Lalu berkata pelan.
“Mas Jifan… cemburu?”
Jifan langsung menjawab.
“Tidak.”
Terlalu cepat.
Diara tidak tersenyum.
Tapi matanya sedikit melembut.
“Kalau cemburu, juga tidak apa-apa.”
Hening.
Mobil terus melaju.
Namun untuk pertama kalinya…
keheningan di antara mereka tidak lagi sepenuhnya kosong.
Ada sesuatu yang mulai mengisi ruang itu.
Dan Jifan…
tidak lagi bisa mengabaikannya.