Ketika efisiensi bertemu dengan kekacauan, siapa yang akan benar-benar menaklukkan siapa?
"Cinta bukan soal efisiensi, tapi tentang bagaimana ia membuatmu kehilangan kendali."
Kisah tentang Ben Arganza, asisten dingin dan merupakan bayangan Baron Frederick yang sedang menjadi target penaklukan seorang gadis ceroboh bernama Lala Narayan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 Ben Frustasi
Satu jam berlalu dalam keheningan yang canggung, hanya dipecahkan oleh suara denting alat makan Lala dan detak jarum jam dinding yang ritmis. Setelah selesai makan, Lala benar-benar menepati janjinya. Ia masuk ke kamar utama—yang aroma maskulinnya sangat dominan—dan menemukan kemeja putih katun berukuran besar yang tampak seperti milik Ben.
Dengan sedikit terpaksa dan banyak menggerutu, ia mengenakannya sebagai pengganti pakaiannya yang basah.
Ia kembali ke ruang kerja dengan kemeja Ben yang panjangnya hampir mencapai lutut, lengannya tergulung asal-asalan. Saat ia melangkah masuk, Ben sedang berdiri di dekat jendela, mematikan sambungan telepon.
"Waktu habis," ujar Ben tanpa menoleh.
"Tunjukkan hasilnya."
Lala berjalan mendekati meja marmer. Jantungnya berdegup kencang. Ia meletakkan tabletnya di hadapan Ben.
"Ini... saya melakukan sedikit perubahan pada konsep pencahayaan. Saya pikir, alih-alih menggunakan lampu gantung kristal yang berat, Tuan Frederick lebih suka suasana yang... dinamis. Jadi saya mengusulkan panel LED tersembunyi dengan sensor gerak yang menyesuaikan tingkat keterangan ruangan berdasarkan waktu."
Ben menunduk, matanya menelusuri sketsa digital itu. Ia tidak berkomentar selama satu menit penuh, membuat Lala menahan napas. Pria itu menyentuh layar, memutar model 3D desain Lala, memeriksa setiap sudut dengan presisi seorang insinyur.
"Sensor gerak," gumam Ben. "Terlalu banyak variabel. Jika sistemnya error, ruangan akan menjadi tidak stabil."
"Itulah gunanya override manual yang saya tambahkan di sini," Lala menunjuk titik kecil pada desainnya.
"Sistem ini efisien, Tuan Arganza. Ia hanya menyala saat dibutuhkan. Bukankah itu yang Anda cari? Efisiensi?"
Ben terdiam. Ia memutar kursi untuk menatap Lala. Tatapan mata abu-abunya kini tidak lagi sedingin es, melainkan penuh dengan kalkulasi. "Berani sekali kau menggunakan argumen efisiensi untuk melawanku."
Ia menggeser tablet itu kembali ke arah Lala.
"Plafonnya. Kamu mengubah teksturnya menjadi material matte yang menyerap suara. Kenapa?"
"Karena lounge itu untuk Tuan Frederick beristirahat, bukan untuk mengadakan konser," jawab Lala mantap, menantang tatapan Ben.
"Dia butuh ketenangan. Dan material ini... ini akan membuat setiap langkah kakinya terdengar seperti berjalan di atas awan. Itu mewah, tapi tenang."
Ben menatap gadis di depannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilatan kekaguman yang sangat tipis, yang segera ia sembunyikan di balik topeng datarnya.
"Not bad," ucap Ben pelan. "Untuk ukuran desainer yang hampir terjatuh di koridor, ini... dapat diterima."
Lala hampir bersorak, namun ia menahan diri.
"Jadi? Apakah saya bisa dibayar?"
Ben mendengus. "Jangan terlalu percaya diri. Desain ini harus dipresentasikan di hadapan Tuan Frederick besok pagi. Jika dia tidak menyukainya, kartu hitam itu akan saya tarik kembali, dan kamu akan kembali ke kontrakanmu dengan tangan hampa."
Lala mengerucutkan bibirnya. "Anda benar-benar tidak bisa memberi pujian, ya?"
Ben berdiri, melangkah mendekati Lala hingga mereka berada dalam jarak yang sangat dekat. Benar-benar dekat—Lala bahkan bisa merasakan hembusan napas hangat pria itu.
"Di dunia yang saya jalani, Lala," bisik Ben, suaranya kini terdengar lebih rendah dan intens, "pujian adalah racun yang membuat orang lengah. Saya tidak ingin kamu lengah. Saya ingin kamu fokus."
Ia mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang dan dingin tanpa sengaja menyentuh helai rambut Lala yang masih sedikit basah, merapikannya dengan gerakan yang sangat lembut—sebuah gerakan yang sangat tidak sesuai dengan sosok "robot" yang ia bangun.
"Selesaikan detail akhirnya. Setelah itu, kamu bisa tidur di kamar tamu. Kita harus berangkat jam enam pagi."
Lala mematung, menatap Ben yang kini berbalik memunggunginya untuk kembali meraih tabletnya. Ia tidak mengerti mengapa jantungnya berdebar tidak karuan. Apakah ini efek dari desainnya yang diterima? Atau... apakah ini efek dari Ben Arganza yang mulai retak?
