NovelToon NovelToon
Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Neng tiya

Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.

Aku nggak sengaja di sini.

Klik.

"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"

Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.

Jantungku berhenti.

Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.

Kraaak.

"Menangkap."

Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gaun merah dan senyum sang naga

Menganti pakaian di dalam mobil yang sedang melaju adalah sebuah siksaan fisik tersendiri, namun ancaman Axel terhadap Devan membuatku bergerak secepat kilat.

Gaun merah marun itu melekat sempurna di tubuhku, seolah-olah penjahitnya telah mengukur lekuk badanku selama berhari-hari. Potongan bagian bahunya agak terbuka, mengekspos kulit leher dan selangkangan pundakku yang kontras dengan warna merah pekat kain brokat tersebut.

Ketika Bentley hitam itu akhirnya melambat dan memasuki lobi The Emerald restoran paling mewah di pusat kota yang biasanya hanya dikunjungi pejabat jantungku kembali berdetak cepat.

Sopir membukakan pintu untukku aku melangkah keluar dengan sepatu hak tinggi setinggi sembilan sentimeter, membuat kakiku yang sudah lemas terasa semakin rawan untuk tegak beberapa pasang mata pengunjung di lobi langsung tertuju padaku, mengagumi gaun merah yang melambai elegan di setiap langkahku. Namun, mereka tidak tahu bahwa di balik kain mewah ini, ada seorang gadis yang hatinya sedang menjerit ketakutan.

Seorang pelayan restoran dengan setelan tuksedo langsung menghampiriku. "Nona Aira? Mari, Tuan Muda Axel sudah menunggu Anda di ruang VIP utama."

Aku mengekor di belakang pelayan itu, melewati pilar-pilar marmer dan alunan musik piano klasik yang menenangkan, yang sayangnya sama sekali tidak bisa menenangkan jiwaku.

Ketika pintu kayu ganda ruang VIP dibuka, pemandangan di dalamnya membuat langkahku langsung terkunci di ambang pintu.

Ruangan itu luas, dengan meja bundar besar di tengahnya. Di sana duduk tiga orang pria paruh baya bertubuh tambun dengan setelan jas mahal yang dari gelagatnya tampak seperti pengusaha papan atas atau pejabat daerah. Dan di kursi utama, duduk Axel Reynard.

Pria itu tampak luar biasa matang dan berkuasa. Jas abu-abunya yang tadi di kampus kini sudah berganti menjadi kemeja sutra hitam pekat dengan kancing atas yang sengaja dibuka, memperlihatkan sedikit tato ular yang melilit lehernya. Di jemarinya, sebuah cerutu tipis mengisap asap putih ke udara.

Begitu pintu terbuka, Axel mengalihkan pandangannya. Mata hitamnya yang kosong menyapu penampilanku dari atas ke bawah. Ada kilatan kepuasan yang melintas sangat cepat di matanya saat melihat gaun merah itu membalut tubuhku, sebelum kembali berubah menjadi dingin yang mutlak.

"Ah, ini dia barang berharga yang kau ceritakan, tuan Axel?" salah satu pria tambun itu tertawa ramah, matanya menatapku dengan binar penuh penilaian yang membuatku merasa sangat risih.

"Kemari, Aira," suara Axel terdengar rendah, memotong pandangan pria itu. Dia menepuk kursi kosong di sebelah kirinya.

Aku melangkah maju dengan kepala menunduk, mencoba menjaga keseimbangan di atas sepatu hak tinggiku begitu aku duduk di sampingnya, aroma tembakau mahal dan parfum maskulinnya langsung mengurungku.

Jarak kami sangat dekat, namun aku ingat betul aturan ketiga Jangan menyentuh. Aku sengaja memosisikan kedua tanganku di atas pangkuan, meremas kain gaunku agar tidak menyenggol lengan kemejanya.

"Perkenalkan, ini rekan-rekan bisnisku dari asosiasi eksportir pelabuhan," ucap Axel datar, tanpa beban, seolah membawaku ke pertemuan seperti ini adalah hal yang biasa.

"Dan ini Aira. Milikku."

Kata milikku diucapkan dengan penekanan yang begitu posesif hingga membuat pria-pria di seberang meja tersenyum penuh arti.

"Pilihan yang sangat luar biasa, Tuan Muda. Cantik, anggun, dan tampak sangat... patuh."puji salah satu pria itu.

Sepanjang jamuan makan malam, aku hanya diam membeku aku dipajang di sana benar-benar seperti barang. Axel sesekali berbicara tentang bisnis logistik, angka-angka investasi bernilai miliaran, dan proyek pelabuhan baru dengan nada yang sangat tenang, seolah dia hanyalah pengusaha legal biasa dan bukan pria kejam yang semalam menodongkan pistol ke pelipisku.

Setiap kali salah satu pria di meja itu mencoba mengalihkan pembicaraan atau melayangkan pertanyaan padaku, Axel akan memotongnya dengan halus namun tajam, mengalihkan kembali perhatian mereka pada bisnis. Dia tidak membiarkan siapa pun berinteraksi langsung denganku. Aku adalah miliknya, dan tidak ada yang boleh menyentuhnya bahkan lewat kata-kata sekalipun.

