NovelToon NovelToon
KODE MERAH: CINTA

KODE MERAH: CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Thriller / Sci-Fi / Romantis
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: ririma

Berciuman tidak diperbolehkan di dunia ini, apalagi berhubungan seks. Bayi dibuat oleh mesin dan cinta melanggar hukum. Tetapi sepasang kekasih saling jatuh cinta dan sang wanita hamil. Akankah mereka berhasil melarikan diri sebelum terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6. Mual

Suara riak air dan bunyi hoak-hoek yang tertahan dari arah kamar mandi merobek keheningan pagi.

Carson tersentak bangun. Kesadarannya belum pulih seutuhnya, namun alarm di dalam kepalanya sudah berdering kencang. Ia mengerjapkan mata, mendapati dirinya masih berada di lantai kamar Nezha dengan punggung bersandar pada dinding lemari pakaian. Genggaman tangan mereka sudah terlepas sejak entah kapan.

Bunyi muntah itu terdengar lagi, kali ini disertai batuk-batuk kecil yang lemas.

Carson langsung panik. Ia bangkit berdiri dengan tergesa-gesa sampai kakinya sempat tersandung sudut kasur. "Nezha?" panggilnya setengah berlari menuju kamar mandi yang pintunya sedikit terbuka.

Di dalam sana, Nezha sedang bertumpu pada pinggiran wastafel besi. Wajahnya yang polos tanpa riasan tampak sangat pucat, dan tubuhnya sedikit gemetar. Air keran mengalir, membilas cairan bening yang baru saja ia keluarkan.

"Nezha! Kamu kenapa? Ada apa? Apa yang sakit?" Carson langsung menghampirinya, memegangi kedua bahu Nezha dengan tangan yang gemetar. Matanya bergerak liar memeriksa sekujur tubuh perempuan itu. "Perutmu sakit? Atau kepalamu pusing? Tunggu, aku ambilkan air hangat. Atau aku harus cari obat? Sial, obat apa yang aman untuk perempuan hamil? Aku harus cari—"

"Carson, tenang..." Nezha menyela, suaranya parau. Ia mematikan keran air, lalu berkumur sebentar sebelum mengelap bibirnya dengan tisu. Sepasang matanya yang sayu menatap Carson yang ekspresinya sudah seperti orang mau pingsan. "Aku tidak apa-apa. Astaga, kenapa kamu panik begini sih?"

"Bagaimana bisa tidak apa-apa kalau kamu muntah-muntah sampai seperti ini?" suara Carson naik satu oktav karena bingung dan cemas. "Wajahmu putih seperti kertas, Nezha!"

Nezha mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya ke dinding kamar mandi. Ia menarik tangan Carson dan menempelkannya ke pipinya sendiri yang terasa hangat. "Ini normal, Carson. Ini namanya morning sickness. Gejala biasa yang dirasakan perempuan di awal kehamilan. Bukan karena aku sakit atau keracunan."

"Tapi sampai seperti ini?" Carson masih belum bisa menerima. Baginya yang sudah membaca ribuan data kesehatan, melihat seseorang mengeluarkan isi perutnya adalah indikator valid bahwa ada sistem tubuh yang rusak. "Kamu tidak boleh kerja hari ini. Kamu harus libur. Ya, benar, ajukan izin sakit saja sekarang."

"Tidak bisa, Carson," Nezha menggeleng tegas. "Aku harus tetap masuk kerja."

"Nezha, dengarkan aku sekali ini saja," Carson memohon, kedua matanya menatap Nezha penuh harap. "Kamu lemas sekali. Aku tidak tenang membiarkanmu bekerja dengan kondisi begini. Perihal surat izin sakit, biar aku saja yang urus."

"Justru itu yang berbahaya, Carson," Nezha memotong lembut namun ada penekanan di sana. "Kalau aku tiba-tiba izin sakit setelah aturan diperketat akibat kasus kemarin, bisa saja aku dicurigai. Aku tidak apa-apa, sungguh. Setelah muntah ini, rasanya malah sedikit lebih lega."

Carson terdiam. Rasionalitasnya perlahan kembali, mengakui bahwa ucapan Nezha ada benarnya. Namun tetap saja, melihat lingkaran hitam di bawah mata Nezha membuat hatinya berdenyut nyeri.

"Ya sudah, tapi kamu harus sarapan dulu," cetus Carson akhirnya, mengalah soal izin kerja. "Biar aku yang siapkan makanannya. Setidaknya isi perutmu sedikit."

Nezha melirik ke arah dapur kecilnya, disana terdapat tumpukan kardus yang berisi jeli nutrisi untuk stok minggu ini. Hanya dengan membayangkan aroma dari jeli nutrisi itu, seketika perutnya kembali bergolak. Ia cepat-cepat membekap mulutnya sendiri dan menggeleng kuat-kuat. "Jangan. Tolong jangan keluarkan jeli itu. Aku tidak bisa melihat makanan sekarang. Perutku sedang tidak nyaman."

