Alina Mahendra, pengacara berhijab sukses dan berprinsip, akhirnya siap mengikat janji suci dengan Farhan Adhitama—pemuda cerdas, gagah, ahli karate, dan pemilik hati yang ia tunggu bertahun‑tahun lamanya. Namun di tengah persiapan bahagia itu, musuh lama kembali muncul dengan wajah baru. Raka Haris kini bersembunyi di balik nama dan topeng pengusaha terhormat, menjalankan bisnis jauh lebih jahat dari ayahnya dulu, dengan satu tujuan tunggal. Menghancurkan Alina sehancur‑hancurnya tepat sebelum pernikahannya berlangsung.
Kebenaran tampak begitu jelas di mata hukum, namun siapa sangka di baliknya tersimpan kebohongan yang dirancang sedemikian rupa. Akankah cinta dan keteguhan mereka cukup menyingkap DI BALIK TOPENG KEBENARAN itu sebelum semuanya terlambat?
Bantu dukung karya ini dengan subscribe, like, komentar dan beri hadiah dan bintang jika suka ya... Terimakasih banyak 🙏😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: TAMU YANG DIANGGAP KELUARGA
...BAB 5...
...TAMU YANG DIANGGAP KELUARGA...
Matahari baru saja naik tinggi menyinari halaman rumah. Udara luar terasa hangat damai, tapi di dalam hati Alina dan Farhan rasanya masih berat. Semalam mereka baru menemukan satu alat sadap kecil di balik bingkai foto, dan pesan tertulis di belakang foto masih berputar terus di kepala, masih ada sembilan lagi.
Mereka berjalan pelan ke teras terbuka, satu‑satunya tempat yang berangin kencang, dan menurut mereka rasa yang paling aman kalau mau bicara pelan‑pelan. Belum sempat satu kalimat utuh terucap, deru mesin halus terdengar mendekat. Mobil hitam mengkilap melaju pelan lalu berhenti persis di depan pagar.
Turunlah Arka Pradana. Berjas rapi, membawa beberapa kotak makanan dan buah, senyumnya terukir lebar, tulus, dan rendah hati sekali.
Alina seketika menahan napas dalam‑dalam. Jari‑jarinya otomatis menangkup rapat di dada. Entah kenapa, setiap lihat senyum itu, selalu ada bayangan wajah seseorang dari masa lalu yang lewat sekilas. Terlalu mirip. Tapi selalu saja ia tepis dalam hati ''masak iya sih. Sudah hampir sepuluh tahun dia hilang tanpa jejak."
Farhan di sampingnya otomatis berdiri lebih tegap, bahu melebar lebar, sorot matanya tajam mengamati setiap gerak‑gerik pemuda itu dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Banyak hal kecil yang terasa aneh, terlalu pas, terlalu mirip. Tapi sampai detik itu juga, belum ada satu bukti mati yang bisa mengunci semuanya. Cuma firasat. Cuma curiga.
“Assalamu’alaikum… maaf ya datang pagi‑pagi sekali tanpa memberi kabar dulu,” sapanya lembut sekali, suaranya berat dan halus, persis nada bicara yang sering muncul di mimpi buruk lama Alina. “Saya dengar dari tetangga sekitar kemarin malam ada hal kurang enak, jadi memberanikan diri mampir sekadar bawa sedikit buah tangan dan memastikan Bapak Ibu sekeluarga sehat saja.”
Bu Kirana baru saja keluar dari dapur, langsung menyambut lebar‑lebar senyumnya sambil berjalan cepat membukakan pagar sendiri.
“Wa’alaikumsalam Nak, Maa Syaa Allah, kamu baik sekali mau mampir kemari. Masuklah, masuklah,” katanya gembira sekali. “Kedatanganmu saja sudah bikin senang, kok repot‑repot bawa segala macam begini.”
Selama hampir satu jam mereka duduk di ruang tamu. Arka duduk tenang, selalu sedikit membungkuk tanda hormat, tidak pernah memotong omongan orang, mendengarkan setiap cerita Bu Kirana dengan mata memandang sungguh‑sungguh. Sampai‑sampai saat Bu Kirana bercerita dulu pernah membesarkan Dimas sendirian dan sempat mengalami kecelakaan berat, mata pemuda itu benar‑benar berkaca‑kaca.
“Kamu memiliki hati emas Nak,” kata Bu Kirana tulus sambil mengusap pundak lebar Arka. “Jujur saja ya, rasanya kamu itu sudah kayak anak kandung Ibu sendiri.”
“Iya benar begitu kata Ibu,” timpal Pak Aditya sambil mengangguk‑angguk takjub. “Banyak pengusaha besar yang saya temui, rata‑rata penuh dengan kepura‑puraan. Kalau kamu beda. Rendah hati sekali.”
Alina cuma duduk diam agak menjauh, sesekali tersenyum paksa saja. Farhan pun sama, jarang bicara, lebih banyak mengamati. Hati mereka berdua sama‑sama berdebar kencang. Di depan mata mereka, pria itu sedang memerankan sosok paling sempurna sedunia, dan yang paling perih. Orang‑orang yang paling mereka sayangi justru yang paling mudah percaya bulat‑bulat.
Sesaat kemudian dengan gerakan sangat halus dan wajar, Arka mengulurkan tangan hendak mengelus lembut bahu Bu Kirana sebagai tanda menghiburnya. Belum sempat kulitnya bersentuhan dengan kain baju wanita itu, Alina sudah sigap melangkah selangkah maju dengan sopan namun tegas. Ia tersenyum anggun, lalu dengan halus menyelipkan badannya tepat di tengah‑tengah mereka.