Hingga akhirnya, salah satu pelayan masuk dan menuangkan anggur merah ke dalam gelas porselen kami masing-masing. Ketika pelayan itu hendak menuangkan ke gelasku, tanganku yang gemetar tanpa sengaja menyenggol sendok perak di samping piring.

Tinggg.

Bunyi nyaring itu memecah obrolan bisnis yang sedang berlangsung. Sendok itu bergeser, dan dalam kepanikanku untuk menangkapnya agar tidak jatuh ke lantai, telapak tanganku tanpa sengaja... menyentuh punggung tangan Axel yang sedang memegang gelas wiskinya.

Kulit kami bersentuhan selama satu detik penuh. Dingin dan tegas.

Jantungku rasanya melompat keluar dari dada seluruh tubuhku mendadak kaku seolah dialiri listrik bertegangan tinggi aku teringat ancamannya semalam di kamar “Jika tanganmu yang kotor itu berani menyentuhku tanpa perintah... aku sendiri yang akan memastikan tangan itu tidak akan bisa berfungsi lagi.”

Wajahku mendadak pucat pasi. Aku buru-buru menarik tanganku kembali, menyembunyikannya di bawah meja. Napasku memburu pendek karena panik.

Aku melirik ke arah Axel. Pria itu menghentikan kalimatnya di tengah jalan.

Mata hitamnya yang tadi fokus pada dokumen di depan, kini perlahan bergulir menatap punggung tangannya yang baru saja kusentuh, lalu beralih menatapku lurus. Rahangnya mengeras, dan otot-otot di lehernya mengetat, membuat tato ular itu tampak menegang. Aura berbahaya yang sangat pekat mendadak menguar dari tubuhnya, membuat suhu di sekitar meja VIP itu terasa turun drastis.

Pria-pria tambun di depan kami tampaknya tidak menyadari ketegangan maut yang sedang terjadi mereka masih asyik tertawa kecil.

Namun Axel tidak tertawa Dia meletakkan gelas wiskinya dengan ketukan yang sangat pelan, namun getarannya terasa sampai ke ujung kursiku dia mencondongkan tubuhnya sedikit ke arahku, senyum tipis senyuman naga yang siap mencabik mangsanya terukir di sudut bibirnya yang dingin.

"Kau melanggar aturan mainnya terlalu cepat, Nona Pramesti," bisiknya begitu pelan di dekat telingaku, hampir tenggelam oleh suara tawa pria-pria di depan, namun bunyinya terdengar seperti vonis mati bagiku. "Sepertinya kau merindukan rasa dingin peluru di pelipismu semalam."

Aku hanya bisa menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca, menggelengkan kepala perlahan tanda memohon ampun di bawah meja yang menyembunyikan ketakutanku. Aku tahu, setelah pertemuan bisnis ini selesai dan pintu mobil ditutup... neraka yang sesungguhnya baru akan dimulai.

Ketakutan yang mencekik membuat tenggorokanku rasanya berubah menjadi duri. Di bawah meja, aku meremas gaun merah marun itu begitu kuat, berharap bumi terbelah dan menelanku detik ini juga. Axel tidak melepaskan pandangannya dariku. Matanya yang hitam terus mengunci wajahku yang pucat pasi, sementara jemari panjangnya yang tadi kusentuh kini bergerak lambat, mengetuk-ngetuk permukaan gelas wiski dengan irama yang konstan. Setiap ketukan terasa seperti hitungan mundur menuju ajalku.

"Ada apa, Tuan Muda Axel? Mengapa mendadak diam?" salah satu pria paruh baya yang berkacamata tebal, Pak Darmawan, memecah keheningan dengan tawa renyah yang dipaksakan. "Apakah dokumen kontrak pelabuhan yang kami ajukan ada yang kurang memuaskan?"

Axel menarik kembali pandangannya dariku dengan sangat perlahan. Ketegangan maut yang sempat membekukan udara di sekitar kami mendadak mencair begitu dia menoleh kembali ke arah rekan bisnisnya. Senyum dinginnya yang penuh kepalsuan kembali terukir di sudut bibirnya.

"Tidak ada masalah dengan kontraknya, Pak Darmawan," jawab Axel, suaranya kembali datar dan tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. "Hanya saja... barang pajanganku malam ini tampaknya sedikit kurang enak badan. Dia mulai ceroboh."

Mendengar kata ceroboh, tubuhku refleks tersentak kecil.

"Ah, wanita muda memang terkadang mudah lelah di acara formal seperti ini," sahut pria paruh baya lainnya sambil meminum minuman nya. "Kalau begitu, jangan biarkan urusan kami menyita waktu Anda lebih lama, Tuan Muda. Kesepakatan malam ini sudah bulat. Jalur hijau di pelabuhan Barat akan sepenuhnya berada di bawah kendali yayasan Anda mulai besok pagi."

