Budi, seorang karyawan kantor biasa yang gaji bulanannya selalu numpang lewat karena harus melunasi utang warisan orang tuanya, tiba-tiba mendapatkan sebuah sistem aneh bernama 'System Lempar Dadu Monopoly'.
Sistem ini menampilkan papan permainan hologram mirip Monopoli lengkap dengan avatar chibi dirinya di atasnya, di mana setiap lemparan dadu bisa memberikannya reward uang dan item ajaib, atau hukuman memalukan yang harus ia jalani di dunia nyata.
Kini, hidup Budi berubah drastis menjadi sebuah pertaruhan harian di mana setiap petak yang ia injak perlahan-lahan mengangkatnya dari kemiskinan, asalkan ia bisa bertahan dari "kejutan" konyol yang disiapkan oleh sistem tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Pagi ini suasana di ruang divisi administrasi terasa lebih sibuk dari hari hari sebelumnya.
Tumpukan dokumen dan map warna warni memenuhi hampir setiap meja karyawan.
Budi duduk di kursinya sambil menatap layar komputer dengan tatapan yang sangat fokus.
Pikirannya tidak tertuju pada pekerjaan rutinnya melainkan pada rencana penggelapan dana Pak Anton.
'Aku tidak boleh diam saja menunggu bom waktu itu meledak dan menghancurkan karirku.'
'Aku harus bergerak lebih cepat dari bos serakah itu untuk mengumpulkan bukti mulai sekarang.'
Budi menoleh ke arah meja Reno yang kebetulan sedang merapikan laci berkasnya.
"Ren, kamu sedang sibuk tidak pagi ini."
Budi bertanya dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh Siska di seberang meja.
"Lumayan Bud, aku sedang mencari rekapitulasi nota pembelian alat tulis kantor bulan lalu."
Reno menjawab tanpa menoleh karena kepalanya masih setengah masuk ke dalam laci bawah mejanya.
"Kebetulan sekali Ren, aku juga sedang butuh melihat berkas itu."
Budi menggeser kursinya sedikit lebih dekat ke arah meja Reno.
"Boleh aku pinjam salinan pengajuan dana divisi untuk tiga bulan terakhir tidak."
Mendengar permintaan Budi itu Reno langsung menarik kepalanya dari dalam laci.
Dia menatap Budi dengan kening berkerut penuh tanda tanya.
"Untuk apa kau minta salinan pengajuan dana divisi Bud."
"Itu kan bukan bagian dari tugas pengetikan datamu kemarin."
Budi sudah menyiapkan alasan yang sangat masuk akal agar sahabatnya itu tidak curiga.
"Waktu aku mengetik nota dari Pak Anton kemarin, aku melihat ada beberapa ketidakcocokan angka."
"Aku cuma mau memastikan saja apakah itu murni salah tulis atau ada selisih di pengajuan awalnya."
Reno menganggukkan kepalanya perlahan mulai memahami maksud Budi.
"Pantas saja Pak Anton menyuruhmu mengetik ulang nota nota lama itu secara mendadak."
"Tunggu sebentar Bud, aku carikan dulu map arsipnya di tumpukan paling bawah ini."
Srak. Srak.
Suara tumpukan kertas yang digeser geser terdengar dari bawah meja Reno.
Beberapa menit kemudian Reno mengeluarkan sebuah map plastik tebal berwarna biru.
Dia menyerahkan map itu kepada Budi dengan sangat hati hati.
"Ini salinan lengkapnya Bud, tapi tolong jangan sampai ketahuan Pak Anton ya."
"Bisa habis kita berdua kalau dia tahu kita membongkar bongkar arsip keuangan divisi tanpa izin."
Budi menerima map itu dan menyembunyikannya di bawah tumpukan dokumen kosong di mejanya.
"Tenang saja Ren, aku akan memeriksanya diam diam saat jam istirahat makan siang nanti."
"Terima kasih banyak ya, bantuanmu ini sangat berarti buatku."
"Sama sama Bud, kabari aku kalau kau menemukan ada angka yang aneh di sana."
Reno kembali fokus pada pekerjaannya sendiri tanpa menaruh kecurigaan lebih jauh.
Budi tersenyum tipis dan mulai membuka lembaran pertama dari map biru tersebut secara sembunyi sembunyi.
Dia mencatat setiap angka pengajuan dana operasional yang nominalnya terlihat terlalu besar untuk ukuran divisi kecil.
'Dengan bukti salinan ini, Pak Anton tidak akan bisa mengkambinghitamkan aku atau Reno.'
'Kalau dia berani menjebakku, aku akan langsung mengirim bukti ini ke direksi pusat.'
Siska yang duduk di meja seberang tampak sangat pendiam dan hanya fokus menatap layar komputernya.
Budi tahu perempuan itu sedang dilanda kecemasan parah akibat kesalahan kerjanya sendiri.
Sesekali Budi sengaja menatap ke arah Siska membuat perempuan itu langsung menundukkan kepalanya salah tingkah.
