Judul: My alter ego
Kehilangan orang tua, pengkhianatan suami, dan terjebak di kantor yang toksik membuat hidup Hira Lione hancur dalam semalam. Namun, saat keputusasaan mencapai puncaknya, sebuah suara misterius muncul di dalam kepalanya.
Demi membalas dendam, Hira membuat kesepakatan berbahaya: menyerahkan kendali tubuhnya pada sosok alter ego yang dingin dan kejam. Hira yang rapuh kini telah tiada, digantikan oleh predator yang siap meruntuhkan hidup siapa pun yang pernah menginjak-injak harga dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Dominasi Absolut
Mata Hira menatap tajam ke arah deretan teks ancaman di layar jam tangannya.
Langkah kakinya segera berayun cepat menuju lukisan abstrak raksasa di belakang meja kerja marmer hitamnya.
Jari-jari lentiknya meraba sudut bingkai kayu jati tersebut.
Sebuah panel pemindai sidik jari tersembunyi bergeser terbuka merespon sentuhan presisinya.
Hira menempelkan ibu jarinya tanpa sedikit pun keraguan.
Dinding berlapis panel kayu itu terbuka perlahan, menampilkan sebuah brankas baja berukuran sedang yang tertanam kokoh di dalam konstruksi gedung.
Pintu brankas itu tidak terkunci, sengaja dibiarkan sedikit terbuka oleh sang penyusup sebagai bentuk ejekan.
Hira menarik gagang bajanya, menemukan sebuah kotak hitam seukuran telapak tangan yang menempel pada port server utama.
Kabel serat optik melilit erat perangkat tersebut, menghubungkannya secara langsung dengan jaringan tulang punggung perusahaan.
Layar kecil pada kotak hitam itu menampilkan angka hitung mundur digital yang bergerak sangat cepat.
<00:04:12>
<00:04:11>
{Monster itu benar-benar menyusupkan bom perusak data tepat di jantung kekuasaan kita.}
Suara jiwa aslinya terdengar bergetar, menyadari bahwa Arthur berhasil melewati ratusan lapis keamanan biometrik gedung ini.
{Dia menggunakan celah enkripsi dari terminal bayangan Kael yang sempat kita hancurkan di dermaga.}
Sang alter ego mengambil alih kendali, menepis seluruh kepanikan itu dengan arogansi yang jauh lebih besar.
Hira mengeluarkan tablet digital dari dalam tasnya.
Ia menyambungkan kabel data cadangan dari tabletnya ke port kosong di sisi kotak hitam tersebut.
Layar tabletnya langsung merespon, memunculkan barisan kode enkripsi yang tersusun menyerupai jaring laba-laba.
Arthur telah merancang jebakan ini dengan sangat teliti, menutup segala kemungkinan penjinakan standar.
Hira menyeringai lebar, menempatkan tabletnya di atas brankas.
"Aku tidak berniat menjinakkannya, Arthur."
Jempolnya menari cepat di atas keyboard virtual, mengetikkan ratusan baris perintah modifikasi hanya dalam satu menit.
Ia mengaktifkan kembali skrip bayangan yang ia rancang untuk menjebak Teran Honigan kemarin.
Hira memodifikasi target tujuan skrip tersebut, mengarahkannya tepat ke jalur frekuensi yang digunakan Arthur.
Perangkat ini memiliki koneksi dua arah, sebuah kesalahan fatal yang sengaja diabaikan oleh sang penguasa bayangan.
Layar kotak hitam itu berkedip tidak stabil, angka hitung mundurnya melompat drastis menjadi kurang dari dua menit.
Hira tidak memedulikan peringatan waktu tersebut, jarinya terus menekan tombol eksekusi tanpa henti.
"Kau mengirimkan racun ini ke rumahku, maka kau juga harus menelan penawarnya yang sudah kusesuaikan."
Sebuah bunyi dengungan panjang terdengar dari dalam kotak hitam itu.
Layar digitalnya membeku tepat di angka tiga belas detik.
Hira mencabut kabel tabletnya dengan satu tarikan kasar.
Ia melepaskan sepatu hak tinggi merah marun dari kaki kanannya, menghantamkannya dengan kekuatan penuh ke atas perangkat mematikan tersebut.
Serpihan sirkuit elektronik berserakan di dalam brankas, memutus total koneksi fisik bom data itu dari perusahaannya.
Hira kembali memakai sepatunya, memutar tubuh, berjalan elegan kembali menuju meja kerjanya seolah tidak pernah terjadi insiden apa pun.
