Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Butik desainer ternama di bilangan Jakarta Selatan itu terasa sangat eksklusif. Wangi aromaterapi melati yang menenangkan menyambut kehadiran Thomas dan Arunika. Thomas, seperti biasa, melangkah masuk dengan aura bos yang tak terbantahkan, sementara Arunika mengekor di belakangnya dengan mata berbinar-binar melihat deretan gaun indah yang terpajang di maneken.
"Selamat datang, Pak Thomas. Sudah kami siapkan ruang privatnya," sambut seorang asisten desainer dengan ramah.
Mereka dibawa ke sebuah ruangan luas dengan cermin besar yang memenuhi satu sisi dinding. Di tengah ruangan terdapat sofa beludru yang nyaman.
"Mas, konsep bajunya aku yang nentuin ya! Aku udah dapet inspirasi dari Pinterest semalam sampai nggak tidur!" seru Arunika antusias. Ia segera mengeluarkan ponselnya, menggeser-geser layar dengan cepat.
Thomas duduk di sofa, menyilangkan kaki panjangnya. "Asal jangan yang aneh-aneh. Ingat, ini makan malam keluarga, bukan pesta kostum."
Arunika menghampiri Thomas, duduk tepat di samping pria itu agar bisa memperlihatkan layarnya dengan jelas. "Nih, Mas. Bagus nggak sih? Aku pengen konsepnya modern-classic gitu. Warnanya champagne atau midnight blue. Menurut kamu alay nggak?"
Karena ingin menunjukkan detail payet pada gambar tersebut, Arunika tanpa sadar mencondongkan tubuhnya sangat dekat ke arah Thomas. Jarak wajah mereka kini hanya terpaut beberapa sentimeter. Arunika bisa merasakan deru napas Thomas yang hangat, dan aroma parfum woody yang maskulin mulai mengaburkan fokusnya sendiri.
Thomas membeku. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat bulu mata lentik Arunika yang bergerak-gerak, juga bintik-bintik halus di hidung gadis itu yang menurutnya sangat manis. Ia bahkan bisa mencium aroma sampo stroberi dari rambut Arunika yang masih sedikit lembap.
"Mas... Mas kok diem aja?" tanya Arunika pelan, suaranya sedikit mengecil karena ia mulai menyadari keheningan yang aneh. "Kamu denger kan aku ngomong apa? Bagus nggak model yang ini? Atau Mas lebih suka yang model sabrina?"
Thomas tidak menjawab. Matanya terkunci pada bibir Arunika yang terus bergerak.
"Mas..." panggil Arunika lagi, sedikit lebih keras.
"Mas Thomas?"
Arunika akhirnya mendongak, menatap langsung ke netra cokelat gelap Thomas. Ia menemukan pria itu sedang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan—bukan tatapan dingin atau meremehkan seperti biasanya, melainkan tatapan yang sangat dalam, intens, dan... penuh kerinduan?
Deg.
Jantung Arunika berdegup kencang secara tiba-tiba. Suasana di ruangan itu mendadak terasa panas. Untuk mengusir kecanggungan yang luar biasa tersebut, Arunika segera menjauhkan wajahnya dan menjetikkan jari tepat di depan wajah Thomas. Tik!
"Kenapa, Mas? Terpesona ya sama aku?" goda Arunika sambil tertawa renyah, meski sebenarnya ia sedang mencoba menutupi kegugupannya sendiri. "Cuma liat foto referensinya aja udah melamun gitu, gimana kalau liat aku pake bajunya nanti?"
Thomas tersentak, ia segera membuang muka dan berdeham keras untuk menormalkan detak jantungnya yang berantakan. "Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya sedang memikirkan berapa biaya yang harus kukeluarkan untuk baju yang payetnya seribet itu."
"Halah, alasan! Tadi itu tatapannya beda tahu, Mas," Arunika menyenggol lengan Thomas dengan sikutnya. "Ngaku aja deh, aku emang cantik kan hari ini?"
"Berisik, Arunika. Cepat pilih satu agar kita bisa segera pulang," ujar Thomas ketus, meski telinganya terlihat memerah—sesuatu yang selalu terjadi jika ia sedang salah tingkah.
Setelah perdebatan kecil tentang warna, mereka akhirnya sepakat memilih warna midnight blue. Thomas masuk ke ruang ganti untuk mengukur setelan jasnya, sementara Arunika dibawa oleh asisten desainer ke area pengukuran gaun.
Satu jam kemudian, Thomas sudah kembali rapi dengan kemejanya. Ia menunggu di sofa sambil menyesap teh hangat. Pintu ruang ganti terbuka, dan Arunika keluar dengan mengenakan gaun sampel yang modelnya mirip dengan pilihannya tadi.
