Wang Hao, Kaisar Tertinggi Dunia Dou Li, mati secara misterius di puncak kejayaannya. Murid muridnya bersumpah mencari pelaku. Namun jiwa Wang Hao justru bangkit di tubuh pemuda lemah bernama Chen Nan di tempat lain. Kematiannya sendiri adalah misteri terbesar. Siapa yang mampu membunuh sosong sepertinya? Atau ada rahasia lebih kelam di balik kematiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Gema di Kota Lanyu
Setelah itu mereka keluar dari ruang pengobatan, lalu berjalan menuju aula utama.
Setelah sampai, Patriark Sheng duduk di kursinya dengan napas yang masih belum sepenuhnya stabil. Wang Hao berdiri di hadapannya dengan tubuh yang masih lemah, tetapi posturnya tetap tegak.
Patriark Sheng menatapnya lama sebelum akhirnya berbicara. "Kau menyebutkan tiga permintaan. Permintaan pertama adalah membebaskan Lao Fan, permintaan kedua adalah dua ribu batu roh." Ia menyandarkan punggungnya. "Sekarang, apa permintaan ketigamu?"
Wang Hao menggeleng pelan. "Belum waktunya."
"Apa maksudmu?"
"Pengobatan ini belum menunjukkan hasil yang nyata." Wang Hao menatap langsung ke mata Patriark Sheng. "Selama istri anda belum hamil, saya belum bisa mengklaim bahwa pengobatan ini berhasil. Karena itu, permintaan ketiga akan saya tahan dulu."
Patriark Sheng mengangguk perlahan. Jawaban itu masuk akal, tetapi justru karena masuk akal itulah ia merasa semakin tidak nyaman. Pemuda ini selalu memiliki alasan untuk setiap langkahnya, dan setiap alasan selalu membuatnya terlihat bijaksana melampaui usianya.
"Namun..." Wang Hao melanjutkan, "sebagai uang muka, saya minta Klan Sheng melindungi Balai Ramuan Giok Hijau selama saya tinggal di sini."
"Melindungi Balai Ramuan Giok Hijau?" Patriark Sheng mengerutkan keningnya. "Untuk apa?"
"Saya memiliki dugaan bahwa Klan Wei dan Klan Gao akan melakukan tindakan kotor, seperti yang Klan Sheng lakukan beberapa waktu lalu."
Kalimat itu diucapkan dengan nada datar tanpa emosi, tetapi Patriark Sheng merasakan ketajamannya. Ia menyipitkan matanya, menatap Wang Hao dengan sorot yang sulit diartikan. Pemuda ini baru saja mengingatkan bahwa Klan Sheng pernah menculik Lao Fan dan mengancam akan membunuhnya. Dan sekarang ia meminta Klan Sheng untuk mencegah klan lain melakukan hal yang sama.
"Kau sangat jujur," kata Patriark Sheng akhirnya. "Dan tentang dua klan itu... ada benarnya. Klan Wei dan Klan Gao bukanlah klan yang akan tinggal diam melihat Klan Sheng mendapatkan keuntungan."
Ia mengusap janggutnya perlahan.
"Aku setuju. Mulai hari ini, dua orang kultivator Klan Sheng akan ditempatkan di sekitar Balai Ramuan Giok Hijau. Jika ada yang mencoba mengganggu toko itu, mereka akan langsung melapor ke sini."
Wang Hao mengangguk. "Cukup."
*****
Waktu berlalu begitu cepat setelah kesepakatan itu.
Wang Hao menghabiskan hari-harinya di kamar tamu sayap timur Klan Sheng. Pagi hari ia gunakan untuk bermeditasi, memperkuat kultivasi Kondensasi Qi lapis ketiganya. Sore hari ia duduk di kursi rotannya di halaman kecil depan kamarnya, menatap langit, dan memperluas Dao.
Ia tidak terburu-buru meningkatkan kultivasinya. Setiap tetes energi spiritual yang masuk ke tubuhnya diolah dengan hati-hati, dipadatkan, dan disimpan. Fondasi lapis ketiga dibangun tanpa celah, tanpa cacat, tanpa ketergesaan. Ia tahu bahwa setiap terobosan yang dilakukan dengan terburu-buru hanya akan menciptakan kelemahan di masa depan.
