Zavier terpaksa harus mencari seorang wanita untuk di jadikan istri secepatnya, karena di paksa oleh sang kakek yang sedang sakit parah. Sebagai seorang pewaris tunggal dirinya di tuntut oleh sang kakek untuk memiliki istri di usianya yang ke 27 tahun, hal ini membuat Zavier hampir gila.
Sementara itu di sisi lain, Sofia yang baru saja kehilangan sang papa, kini menjadi yatim piatu hidup menderita di tangan mama dan adik tirinya. Namun sebuah teragedi tak terduga terjadi, mama tiri Sofia tiba-tiba menjual Sofia kepada seorang laki-laki tua demi uang. Namun pada akhirnya hal ini malah membuat jalan bagi Sofia bertemu dengan Zavier.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Tak lama kemudian, mereka pun akhirnya tiba di kamar, Sofia di berikan selimut dan juga bantal peluk Zavier untuk nya tidur di atas Sofa besar yang ada di dalam kamar tersebut.
"Kau tidak akan jatuh kan jika tidur di sana?" kata Zavier sambil memberikan selimut dan juga bantal guling yang dia ambil dari salah satu lemari yang ada di dalam kamar tersebut.
"Tidak, aku akan baik-baik saja," jawab Sofia dengan tatapan yakin.
"Jangan jatuh dan menciptakan bunyi-bunyian, aku tidak akan bisa tidur jika kau berisik, apa kau mengerti?" tanya Zavier lagi.
"Ya, aku mengerti, aku ini manusia bukan kambing jadi kau tidak perlu mewanti-wanti ku sebegitu nya," setelah lama menahan Sofia akhirnya kebawa kesal dengan ucapan Zavier.
"Beraninya kau tidak sopan kepada ku," ujar Zavier dengan tatapan tajam.
"Mana ada, aku hanya mengatakan apa yang seharusnya aku katakan," jawab Sofia tetap tak mau kalah.
"Hey anak kecil, dengar aku baik-baik, meskipun kita hanya sepasang suami istri kontrak, namun aku tetap adalah suami mu, orang yang lebih tua dari kau, jadi jangan coba-coba melawan dan bersikap kurang hajar, kau paham!?" kata Zavier sambil menunjuk-nunjuk Sofia dengan telujuk nya.
"Baik lah," jawab Sofia mengalah karena tak ingin perdebatan terus terjadi.
"Sekarang cepat tidur, besok aku akan meminta Glen untuk membawa mu keliling mansion, untuk mengenali ruangan-ruangan di sini agar kau tidak tersesat," ungkap Zavier layaknya bicara kepada seorang anak buah.
"Ya, baik aku paham," jawab Sofia tanpa menatap Zavier.
Sofia tak ingin menatap wajah Zavier, karena bagi nya tatapan Zavier yang bak seekor burung helang itu hanya akan membuat merasa sangat ketakutan.
"Tunggu, satu lagi," ujar Zavier menghentikan langkah Sofia yang sudah beberapa langkah hendak menuju sofa.
"Apa lagi?" tanya Sofia lelah.
"Kau boleh memagil ku dengan sebutan apapun yang kau suka, asal jangan membuat orang-orang curiga," kata Zavier yang kemudian beranjak pergi menuju ranjang nya.
Sofia terdiam, usianya baru dua puluh tahun dan usia Zavier sudah dua puluh tujuh tahun, ia ingin memanggil dengan sebutan mas, itu benar-benar sangat cangung menurut nya, dan yang nyaman di bibir hanya lah kak, ya dia memutuskan untuk memanggil kak Zavier.
"Ya, kak Zavier saja, itu lebih cocok, usia kami berbeda tujuh tahun, aku rasa dia pantas di panggil kak," kata Sofia sambil menganggukkan kepalanya sendiri.
Sementara Zavier yang diam-diam memperhatikan nya merasa geli dengan tingkah Sofia yang seolah bicara sendiri meskipun melalui hati.
Singkat cerita mereka pun akhirnya tidur, untuk yang pertama kalinya Sofia maupun Zavier tidur dalam satu kamar berdua, namun hal ini tidak terlalu cangung karena mereka berada di tempat tidur yang berbeda dan juga jarak yang lumayan jauh.
Keesokan harinya.
Sofia membuka mata nya dan melihat ke sekeliling kamar yang luas tersebut, tidak terdapat Zavier lagi di atas ranjang, ranjang nya juga sudah rapih.
