NovelToon NovelToon
Hazelnut Di Dusun Teduh

Hazelnut Di Dusun Teduh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Romansa
Popularitas:938
Nilai: 5
Nama Author: Dzie Drafir

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah seorang perempuan yang datang ke sebuah dusun untuk mengabdi, tetapi justru menemukan kembali bagian-bagian dirinya yang selama ini hilang.

Bagi Azra Sofia Yavuz, Dusun Teduh adalah tempat untuk memulai hidup yang baru.

Jauh dari hiruk-pikuk kota, jauh dari kenangan yang menyakitkan, dan jauh dari masa lalu yang selama ini berusaha ia kubur rapat-rapat.

Namun ternyata, masa lalu tidak pernah benar-benar tinggal di belakang.

Di tengah pengabdiannya sebagai dokter desa, satu per satu rahasia lama mulai terungkap. Luka keluarga yang belum sembuh, kehilangan yang tak pernah selesai, serta seseorang yang pernah menghancurkan hidupnya kembali muncul di hadapannya.

Saat semua jalan pelarian tertutup, Azra harus memilih: terus berlari dari luka yang membentuk dirinya, atau menghadapi semuanya untuk menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Hazelnut di Dusun Teduh adalah kisah tentang pengabdian, keluarga, kehilangan, dan keberanian untuk sembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dzie Drafir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kerusakan yang terabaikan ... (part 1)

"Linda, tolong cek kelengkapan alat di ruang darurat. Empat hari yang lalu, ada beberapa peralatan yang habis dan rusak. Aku mau pastikan Mas Yanto sudah menggantinya." perintah Dokter Azra, Kamis pagi itu kepada Linda dengan mata sibuk membaca beberapa rekam medis pasien yang sudah tertata di meja kerjanya.

"Siap, Dokter." Linda melangkah meninggalkan ruangan menuju ruang tindakan darurat.

Instruksi Azra membuat Linda teringat kejadian seminggu lalu, ketika seorang petani dilarikan ke Pustu dengan kaki bersimbah darah.

Saat mencangkul di sawah, mata cangkul mengoyak punggung kakinya. Teriak kesakitan membuat petani lain berkumpul dan membawanya langsung ke Pustu.

Flashback on

Saat dr. Azra melakukan tindakan, didapati needle holder tidak bisa digunakan dengan benar. Butuh waktu lebih lama untuk menjahit luka pasien, karena alat yang seperti gunting itu rusak. Ia berusaha tetap tenang dan fokus untuk menolong pasien.

"Mas Yanto, bagaimana ini bisa terjadi," tanya Dokter Azra dengan tatapan tajam setelah melakukan hecting pada pasien.

"Maaf, Dok. Saya lupa melaporkan kalau alat itu rusak," Mas Yanto menjawab takut-takut.

Siti, Linda dan Pak Tejo yang duduk dekat Yanto, tidak berani mengangkat kepala, apalagi bersuara. Azra mengembuskan napas gusar.

"Tolong diperhatikan oleh semua, setiap kerusakan yang terabaikan akan menimbulkan akibat fatal. Profesi kita berhubungan dengan nyawa!" Rahang dr. Azra mengeras.

Suasana ruangan makin hening. Auranya cukup mencekam, meskipun kemarahan dokter muda mereka tidak meledak-ledak.

"Pastikan, ini kejadian yang terakhir kali. Saya tidak menerima alasan apapun, apalagi bila itu berkaitan dengan SOP keselamatan nyawa ..." Dokter cantik yang biasa tersenyum itu, meninggalkan ruangan dengan wajah tegang.

Flashback off

"Linda, apa sudah selesai mengecek peralatan?" Suara bariton menginterupsi lamunan Linda.

"Eh, iya. Sudah Dokter Pras."

"Kalau sudah selesai, ditunggu Dokter Azra. Sudah waktunya pemeriksaan pasien." ujar Dokter Prasetyo melangkah ke poli gigi meninggalkan Linda.

"Oh, iya Dokter Pras. Maturnuwun" ucap Linda bergegas ke ruang dr. Azra.

Map pasien di tangan Linda tersisa empat lagi, di depannya, pasien juga sudah tidak terlalu banyak yang menunggu giliran.

"Bapak Cipto," panggil Linda pada pasien berikutnya. Pak Cipto berdiri dan memasuki ruang dokter didampingi seorang gadis seusia anak SMA.