*****
Di sisi lain kota, Balai Ramuan Giok Hijau semakin ramai. Pil pencahar dengan kemurnian delapan puluh persen terus terjual habis setiap hari. Lao Fan, dengan metode yang diajarkan Wang Hao, kini mampu membuat seratus pil sehari, jauh lebih banyak dari sebelumnya. Gu Yan kewalahan melayani pembeli yang terus berdatangan.
Dan mereka merasa aman. Dua kultivator Klan Sheng yang ditempatkan di sekitar toko membuat para pengintai dari Klan Wei dan Klan Gao tidak berani mendekat. Setidaknya untuk saat ini.
*****
Malam hari ketiga setelah pengobatan, Patriark Sheng melaksanakan instruksi Wang Hao dengan saksama.
Ia bercumbu dengan istrinya lebih lama dari biasanya, mengikuti setiap langkah yang dijelaskan oleh pemuda itu. Ketika akhirnya batang kehidupan memasuki goa kehidupan, ia menggoyangkan pinggulnya, sembari menahan diri selama lima menit penuh. Ia membayangkan dirinya sebagai ahli api terkuat, yang sedang mengumpulkan kekuatan di telapak tangannya, menunggu api mencapai puncak kekuatannya.
Dan ketika akhirnya ia melepaskan, ia membayangkan ledakan maksimal yang digambarkan Wang Hao. Cairan kehidupan yang telah terkumpul maksimal ditembakkan dengan kekuatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Istrinya menjerit, bukan karena kesakitan, melainkan karena intensitas yang belum pernah mereka alami selama puluhan tahun pernikahan.
Ketika semuanya selesai, Patriark Sheng terbaring di atas dipan dengan napas terengah-engah. Istrinya di sampingnya juga bernapas berat, tetapi ada senyum di wajahnya yang sudah lama tidak terlihat.
"Kali ini... terasa berbeda," bisik istrinya.
Patriark Sheng tidak menjawab. Ia hanya menatap langit-langit kamarnya, dan untuk pertama kalinya dalam empat puluh tahun, ia merasakan harapan.
Waktu berlalu lagi. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan.
Tepat sebulan setelah pengobatan, kabar itu akhirnya datang.
Pagi itu Wang Hao sedang duduk di kursi rotannya di halaman kecil depan kamarnya ketika suara langkah kaki berlarian terdengar dari segala arah. Para pelayan berteriak-teriak dengan suara yang tidak bisa disembunyikan kegembiraannya. Langkah kaki berat para pengawal terdengar bergegas menuju aula utama.
Wang Hao membuka matanya.
"Ternyata berhasil," gumamnya pelan. Ia bangkit dari kursinya, dan memasukkannya ke dalam cincin ruang, lalu berjalan menuju aula utama.
Setibanya di aula utama, Wang Hao melihat aula kini dipenuhi oleh anggota klan yang jarang muncul bersamaan. Para tetua yang biasanya sibuk dengan urusan masing-masing kini berkumpul, berbisik-bisik dengan wajah penuh kegembiraan. Para pengawal berjajar di sepanjang dinding dengan postur tegak.
Di tengah aula, Patriark Sheng berdiri dengan air mata mengalir di pipinya. Pria tua yang biasanya keras dan penuh wibawa itu kini tidak bisa menahan tangisnya. Di sampingnya berdiri istrinya, seorang wanita paruh baya berjubah sutra merah, masih sangat cantik, dan tersenyum sambil mengusap air matanya sendiri.
"Chen Nan..." Patriark Sheng melihat Wang Hao masuk dan langsung berjalan menghampirinya. "Kau berhasil... kau benar-benar berhasil! Istriku hamil!"
Seluruh aula bergemuruh dengan suara kegembiraan. Para anggota klan bertepuk tangan, beberapa di antaranya bahkan bersorak. Para tetua saling berpandangan dengan senyum di wajah mereka yang keriput.
Wang Hao tetap tenang di tengah semua kegembiraan itu. "Selamat."
"Bukan hanya selamat!" Patriark Sheng menggenggam kedua bahu Wang Hao. "Kau sudah menyelamatkan Klan Sheng dari kepunahan! Tanpa keturunan 'murni', klan ini akan hancur dalam satu generasi! Tapi sekarang... sekarang aku akan punya anak!"
Seorang tetua tua berjubah abu-abu melangkah maju dari kerumunan. Usianya mungkin sembilan puluh tahun, dengan rambut putih seluruhnya dan punggung yang sedikit membungkuk.
"Jadi kau pemuda yang melakukan semua ini?" suaranya serak tetapi masih jelas.
