Selama sembilan tahun, Jena percaya bahwa cintanya dengan Jovian Ardhana akan berakhir di pelaminan.
Saat Jovian masih merintis mimpi, Jena selalu ada di sisinya. Menemani, mendukung, dan mencintainya tanpa pernah melihat harta ataupun status.
Hingga akhirnya Jovian menjelma menjadi CEO muda pewaris keluarga Ardhana yang sukses dan dikagumi banyak orang.
Namun semuanya berubah sejak hadirnya Michelle Ayu Suroso. Gadis cantik, kaya raya, dan berasal dari keluarga terpandang.
Perlahan, lelaki yang dulu begitu romantis itu mulai berubah.
Jena mencoba bertahan. Sampai suatu malam, Jovian mengundangnya menghadiri makan malam keluarga di rumah mewah Ardhana.
Jena datang dengan penuh harapan.
Namun di hadapan para kolega bisnis dan keluarga besar, ayah Jovian justru mengumumkan sesuatu yang menghancurkan dunia Jena dalam sekejap mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Merasa Dicintai
Suasana pagi di lantai tiga puluh dua gedung utama Ardhana Group sudah sibuk sejak pukul delapan. Para staf berlalu-lalang membawa dokumen, suara telepon kantor bersahutan, sementara aroma kopi memenuhi udara dari pantry di ujung lorong.
Di tengah kesibukan itu, Jena duduk fokus di meja sekretaris CEO sambil mengetik jadwal rapat hari ini.
Penampilannya sederhana namun rapi. Blouse putih lengan panjang dipadukan rok hitam span membuatnya terlihat profesional sekaligus anggun. Rambut panjangnya dijepit sebagian ke belakang, memperlihatkan wajah cantik yang teduh. Tangannya bergerak cepat di atas keyboard saat suara lift privat terbuka.
Beberapa karyawan langsung berdiri lebih tegak.
"Selamat pagi, Pak Jovian."
"Selamat pagi, Pak."
"Pagi." Jovian Ardhana melangkah keluar dari lift dengan langkah tenang dan berwibawa. Jas abu gelap membungkus tubuh tegapnya sempurna. Wajah tampannya terlihat dingin bagi kebanyakan orang.
Namun tidak untuk satu perempuan. Tatapan Jovian langsung melembut begitu melihat Jena. "Pagi, Sayang."
Jena spontan mendongak lalu tersenyum kecil. "Pagi, Mas."
Beberapa staf diam-diam saling pandang sambil menahan iri.
Hubungan CEO muda itu dengan sekretaris pribadinya memang bukan rahasia lagi di kantor.
Dan semua orang tahu ... Jovian sangat mencintai Jena.
Jovian menghampiri meja Jena lalu meletakkan paper bag kecil di sana. "Kamu belum sarapan." Bukan bertanya. Tapi memastikan.
Jena langsung terkekeh pelan. "Mas pasang CCTV di aku ya?"
"Aku sangat hafal kebiasaan kamu." Jovian mengeluarkan segelas kopi hangat dan roti favorit Jena dari paper bag itu. "Hazelnut latte tanpa gula tambahan."
Tatapan Jena langsung menghangat. Sembilan tahun bersama, tapi lelaki itu masih mengingat detail kecil tentang dirinya.
"Kamu berangkat pagi banget tadi," ujar Jovian.
"Ada revisi jadwal meeting."
"Kamu tidur jam berapa?"
Jena salah tingkah. "Jam sebelas."
Jovian menyipitkan mata. "Bohong."
Jena tertawa kecil. "Setengah satu."
"Kebiasaan."
"Kerjaan lagi banyak."
Jovian menghela napas pelan lalu merapikan anak rambut yang jatuh di pipi Jena. "Jangan terlalu capek."
"Mas juga."
"Aku beda."
"Bedanya apa?"
"Aku kuat."
Jena mendengkus geli. "Pede banget."
"Kalau aku nggak kuat, mana mungkin aku bisa jagain dan mencintai kamu selama sembilan tahun."
Ucapan itu membuat dada Jena menghangat. Ia benar-benar merasa dicintai. Bukan cinta yang meledak-ledak seperti di drama. Tapi cinta yang tenang. Yang membuatnya merasa aman.