"Tapi—"

"Aku minum air putih saja yang banyak, janji," potong Nezha lagi, memberikan senyuman tipis untuk menenangkan Carson. "Lagi pula, ini sudah mendekati jadwal keberangkatan kereta. Kita harus bersiap-siap."

Carson hanya bisa mendesah pasrah. Ia membantu Nezha berjalan kembali ke kamarnya, menunggu perempuan itu bersiap-siap dengan perasaan yang campur aduk antara jengkel pada ketidakberdayaan dirinya dan kagum pada ketegaran Nezha.

...***...

Tepat pukul tujuh pagi, Nezha keluar dari pintu apartemennya.

Carson tidak ikut keluar bersamanya. Mengingat status hubungan mereka yang ilegal, mereka tidak boleh terlihat berangkat bersama. Namun, Carson tidak bisa membiarkan Nezha begitu saja. Setelah Nezha berjalan sekitar dua puluh meter di lorong, Carson baru keluar dari kamarnya sendiri.

Ia berjalan dengan jarak yang cukup jauh di belakang Nezha. Topi jaketnya ditarik agak rendah. Matanya terus mengawasi punggung perempuan itu. Setiap kali Nezha tampak memelankan langkah atau memegangi kepalanya, jantung Carson ikut berdegup kencang. Ia baru bisa bernapas lega setelah melihat Nezha berhasil masuk ke dalam kereta dengan aman.

Setelah kereta itu menjauh, Carson berbalik arah menuju kereta lain yang akan membawanya menuju ke laboratorium pusat. Tempat kerja mereka memang berlawanan arah, itu sebabnya kereta yang mereka naiki berbeda. Sepanjang perjalanan di dalam kereta yang sesak oleh para pekerja, pikiran Carson melayang jauh. Ia tidak tenang, tapi ia harus memaksa dirinya untuk percaya bahwa Nezha adalah perempuan yang kuat.

...***...

Sementara itu, di kantor tempat Nezha bekerja, ia sedang duduk di depan meja kerjanya.

Tugasnya hari ini sebenarnya tidak berat, hanya memvalidasi data demografi warga dan memeriksa laporan logistik harian. Ia hanya perlu duduk diam di kursi empuknya dan menggerakkan jari di atas layar pemindai. Namun, bagi Nezha yang sedang berbadan dua, tugas seringan itu terasa seperti mendaki gunung.

Bahu Nezha terasa sangat pegal, dan matanya terus-menerus terasa berat. Konsentrasinya pecah berulang kali. Baru dua jam bekerja, tubuhnya sudah protes meminta istirahat. Padahal biasanya, ia bisa duduk di meja ini selama delapan jam penuh tanpa mengeluh sedikit pun.

Nezha mengembuskan napas berat, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi sambil memijat pelipisnya yang berdenyut.

"Nezha? Kamu tidak apa-apa?"

Suara itu membuat Nezha tersentak. Ia menoleh dan mendapati Jena, sudah berdiri di samping mejanya sambil membawa tumpukan dokumen baru. Jena menatapnya dengan kening berkerut penuh selidik.

"Eh, Jena. Iya, aku tidak apa-apa," jawab Nezha sekenanya, berusaha menegakkan posisi duduknya agar terlihat bugar.

"Jangan bohong. Wajahmu pucat sekali dari tadi pagi," Jena meletakkan dokumen itu di meja, lalu membungkuk sedikit, berbisik ragu. "Kamu sakit? Kamu bahkan belum menyentuh jeli nutrisimu sama sekali. Biasanya jam segini kamu sudah habis satu bungkus."

Nezha melirik bungkusan jeli di sudut mejanya dengan ngeri. "Ah... itu, perutku sedang agak tidak enak saja. Kurang tidur sepertinya."

"Kalau memang sakit, lebih baik kamu ke ruang kesehatan di lantai bawah saja," saran Jena tulus. "Minta obat atau vitamin ke petugas medis di sana. Biar aku yang pegang tugasmu sebentar. Dari pada nanti kamu pingsan di sini, malah bisa repot urusannya sama kepala kantor."

Mendengar kata 'ruang kesehatan', bulu kuduk Nezha langsung berdiri.

'Tidak. Jangan sampai,' teriak Nezha dalam hatinya.

Ia tahu persis bagaimana prosedur ruang kesehatan di kantor pemerintahan. Setiap pegawai yang mengeluhkan sakit fisik wajib menjalani pemindaian tubuh menyeluruh untuk mendeteksi apakah ada penyakit menular atau penurunan produktivitas. Jika ia berbaring di sana, alat itu pasti akan mendeteksi perubahan hormon di dalam tubuhnya. Manipulasi data yang dibuat Carson di server pusat memang bisa melindungi gelang peraknya dari pemeriksaan harian, tapi jika diperiksa langsung lewat alat pemindai di ruang kesehatan, rahasia mereka bisa saja bocor.