"Tunggu," panggil Lala sebelum Ben sempat melangkah lebih jauh. "Kenapa kemeja ini berbau seperti Anda?"
Ben berhenti. Ia tidak berbalik, namun bahunya sedikit menegang. "Karena itu kemeja saya, Lala. Dan jika kamu masih ingin dibayar, berhenti memikirkan tentang bau kemeja dan mulailah memikirkan detail plafon itu."
Ia melangkah keluar dari ruang kerja, meninggalkan Lala yang kini berdiri sendirian, memegang kemeja yang masih terasa hangat dan beraroma kayu cendana milik pria paling dingin yang pernah ia temui.
Lala menghela napas panjang, menatap pantulan dirinya di jendela besar. Ia baru saja "menaklukkan" sebuah proyek, namun ia merasa, justru dirinyalah yang sedang perlahan-lahan ditaklukkan oleh ruang kerja, apartemen, dan pria bernama Ben Arganza.
"Robot menyebalkan," gumamnya, namun senyum kecil tersungging di bibirnya.
Ben membuang muka secepat kilat, langkahnya yang biasanya terukur sempurna kini terasa sedikit goyah. Ia berjalan menuju minibar, meraih segelas air dingin dengan gerakan yang tidak setenang biasanya. Suara denting es batu di gelas terdengar terlalu nyaring di telinganya yang kini terasa panas.
"Bencana," gumamnya lagi, kali ini suaranya parau.
Ia mencoba fokus pada deretan data keamanan di tabletnya, tapi otaknya justru memutar ulang visual kemeja putih tipis itu—dan bayangan samar yang seharusnya tidak ia perhatikan. Bagaimana bisa gadis itu tidak menyadari bahwa kemejanya yang berbahan katun sutra itu menjadi transparan saat terkena cahaya lampu apartemen?
Lala yang masih berdiri di sana, sama sekali tidak menyadari dampak visual yang ia timbulkan, hanya menggaruk tengkuknya yang gatal.
"Tuan Ben? Ada apa? Kenapa Anda tiba-tiba jadi tegang begitu?"
Ben memejamkan mata, memijat pangkal hidungnya dengan keras. Tahan, Ben. Fokus. Dia hanya sedang tidak sadar. Jangan sampai sistem pertahananmu hancur hanya karena seorang desainer ceroboh yang bahkan tidak bisa memasang kancing kemeja dengan benar.
"Lala," panggil Ben tanpa menoleh, suaranya sedingin es yang dipaksakan.
"Ya?"
"Masuk ke kamar tamu. Sekarang. Dan gunakan jubah mandi itu kembali sampai kamu menemukan sesuatu yang... lebih layak untuk menutupi tubuhmu."
Lala mengerutkan dahi, menatap dirinya sendiri, lalu menatap Ben yang masih membelakanginya. "Tapi kemeja ini sudah cukup menutup sampai lutut, Tuan. Lagipula saya tidak punya baju lain..."
Ben berbalik, tatapannya begitu tajam hingga membuat Lala terdiam seketika. "Itu perintah. Kamu ingin aku tetap fokus pada desainmu atau pada hal lain yang sama sekali tidak efisien bagi kerja kita?"
Ben melangkah mendekat, auranya yang mengintimidasi kembali sepenuhnya. Ia mengambil selimut kasmir yang tadi terjatuh di lantai, lalu dengan gerakan cepat, ia menyampirkannya ke bahu Lala hingga menutupi seluruh tubuh gadis itu seperti kepompong.
"Jangan keluar dari kamar tamu sampai kamu berpakaian dengan benar. Saya akan meminta asisten saya mengantarkan pakaian pengganti dalam satu jam."
Lala tertegun, wajahnya memerah padam saat ia menyadari maksud tatapan Ben yang tadi sempat mendarat di tubuhnya. Ia segera mencengkeram selimut itu, menatap Ben dengan tatapan kikuk. "A... oh. Maaf. Saya tidak bermaksud..."
"Aku tahu," potong Ben cepat, suaranya sedikit melunak namun tetap tegas. "Itulah masalahnya. Kamu tidak bermaksud, tapi kamu melakukannya."
Ben mengalihkan pandangannya, kembali menatap keluar jendela dengan tangan terlipat di dada. "Pergi, Lala. Sebelum aku kehilangan akal sehatku."
Saat Lala akhirnya bergegas lari menuju kamar tamu dengan langkah yang hampir saja membuatnya tersandung lagi, Ben mengembuskan napas panjang. Ia menatap cermin di ruangan itu, melihat bayangan dirinya sendiri yang terlihat frustrasi.
"Robot tanpa perasaan," desis Ben menertawakan dirinya sendiri. "Jika saja mereka tahu betapa berantakannya isi kepalaku saat ini, mereka pasti akan menertawakanku detik ini juga."
***
Mon maaf ya, baru muncul lagi. Like dan komen dong 😁
jadi nikmati aja alurnya