"Angka? "
angka yang muncul diatas kepala Ivy, setelah mendapatkan diagnosa dari dokter tentang batas akhir hidupnya.
Ivy yang menghargai setiap waktu, memutuskan untuk hidup untuk dirinya. karena selama ini dia setelah kembali ke keluarga Dermawan. Ivy hidup seperti boneka, membahagiakan orang lain dan bersaing dengan Oliv saudara angkatnya.
Dengan bantuan mamanya yang mengetahui penyakitnya, Ivy melepaskan diri dari otoriter ayahnya.
Hidupnya berwarna disaat akhir hidupnya, saat bersama warga desa Gemilang. sambil memikirkan cara menambah angka hidupnya, sampai suatu hari dia tidak sengaja mencium Rama cahya yang merupakan paman mantan tunangannya.
Yang bisa menambah hari angka kehidupannya,akhirnya Ivy mendapatkan cara agar dirinya bisa hidup lebih lama.
Tapi sepertinya Ivy mengalami kesulitan, karena Rama bukan pria yang mudah didekati wanita.
Bisakah Ivy terus dekat dengan Rama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18.Rasa kesal dan kejadian yang tak terduga.
Di ruang tunggu salon mewah itu, suasana terasa semakin tidak tenang. Nyonya Lusi terus melirik ke arah pintu masuk, jari-jarinya meremas ujung sapu tangannya dengan cemas. Sudah hampir satu jam Ivy dan Bibi Nora pergi, namun belum juga kembali. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi kekhawatiran yang nyata.
Melihat keadaan itu, Oliv yang sedang duduk santai sambil membalut kuku dengan cat berwarna merah muda tersenyum tipis, lalu bersuara dengan nada yang terdengar perhatian namun menyembunyikan niat lain.
“Ma, jangan terlalu cemas begitu. Mungkin Ivy hanya ingin bersenang-senang sendiri sebentar. Lagipula, dia sudah besar dan bisa menjaga dirinya sendiri. Tapi memang dia agak keterlaluan membuat Mama menunggu dan khawatir seperti ini,” ucapnya seolah sedang membela ibunya, padahal berusaha menanamkan kesan buruk tentang Ivy.
Namun, Nyonya Lusi hanya menggeleng pelan tanpa menoleh ke arah Oliv. Ia terlalu mengenal perangai kedua putrinya itu. “Tidak, Oliv. Ivy bukan tipe gadis yang suka menghilang tanpa kabar. Pasti ada alasan mengapa dia lama sekali.”
Belum lama berselang, pintu ruangan terbuka dan Ivy masuk bersama Bibi Nora. Wajah Ivy terlihat murung dan sedikit pucat, matanya menatap lantai seolah sedang memendam kekesalan yang mendalam.
“Ivy, sayang! Kamu dari mana saja? Mama sudah khawatir setengah mati,” seru Nyonya Lusi segera berdiri dan mendekat, meraba wajah serta lengan putrinya untuk memastikan tidak ada yang terluka.
“Maaf, Nyonya. Kami hanya berjalan-jalan sebentar dan mencari aksesoris yang cocok untuk malam ini. Tidak ada masalah apa pun,” jawab Bibi Nora cepat, mencoba menjelaskan agar Nyonya Lusi tidak bertanya lebih jauh.
Ivy hanya mengangguk pelan sebagai tanda setuju, namun tetap diam dan tidak banyak bicara. Ia masih teringat ucapan kasar dan dingin yang keluar dari mulut Rama tadi, membuat hatinya terasa perih sekaligus kesal.
Melihat ekspresi anaknya yang berbeda dari biasanya, Nyonya Lusi segera mengerti ada sesuatu yang mengganggu pikiran Ivy. “Baiklah, kalau begitu. Ayo duduk dan biarkan mereka merawat wajahmu sebentar. Mungkin setelah rileks, perasaanmu akan terasa lebih baik,” ujarnya lembut sambil menuntun Ivy ke kursi perawatan.
Selama proses perawatan berlangsung, Nyonya Lusi duduk tepat di samping Ivy, sesekali menyisir rambut putrinya dengan lembut dan berbicara hal-hal ringan untuk menenangkannya. Kedekatan ibu dan anak yang terlihat begitu hangat itu membuat hati Oliv terasa terbakar iri. Selama ini, dengan kata-kata manja dan tuduhan halus, ia selalu berhasil membuat Nyonya Lusi memihaknya dan meragukan Ivy. Namun kali ini, usaha provokasinya tidak membuahkan hasil sama sekali. Ia hanya bisa duduk memandang mereka dengan tatapan dingin yang tersembunyi di balik senyumnya.
Di tempat lain, di dalam ruang kantor manajer toko, Larry baru saja kembali setelah menjalankan perintah tuannya. Ia berdiri tegak di depan meja kerja, sementara Rama masih duduk dengan pandangan menerawang ke arah tumpukan laporan di hadapannya, pikirannya terus melayang pada ucapan aneh Ivy tadi.
“Tuan, saya sudah mengumpulkan informasi yang Tuan minta tentang Nona Ivy Dermawan,” lapor Larry dengan nada sopan.
Rama mengangkat wajahnya sedikit, memberi isyarat agar Larry melanjutkan.
