NovelToon NovelToon
Pengantin 1,2 Triliun.

Pengantin 1,2 Triliun.

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa / Nikahmuda
Popularitas:698
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
​Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
​Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Menguping.

Di balkon lantai dua yang menghadap langsung ke arah halaman depan mansion, Prisha tampak duduk dengan santai di sebuah kursi rotan berlapis bantalan empuk. Di atas meja kaca kecil di depannya, tersaji sepiring roti panggang mentega kismis madu buatan koki pribadi rumah yang masih mengepulkan aroma gurih, bersanding dengan secangkir teh chamomile hangat.

Cuaca malam itu agak berangin kencang, membuat dedaunan pohon di sekitar halaman berdesik konstan. Langit di atas sana tampak pekat bergulung awan hitam, sama sekali tidak memperlihatkan keberadaan bulan ataupun kerlip bintang.

Namun, fokus perhatian Prisha saat ini sama sekali bukan pada keindahan langit malam yang suram itu. Sepasang mata sengaja dipaku ke arah gerbang besi utama di kejauhan. Gadis itu sengaja duduk di sana demi menanti kepulangan Saka. Ia teramat penasaran untuk melihat bagaimana ekspresi wajah pria itu setelah dipaksa pulang oleh pesan penuh ancaman dari Ratih.

‘Aku lega... ternyata Bibi benar-benar tidak memberikan restu sedikit pun terhadap Utami,’ batin Prisha bersorak di dalam hatinya.

Sebuah senyuman tipis yang sarat akan rasa puas mengembang di bibirnya. Meskipun langit di atas kepalanya saat ini tampak gelap gulita dan mencekam, suasana hati Prisha justru terasa sangat cerah dan bersemangat. Mengetahui bahwa musuh terbesarnya dalam memperebutkan Saka tidak mendapatkan tempat di hati sang nyonya besar adalah sebuah angin segar yang luar biasa bagi posisinya.

Bora yang berdiri dengan setia di sisi ayunan, sesekali merapatkan blazer hitamnya sendiri ketika embusan angin malam yang tajam menerpa kulit. Ia menatap cemas ke arah sang majikan yang hanya mengenakan gaun tidur satin tipis tanpa luaran.

“Nona, anginnya terasa makin kencang. Apa Anda tidak merasa kedinginan?” ucap Bora dengan nada penuh kekhawatiran, takut jika fisik Prisha akan drop akibat nekat berlama-lama di luar ruangan berangin.

Prisha menoleh sekilas, sepasang matanya berbinar cerah, memantulkan cahaya lampu balkon. “Tidak sama sekali, Bora. Aku justru sedang merasa sangat hangat dan menggebu-gebu saat ini.”

Walaupun Prisha berkata demikian dengan nada riang, Bora tidak bisa mengabaikan tanggung jawabnya begitu saja. Sebagai seorang pelayan pribadi profesional yang dilatih untuk selalu mengutamakan kenyamanan dan kesehatan majikannya, ia harus tetap melakukan sesuatu yang bisa ia lakukan.

Bora beranjak dari tempat duduknya, memutar tubuh berniat mengambil selimut tebal ke dalam kamar. Namun, baru dua langkah kakinya bergerak, Prisha dengan sigap mengulurkan tangan, mencengkeram pergelangan tangan Bora, lalu menyeretnya dengan tidak sabar mendekat ke arah pagar pembatas balkon.

“Akhirnya datang! Akhirnya datang!” sorak Prisha bersemangat. Ia menunjuk ke arah bawah dengan telunjuknya, namun sengaja merendahkan volume suaranya menjadi bisikan kecil agar Saka yang berada di bawah tidak menyadari keberadaan mereka yang sedang mengintai di atas sini.

Objek yang ditunjuk oleh Prisha adalah mobil milik Saka yang baru saja melesat membelah kegelapan, melewati gerbang utama yang terbuka otomatis. Pria itu membuka pintu, keluar dari dalam kemudi dengan gerakan kasar, memperlihatkan ekspresi wajah yang teramat masam, kusut, dan ditekuk penuh amarah.

Melihat pemandangan itu, Prisha spontan tertawa kecil di balik telapak tangannya. Suara kekehannya yang renyah terdengar begitu kontras dengan keheningan malam, sampai-sampai Bora yang berdiri di sampingnya hanya bisa menatap bingung, heran tentang apa sebenarnya yang menurut Prisha saat ini terasa begitu lucu dari penderitaan Tuan Mudanya.

“Sekarang ... ayo kita mengintip dia dimarahi oleh ibunya, Bora,” ajak Prisha.