Axel mengangguk formal. Dia berdiri dari kursinya, sebuah isyarat mutlak bahwa pertemuan malam ini telah berakhir. "Terima kasih atas kerja samanya, Tuan-Tuan. Nikmati sisa malam kalian aku harus membawa milikku pulang sebelum dia merusak hal lain."

Ketiga pria paruh baya itu ikut berdiri dan membungkuk hormat saat Axel melangkah pergi. Aku buru-buru bangkit, mengabaikan rasa pening yang menyerang kepalaku, dan mengekor di belakangnya dengan langkah setengah berlari akibat sepatu hak tinggi ini. Punggung lebar Axel yang berbalut kemeja hitam tampak seperti dinding batu yang angkuh, bergerak cepat membelah lorong restoran The Emerald yang mewah.

Begitu kami keluar ke lobi, Bentley hitam sudah menunggu di depan dengan pintu belakang yang sudah terbuka. Axel masuk terlebih dahulu tanpa menoleh sedikit pun. Aku menelan ludah, memantapkan langkahku yang gemetar untuk ikut masuk ke dalam kabin mobil yang dingin.

Blam.

Pintu mobil ditutup dari luar oleh pengawal. Suara dunia luar seketika mati dan kali ini, kaca pembatas dengan sopir di depan langsung berubah menjadi mode hitam pekat sejak awal. Kami benar-benar terisolasi di jok belakang.

Mobil mulai melaju membelah jalanan yang mulai sepi di bawah guyuran sisa hujan sore. Keheningan di dalam kabin begitu pekat hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang berpacu gila. Axel bersandar di sudut jok kulit, memejamkan matanya sejenak suasana temaram dari lampu jalanan yang sesekali menerangi wajahnya membuat fitur wajahnya yang tegas tampak semakin menakutkan.

"Kemari," ucapnya tiba-tiba, memecah keheningan tanpa membuka matanya.

Aku membeku. "Tu_Tuan Axel..."

"Aku bilang kemari, Jangan membuatku mengulang ucapanku," desisnya, kali ini matanya terbuka, menatapku dengan kilatan amarah yang tidak lagi dia sembunyikan di depan rekan bisnisnya.

Dengan tubuh yang bergetar hebat, aku menggeser dudukku mendekat ke arahnya, menyisakan jarak sekitar tiga puluh sentimeter. Namun, jarak itu tampaknya tidak cukup bagi Axel. Dengan gerakan kilat yang tidak sempat kuantisipasi, tangan kanannya yang besar melesat maju, mencengkeram tengkuk leherku dan menarik tubuhku dengan kasar hingga wajah kami hanya berjarak beberapa sentimeter.

"Ah!" aku memekik pelan saat dadaku membentur dada bidangnya. Aroma tembakau, wiski, dan parfum mahalnya langsung menyerbu seluruh indra penciumanku, mencekik oksigen di paruku.

"Kau punya keberanian yang besar untuk ukuran anak panti asuhan miskin, hm?" Axel berbisik di depan bibirku, napas hangatnya yang berbau alkohol terasa kontras dengan tangannya yang terasa dingin di tengkukku.

Cengkeramannya tidak sampai mencekik, namun cukup kuat untuk mengunci pergerakanku.

"Aku sudah bilang jangan pernah menyentuhku. Dan kau melakukannya di depan rekan bisnisku. Kau ingin membuatku terlihat lemah karena memelihara barang yang tidak bisa diatur?"

"Ma_maaf... Sumpah, Tuan Axel, saya tidak sengaja," air mataku akhirnya runtuh, membasahi pipiku yang panas akibat panik. Kedua tanganku terangkat di depan dada, terkepal erat, menolak untuk menyentuh kemeja hitamnya karena takut menambah pelanggaran aturan.

"Tadi tangan saya gemetar... saya hanya ingin mengambil sendok. Tolong... jangan apa-apakan Devan, Ini murni kesalahan saya."

Mendengar nama Devan disebut, mata Axel semakin menyipit tajam cengkeramannya di tengkuk leherku mengencang sedetik, sebelum jempolnya bergerak naik, mengusap air mata di pipiku dengan kasar hingga kulitku terasa perih. Tato ular di lehernya bergeliat seiring dengan rahangnya yang mengeras.

"Kau menangis untuk pria lain saat kau sedang berada di genggamanku, Aira?" suara Axel merendah hingga ke titik paling berbahaya. "Hukuman untuk tanganmu yang lancang itu... harus dibayar malam ini di mansion. Aku akan memastikan kau mengingat rasa sakitnya, agar di pertemuan berikutnya, tangan kotor ini tahu tempatnya."

Dia melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kecil, membuat tubuhku terhempas kembali ke jok mobil.

Aku menangis dalam diam, menyembunyikan wajahku di balik kedua telapak tangan saat mobil Bentley hitam itu berbelok memasuki gerbang besi tinggi mansion Reynard. Malam ini, di balik dinding marmer yang megah itu, aku tahu sang naga tidak akan melepaskan mangsanya begitu saja.

1
Alia Chans
lanjut, like + 🌹✍️😉🤭


kalo berkenan mmpir juga thor😉
Ti Ara: siap kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!