NovelToon NovelToon
Pengantin 1,2 Triliun.

Pengantin 1,2 Triliun.

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Romansa / Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rinnaya

Apa yang terjadi saat seorang putri kaya yang jahat akhirnya jatuh miskin? Adakah yang akan menolongnya dari jeratan? Dialah Prisha.
Di titik paling kelam saat ia hampir menyerah pada hidup, sebuah uluran tangan asing datang menawarkan pelampung darurat. Sebuah kesepakatan rahasia bernilai triliunan rupiah disodorkan ke hadapannya.
​Demi bertahan hidup dan merebut kembali apa yang menjadi haknya, Prisha terpaksa melangkah masuk ke dalam sangkar emas milik keluarga Tanubrata. Ia harus berhadapan dengan Saka Tanubrata, pria yang memegang kunci keselamatan sekaligus kehancurannya.
​Ini adalah kisah tentang harga diri yang dipertaruhkan, rahasia di balik kemewahan, dan sebuah takdir bersyarat. Mampukah Prisha bertahan di dunia barunya, atau justru ia akan hancur dalam permainan yang ia mulai sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Aliansi yang retak.

Begitu perkenalan singkat di ruang tamu mereda, atmosfer di antara para pria mendadak berubah menjadi lebih serius. Nares memberikan isyarat mata yang samar kepada Saka, sebuah kode yang langsung dipahami oleh sepupunya itu.

Meninggalkan para wanita—Ratih, Jaila, dan Prisha—yang masih larut dalam obrolan mengenai kehamilan dan urusan domestik, Nares dan Saka melangkah lebar menuju ruang kerja pribadi.

Ruangan bernuansa kayu gelap itu seketika dikelilingi oleh keheningan begitu pintu ganda ditutup rapat, mengisolasi mereka dari dunia luar. Saka berjalan santai ke balik meja bar kecil di sudut ruangan. Tangannya bergerak dengan tenang meraih sebotol alkohol, lalu mulai menuangkan cairan amber tersebut ke dalam dua gelas kristal.

Saka menyerahkan salah satu gelas kepada sepupunya sebelum bertanya dengan nada suara yang datar namun menuntut. “Apa hal penting yang ingin kau katakan, Res? Sampai-sampai kau harus membawaku menjauh dari ruang tamu?”

Nares menerima gelas itu, namun ia tidak langsung meminumnya. Rahangnya mengeras, dan sepasang matanya memancarkan kilatan amarah yang membara, memantulkan sisi gelap dari balik penampilannya yang semula tampak ramah di depan sang istri.

“Bajingan itu ... aku hampir saja mendapatkannya tiga hari yang lalu, Saka.”

Saka mengangkat satu alisnya, mempertahankan ekspresi wajahnya agar tetap terlihat tenang dan tidak terusik, meskipun di dalam dadanya, detak jantungnya mendadak berdegup lebih kencang. Ia menyesap alkoholnya sedikit demi sedikit.

“Maksudmu Davier?”

“Siapa lagi kalau bukan dia?” Nares mendengus kasar, urat-urat di lehernya menegang saat ia mencengkeram gelas kristalnya dengan sangat kuat. “Aku ingin sekali membunuh bajingan itu dengan tanganku sendiri. Sialnya, dia berhasil meloloskan diri. Dia melompat ke sungai yang arusnya sangat deras setelah bahu kirinya tertembak oleh anak buahku.”

Mendengar penuturan Nares, sebuah hantaman besar seolah memukul kesadaran Saka. Di balik topeng wajahnya yang sedingin es, Saka benar-benar terkejut luar biasa. Informasi ini laksana kepingan teka-teki yang langsung terjawab dengan sempurna.

Saka mengembuskan napas pendek, lalu meletakkan gelasnya ke atas meja. Dengan nada suara yang sengaja dibuat acuh tak acuh dan skeptis, ia merespons, “Arus sungai di pinggiran kota saat ini sedang tinggi karena musim hujan. Ditambah dengan luka tembak ... mungkin saja dia sudah mati tenggelam.”