Gaun itu memeluk tubuh Arunika dengan sempurna, menunjukkan lekuk tubuhnya yang selama ini tersembunyi di balik kaos-kaos kebesaran. Warna biru gelap itu membuat kulitnya terlihat sangat cerah.
Thomas terpaku. Gelas teh di tangannya hampir saja miring.
"Gimana, Mas? Masih kelihatan alay?" tanya Arunika sambil berputar pelan, membiarkan rok gaunnya mengembang.
Thomas berdiri perlahan. Ia berjalan mendekati Arunika, langkah kakinya terasa berat namun pasti. Ia berhenti tepat di belakang gadis itu, menatap pantulan mereka di cermin besar. Thomas meletakkan kedua tangannya di bahu Arunika, lalu perlahan jemarinya merapikan anak rambut yang menutupi leher jenjang gadis itu.
"Ini... bukan soal bajunya," bisik Thomas tepat di telinga Arunika. "Tapi soal siapa yang memakainya."
Arunika menatap pantulan mata Thomas di cermin. "Maksudnya?"
"Maksudku, kerjakan aktingmu dengan baik lusa nanti," Thomas kembali ke mode dinginnya dengan sangat cepat, seolah baru saja memasang topeng besi. "Aku tidak mau Mami tahu kalau calon menantunya ini sebenarnya masih sering menangisi adikku di malam hari."
Senyum Arunika sedikit luntur. "Aku udah nggak nangisin Marsel lagi, Mas. Aku sibuk milih lipstik pake black card kamu, tahu!"
Thomas mendengus kecil, namun tangannya masih tertahan di bahu Arunika. Ia merasa sangat enggan untuk melepaskannya. "Bagus. Pertahankan itu."
Tiba-tiba, ponsel Arunika yang tergeletak di atas meja kecil bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar.
Marsellino: [Nik, kamu di mana? Aku di rumahmu tapi kamu nggak ada. Mama bilang kamu tinggal di mess kantor? Sejak kapan Mas Thomas punya mess sekeren itu?]
Arunika melirik ponselnya, lalu melirik Thomas. Thomas yang juga melihat notifikasi itu langsung mempererat pegangannya di bahu Arunika. Suasana yang tadinya sedikit hangat berubah menjadi tegang.
"Jangan dibalas," perintah Thomas tajam.
"Tapi Mas, nanti dia makin curiga—"
"Biarkan dia curiga. Biarkan dia tahu kalau kamu bukan lagi miliknya yang bisa dia cari kapan saja," Thomas memutar tubuh Arunika agar menghadapnya. "Lusa nanti, dia akan tahu kebenarannya. Dan saat itu terjadi, aku ingin kamu tetap berdiri di sampingku. Jangan lepaskan tanganku, apa pun yang dia katakan nanti. Mengerti?"
Arunika menelan ludah. Ia melihat kesungguhan di mata Thomas. "Iya, Mas. Aku mengerti."
"Janji?"
"Janji."
Thomas menatap bibir Arunika sesaat, ada dorongan kuat untuk melakukan sesuatu yang lebih dari sekadar kontrak, namun ia menahannya. Ia hanya menyentuh dahi Arunika dengan ibu jarinya. "Anak pintar. Sekarang ganti bajumu. Kita makan malam di tempat biasa."
Arunika kembali ke ruang ganti dengan perasaan yang campur aduk. Ia menyentuh bahunya yang tadi dipegang Thomas. Rasanya masih hangat. Ia mulai bertanya-tanya, apakah Thomas benar-benar sekejam itu hanya untuk kontrak, atau ada sesuatu yang jauh lebih besar yang sedang pria itu perjuangkan?
Sedangkan di luar, Thomas mengepalkan tangannya. Ia melihat pesan dari Marsel sekali lagi di layar ponsel Arunika yang masih menyala.
"Kamu terlambat, Marsel. Arunika bukan lagi bayanganmu. Dia adalah pusat duniaku sekarang," gumamnya dengan nada yang penuh kemenangan sekaligus kepedihan.
Tiga hari lagi. Pertemuan keluarga itu bukan hanya sekadar pengumuman. Bagi Thomas, itu adalah proklamasi bahwa Arunika Nirmala sudah resmi menjadi miliknya, dan ia tidak akan membiarkan siapa pun—termasuk adiknya sendiri—merusak kebahagiaan yang baru saja ia mulai bangun ini.
***
Akal-akalan mas Thomas aja ini mah🤏🤏
gagal
coba lagi dong 🤭