“Ibu, biar Alina saja yang rapikan kerudung Ibu yang agak miring ini ya,” ucapnya halus tapi cukup jelas terdengar semua orang. Sekaligus memutus ruang gerak Arka seketika. “Terima kasih banyak ya perhatiannya, Tuan Arka. Keluarga kami sangat berterima kasih sekali.”
Senyum di bibir Arka berkedip kaku sepersekian detik saja. Sangat cepat, sampai orang lain hampir tidak sadar. Tapi Alina dan Farhan melihatnya jelas. Ada kilatan dingin yang melintas sebentar di bola matanya, lalu hilang lagi seolah tak pernah ada.
“Sama‑sama Nona Alina. Saya cuma khawatir saja,” jawabnya santai, lalu beralih bicara lagi seolah tak terjadi apa‑apa. “Ngomong‑ngomong, saya perhatikan lingkungan rumah ini agak sepi dan jauh dari keramaian ya Pak Bu? Kalau boleh saya tawarkan, nanti saya kirimkan tim pasang sistem keamanan canggih dari perusahaan saya. Kamera, sensor gerak, semuanya. Saya berikan cuma-cuma, tidak dipungut biaya sepeser pun. Supaya malam‑malam Bapak Ibu bisa tidur lebih tenang.”
“Waduh, alhamdulillah sekali nak! Terima kasih banyak perhatiannya, sungguh kamu terlalu baik,” seru Bu Kirana gembira, diikuti anggukan senang dari Pak Aditya.
Hanya Alina dan Farhan yang saling berpandangan sekilas dalam diam. Mereka paham betul. Itu sama sekali bukan bantuan. Itu cuma cara liciknya mengganti alat sadap yang kemarin ketahuan, dengan yang baru jauh lebih canggih dan sulit dilacak.
Tak lama kemudian Arka pamit pulang dengan senyum yang makin bersinar. Begitu mobilnya hilang di tikungan jalan, Bu Kirana masih terus‑menerus memuji‑muji dia sampai berulang kali. Hati Alina rasanya perih sekali. Ingin rasanya dia berteriak bilang ada banyak sekali hal ganjil, ada kemiripan‑kemiripan menakutkan dengan sosok dari masa lalu. Tapi dia tahan diri. Belum ada bukti yang kuat. Kalau dia bicara sekarang, dia cuma akan terlihat seperti gadis yang penuh prasangka buruk saja.
Mereka berdua berjalan pelan menyusuri pagar sisi luar rumah, di tempat angin berhembus paling kencang, jadi suara mereka dijamin tidak akan tertangkap alat apa pun.
“Kamu juga merasakannya kan, Han?” bisik Alina pelan sekali, suaranya bergetar campuran bingung dan takut. “Banyak banget hal kecil yang… persis banget sama dia. Cara ngomongnya, cara senyum, cara dia memiringkan kepala sedikit kalau lagi dengar orang bicara. Sering banget aku merasa… aku sedang berhadapan dengan Raka. Tapi… tapi masak iya sih dia berani sedekat ini ke rumah kita? Sudah hampir sepuluh tahun, dia menghilang tanpa jejak.”
Farhan menghela napas panjang, tangannya menggaruk tengkuknya pelan, wajahnya tampak berat sekali.
“Aku juga merasakan hal yang sama persis, Lin. Dari pertama kali kita ketemu di gedung kemarin. Firasatku sebagai orang yang latihan bela diri bertahun‑tahun berteriak begitu. Banyak sekali kejanggalan, banyak kemiripan yang tidak mungkin cuma kebetulan belaka. Tapi…” Ia berhenti sebentar, lalu menggeleng pelan. “…sampai detik ini juga aku tidak bisa bilang dengan pasti, dia adalah Raka Haris. Cuma firasat saja. Belum ada bukti yang bisa mengunci semuanya.”
Baru saja kalimat itu selesai, ujung sepatu Farhan terbentur sesuatu yang kecil dan keras tertanam setengah di tanah dekat tiang pagar. Ia membungkuk mengambilnya. Benda hitam seukuran biji jagung, lampu kecilnya berkedip merah pelan sekali.
Yang kesepuluh.
Tepat di detik yang sama, dari ujung jalan yang agak jauh, mobil hitam Arka yang tadi dikira sudah pergi ternyata berhenti sebentar. Kaca jendelanya diturunkan sedikit. Dari balik kegelapan di dalam kabin, terlihat jelas sebuah tangan terangkat pelan, lalu melambaikan santai sekali ke arah mereka berdua.
Tidak ada suara. Tapi pesannya terasa sampai jelas ke hati.
Kalian baru saja menemukan yang kesepuluh. Tapi ingat ya… permainan baru saja dimulai.
Mereka berdua membeku di tempat. Kecurigaan itu kini setinggi gunung. Tapi sampai detik itu, mereka berdua belum punya bukti pasti siapa dia sebenarnya.
Bersambung....
Untuk menyemangati author biar bisa update setiap hari. Jangan lupa beri like dan komentarnya yang rame yaaa... Oke kakak" baik semua... Terimakasih banyak sudah mampir ❤️
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉
Tapi sayang yaaa, genre-nya nggk sesuai sama aku... 😂😂😂 di sini, genre-nya tertulis "Pembalasan Wanita" 😁😁😁🙏