“Menurut data yang saya dapatkan, Nona Ivy baru kembali ke keluarga Dermawan saat usianya menginjak delapan tahun, setelah dikabarkan hilang dan diculik selama bertahun-tahun. Kehidupannya di rumah tidaklah mudah sejak saat itu. Dia selalu bersaing dengan Nona Oliv, anak angkat keluarga yang kemudian dijodohkan dengan Tuan Brian, keponakan Tuan sendiri. Dalam beberapa bulan terakhir, tercatat bahwa Nona Ivy sering keluar masuk rumah sakit, namun catatan medisnya sangat rahasia dan saya belum bisa menemukan informasi pasti mengenai penyakit apa yang dideritanya,” jelas Larry dengan rinci.
Mendengar penjelasan itu, raut wajah Rama semakin serius. Ada rasa penasaran yang semakin besar menyelimuti hatinya. Jika gadis itu benar-benar sering sakit dan kondisinya memburuk, maka perkataannya tadi bukan sekadar omong kosong semata. Namun, bagaimana mungkin seseorang bisa memperpanjang umur hanya dengan bersentuhan dengannya? Itu hal yang mustahil menurut akal sehat.
“Baiklah, cukup untuk saat ini. Teruskan penyelidikannya secara diam-diam dan jangan sampai ada yang tahu,” perintah Rama sambil berdiri dari kursinya. “Urusan di sini sudah selesai. Siapkan mobil, kita segera pulang.”
Di depan pintu keluar pusat perbelanjaan yang ramai, Rama dan Larry berdiri menunggu kendaraan yang baru saja keluar dari area parkir. Namun, pandangan Rama secara tidak sengaja tertuju ke arah seberang jalan. Di sana, ia melihat Ivy berdiri bersama Oliv dan Bibi Nora. Wajah Ivy terlihat lesu dan murung, berbeda dengan gadis yang penuh semangat yang pernah ia temui di Desa Gemilang.
Sementara itu, di sisi lain, Oliv yang sudah memikirkan rencana jahatnya segera membuka suara. Dengan nada sombong, ia mengangkat tangannya sehingga cincin berlian yang melingkar di jari manisnya terlihat jelas.
“Lihatlah, Ivy. Ini cincin pertunangan yang diberikan Brian padaku. Sangat indah dan mahal, bukan? Pasti kau merasa iri melihatnya, kan?” ucap Oliv dengan nada menyombongkan diri.
Ivy hanya melirik sekilas tanpa perasaan, lalu menjawab dengan santai dan malas meladeni. “Tidak, sama sekali.”
Setelah menjawab, pandangan Ivy tanpa sengaja tertuju ke arah Rama yang berdiri di seberang jalan. Masih mengingat pertengkaran mereka tadi, Ivy segera memalingkan wajahnya dengan cepat seolah tidak mau tahu.
Melihat sikap itu, bibir Rama tersenyum miring kesal. “Dasar gadis ingusan, sok cuek sekali,” gumamnya pelan, namun matanya tetap tidak beralih dari sosok Ivy.
Belum sempat pikiran Rama melangkah lebih jauh, suasana berubah drastis. Oliv yang melihat kesempatan datang, tiba-tiba berpura-pura terpeleset dan kehilangan keseimbangan tubuhnya. Dengan gerakan yang direncanakan, ia sengaja menyenggol tubuh Ivy sekuat tenaga.
“Kau—!”
Ivy yang sedang tidak siap dengan serangan itu langsung terhuyung mundur. Tubuhnya yang sudah lemah sejak tadi tidak mampu menjaga keseimbangan, dan ia terjatuh ke arah jalan raya di mana sebuah mobil melaju dengan kecepatan sedang mendekat.
Seketika itu juga, jantung Ivy berhenti berdetak sejenak. Ia memejamkan mata rapat-rapat, pasrah mengira ini adalah akhir dari hidupnya yang sudah singkat itu.
Mati sekarang atau nanti sama saja, pikir Ivy.
Namun, sebelum tubuhnya menyentuh aspal dan sebelum mobil itu mendekat, sebuah sosok tinggi dan kokoh melesat dengan kecepatan kilat. Tanpa memedulikan keselamatannya sendiri, Rama melompat ke depan dan memeluk tubuh Ivy erat-erat, menariknya menjauh dari jalur mobil itu.
Suara rem mobil yang ditarik mendadak terdengar keras memekakkan telinga, disertai suara gesekan ban yang menyakitkan telinga. Kendaraan itu berhenti tepat hanya beberapa sentimeter dari tempat mereka berdiri, tidak menyentuh sedikit pun tubuh mereka.
Dada Ivy terasa berdebar kencang, napasnya tersengal-sengal karena terkejut. Perlahan ia membuka matanya, dan yang pertama kali ia lihat adalah wajah Rama yang terlihat cemas namun tetap tegas, masih memeluknya erat seolah takut gadis itu akan hilang begitu saja.
Di dalam pelukan itu, Ivy merasakan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sejak kakek dan neneknya meninggal dunia. Semua rasa lelah, sakit, dan kesepian yang selama ini ia pendam seolah menghilang seketika.
Dengan suara lembut dan bergetar karena perasaan yang meluap, Ivy memanggil nama pria itu dengan tatapan yang dalam dan penuh makna.
“Rama…”
kalo berkenan mampir juga thor🤭😉