"Assalamu'alaikum, Dok," sapanya sopan.

"Wa'alaikumussalam, Pak. Silakan duduk. Ada keluhan apa yang dirasakan akhir-akhir ini, Pak?" tanya dr. Azra pada Pak Cipto.

"Kepala saya puyeng, Dok. Rasanya muter-muter semua kalau bangun tidur. Padahal yo nggak enek gempa, tapi semua seperti bergoyang. Terus, perut saya jadi mual," keluh Pak Cipto menopang kepalanya dengan tangan yang bertumpu di meja.

"Sebentar ya, Pak," mata hazelnut gadis berjilbab coklat susu itu membaca hasil pemeriksaan tanda-tanda vital dengan seksama.

"Jangan lama-lama, Dok, wis mumet tenanan iki," tiba-tiba Pak Cipto meletakkan kepalanya di atas meja. Gadis remaja di sampingnya bertindak cepat memegangi kakeknya.

"Eh ... eh ... Pak, monggo sare di kasur ini saja. Mari saya bantu, pelan-pelan saja jalannya. Tutup matanya ya, Pak, biar nggak munyer-munyer semua," Linda sigap memapah pasien menuju ranjang periksa.

Azra bergegas memeriksa pasien dengan stetoskop. Ditekannya perut Pak Cipto pada beberapa titik. Saat perut kiri ditekan, mimik Pak Cipto berubah meringis kesakitan.

"Nyeri ya Pak, di sini," tanyanya sambil menekan pelan area lambung pasien.

"Iya, Dokter. Sakit disitu."

Azra mendekati Linda, dan memberikan beberapa arahan. Kemudian menuliskan resep obat untuk Pak Cipto.

Gubrak!!

Ada yang terbentur pintu dengan keras. "Dokter Azra ... ada kecelakaan di jalan gowang!" Paino masuk ruangan sambil berteriak panik.

"Kecelakaan apa, Mas Paino?" tanya Dokter Azra tenang, karena tahu Paino paling suka membuat suasana tenang menjadi heboh. Dia mengira, kali ini Paino berulah lagi.

"Serius Dokter cantik! Ada truk tebu terguling di jalan masuk dusun. Sopirnya terjebak di dalam, tidak sempat melompat keluar," Paino berkata dengan wajah tegang.

Dokter Azra menatap Paino, tersadar. Paino serius. Tanpa berlama-lama, dia beranjak meraih tas dinas, dan meminta Linda menyampaikan situasi darurat kepada dr. Pras, agar mengambil alih tugas di Pustu hari itu.

Linda tergopoh menemui dokter Pras menyampaikan pesan dr. Azra, lalu berlari sigap mengambil perlengkapan pengobatan yang diperlukan dari ruang darurat.

Motor matic biru milik Pustu melesat meninggalkan halaman. Azra dan Linda berboncengan menuju lokasi kecelakaan.

Rok span yang dikenakan Azra cukup menyulitkan saat motor melaju kencang.

Namun Linda sama sekali tidak khawatir. Ia tahu, dokter itu selalu memakai celana pensil di balik rok atau gamis kerjanya. Bagi Azra, yang bertugas di pelosok, pakaian cadangan semacam itu sudah jadi bagian dari kesiap-siagaan.

Sepanjang jalan, beberapa warga bergerombol di tepi jalan, berbicara serius membahas tentang kecelakaan. Saat Paino melintas diikuti motor dinas Pustu, warga langsung sadar, berita kecelakaan yang beredar benar adanya.

Butuh waktu 15 menit untuk sampai di lokasi kecelakaan. Sudah banyak warga berkerumun, ada yang berniat menolong, ada yang sekedar menonton.

Tebu-tebu berserakan menutupi badan jalan. Setelah memarkirkan motor, langkah mereka berdua terhenti di tumpukan tebu yang menutup jalan. Azra dan Linda yang memakai rok span, kesulitan untuk melangkah menaiki tebu-tebu.

"Pegang tangan saya, Bu Dokter. Saya bantu naik,"

Paino mengulurkan tangan ke arah dr. Azra dengan senyum lebar. ​

Dengan gerakan cepat, tangan Paino justru disambar oleh Linda. "Ojo aji mumpung, we!" ketus Linda sambil melotot.