Sembari mengucapkan kalimat itu, Saka dengan gerakan natural merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel. Di bawah meja, jemarinya bergerak dengan kecepatan tinggi, mengetik sebuah pesan singkat yang dikirimkan langsung kepada Adrian.

“Oh apa kau sedang sibuk?” tanya Dares.

Saka segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

“Tidak, aku hanya meminta Adrian mengunci laciku di kantor. Aku lupa menguncinya tadi.”

Nares menggelengkan kepala, tatapannya masih dipenuhi oleh rasa tidak puas, ia melanjutkan topik sebelumnya. “Aku tidak yakin dia mati semudah itu. Davier memiliki sembilan nyawa seperti kucing. Itulah kenapa aku datang ke sini, Saka. Ayolah, bergabunglah kembali denganku. Aku akan dengan sukarela memberikan posisi pemimpin tertinggi organisasi kepadamu, karena memang kau yang paling berhak menduduki takhta itu.”

Bukan rahasia lagi di lingkaran terdalam mereka bahwa Nares adalah sosok yang memimpin organisasi penyelundupan barang-barang ilegal berskala internasional—sebuah jaringan hitam yang biasa disebut sebagai lingkaran mafia oleh orang-orang awam yang ketakutan.

Saka mendengus pelan, lalu menyandarkan punggungnya pada tepian meja bar. “Tidak, Res. Aku sudah mengatakannya berkali-kali sejak Papa meninggal. Mengurus jalur hitam itu terlalu merepotkan dan membuang-buang waktuku.”

Nares menilik Saka dengan pandangan sinis yang menusuk. Rasa kecewa mulai merayap di dalam suaranya. “Padahal Davier adalah orang yang sudah membunuh ayahmu, Saka. Tapi kau ... kau tampak sama sekali tidak peduli pada dendam darah itu. Justru aku, sepupumu, yang sibuk setengah mati mencarinya ke lubang cacing mana pun!”

“Ah, jika aku membiarkan diriku sibuk dengan dendam lama yang tidak ada habisnya, kerajaan bisnis legal Tanubrata Group yang ada di tanganku saat ini akan terlantar dan hancur,” balas Saka dengan nada suara yang tenang namun dingin, membalas tatapan sinis Nares tanpa rasa takut sedikit pun. “Jika itu terjadi, semuanya tidak akan berakhir dengan baik bagi keluarga besar kita.”

“Kau lupa ya? Bisnis penyelundupan dan jalur hitam itu juga merupakan bagian dari bisnis Tanubrata! Itu adalah fondasi darurat yang dibangun dengan darah dan keringat oleh ayahmu sendiri!” tekan Nares dengan suara yang mulai meninggi, mencoba membangkitkan rasa hormat Saka pada mendiang pamannya.

Nares memang sangat menghormati mendiang ayah Saka melebihi siapa pun. Orang tua kandung Nares telah meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan tragis sejak Nares masih berusia empat tahun.

Sejak saat itu, yang membesarkan, mendidik, dan merawat Nares hingga menjadi pria yang ditakuti seperti sekarang adalah keluarga inti Saka. Bagi Nares, ayah Saka adalah figur dewa dan pelindung mutlak.

“Sudah ada kau yang mengurus jalur itu dengan sangat baik, untuk apa lagi aku ikut campur di sana?” sahut Saka, nadanya tetap tidak tergoyahkan. Ia menatap Nares lurus-lurus. “Aku sudah berhenti dari dunia itu, Nares. Aku tidak mau lagi mengotori tanganku secara langsung.”

Nares mengembuskan napas kasar, menyadari bahwa sekeras apa pun ia membujuk, batuan es di dalam diri Saka tidak akan pernah bisa dilunakkan dengan mudah.

Ia terpaksa pasrah dan menerima penolakan tersebut untuk kesekian kalinya. Namun, ekspresi wajah Nares mendadak berubah licik ketika ia mengingat alasan sekunder mengapa ia sengaja membawa Saka memisahkan diri dari para wanita di ruang tamu sejak awal.