Wang Hao menoleh ke arahnya. "Benar."
"Namaku Sheng Wuya, tetua paling tua di klan ini." Pria tua itu menatap Wang Hao dengan sorot yang sulit diartikan. "Aku sudah hidup sembilan puluh tahun, dan aku belum pernah melihat seseorang seusiamu bisa melakukan apa yang kau lakukan. Dari mana asalmu, pemuda?"
"Dari tempat yang jauh."
Sheng Wuya menyipitkan matanya, tetapi tidak mendesak lebih jauh. "Baiklah, setiap orang berhak menyimpan rahasianya. Yang penting, kau telah membantu Klan Sheng. Untuk itu, aku secara pribadi berterima kasih."
"Belum selesai," kata Wang Hao.
Semua orang di aula menoleh ke arahnya.
"Permintaan ketiga," Wang Hao menatap Patriark Sheng. "Sekarang hasilnya sudah terbukti, dan saya ingin menyebutkan permintaan ketiga."
Patriark Sheng melepaskan bahu Wang Hao dan menegakkan tubuhnya. "Sebutkan. Apa pun yang kauminta, selama Klan Sheng mampu, kami akan memberikannya."
Wang Hao terdiam sejenak, lalu berbicara dengan suara tenang. "Saya ingin akses ke perpustakaan teknik Klan Sheng. Saya juga ingin Klan Sheng terus melindungi Balai Ramuan Giok Hijau selama saya tinggal di kota ini. Itu saja."
Patriark Sheng mengerutkan keningnya. "Hanya itu? Tidak ada yang lain?"
"Itu sudah cukup."
Para tetua saling berpandangan dengan heran. Permintaan itu terlalu sederhana untuk seseorang yang baru saja menyelamatkan seluruh klan dari kepunahan keturunan murni. Akses ke perpustakaan teknik adalah hak yang biasanya hanya diberikan kepada anggota inti klan, tetapi untuk jasa sebesar ini, itu terlalu murah.
"Permintaanmu kuterima," kata Patriark Sheng akhirnya. "Tapi dengan satu syarat."
"Sebutkan."
"Kau harus tinggal di Klan Sheng sampai anakku lahir. Aku ingin memastikan tidak ada komplikasi selama kehamilan istriku. Jika kau setuju, maka semua permintaanmu akan kupenuhi tanpa kecuali."
Wang Hao mengangguk. "Saya setuju."
Kegembiraan di aula berlanjut hingga malam hari. Para pelayan membawakan makanan dan arak, dan suasana berubah menjadi perayaan kecil yang hanya dihadiri oleh anggota inti klan. Wang Hao duduk di sudut aula, makan dengan tenang sambil mengamati interaksi antara para anggota Klan Sheng.
Klan ini telah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Keturunan, masa depan dan harapan.
Dan Wang Hao telah mendapatkan apa yang ia inginkan. Akses ke perpustakaan teknik, yang mungkin akan memeberikannya informasi.
*****
Keesokan harinya, Wang Hao mulai menggunakan hak aksesnya ke perpustakaan teknik Klan Sheng.
Perpustakaan itu terletak di bagian paling belakang kediaman, sebuah ruangan batu yang dijaga oleh dua kultivator Kondensasi Qi lapis ketujuh. Di dalamnya, rak-rak kayu berjejer dari lantai hingga langit-langit, dipenuhi oleh gulungan kitab dan buku-buku tua. Sebagian besar adalah teknik kultivasi dasar, catatan sejarah klan, dan beberapa pengetahuan alkemi tingkat rendah.
Wang Hao memutuskan untuk menghabiskan waktu di perpustakaan itu, hingga sesuatu yang dia cari, dia dapatkan. Dia tidak mencari teknik kultivasi, tapi mencari informasi tentang Dunia Cangyuan, tentang sejarah Benua Dongxu, dan tentang apa pun yang bisa memberinya petunjuk tentang dunia ini.
Dia tidak ingin mencari informasi dari orang lain, karena bisa menimbulkan banyak kecurigaan dan pertanyaan.
Di hari kedua saat hari sudah hampir senja, ia menemukan sesuatu yang menarik.
Sebuah kitab tua berjudul "Catatan Perjalanan ke Benua Pusat" yang ditulis oleh seorang kultivator pengembara sekitar tiga ratus tahun lalu. Di dalamnya, penulis menceritakan perjalanannya ke benua pusat dan menyinggung tentang "Domain tersembunyi yang menyimpan sejuta misteri."