"Lhaaa..." Paino terpaksa memegang erat tangan Linda agar gadis itu tidak jatuh, sementara tangan satunya menggaruk kepala yang tidak gatal, menyembunyikan rasa malu karena modus-nya ketahuan. ​

Dokter Azra meraih tangan Linda dan memegangnya erat. Lalu mereka berjalan berhati-hati melewati tebu, menuju lokasi sopir yang terjebak di dalam truk.

"Kang, piye kondisine neng kono?" salah satu warga yang memanjat ke sisi pintu seberang kemudi berteriak, menanyakan kondisi korban.

Sopir truk itu tidak bisa membalas, hanya mampu melambaikan tangannya lemah dengan wajah yang mulai memucat pasi.

"Dokter, sopirnya tidak bisa bicara lagi," seorang petugas berseragam kelurahan menjelaskan situasi sopir yang kian mengkhawatirkan kepada Azra yang baru datang.

Azra menjauh dari kerumunan, membisikkan sesuatu di telinga Linda. Linda mengangguk, dengan cepat dia berdiri membelakangi Azra yang melepas rok spannya.

Tidak berapa lama, Azra kembali dengan celana pensil warna hitam yang tidak terlalu ketat.

Semua mata menatap ke arah dokter wanita muda yang berpenampilan siap tempur itu. "Bantu saya masuk dari atas, tapi tolong ikat pinggang saya, supaya tidak meluncur menimpa korban." ujar Azra cepat menyadarkan keheranan para warga yang memandang heran ke arah celana pensilnya.

"Bu Dokter mau ngapain ke dalam. Bahaya, biar dikeluarin dulu sopirnya dari dalam," cegah Paino cepat.

"Kita pasang infus dulu untuk sopirnya, tolong cepat lakukan yang saya sarankan. Kita berkejaran dengan waktu." jawab Azra sambil memakai handscoon dan masker.

Warga segera tanggap. Mencari tali tambang dan mengikat tubuh dr. Azra agar tidak meluncur ketika turun menolong sopir.

Setelah dokter cantik itu terikat, dan berada di atas pintu truk, dia turun perlahan. Kakinya melebar ke sisi kanan dan kiri kabin, menjaga keseimbangan. Sementara warga di luar tarik ulur tali mengikuti pergerakan tubuh Azra.

Saat sudah menemukan posisi yang pas, Azra memasangkan infus di tangan sopir. Kemudian memeriksa organ vital sopir dengan stetoskop.

Terakhir dia memeriksa pupil mata sopir dengan penlight.

"Tarik saya ke atas. Pak sopir pingsan," teriak Azra dari dalam truk.

Warga segera menarik keluar dokter Pustu, yang merayap kembali ke atas dengan bertumpu pada kaki dan tangannya.

"Infus sudah terpasang, insya Allah bisa membantu menstabilkan kondisi pak sopir saat evakuasi berlangsung." Azra menjelaskan sambil melepas ikatan tali dari tubuhnya, saat tiba di luar truk.

Perlahan dia turun dari atas truk, dari bawah, tangan kokoh seorang lelaki terulur ke arahnya. Azra menerima, dan melompat ke bawah dengan selamat.

"Terimakasih, Mas Lukman."

"Bisa bertahan berapa lama sopirnya?" tanya Lukman

"Selama infus yang terpasang masih mengalir lancar. Bagian perut ke bawah terjepit kemudi cukup parah. Sepertinya ada trauma juga di bagian kepala. Ada bercak darah segar di kaca pintu mobil. Sebaiknya segera lakukan evakuasi."

"Tolong yang tidak berkepentingan mundur. Supaya tim evakuasi bisa leluasa mengeluarkan sopir dari truk." Lukman mengatur jalannya evakuasi dibantu Tim Damkar dari Kabupaten.

Sebuah mobil kijang innova berhenti agak jauh dari lokasi kejadian. Sosok pria berpakaian dinas keluar dari dalam mobil. Beberapa orang berlarian menghampiri ke arahnya.

Warga yang ada di sekitar lokasi, menepi memberi jalan kepada orang yang baru datang. Dengan satu gerakan tangan singkat, pria itu memanggil Azra mendekat.

Linda menahan lengan Azra, firasatnya mendadak tidak enak. Namun, gadis bermata hazelnut itu menepisnya pelan dan tetap melangkah maju. Apapun yang terjadi, itu urusan nanti, batin Azra.

1
ensu77
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!