Nezha memaksakan sebuah senyuman lebar, meski rasanya sangat kaku. "Tidak perlu, Jena. Sungguh, terima kasih banyak atas tawarannya. Tapi aku tidak sesakit itu kok. Ini hanya pusing ringan karena tadi malam aku telat tidur saja. Setelah minum air putih dan istirahat sebentar, pasti juga hilang."

Jena menatap Nezha beberapa detik, tampak menimbang-nimbang apakah temannya ini sedang jujur atau tidak. "Kamu yakin? Jangan dipaksakan, Nezha. Peraturan sekarang sedang ketat-ketatnya. Kalau performa kerjamu turun dan tercatat di sistem, potong gaji bulanannya bisa besar."

"Iya, aku yakin sekali. Aku masih bisa menyelesaikan semua data ini tepat waktu, kok," sahut Nezha mantap.

"Ya sudah kalau begitu. Tapi kalau sudah tidak kuat, langsung bilang ya," ucap Jena akhirnya sebelum berbalik dan kembali ke mejanya sendiri.

Setelah Jena pergi, Nezha langsung merosot di kursinya. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Jantungnya berdebar sangat cepat karena atmosfer yang tercipta.

Nezha menyentuh perutnya sendiri di bawah meja secara sembunyi-sembunyi.

'Kita harus kuat ya, Nak,' bisiknya di dalam hati.

Nezha kemudian meneguk air putih hingga tandas, berusaha mengusir rasa kantuk dan lelah yang terus menyerang tubuhnya. Semua ini ia lakukan demi menjaga rahasia besar di antara dia dan Carson agar tetap aman dari dunia luar.

1
Rudy satria
kapan avnan di rekrut jadi anggota tim cari jalan kapur carson,jangan lama²😅
Rudy satria
semoga carson bisa menemukan jalan keluar,supaya kita bisa ketemu emm tapi kalo udah keluar jangn ke negara Konoha ya carson pemerintah nya sama,sama² menindas rakyat🤭🤭
ririma: waduh, kayaknya carson juga bakal mikir dua kali kalau mau pindah ke sana kak😅
total 1 replies
Firmahadi
izin mampir bg
Rudy satria
mudah²n kalo
i ini panglima berbuat baik
Rudy satria
semakin kuat kalo avnan mau di ajak gabung,hancurkan negara yang memiliki peraturan di luar loh 😅😅😅
Rudy satria
iiih ternyata teman👏👏
ririma: yeayy👏🏻
total 1 replies
kabur ke luar negeri aja🤭
berati udah gak ada lagi hiburan model gituan, hambar banget idupnya, apa maen sendiri juga bakal kena pasal?🤭
berati orang-orang di sini gadak yang nikah juga kah?
ririma: yap,,
total 1 replies
jadi buron dong ya
ririma: iya kalau ketahuan tapi kak, untungnya sejauh ini masih aman kak
total 1 replies
wkwk, baru juga pembukaan🤭
halo kak, aku mampir🤭
Rudy satria
nah bylla itu penuh misteri yang tak terduga,mudah²n si dia kekasih avnan,mereka berempat kalo bersatu bisa semakin kuat dan mungkin mereka bisa menembus pertahanan pemerintah
Rudy satria
mudah²n si itu bylla,dan juga mudah²n bylla mendukung dan tidak menangkap Nessa+carson
Rudy satria
👏👏🥳🥳keren, sebelum nya saya slalu baca yang retingnya sudah tinggi atau pembacanya banyak itu di pastikan bagus,nggk sengaja ngeklik novel yang mungkin author nya baru merintis sungguh karyamu keren Thor semoga saya bisa ngawal sampai kamu sukses,saya yakin dengan cerita yang rumit saja bisa di pahami saya yakin kamu bakal sukses semangat terus Thor🥰🥰🥰🥰
ririma: maaf kak, irl lagi sibuk soalnya, sekarang uda up kok, bisa langsung di cek yaa😊
total 3 replies
Rudy satria
benar² pejabat yang kurang teliti pantes gampang di tipu,selamat carson semoga bisa dapat jalan keluar👏👏
Rudy satria
astaghfirullah ikut deg,deg,degan aku,untung komandan militernya masih keturunan Konoha jadi bisa di tipu😅😅😅
Rudy satria
apakah panglima,beneran percaya atau malah sudah menuju apartemen carson
Devi..
seru dan unik ceritaanya thor..semoha bisa berlanjut smpai selesai ceritanya😊
ririma: terima kasih banyak kak🥰, aamiin semoga ya kak
total 1 replies
Devi..
serius kyk d konoho TNI.nya diistimewakan..😬
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!