Tanpa menunggu persetujuan pelayannya, Prisha langsung melepaskan cengkeramannya dan berlari kecil dengan langkah kaki yang sengaja diredam di atas karpet lorong dalam rumah.

Bora hanya bisa mengembuskan napas pasrah, menuruti langkah cepat Prisha. Mereka berdua bergerak gesit menuju lantai bawah, mengarah ke ruang keluarga utama karena di sanalah Ratih sudah duduk menanti kedatangan putra tunggalnya.

Setibanya di lantai bawah, Prisha langsung menarik Bora untuk bersembunyi di balik sebuah pilar besar yang berjarak hanya beberapa meter dari ruang keluarga. Di balik dinding pembatas yang kokoh itu, kedua gadis itu berdiri berdekatan, menahan napas dan mulai menguping jalannya konfrontasi domestik yang menegangkan.

Saka baru saja mendudukkan tubuhnya di atas sofa tunggal. Belum sempat ia menyandarkan punggungnya untuk melepas lelah, suara Ratih yang sarat akan penekanan tajam langsung menggelegar memecah keheningan.

“Kau ini benar-benar seperti orang buta, Saka!” tekan Ratih dengan tatapan mata yang menghunus tajam tepat ke arah wajah putranya. “Masih saja kau membuang-buang waktumu untuk menunggu Utami! Mau sampai kapan kau bertingkah bodoh seperti ini? Ini sudah tiga tahun berlalu semenjak dia dinyatakan koma!”

Saka mengepalkan tangannya di atas lutut, mencoba sekuat tenaga untuk meredam emosinya agar tidak membalas ibunya dengan bentakan. Dengan nada suara yang diatur sedatar mungkin, ia menjawab pendek, “Dia sudah sadar, Mama. Hari ini Utami terbangun.”

Mendengar berita besar itu, Ratih sama sekali tidak menunjukkan ekspresi terkejut ataupun simpati. Wanita paruh baya itu justru mendengus sinis, menyilangkan kedua kakinya dengan anggun namun angkuh.

“Memangnya kenapa kalau dia sudah sadar? Hah? Berarti seluruh tanggung jawab morilmu untuk membiayai rumah sakitnya selama ini sudah berakhir, kan? Lalu apa maumu sekarang? Menikahinya? Tidak, Saka! Sampai kapan pun dia tidak akan pernah memenuhi standar sebagai menantu di rumah keluarga Tanubrata!”

Saka memilih untuk diam, mengalihkan pandangannya ke arah lantai marmer. Pria itu sudah teramat capek, lelah secara fisik dan mental untuk terus-menerus berdebat tentang hal yang sama dengan Ratih selama bertahun-tahun. Penolakannya selalu berada di titik buntu yang sama.

Melihat putranya hanya diam membisu, Ratih semakin menyudutkannya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Saka dengan sorot mata yang dipenuhi ambisi kelas atas.

“Sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di Tanubrata Group, garis keturunan itu adalah hal yang paling penting, Saka! Apa jadinya masa depan dinasti bisnis kita jika kau nekat menikah dengan wanita mandul seperti dia?”

Kalimat tajam yang terlontar dari mulut Ratih seketika memukul rungu Prisha yang sedang bersembunyi di balik pilar. Prisha tertegun di tempatnya berdiri, sepasang matanya melebar karena terkejut.

Akhirnya ... setelah sekian lama menebak-nebak, malam ini ia mengetahui alasan yang sesungguhnya mengapa Ratih begitu menentang keras hubungan kasih antara Saka dan Utami.

Fakta bahwa Utami tidak pernah terlihat di lingkaran sosial bukan hanya karena koma selama tiga tahun akibat kecelakaan, melainkan karena wanita itu divonis tidak bisa memberikan penerus bagi keluarga Tanubrata.

‘Sebagai sesama wanita, ternyata Bibi bisa bersikap sangat kejam kalau menyangkut urusan bisnis dan keturunan,’ batin Prisha bergidik ngeri, merasakan dominasi Ratih yang tanpa ampun.

Ratih masih melanjutkan intimidasi verbalnya kepada Saka yang masih bungkam. “Ck, jangan menatap Mama seperti itu, Saka! Dia bisa saja sembuh lalu menikah dengan pria lain dari kelasnya, tapi jelas tidak denganmu. Pikirkan posisimu! Jika kau tidak memiliki anak kandung sebagai pewaris sah, seluruh pengaruh dan kekuasaanmu di Tanubrata Group suatu saat nanti akan jatuh ke tangan anak-anak dari sepupumu. Apa kau mau turun dari jabatanmu dan menua tanpa jaminan pengaruh apa pun hanya demi cinta picisan?”