Seorang staf laki-laki yang lewat bahkan berbisik pelan pada temannya. "Kalau Pak Jovian lihat Mbak Jena, auranya langsung beda ya."
"Iya, dinginnya hilang semua."
Jena mendengar samar ucapan itu dan pipinya langsung memanas. "Mas ... semua orang melihat kita dan lagi bisik-bisik tuh."
"Biarin." Jovian malah santai. Lelaki itu sedikit membungkuk mendekat. "Nanti siang makan sama aku ya."
Jena mengangkat alis. "Bukannya Mas ada meeting panjang?"
"Aku bisa menyelipkan waktu."
"Mas jangan mengorbankan kerjaan buat makan siang sama aku."
"Buat kamu, pekerjaan pun akan aku korbankan."
Kalimat sederhana itu sukses membuat Jena kembali tersipu. Kadang ia heran sendiri. Bagaimana mungkin setelah hampir satu dekade bersama, ia masih bisa jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama?
"Mas masuk dulu sana," ujar Jena sambil menahan senyum. "Jam sembilan ada rapat sama direksi dan petinggi MS Fashion."
"Oke, tapi kamu ikut masuk ke ruanganku yuk."
"Mas ..."
"Sebentar aja, Sayang." Jovian mengusap pipi Jena.
Jena akhirnya berdiri sambil membawa tablet dan beberapa dokumen penting. Ia mengikuti Jovian masuk ke ruang CEO yang luas dan elegan.
Begitu pintu tertutup, suasana langsung terasa lebih privat. Baru saja Jena hendak menyerahkan dokumen, Jovian tiba-tiba menarik pinggangnya pelan. "Mas!"
"Kangen." Jovian menggesekan hidungnya di ceruk leher Jena. Menghirup aroma khas dari tubuh kekasihnya itu.
"Kita baru ketemu tadi malam." Jena menahan geli dari gerakan hidung Jovian.
"Tetap aja. Aku kangen kamu terus."
Jena tertawa kecil sambil menahan dada bidang lelaki itu. "Kalau ada yang masuk gimana?"
"Nggak akan ada yang berani masuk tiba-tiba." Tatapan Jovian turun ke wajah perempuan itu. Hangat dan lembut. Tatapan yang selalu membuat Jena merasa jadi satu-satunya perempuan di dunia. "Aku serius soal omongan kemarin," ucap Jovian pelan.
Jantung Jena langsung berdetak sedikit lebih cepat. "Soal nikah?"
Jovian mengangguk. "Aku pengen cepet-cepet menyelesaikan semuanya."
Wajah Jena langsung memerah tipis. Sudah hampir satu tahun terakhir Jovian sering membahas pernikahan mereka.
Tentang rumah, tentang masa depan dan tentang hidup bersama.
Setiap kali topik itu muncul, hati Jena selalu dipenuhi kebahagiaan.
"Aku ingin membahagiakan kamu," lanjut Jovian.
"Aku udah bahagia, Mas."
"Belum cukup."
Jena menatap lelaki itu lembut. "Aku nggak pernah nuntut apa-apa dari Mas."
"Aku tahu."
"Bahkan kalau Mas bukan CEO pun, aku tetap ak memilih dan mencintai Mas."
Tatapan Jovian langsung melembut semakin dalam. Ia mengecup singkat kening Jena. "Aku beruntung punya kamu." Bibirnya lalu turun ke bibir merah muda Jena, menyesapnya lembut dan penuh cinta.
Jena pun membalasnya, mengalungkan kedua tangannya ke leher kekar Jovian Ardhana.
***
Sekitar pukul sembilan lewat lima belas menit, ruang meeting utama Ardhana Group mulai dipenuhi beberapa petinggi perusahaan.
Jena sibuk memastikan semua kebutuhan rapat tersedia.
Laptop.
Dokumen.
Minuman.
Proyektor.
Sementara Jovian berdiri berbincang dengan beberapa direksi di dekat meja panjang utama.
Tak lama kemudian, pintu ruang meeting terbuka. Semua orang spontan menoleh.
Bimo Ardhana, Papa Jovian masuk dengan langkah tenang khas seorang pemimpin besar. Di belakangnya, ada seorang perempuan muda yang langsung mencuri perhatian semua yang ada di ruangan.