“Oh, kalau begitu mari kita bicarakan hal lain...” Nares menyunggingkan sebuah senyuman jahat yang penuh arti di bibirnya. “Gadis yang duduk di samping Tante Ratih tadi ... namanya Prisha Kaelen, kan?”

Saka menghentikan gerakan tangannya yang hendak meraih gelas. Matanya menyipit waspada. “Benar. Ada apa dengannya?”

“Kau tahan saja gadis itu di sini, Saka. Pastikan dia tidak pergi kemanapun dari mansion ini,” ucap Nares dengan nada suara yang merendah, sarat akan intrik kotor. “Tahan dia sampai aku menemukan waktu dan momentum yang paling tepat untuk menjadikannya umpan menarik yang paling efektif guna memancing Davier keluar dari persembunyiannya.”

Mendengar rencana gila sepupunya, Saka mendengus dingin. “Mamaku akan sangat marah jika dia sampai tahu kau berniat melakukan hal sekotor itu pada Prisha.”

Nares terkekeh sinis, menganggap kekhawatiran Saka sebagai sesuatu yang sepele. “Memangnya ... kau benar-benar berniat untuk menikahi gadis manja dari Keluarga Kaelen itu, Saka? Jangan bercanda.”

“Tidak,” jawab Saka jujur tanpa ragu sedikit pun.

“Kalau begitu, nikahi saja dia, Saka!” titah Nares mendadak, memberikan saran yang terdengar sangat kontradiktif namun taktis di mata seorang mafia.

Saka mengernyitkan dahi, merasa dugaannya tentang kegilaan sepupunya semakin terbukti. “Hah? Apa maksudmu?”

“Nikahi dia hanya untuk mengikat statusnya secara hukum,” jelas Nares dengan seringai yang semakin melebar di wajahnya.

“Jika suatu hari nanti Davier nekat datang untuk membawa gadis itu kabur dari sisimu, kita memiliki alasan hukum dan pengaruh sosial yang sangat sah untuk menuntut bajingan itu dengan tuduhan penculikan istri sah dari pemilik Tanubrata Group. Kita bisa memburunya secara legal dan ilegal sekaligus. Sebagai gantinya, selama dia menjadi istrimu, jangan pernah melakukan KDRT atau kekerasan fisik padanya agar tidak memiliki celah untuk dia kembali ke anggota keluarga sebelum proses sidang.”

Saka menatap sepupunya dengan pandangan muak, merasa opsi yang ditawarkan Nares benar-benar tidak masuk akal dan terlalu berisiko bagi reputasi personalnya.

“Ck, entah apa saja hal gila yang ada di dalam kepalamu itu, Nares. Aku tidak ingin ikut campur dalam rencana umpanmu. Menikahi Prisha atau tidak ... keputusan akhir itu sepenuhnya berada di dalam tanganku, bukan di tanganmu atau skenariomu.”

Mendengar jawaban mutlak dari Saka yang menutup rapat semua celah kerja sama, Nares seketika didera rasa geram yang luar biasa. Ia merasa semua idenya dianggap angin lalu oleh pria di hadapannya.

Dengan emosi yang mendidih, Nares meneguk cepat sisa alkohol di dalam gelas kristalnya hingga tandas dalam sekali tenggak.

BRAK!

Nares membanting gelas kristal kosong itu ke atas permukaan meja dengan sangat keras hingga menimbulkan bunyi benturan yang memekakkan telinga.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pamit pun, Nares langsung memutar tubuhnya dengan kasar dan melangkah lebar keluar dari ruangan, membanting pintu ganda di belakangnya.

Ia benar-benar merasa kecewa dan jengkel karena Saka sama sekali tidak bisa diajak bekerja sama barang sedikit pun untuk membalaskan dendam kematian pria yang sudah membesarkannya.

Tinggallah Saka sendirian di dalam ruangan yang mendadak kembali sunyi. Ia menatap gelas yang dibanting Nares, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela besar yang menampilkan kegelapan malam.

Bersambung....

1
Aiden Den
up
Amal Syafiqah
aa novel nya bagus, cepat update nya ye. aku tunggu
Rinnaya: Ok. Up setiap hari, tapi hari ini sibuk jadi besok malam ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!