Saka tahu persis kebenaran pahit di balik kata-kata ibunya itu. Di dunia korporasi yang kejam, tanpa adanya pewaris garis lurus, para pemegang saham dan dewan keluarga besar akan dengan mudah menggeser posisinya saat ia menua kelak, menggantikannya dengan anak-anak sepupunya yang kini tengah mengincar posisinya dari balik layar.

“Nikahi Prisha,” titah Ratih dengan nada perintah yang mutlak, tidak menerima bantahan apa pun lagi. “Keluarga Kaelen memiliki gen yang kuat, dan Prisha adalah pilihan terbaik untuk melahirkan pewaris Tanubrata.”

“Tidak akan pernah,” tolak Saka dengan suara yang rendah namun sarat akan ketegasan mutlak. Pria itu langsung beranjak bangkit berdiri dari sofanya, membalikkan tubuh dengan cepat untuk menyudahi pembicaraan sepihak yang memuakkan itu.

Di balik pilar, perasaan senang Prisha yang semula menggebu-gebu seketika runtuh berantakan mendengar penolakan instan yang keluar dari mulut Saka. Hatinya mendadak terasa sakit dan berdenyut nyeri. Prisha meremas ujung gaun satinnya dengan jemari yang bergetar. Rasa sedih dan terhina bercampur menjadi satu di dalam dadanya.

'Kenapa... kenapa Kak Saka sebegitunya menolak aku? Memangnya apa yang kurang dariku sampai ia lebih memilih wanita mandul itu?' ratapnya dalam hati.

Prisha menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadanya, lalu menoleh ke arah pelayan pribadinya yang masih berdiri diam di sampingnya.

“Bora,” bisik Prisha dengan suara yang sangat lirih, hampir tidak terdengar. “Bukannya di zaman sekarang sudah ada opsi medis seperti bayi tabung? Seharusnya teknologi itu bisa menjadi jawaban atas kondisi Utami yang mandul, kan? Kenapa Kak Saka tidak mengajukan opsi itu saja pada ibunya?”

Bora menatap wajah sendu majikannya dengan tatapan penuh simpati, lalu menggelengkan kepalanya perlahan. “Nona ... Tuan Muda adalah seorang pria dewasa yang sangat sehat. Namun, Nyonya Ratih memiliki pemikirannya sendiri yang jauh lebih rumit dari sekadar urusan medis bayi tabung.”

“Kenapa hal seperti itu harus jadi sesuatu yang sangat dikhawatirkan oleh Bibi?” tanya Prisha lagi, menuntut penjelasan lebih dalam mengenai pola pikir kaum elite Tanubrata.

Bora membetulkan posisi berdirinya, memastikan suaranya tetap berada di frekuensi bisikan yang paling aman selagi langkah kaki Saka terdengar mulai menjauh menuju sayap bangunan yang lain.

“Karena di mata dunia bisnis dan sosialita luar sana, Nyonya Ratih sangat mengkhawatirkan jika orang-orang akan berpikir bahwa putra tunggalnya, sang pemilik Tanubrata Group, bisa disetir dan dikendalikan sepenuhnya oleh perasaan cinta pada satu wanita dari kelas bawah hingga mengabaikan logika hukum adat keluarga besar.”

Bora menghela napas pendek sebelum melanjutkan, “Bagi orang-orang di level Tuan Muda, mereka seharusnya selalu berpikir secara rasional dan taktis soal pemilihan pasangan hidup, status sosial, pengaruh, dan apa pun demi kelangsungan korporasi. Begitulah doktrin yang diyakini oleh Nyonya Ratih sejak dulu, Nona.”

Prisha terdiam, meresapi setiap untaian kalimat yang keluar dari mulut Bora. Ia menyadari bahwa di dalam rumah ini, pernikahan bukanlah tentang penyatuan dua hati, melainkan sebuah transaksi bisnis tingkat tinggi yang melibatkan ego, gengsi, dan masa depan sebuah dinasti.

Dengan langkah yang terasa berat dan hati yang diliputi sekelumit rencana baru, Prisha akhirnya memberi isyarat kepada Bora untuk kembali berjalan naik ke lantai atas, meninggalkan ruang tengah yang masih menyisakan sisa-sisa ketegangan.

Bersambung....

1
Amal Syafiqah
aa novel nya bagus, cepat update nya ye. aku tunggu
Rinnaya: Ok. Up setiap hari, tapi hari ini sibuk jadi besok malam ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!