Cantik.
Elegan.
Dan sangat berkelas.
Dress beige mahal membalut tubuh rampingnya sempurna. Rambut panjang bergelombang jatuh anggun di bahunya, sementara heels tinggi membuat penampilannya semakin menonjol.
Jena yang sedang berdiri dekat meja sedikit terdiam.
Bimo tersenyum tipis. "Maaf membuat semua menunggu."
"Tidak, Pa," jawab Jovian. Tatapan lelaki itu sempat beralih pada perempuan di belakang ayahnya.
Bimo lalu berkata, "Jovian, kenalkan. Ini Michelle Ayu Suroso."
Perempuan itu tersenyum lalu mengulurkan tangan. "Halo."
Jovian membalas jabatan tangan itu sopan. "Halo."
"Michelle mewakili MS Fashion untuk rapat hari ini," lanjut Bimo. "Pak Mario Suroso mendadak ada urusan di luar kota jadi tidak bisa hadir."
"Oh begitu," ujar Jovian profesional.
Michelle tersenyum tipis. "Papi sebenarnya kecewa tidak bisa datang langsung. Beliau bilang kerja sama dengan Ardhana Group terlalu penting untuk dilewatkan."
"Semoga urusannya lancar," jawab Jovian.
Michelle mengangguk. Tatapan matanya sempat memperhatikan Jovian beberapa detik lebih lama.
Dan entah kenapa, Jena menangkap itu.
Namun ia buru-buru menepis pikirannya sendiri. Mungkin hanya perasaannya saja.
Rapat pun dimulai.
Selama presentasi berlangsung, Michelle beberapa kali menyampaikan pendapat dengan percaya diri. Cara bicaranya tenang, cerdas, dan jelas menunjukkan bahwa ia memang terbiasa berada di lingkungan bisnis besar.
Beberapa direksi bahkan tampak terkesan.
"Putri Pak Mario memang luar biasa."
"Masih muda tapi cara negosiasinya bagus."
Jena mendengar bisikan itu samar-samar sambil tetap fokus mencatat poin rapat.
Sementara di sisi lain meja, Michelle sesekali melirik ke arah Jovian saat berbicara.
Dan anehnya, Jovian terlihat cukup nyaman menanggapi perempuan itu.
"Kalau untuk produksi premium line, kami ingin kualitas bahan tetap eksklusif," ujar Michelle.
Jovian mengangguk. "Itu juga standar perusahaan kami."
Michelle tersenyum kecil. "Bagus kalau begitu. Berarti kita sejalan."
Kata "kita" terdengar sederhana. Namun entah kenapa membuat hati Jena terasa sedikit aneh. Padahal ini baru pertama kali mereka bertemu.
Rapat berlangsung hampir dua jam sebelum akhirnya selesai. Semua peserta mulai berdiri dan membereskan dokumen masing-masing.
Michelle menoleh pada Jovian sambil tersenyum sopan. "Senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan Anda, Pak Jovian."
"Saya juga."
"Semoga kerja sama kita berjalan lancar." Michelle tersenyum kecil.
"Pasti."
Michelle lalu sedikit melirik ke arah Jena yang berdiri tak jauh dari Jovian. "Sekretaris Anda sangat teliti."
Jena tersenyum sopan. "Terima kasih."
Bimo tiba-tiba berkata, "Jena memang sudah lama bekerja sama dengan Jovian."
"Pantas kelihatan sangat paham ritme kerja Pak Jovian," ujar Michelle sambil tersenyum tipis.
Jena mengangguk kecil. Namun entah kenapa, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, muncul perasaan asing yang tidak bisa ia jelaskan. "Ini perasaan apa ya, kenapa hatiku jadi nggak enak?" gumam gadis itu dalam hati.
ayo Jenaaa segera menjauh agar harga dirimu tdak di injak dgn Kompensasi dari keluarga ardhana
menjauh lah jena ...jangan lg menerima apapun dr kelg itu..walaupun di beri konspensasi atas 9bth bersama jo..
menjauhlah dan hiduplah dg mandiri..
raihlah suksesmu tanpa mereka
semangat jena💪💪💪