"Jam berapa ini?" Sofia menggosok-gosok mata nya dan melihat ke arah dinding, di mana tertempel jam yang cukup lumayan besar.
Pukul 07.40
"Astaga, sudah hampir jam delapan, aku harus bangun dan segera menadi," ucap Sofia yang kemudian beranjak dari tempat tidur nya.
Ia mengambil handuk milik nya dan kemudian berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah tiga puluh menit kemudian, ia lun keluar dari kamar mandi dan segera mengenakan pakaian nya.
Tak lama setelah Sofia selesai mengunakan pakaian nya, terdengar suara ketukan di laur pintu kamar tersebut.
Tok ...
Tok ...
Tok ...
Sofia pun bergegas menghampiri pintu dan kemudian membuka nya.
"Selamat pagi nona muda," kata kepala pelayan yang saat ini berdiri di hadapan Sofia dengan menenteng nampan yang berisikan makanan.
"Bik Rua," ujar Sofia yang sedikit kaget.
"Nona muda, ini sarapan pagi untuk anda," kata bik Rua yang kemudian berjalan masuk ke dalam kamar tersebut dan meletakkan nampan itu di meja yang ada di dalam kamar itu.
"Terima kasih banyak bik, tapi kenapa harus makan di dalam kamar?" Sofia yang tidak terbiasa dan cangung karena di layani dengan sangat sepesial di rumah ini merasa agak kebingungan.
"Nona, jangan terlalu gugup, ini hal biasa dan ini tugas kami," kata bik Rua sambil tersenyum.
"Terima kasih bik, oh ya, di mana kak Zavier?" tanya Sofia penasaran karena dia tidak melihat Zavier sedari tadi.
"Ah iya, bibik hampir lupa, tadi tuan muda dan asisten Glen buru-buru sekali pergi, mereka punya urusan, dan tuan muda meminta saya untuk melayani nona hari ini, saya juga yang akan membawa nona untuk berkeliling mansion," jelas bik Rua panjang lebar.
"Begitu ya bik, tapi apakah bibik tidak tau mereka pergi ke mana?" tanya Sofia penasaran.
"Tidak nona, tuan tidak banyak bicara," kata bik Rua lagi.
"Ah ya, baik lah kalau begitu sekali lagi terima kasih untuk sarapan nya bik," ujar Sofia sambil tersenyum.
"Iya nona, sebaiknya nona sarapan sekarang sebelum makanan nya keburu dingin, saya akan menunggu di luar, setelah nona sarapan kita akan melanjutkan aktivitas selanjutnya," ujar bik Rua yang kemudian berjalan keluar dari kamar dan menutup pintu.
Sofia pun mulai makan, meksipun begitu banyak pertanyaan yang terbesit di benak nya, dia masih penasaran sebenarnya Zavier itu orang yang seperti apa, apakah dia punya bisnis berbahaya atau dia seorang mafia, begitu lah pikiran Sofia saat ini.
Mengetahui Zavier yang suka pergi tiba-tiba seperti ini membuat Sofia sedikit tertarik untuk mengetahui siapa sebenarnya Zavier ini lebih dalam.
Singkat cerita Sofia pun menghabiskan sarapan nya, setelah menghabiskan sarapan nya ia pun bergegas menemui bik Rua yang saat ini menunggu nya di depan pintu masuk kamar Zavier.
"Maaf bik, aku sudah membuat mu menunggu lama," kata Sofia yang kini berada di hadapan bik Rua.
"Tidak lama nona, apakah kita bisa mulai keliling sekarang?" tanya bik Rua dengan sopan.
"Tentu, ayo!" kata Sofia dengan bersemangat untuk lebih mengenal sisi dan tempat di mansion tersebut.
Mereka pun mulai berjalan bersama-sama mengitari tempat-tempat yang ada di mansion, mulai dari ruang tamu mansion yang cukup luas, itulah yang nantinya akan di pakai untuk pesta yang akan di adakan dua hari lagi.
"Bik, apa yang sedang mereka lakukan?" tanya Sofia kepada bik Rua saat mereka tiba di ruang tengah tersebut.
"Oh itu ya nona? Mereka itu adalah orang-orang yang di sewa oleh asisten Glen untuk mendekorasi ruang tengah untuk pesta dua hari lagi," kata bik Rua terlihat santai.
Seketika Sofia terdiam, dia tidak menyangka kalau persiapan nya benar-benar sangat besar, bahkan dua hari sebelum pesta para penata rias ruangan telah datang dan bekerja keras.
Bersambung ....