{Sekarang, mari kita saksikan bagaimana sang penguasa bayangan meratapi kerajaannya yang runtuh dalam sekejap mata.}
||||
Arthur duduk dengan postur sangat santai di atas kursi kulit ruang kerjanya.
Jari tangannya memutar sebuah koin emas kuno, menunggu bunyi notifikasi kehancuran dari tablet di atas mejanya.
Waktu eksekusi bom data yang ia tanam seharusnya sudah berakhir satu menit yang lalu.
Namun, layar tabletnya justru mendadak berkedip merah terang tanpa henti.
Koin emas di tangannya terlepas, jatuh menggelinding di atas meja kayu mahoni miliknya.
Arthur segera menarik keyboard nirkabel, mencoba menghentikan proses perusakan yang sedang berjalan.
Wajah pria jangkung itu mengeras sempurna, rahangnya menegang menahan amarah yang meledak hebat.
Seseorang telah menggunakan jalur komunikasinya sendiri untuk menyuntikkan virus penghancur langsung ke dalam jantung server pribadinya.
Hanya ada satu orang yang memiliki keberanian dan kemampuan gila untuk melakukan serangan balik sebrutal ini.
Arthur memukul meja kerjanya dengan kepalan tangan, meretakkan permukaan kayu solid tersebut.
Ia baru saja kehilangan puluhan triliun rupiah hasil pencucian uangnya dalam hitungan detik.
Suara langkah kaki berlarian terdengar panik dari arah luar lorong ruang kerjanya.
Pintu ganda itu didorong terbuka secara kasar oleh kepala penjaga keamanannya.
"Tuan Arthur, perimeter pertahanan depan kita baru saja dijebol secara paksa!"
Pria berjas hitam itu menunjuk ke arah jendela dengan tangan yang bergetar hebat.
"Lima unit kendaraan lapis baja menerobos gerbang utama, mereka melumpuhkan seluruh penjaga kita dengan persenjataan tingkat militer!"
Arthur mencabut pistol semi-otomatis dari laci mejanya, memeriksa magasin peluru dengan gerakan luar biasa cepat.
"Kumpulkan seluruh pasukan tersisa di lantai dasar, jangan biarkan siapa pun naik ke ruangan ini."
||||
Pecahan kaca berhamburan memenuhi anak tangga marmer mansion mewah tersebut.
Sepatu hak tinggi merah marun melangkah dengan ritme yang sangat santai, menginjak serpihan kaca tanpa keraguan sedikit pun.
Hira berjalan diapit oleh belasan tentara bayaran elit yang wajahnya tertutup topeng taktis hitam.
Para penjaga Arthur yang tersisa tergeletak tak berdaya di sepanjang lorong, senjata mereka telah dilucuti sepenuhnya.
Uang selalu menjadi bahasa paling universal di dunia kriminal ini.
Hira telah menggunakan sebagian kecil dari triliunan rupiah yang baru saja ia retas dari rekening Arthur untuk menyewa pasukan bayaran terbaik di benua ini.
Ia berhenti tepat di depan pintu ruang kerja sang penguasa bayangan.
Dua tentara bayaran mendobrak pintu kayu itu hingga engsel bajanya patah berkeping-keping.
Hira melangkah masuk ke dalam ruangan, menatap lurus ke arah pria jangkung yang berdiri mengarahkan moncong pistol ke kepalanya.
"Kau datang untuk menyerahkan nyawamu secara langsung, Hira."
"Turunkan mainan logammu, Arthur."
Hira menyilangkan tangannya di depan dada, mengabaikan ancaman senjata mematikan tersebut dengan senyum miring yang sangat merendahkan.
"Seluruh algojomu sudah menyerah, dan saldo di seluruh rekening pribadimu saat ini tidak lebih dari nol rupiah."
Arthur mengertakkan giginya, menyadari bahwa ia telah kalah telak dalam permainannya sendiri.
"Kau tidak akan bisa keluar dari rumah ini hidup-hidup setelah merampok hartaku."
"Hartamu adalah hasil pencucian uang dari perusahaan yang kini menjadi milikku mutlak."
Hira melangkah maju satu langkah, menantang ujung laras pistol pria itu tanpa rasa takut.
"Aku hanya mengambil kembali apa yang memang seharusnya berada di bawah kendali perusahaanku."
Arthur menahan napasnya, menatap sepasang mata kelam wanita di depannya yang sama sekali tidak memancarkan emosi manusiawi.