Waktu berjalan dengan cepat dan jam kerja hari itu terasa jauh lebih produktif bagi Budi.
Sore harinya Budi merapikan meja kerjanya dengan perasaan yang sangat lega.
Dia mengembalikan map biru itu ke laci Reno tepat sebelum mereka bersiap untuk pulang.
"Semuanya aman Bud, tidak ada masalah kan."
Reno bertanya sambil menyandang tas ranselnya di bahu.
"Aman Ren, sepertinya cuma perasaanku saja yang terlalu curiga kemarin."
Budi terpaksa berbohong untuk melindungi sahabatnya dari masalah besar yang sedang dia selidiki.
Mereka berdua berjalan keluar dari gedung kantor dan berpisah di halte bus.
Perjalanan pulang Budi sore ini ditemani oleh langit senja yang berwarna jingga keemasan.
Seperti rencananya semalam, Budi kembali mengambil rute jalan utama yang melewati minimarket Maya.
Langkah kakinya terasa jauh lebih ringan dan penuh percaya diri.
Begitu sampai di depan pintu kaca minimarket, Budi mendorongnya perlahan.
Ting tong.
Suara bel otomatis itu langsung disambut oleh senyuman cerah dari balik meja kasir.
Maya sedang berdiri di sana merapikan tumpukan cokelat batangan di rak kecil.
"Selamat sore Mas Budi, baru pulang kerja ya."
Maya menyapa lebih dulu dengan suara lembutnya yang khas.
"Sore Mbak Maya, iya ini baru saja turun dari bus."
Budi membalas sapaan itu sambil berjalan menuju lemari pendingin di sudut ruangan.
Dia mengambil sekotak susu murni segar dan sebungkus roti tawar gandum.
Budi membawa belanjaannya ke meja kasir dan meletakkannya di depan Maya.
Tit tit.
Maya memindai barang belanjaan Budi dengan cekatan.
"Tumben sore ini Mas Budi belinya susu kotak murni, biasanya selalu ambil minuman teh manis dingin."
Maya mencoba membuka obrolan ringan sambil tersenyum menatap wajah Budi.
"Iya Mbak Maya, rasanya badanku sedang butuh yang hangat dan bergizi sore ini."
"Mungkin karena belakangan ini banyak lembur di kantor jadi staminanya sedikit turun."
Maya menganggukkan kepalanya dengan raut wajah yang menunjukkan sedikit perhatian.
"Bagus dong Mas kalau mulai sadar kesehatan, jangan sering sering minum es manis nanti gampang radang tenggorokan."
"Apalagi cuaca sekarang sedang tidak menentu begini."
Budi merasakan ada kehangatan yang menjalar di dadanya mendengar larangan kecil dari Maya itu.
'Mbak Maya ternyata orang yang sangat perhatian pada pelanggannya.'
"Terima kasih atas perhatiannya Mbak Maya, akan saya ingat baik baik pesannya."
Budi menjawab sambil mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dari dompetnya.
Maya menerima uang itu dan mulai menghitung kembaliannya di laci kasir.
"Oh ya Mas Budi, malam ini tidak ada jadwal main game aneh aneh lagi dengan teman temannya kan."
Maya tiba tiba bertanya dengan nada suara yang sedikit menggoda.
Budi langsung tertawa pelan teringat pada kebohongan konyolnya beberapa malam lalu.
"Tidak ada Mbak Maya, malam ini saya jamin seratus persen aman terkendali."
"Saya mau langsung pulang, makan roti, lalu tidur nyenyak di kosan."
Maya ikut tertawa renyah hingga bahunya sedikit terguncang.
"Syukurlah kalau begitu Mas, saya cuma takut nanti Mas Budi tiba tiba datang dan teriak teriak lagi di depan pintu."
"Saya bisa jantungan sungguhan kalau diulangi lagi Mas."
"Maaf maaf Mbak, saya pastikan kejadian memalukan itu adalah yang pertama dan terakhir kalinya seumur hidup saya."
Maya menyerahkan uang kembalian beserta struk belanjanya ke tangan Budi.
Jari tangan mereka bersentuhan sedikit dan Budi bisa merasakan kulit Maya yang terasa dingin karena pendingin ruangan.
"Ini kembaliannya Mas Budi, selamat beristirahat di kosan ya."
"Terima kasih banyak Mbak Maya, selamat melanjutkan pekerjaannya juga."
Budi mengambil kantong plastiknya dan melangkah keluar dari minimarket dengan senyum tertahan.
Perasaannya saat ini benar benar campur aduk antara senang dan sedikit salah tingkah.
Kecanggungan di antara mereka berdua benar benar sudah hilang tanpa sisa.
Sesampainya di kamar kos, Budi meletakkan belanjaannya dan langsung membersihkan diri.
Dia memakan roti gandumnya ditemani susu murni sambil menunggu waktu malam tiba.
Tepat pukul delapan malam, keheningan kamarnya dipecahkan oleh suara yang sangat ditunggunya.
Ting.
Layar hologram biru raksasa seketika terbentang menyinari seluruh sudut kamar kosnya yang sempit.