Wang Hao membaca bagian itu dengan saksama. Penulisnya menyebutkan bahwa di benua pusat terdapat sebuah sekte kuno yang menjaga rahasia tentang "Dunia binatang suci." Sayangnya, penulisnya tidak memberikan detail lebih lanjut. Ia hanya menulis bahwa sekte itu disebut "Sekte Langit Mendalam" dan lokasinya dirahasiakan.
"Benua Pusat..." gumam Wang Hao.
---
Pada hari yang sama ketika Wang Hao menemukan kitab itu, di kediaman Klan Wei, Patriark Wei sedang berbicara dengan dua penasihatnya di sebuah ruangan tertutup. Lentera minyak di sudut ruangan memberikan cahaya redup yang membuat bayangan-bayangan di dinding tampak hidup.
"Aku mendengar Klan Sheng mengadakan perayaan kecil tadi malam," kata Patriark Wei dengan suara rendah. "Tertutup, hanya untuk anggota inti."
Salah satu penasihatnya, seorang pria kurus dengan janggut tipis, mengangguk. "Benar, Patriark. Tidak ada yang tahu apa yang mereka rayakan. Tapi ada rumor..."
"Rumor apa?"
"Rumor bahwa istri Patriark Sheng sedang hamil."
Patriark Wei mendengus. "Setelah puluhan tahun menikah tanpa anak, tiba-tiba hamil? Itu tidak masuk akal."
"Itulah yang dikatakan orang-orang, Patriark. Tapi ada satu hal yang membuat rumor ini agak... meyakinkan." Penasihat itu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Pemuda misterius yang muncul di Balai Ramuan Giok Hijau, yang membuat pil pencahar berkualitas tinggi, kini tinggal di kediaman Klan Sheng. Sudah lebih dari sebulan."
Patriark Wei mengetukkan jarinya ke atas meja. "Pemuda misterius."
"Benar, pemuda itu. Tidak ada yang tahu dari mana asalnya atau apa keahliannya. Tapi sejak ia muncul, Balai Ramuan Giok Hijau menjual pil yang belum pernah ada sebelumnya. Dan sekarang ia tinggal di Klan Sheng."
"Apa kau berpikir pemuda itu yang membuat istri Patriark Sheng hamil?"
Penasihat itu mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Tapi waktunya terlalu tepat untuk diabaikan. Pemuda misterius muncul, setelah itu pil pencahar yang muncul. Lalu setelah itu... tiba-tiba istri Patriark Sheng hamil? Itu terlalu banyak kebetulan."
Patriark Wei menyandarkan punggungnya ke kursinya. "Cari tahu lebih banyak. Aku ingin tahu siapa sebenarnya pemuda misterius itu. Dan kirim seseorang untuk mengawasi Balai Ramuan Giok Hijau. Jika ada kesempatan untuk masuk dan mencari informasi, lakukan."
"Tapi Patriark... Klan Sheng menempatkan dua kultivator di sekitar toko itu. Jika kita ketahuan..."
"Jangan ketahuan." Patriark Wei menatap penasihatnya dengan tajam. "Klan Wei tidak akan bertindak gegabah seperti kebiasaan Klan Sheng. Kita akan menunggu, mengamati, dan ketika waktunya tepat, kita akan bergerak."
Penasihat itu membungkuk. "Baik, Patriark."
---
Sementara itu, di kediaman Klan Gao, Patriark Gao juga menerima laporan serupa. Tapi berbeda dengan Klan Wei yang memilih menunggu, Patriark Gao mengambil pendekatan yang berbeda.
"Aku ingin bertemu langsung dengan pemuda ini," katanya kepada penasihatnya. "Kirim undangan resmi ke Klan Sheng. Katakan bahwa Klan Gao ingin memberikan selamat atas kabar baik yang kami dengar."
"Tapi Patriark... kita tidak tahu pasti apa yang mereka rayakan. Jika kita mengirim undangan dan ternyata rumor itu tidak benar..."
"Justru itu." Patriark Gao tersenyum tipis. "Dengan mengirim undangan, kita akan melihat reaksi mereka. Jika rumor itu benar, mereka akan menerima undangan dengan bangga. Jika salah, mereka akan bingung dan mungkin menolak. Apapun reaksi mereka... kita akan mendapatkan informasi."
Penasihat itu mengangguk kagum. "Bijaksana sekali, Patriark."
"Siapkan undangannya, lalu kirim besok pagi."