Ini bukan lagi seorang eksekutif muda yang mencoba bertahan hidup dari tekanan orang lain.
Ini adalah sosok predator puncak yang telah berevolusi menjadi wujud yang paling sempurna dan tidak tersentuh.
Hira merogoh tas tangannya, melemparkan sebuah tablet digital tipis ke atas meja Arthur.
"Aku tidak membutuhkan mayatmu, Arthur."
Hira menunjuk tablet tersebut dengan dagunya.
"Aku membutuhkan koneksi politikmu, jaringan bawah tanahmu, dan kemampuanmu untuk membersihkan rintangan operasional."
Arthur perlahan menurunkan pistolnya, menatap proposal digital tersebut dengan ketidakpercayaan yang luar biasa.
"Kau menghancurkan kerajaanku, membuatku miskin, hanya untuk memaksaku bekerja sebagai anjing penjagamu?"
"Aku menawarkanmu kesempatan untuk tetap hidup dan mengelola uangku, Arthur."
Hira membalikkan badannya, bersiap melangkah keluar dari ruangan yang telah ia taklukkan sepenuhnya.
"Tanda tangani proposal itu sebelum tengah malam, atau aku akan mengirimkan buku besar milikmu kepada Interpol beserta seluruh bukti aliran dananya."
Sepatu hak tingginya kembali bergema meninggalkan ruang kerja tersebut.
Arthur berdiri mematung di balik mejanya, menyadari bahwa tali kekang kekuasaan di kota ini telah resmi berpindah tangan selamanya.
||||
Enam bulan kemudian.
Hira duduk di kursi kebesaran kulitnya, menatap pemandangan kota metropolitan yang terbentang luas dari lantai puncak gedung Gemilang Solusi Bersama.
Perusahaannya kini telah tumbuh menjadi gurita bisnis raksasa yang tidak tersentuh oleh hukum mana pun.
Seluruh kompetitor telah disingkirkan dengan metode yang sangat bersih, cepat, dan tanpa meninggalkan jejak.
Mantan suaminya, Reza, masih mendekam di dalam sel penjara berukuran sempit, meratapi nasibnya yang hancur berkeping-keping.
Anita telah menghilang dari peredaran, bekerja sebagai pelayan restoran murah di pinggiran kota untuk sekadar bertahan hidup.
Teran Honigan harus menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi dengan status sebagai narapidana kasus penipuan terbesar abad ini.
Siska, mantan manajernya, kini mendekam di bangsal kejiwaan karena tidak sanggup menerima kenyataan kebangkrutannya.
Dan Arthur kini berdiri patuh di luar pintu ruangannya, menjalankan tugasnya sebagai kepala keamanan tanpa pernah berani melakukan pengkhianatan lagi.
{Kita telah mencapai puncak rantai makanan.}
Suara alter ego itu bergema di dalam kepalanya, memancarkan kepuasan yang luar biasa mendalam.
Hira menyentuh pantulan wajahnya di permukaan jendela kaca raksasa tersebut.
{Tidak ada lagi batasan antara kau dan aku.}
Ia membalas ucapan suara di dalam kepalanya melalui pemikiran yang tenang dan sangat mendominasi.
Ketakutan masa lalunya, kerapuhannya, dan semua rasa sakitnya telah melebur sempurna menjadi kekuatan absolut.
Hira Lione yang rapuh telah sepenuhnya lenyap tanpa sisa ditelan oleh ambisi kekuasaannya sendiri.
Ia tidak lagi membutuhkan kesepakatan rahasia dengan sisi gelapnya.
Karena mulai detik ini dan seterusnya, dialah manifestasi dari kegelapan itu sendiri.
Sebuah senyum miring yang mematikan terukir abadi di bibirnya.
Terimakasih sudah membaca//Langsung saja kunjungi Novel baru kita.wkwkwkwk//
koq gk rela ya😊
tp mush"nya sdh takluk smua sih
yoweslah...👍
lawan ato kawan nih... apa jgn" malah menjemput jodoh🤭
baca dl part sblm'a
lg seru nih
jm 9 ketemu dar, trus ketemu her & si botak, trus ketemu taren(lupa) trus ketemu victor, ini ketemu kael🤔 hrs'a sdh sore x thor
kodammu luar biasa!
🤝
ampe qu ulang baca part 1 hlo
biasa'a dirasuki jiwa lain, ini malah dr diri sendiri, mgkin ini kodam yg memberontak🤭
semangat thor💪